
^^^Jakarta,^^^
^^^Tujuh tahun kemudian..^^^
Aku terbangun dari tidurku. Barusan itu adalah mimpi yang sama dengan sebelumnya. Aku mengusapkan tanganku ke wajah sampai ke kepala. Aku bertahan dalam posisi itu dalam beberapa detik, dan melepas tanganku ketika suatu hal terlintas di otakku. Pandanganku beralih pada sebuah meja yang berada di samping pintu masuk. Di atas meja itu terdapat banyak arsip yang tersusun rapi dalam kotak-kotak. Dan di sisi bawahnya terdapat beberapa laci kecil yang di tutup dengan rapat.
Aku pun mendekati meja itu. Kemudian meneliti deretan laci-laci yang ada di bawahnya. Aku ingin membukanya, tetapi tangan ku terasa berat untuk di angkat. Aku mencoba mengumpulkan keberanian untuk bisa membuka salah satu laci itu. Dan bersiap untuk melihat sesuatu yang ada di dalamnya. Aku mengangkat tanganku yang terasa di penuhi keringat dingin. Begitu berat dan kaku. Namun, akhirnya tangan itu berhasil memegang gagang laci tersebut.
Tanganku berhasil menarik gagang laci hingga kotaknya keluar setengah. Di dalamnya terdapat sebuah buku tebal yang bersampul warna dominan putih. Di atas sampulnya tertulis judulnya yaitu, KIMIA. Aku mengambil buku itu dari dalam laci tersebut. Kemudian menatapnya agak lama hingga membalik sampul buku itu. Di halaman pertamanya terdapat sebuah tulisan yang tidak ingin ku baca lagi. Namun, aku begitu rindu untuk membacanya. Bulir bening pun berhasil lolos dari pelupuk mataku. Aku menutup kembali buku itu dan memeluknya dengan erat.
Aku kembali mengintip laci itu. Di dalamnya juga terdapat sebuah flashdisk yang berisi video hadiah dari Rain. Aku pun meraih benda mungil itu lalu menyambungkannya dengan laptopku. Seketika aku merasa kalau aku kembali ke masa SMA-ku. Dimana waktu itu aku masih bersama Rain dan juga Kak Fatha. Aku merindukan mereka. Terutama Rain. Andaikan saja waktu bisa berputar, akan ku bantu Rain untuk membujuk ibunya agar mau pergi bersamanya. Tapi semua sudah terlambat. Rain telah menghilang entah kemana. Bahkan aku hampir putus asa untuk menemukannya.
Rain.. Apakah kamu masih ada di bumi?
Aku kembali mengusap mataku yang mulai berair lagi. "Sudah.. Sudah, Han. Kamu harus fokus untuk masa sekarang. Dan hempaskan semua tentang Rain untuk saat ini." Aku mencoba menghibur diri sendiri. Kembali ku simpan dua benda yang berharga itu ke tempatnya semula. Aku pun meraih beberapa map yang tersusun di sudut meja kerjaku. Lalu mulai memeriksanya satu per satu.
Sekarang aku sudah bekerja di sebuah perusahaan milik keluarga besar Fajri. Aku mendapat jabatan sebagai koordinator pusat penelitian penciptaan produk perusahaan serta menjadi menejer marketing. Sungguh tidak muda untuk mendapatkan jabatan tersebut di usia semuda ini tanpa ada bantuan dari pihak dalam. Perusahaan milik keluarga Fajri ini bergerak dalam bidang produksi kosmetik serta produk-produk yang biasanya kita gunakan sehari-hari. Dan Fajri mendapatkan jabatan sebagai CEO muda atas permintaan Ayahnya. Sungguh, keluarga ini benar-benar sangat kaya.
Pintu kantorku terbuka secara tiba-tiba. Dan hal itu membuatku terkejut. Seorang gadis berambut coklat kemerahan muncul dari sana. Dengan tergesa-gesa dia datang menghampiriku.
"Han, kamu sudah tahu nggak kalau jadwal keberangkatan kita ke Bangkok di majuin?" Tanya Nora dengan panik.
"Sudah di kasih tahu sama Fajri kemaren." Jawabku.
"Jadi kamu sudah tahu. Kok, nggak kasih tahu aku? Kita itu berangkatnya lusa Han.. Masih banyak hal yang harus kita persiapkan."
"Kamu tenang saja. Semuanya sudah beres, kok." Kataku. "Ini. Semuanya sudah aku tandatangan. Kamu antar, ya, ke ruangan Fajri."
Nora menatapku dengan wajah simpati. Dia pun mengambil semua berkas yang ada di mejaku.
"Makasih ya, Han. Seharusnya kamu tidak perlu mengerjakan semuanya. Ini semua kan tugas aku sebagai sekretaris kamu."
__ADS_1
Aku pun tersenyum. "Enggak apa-apa kok, Nor. Lagi pula kan, ini proyek kita. Nggak seharusnya juga kan, kamu yang ngerjain semuanya."
"He he.. Ya sudah kalau gitu. Aku antar ini dulu ya, ke ruangan Pak Fajri."
"Ya sudah silahkan."
Nora pun berbalik hendak meninggalkan kantorku. Tiba-tiba aku teringat akan sesuatu yang ingin ku beritahu kepada Nora.
"Nor!" Panggilku.
Dia pun berbalik menghadapku. "Ada apa?"
"Em.. Sampaikan juga sama Fajri kalau aku izin nggak masuk kerja besok."
"Memangnya kamu mau kemana, Han?"
"Kak Fatha baru pulang ke Indonesia kemaren. Sekarang dia sudah sampai di Pekanbaru. Jadi, aku harus nyusul dia." Kataku.
"Makasih, Nora. Sampai jumpa lusa mendatang."
"Iya, Han. Sampai jumpa."
Aku memperhatikan Nora yang pergi meninggalkan ruang kerjaku. Setelah dia hilang dari pandanganku barulah aku mulai bergegas dan bersiap untuk pulang. Aku membereskan semua barang yang ada di meja kerja, lalu mengambil tas dan siap untuk pergi. Tiba-tiba aku menghentikan langkahku. Aku menoleh ke arah laci tempat aku menyimpan buku dari Rain. Rasanya aku ingin membawa buku itu bersamaku. Setelah beberapa saat berpikir, akhirnya ku putuskan untuk membawa buku itu pulang.
...----------------...
Beberapa jam kemudian aku mendarat di Bandara Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru. Aku langsung di sambut Kak Fatha yang kurasa sudah sedari tadi menungguku. Dia tersenyum manis menatapku yang sedang berjalan menuju kearahnya. Aku pun langsung memeluknya ketika kami sudah berdekatan. Dia membalas pelukan ku dengan erat. "Aku merindukan Kakak," ucapku lirih. Ia mengelus kepalaku dengan lembut. "Kakak juga," balasnya.
Tidak lama kami menghabiskan waktu di bandara, kami pun langsung meneruskan perjalanan ke tempat asal kami. Tempat seribu kenangan. Dimana semua cerita ada di sana. Terutama Rain. Saat berada di rumah rasanya ada Rain di sisi ku. Padahal dia sudah lama menghilang.
Aku menatap wajah Kak Fatha yang sedang serius menyetir mobil. Dia sangat tampan sekali. Jauh lebih tampan dari dulu. Garis wajah kedewasaannya memberikan kesan menarik tersendiri. Rahangnya yang tegas membuatnya semakin terlihat berkarisma.
__ADS_1
Kak Fatha menoleh ke arahku. Mungkin dia sadar kalau aku sedang memperhatikannya. "Ada apa?" Tanya Kak Fatha.
Aku pun tersenyum sambil menggelengkan kepala.
"Lalu, kenapa Hany menatap Kakak?" Tanya Kak Fatha dengan penasaran.
"Memangnya nggak boleh kalau cewek menatap wajah cowoknya."
Kak Fatha pun tersenyum. "Ya.. Boleh, sih. Apalagi cowoknya ganteng kayak bintang film Korea." Gurau Kak Fatha.
"Percaya diri banget ya.." Ujarku sambil mendorong bahu Kak Fatha. Dia pun terkekeh.
Aku kembali menatap jalanan yang basah. Ya, di luar sedang hujan, namun masih banyak kendaraan yang masih berlalu-lalang di sepanjang jalan. Aku menoleh ke arah bangunan tokoh yang berjejeran di tepi jalan. Hal ini ku lakukan agar tidak merasa bosan. Namun, tiba-tiba aku merasakan rasa hangat di tangan kananku. Kak Fatha menggenggam tanganku. Aku pun menoleh ke arahnya. Dia tetap fokus terhadap jalanan. Aku pun mencoba untuk melepaskan tanganku dari genggaman nya. Namun, dia semakin erat menggenggamnya.
"Memangnya harus kayak begini? Nanti kita nabrak, loh!"
"Biarin. Yang pentingkan kita matinya sama-sama," ujar Kak Fatha.
Aku pun tersenyum kagum melihat Kak Fatha. Aku tidak menyangka kalau seorang Kak Fatha bisa bercanda seperti itu. Ya.. Aku tahu memang sejak kami pacaran dia hampir selalu membuatku tertawa. Walaupun dari segi luarnya dia tidak terlihat seperti seorang pelawak. Kami hampir tidak pernah bertengkar. Bahkan ketika hubungan kami dilanda konflik kami berusaha satu sama lain untuk saling membujuk.
Kak Fatha bisa di katakan hampir sempurna sebagai pasangan. Dia lembut, tidak pemarah, soleh, pintar, dan juga lumayan tampan. Kalian kan sudah tahu itu semua. Namun, walaupun begitu aku masih merasa belum sepenuhnya nyaman dengannya. Mungkin karna hatiku masih terbang berkelana mencari sosok yang menghilang. Ketika bersama Kak Fatha hanya ragaku yang ada di sampingnya, namun jiwaku melayang entah kemana. Terkadang dia sering bertanya, "Han, apakah kamu masih bersamaku?" Lalu, saat itulah aku tersadar dan menjawab, "Iya. Aku masih bersama Kakak."
Hujan masih deras di luar sana. Suasananya sudah hampir sepi. Matahari sudah hampir tenggelam. Dan yang aku rasakan hanya genggaman hangat tangan Kak Fatha.
"Han.." Lirih Kak Fatha.
"Hemm.."
"I really love you," ucap Kak Fatha dengan lembut.
Aku pun tersenyum dan menjawab, "I too."
__ADS_1
...----------------...