
^^^Tiga hari menjelang kepulangan..^^^
Sudah hampir dua bulan, aku telah berhasil melupakan hal-hal yang berkaitan dengan Rain. Walau pun sebenarnya tujuan ku belum tercapai sampai sekarang. Aku tidak bisa menemukan solusi bagaimana cara membawa Rain pulang. Bahkan aku tidak mendengar kabarnya sejak hari itu.
Akhirnya pekerjaan disini akan segera selesai. Minggu depan adalah hari yang Kak Fatha dan aku nantikan. Kak Fatha pasti sudah bekerja keras untuk mempersiapkan acara peresmian perusahaan barunya dan tentunya acara pertunangan kami.
Aku tersenyum ke arah cincin yang melingkar di jari manisku. Tidak tahu tiba-tiba saja merindukan Kak Fatha. Sudah seminggu kami tidak berkomunikasi karna sibuk dengan urusan masing-masing. Aku juga memakluminya karna aku tidak bisa melakukan apa pun sekarang untuk membantunya.
Tiba-tiba Nora memasuki ruanganku dengan membawa beberapa berkas di pelukannya.
"Han, ini beberapa berkas terakhir yang harus kamu tanda tangani. Setelah ini pekerjaan kita beres. Kita tidak perlu lagi datang ke kantor setelah ini," jelas Nora.
"Baiklah, berikan padaku biar aku bereskan. Sepertinya kamu ingin cepat pulang ke Indonesia."
Nora sedikit murung, "Sebenarnya aku memang ingin pulang tapi aku tidak bisa meninggalkan Vifi."
Aku pun menatap prihatin padanya. "Aku mengerti perasaan mu, Nor. Kalau begitu habiskan sisa hari kita disini bersama Vifi. Aku akan mencutikan kalian 2 hari ini."
"Serius, Han?" Ujar Nora bersemangat.
"Iya.." jawab ku ikut senang melihatnya.
"Ahh.. makasih Hany. Cuma kamulah bos yang paling pengertian." Nora berlari memeluk ku.
"Tapi kalian jangan lupa nanti malam acara terakhir promosi produk. Para investor akan datang, malam ini kalian bantu aku dulu ya.."
"Kamu tenang saja. Ini acara kita bersama. Pastinya tidak boleh gagal. Apalagi para investor akan datang, kita harus bisa mencari banyak keuntungan."
"Benar sekali."
Aku juga sangat bersemangat untuk acara ini. Jika kami bisa mendapat investor secara langsung maka kemungkinan kami bisa membuka cabang baru di Thailand.
Merasa bosan di kantor sendirian aku pun pergi mencari angin segar di luar sekitar kantor Ashava. Kantor yang terletak di tengah pusat kota Bangkok ini memiliki akses berdekatan dengan pusat perbelanjaan dan juga restoran-restoran besar. Beberapa dari restoran itu juga termasuk anak cabang dari perusahaan Ashava. Jujur aku sangat tidak percaya bahwa perusahaan kami bisa bekerja sama dengan perusahaan besar ini.
Aku berjalan menuju sebuah mall yang sedang rame di kunjungi. Aku sedang berniat untuk membeli baju untuk aku kenakan nanti malam. Aku pun melihat-lihat sekeliling. Sangat susah untuk menemukan baju yang cocok untuk ku. Aku harus menemukan baju yang sopan karna aku memakai jilbab. Tapi rata-rata pakaian yang aku lihat tidak cocok untuk ku. Karna merasa tidak menemukan yang bagus aku pun meninggalkan mall tersebut.
Setelah meninggalkan mall, aku merasa lapar. Aku pun pergi menuju sebuah cafe untuk memenuhi hasrat laparku. Aku sering makan disini bersama Nora dan juga Vifi, namun sekarang mereka pasti sedang menikmati waktu bersama. Ya sudah lah..
Tidak lama kemudian aku pun selesai mengisi perutku. Aku pun mengambil dompet dari tas ku hendak membayar. Namun, aku baru sadar ternyata sedari tadi ponsel ku tertinggal di ruang kerja ku karna aku mengisi batrei nya. Aku pun segera pergi kembali ke kantor untuk mengambil ponsel.
Ada banyak pesan dan panggilan tak terjawab di ponselku. Aku pun segera menggeser layarnya untuk melihat satu persatu. Namun, tiba-tiba Nora menelpon.
__ADS_1
"Halo?"
"Halo, Han?"
"Iya kenapa, Nor?"
"Barusan aku dapat telpon dari tempat acara, katanya ada produk yang hilang!"
"Makasih info nya, Nor. Aku akan segera cek kesana. Kamu tidak perlu panik."
"Terimakasih kembali, Hany. Aku akan menyusul kesana juga."
"Baikalah, sampai nanti."
Aku pun segera mematikan ponsel dan pergi menuju tempat acara akan di selenggarakan.
...----------------...
Malam pun tiba, persiapan acara sudah selesai dengan sempurna. Aku pun sudah hadir di sana bersama Nora dan juga Vifi. Kami bersama CEO Ashava Group harus menyapa para tamu yang sudah hadir. Beberapa dari mereka juga ada orang Indonesia, jadi aku tidak terlalu canggung untuk mengobrol bersama mereka.
Setelah menyapa satu kumpulan tamu ke tamu yang lain, aku beranjak ke arah pintu masuk. Beberapa tamu baru saja datang dan itu para investor. Jadi aku bersama Pak CEO pun harus menyambut mereka.
"Good evening, Sir! Please enjoy the event and see some of our company's products."
Aku, Nora, Vifi, dan Pak CEO beserta istrinya mengambil satu meja yang sama. Kami pun menikmati acara yang telah kami selenggarakan dengan penuh semangat.
Tiba-tiba aku merasa sakit perut. Aku pun permisi pada mereka untuk menyelesaikan masalah ku itu. Aku pun segera berjalan ke toilet untuk mengatasi masalah perutku.
Tidak butuh waktu lama, akhirnya aku selesai. Aku pun keluar dari toilet dan alangkah kagetnya aku karna seseorang berdiri di depan pintu toilet sedang menungguku. Dia menatap ke arahku dengan pandangan yang tak bisa ku artikan. Sedangkan aku masih menatap kaget ke arahnya.
"Carsy?" Ucapku yang masih terkaget karna Carsya berdiri di depan ku. "Kamu sudah sembuh?" Lanjutku.
Dia pun tersenyum. "Alhamdulillah sudah, Han. Sekarang aku tidak menggunakan kursi roda lagi."
"Syukurlah.." ujar ku yang ikut senang melihat kondisi Carsy sekarang. "Ayo kita mengobrol di tempat lain biar lebih nyaman," ajak ku.
Aku pun membawa Carsy ke cafe hotel yang ada di lantai bawah. Kami pun memesan beberapa cemilan untuk di nikmati selagi mengobrol.
"Aku baru tahu loh, kalau Ky's Group juga berinvestasi di Ashava."
"Tentu saja kami mau menanamkan saham ketika ada kesempatan. Menanam saham di Ashava tidak mudah loh, Han."
__ADS_1
"Iya, aku tahu, Cars. Karna banyak seleksi, kan?"
"Iya. Untung saja perusahaan kami punya Rain untuk mengurus hal-hal seperti ini."
Aku terdiam sebentar ketika nama Rain di sebut. Aku berpikir kalau Rain pasti sekarang bahagia karna istrinya sudah membaik. Dia menjadi wanita sempurna.
Aku mengamati Carsy. Dia begitu cantik dengan pakaian yang ia gunakan. Wajahnya yang cantik natural bagaimana bisa Rain tidak jatuh cinta padanya. Tapi bagaimana dengan sekarang?
"Rain masih sama seperti dulu, Han. Dia tidak pernah berubah, tetap selalu mencintaimu." Kata Carsy seolah tahu apa yang ada di kepala ku.
"Tidak Carsy. Kamu tidak boleh berkata seperti itu. Aku yakin dengan kondisi kamu yang sekarang pasti dia akan mulai mencintaimu."
"Entahlah, aku tidak pernah yakin Hany."
Aku merasa prihatin padanya. Rain tidak seharusnya membuat dia tersiksa seperti ini. Jika tidak mencintainya mengapa harus menikahinya.
Tiba-tiba ponsel ku berbunyi. Aku pun permisi pada Carsy untuk mengangkat telpon.
"Halo, iya Bun?"
"Hany, ini Ayah. Segeralah atur kepulangan secepatnya, Nak." Ayah terdengar panik di seberang sana.
"Ada apa, Yah?"
"Kakek kamu sudah pergi, Han.."
Aku terpaku mendengar kata-kata Ayah. Rasanya pusing dan ingin pingsan. Namun, Carsy datang menopang tubuhku. Aku merasa tidak percaya dengan semua ini. Aku pun berjongkok dan menangis.
"Ada apa Hany?"
Aku pun memeluk Carsy sambil menangis sesenggukan.
"Kakek Cars.. Kakek sudah tidak ada lagi.." ujarku terbata-bata.
"Innalillahi wa innailaihi rojiun.. turut berduka cita ya, Han.." Carsy pun memeluk ku lebih erat. Ia juga mengelus punggungku.
"Hany kamu tenang dulu ya, kalau kamu begini aku menjadi bingung."
Aku pun tersadar karna perkataan Carsy barusan. Benar aku tidak boleh seperti ini. Aku harus mengatur keberangkatan untuk pulang.
Aku pun menelpon Nora.
__ADS_1
"Halo, Nor. Tolong atur jadwal kepulanganku secepatnya. Kalau bisa malam ini, Nor."
...----------------...