
Aku membeku saat melihat wajah pria yang terlihat sangat marah itu. Lidah ku kelu seketika. Aku tak bisa bereaksi apa-apa.
Kak Fatha pun muncul dari belakang ku. Ia pun segera merangkul bahu ku seraya menatap tangguh ke arah Rain.
"Ada apa Rain kamu datang kesini?" Tanya Kak Fatha.
Rain hanya terdiam menatap tajam ke arah kami berdua. Lalu, tiba-tiba ia meraih tangan ku hingga membuat ku tertarik ke pelukannya.
"Aku akan membawa Hany pulang." Ungkapnya dengan nada datar.
Kak Fatha yang terkejut langsung memasang ekspresi tidak senang.
"Apa maksud mu? Dia calon istri ku jadi jangan seenaknya kamu membawa tunanganku pergi." Kak Fatha pun menarik ku kembali ke pelukannya.
"Dengar Fatha! Hany tidak sepenuhnya mencintai kamu, jadi kamu jangan memaksakan kehendaknya untuk memilih mu." Rain berbicara dengan tegas.
Kak Fatha pun melepaskan pelukannya dari tubuh ku lalu ia maju selangkah.
"Tahu apa kamu soal cinta? Kamu saja bahkan menikahi gadis yang tidak kamu cintai. Bukankah itu juga namanya pemaksaan?" Balas Kak Fatha.
Aku yang mendengar perdebatan dua pria itu langsung gemetaran. Wajahku memanas dan air mata mulai terbendung di pelupuk mataku. Aku tidak pernah terpikir kalau kejadian ini akan terjadi. Dimana Kak Fatha dan Rain akan bertengkar karna aku.
Rain terdiam sejenak karna mendengar perkataan Kak Fatha. Ia sadar kalau yang di katakan Fatha sangat benar. Ia memaksakan diri untuk menikah dengan Carsy yang pada akhirnya membuat semua orang menderita. Tiba-tiba ia mengucapkan kata yang membuatku sangat terkejut, "Aku akan menceraikan Carsy dan akan menikahi Hany." Ungkap Rain.
Plakk!
Satu tamparan berhasil mendarat di salah satu pipi Rain. Tangan ku terhuyung lemah setelah berhasil melayangkan tamparan itu. Hal itu secara refleks terjadi tanpa ku sadari. Darah ku mendidih ketika mendengar kalimat yang menyakitkan itu meluncur mulus dari mulut Rain.
Rain memegang pipinya yang kini memerah. Rasa sakit di pipi itu tidak lebih sakit dari hatinya ketika ia melihat wanita yang di cintainya memilih bersama pria lain. Ia tidak dapat bereaksi ketika melihat ku yang sesak sambil berlinang air mata.
"Hanya pria brengs3k yang mengatakan hal sekeji itu!" Teriak ku.
"Aku bukan wanita seperti yang kamu kira. Aku bukan wanita yang ingin merusak rumah tangga orang lain demi kebahagiaanku sendiri." Lanjutku.
__ADS_1
Kak Fatha pun mencoba menenangkan ku. Namun aku masih merasa kesal dengan Rain.
"Aku tidak menyangka kamu menjadi pria kejam karna cinta masa lalu. Bahkan hati kamu buta tidak dapat melihat ketulusan dari orang lain!"
"Sudah sayang, tenangkan dirimu." Ucap Kak Fatha dengan lembut.
"Carsy sangat mencintaimu, Rain! Cobalah untuk melihat dirinya dan lupakanlah aku. Aku akan segera menikah dan tolong terima keinginan ku untuk terakhir kali," Aku menggantung kata-kata ku.
Rain hanya menatapku seperti sudah pasrah dengan keadaan.
"Tolong jangan ganggu hidupku lagi.."
...----------------...
Hari berlalu begitu saja, tak terasa hari yang kami nantikan akhirnya sudah datang. Hari ini adalah hari bertepatan hari pernikahan aku dan Kak Fatha. Aku sangat gugup ketika kalimat ijab kabul itu di bacakan.
Bunda menggenggam tanganku. Ia juga ikut gugup ketika menyadari anak satu-satunya akan segera menjadi istri orang. Bunda juga sering menangis akhir-akhir ini. Entah itu tangisan karna sedih atau tangisan haru aku tidak tahu. Sepertinya dua-duanya.
Kata itu menggema di seisi ruangan. Aku yang berada di kamar bersama Bunda dan beberapa teman langsung tersenyum bahagia. Setelah itu kami pun ikut berdoa bersama.
Aku pun di antar oleh Bunda dan seorang gadis menuju tempat ijab kabul. Aku duduk di samping Kak Fatha dengan rasa sedikit malu. Aku tidak menyangka sekarang aku sudah resmi menjadi miliknya.
Aku pun menyalami tangan suamiku dan ia pun mencium kening ku. Air mata ku menetes seketika karna sangat terharu.
Setelah acara ijab kabul selesai, para tamu mulai bergegas ingin pulang karna hari juga sudah malam. Kami pun menyambut para tamu dan mengucapkan terimakasih atas kehadiran mereka. Setelah para tamu sudah pergi, kami juga memutuskan untuk pulang untuk menyiapkan acara resepsi di hari berikutnya.
Ketika baru saja meninggalkan gedung setelah berganti pakaian tiba-tiba Carsy menghampiriku dengan tergesah-gesah. Ia menangis ketakutan dan memegang kedua tanganku. Kami yang berada di sana langsung terheran melihat reaksi Carsy tersebut.
"Tolongin aku, Han.." lirihnya.
"Ada apa, Carsy? Kenapa kamu terlihat ketakutan?" Tanyaku yang juga ikut panik.
"Rain.." Carsy pun terisak.
__ADS_1
"Kenapa dengan Rain?" Tanyaku semakin panik ketika melihat Carsy yang ketakutan. Pikiran ku pun mulai menjadi tidak karuan.
"Sepertinya Rain mencoba untuk bunuh diri di dalam kamar dan sudah hampir setengah jam dia tidak merespon kami yang memanggilnya dari luar." Jelas Carsy.
Seketika badanku menjadi lemas. Tadinya aku memang merasa lelah tetap bukan hal itu yang paling membuatku kehabisan tenaga. Membayangkan hal terburuk yang telah terjadi di kamar itu membuatku rasanya ingin pingsan. Tanpa berpikir panjang aku langsung berlari meninggalkan Carsy dan Kak Fatha beserta keluarga kami yang ada di situ. Aku berlari sambil menyuarakan nama Rain di dalam hati.
Segera aku menyambar taksi yang berada di sekitar hotel lalu menuyuruh supir untuk segera melaju menuju rumah Bu Mega.
Perasaanku sangat kacau ketika di perjalanan. Aku tidak bisa membayangkan jika besok di hari bahagiaku aku malah melihat pemakaman Rain di saat bersamaan. Aku sangat merasa bersalah.
Ketika sampai di depan rumah Bu Mega aku pun segera berlari menuju pintu kamar Rain. Aku pun segera berteriak meminta Rain untuk membuka pintu.
"Rain tolong buka pintunya! Aku sangat mengkhawatirkanmu." Teriak ku dari balik pintu.
Namun, pintu itu juga tidak kunjung terbuka hingga Kak Fatha dan yang lain tiba dan mendobrak pintu itu.
Ketika pintu itu terbuka aku langsung menerobos ke dalam kamar. Di sana sudah ada Rain yang tergeletak di lantai dengan badannya yang kaku dan mulutnya penuh busa. Di sampingnya terdapat sebuah botol yang bisa di duga adalah racun. Rain telah melakukan percobaan bunuh diri dengan meminum sebotol racun.
Aku berlari memeluk tubuh Rain yang telah kaku itu. Aku berteriak histeris untuk meminta seseorang menyelamatkan Rain. Kak Fatha pun segera menelpon ambulan. Dan tak lama kemudian petugas rumah sakit pun datang.
Aku melihat Carsy yang tak kala histeris dari ku. Dia menangis tersedu-sedu sambil mengiring tubuh Rain ke dalam ambulan. Aku juga ikut menjaga Rain di dalam ambulan serta Kak Fatha yang sedari tadi mengekoriku.
Dari tadi aku menyuarakan satu kalimat menyedihkan yang membuat air mata ku tak berhenti keluar.
'Ya Allah jangan ambil dia dulu, aku belum bisa melihatnya pergi..'
Mungkin tuhan sedang menguji ku karna telah membuat kesalahan yang fatal. Aku sadar aku punya banyak dosa. Tetapi kenapa Rain harus mengakhiri hidupnya? Sungguh egois.
Selama perjalanan menuju ke rumah sakit aku hanya menangis sambil menggenggam tangan Rain yang mulai dingin. Hatiku sangat cemas melihat pria yang kini terbaring di bangsal. Aku takut hal terburuk menimpa dirinya. Dan jika hal itu terjadi aku tidak akan pernah memaafkan diriku sendiri.
'Rain bertahanlah..'
...----------------...
__ADS_1