
"Sebenarnya ada apa sih, Han, kamu sama si Rain itu?"
Nora masih terlihat bingung setelah menyaksikan peristiwa mengejutkan yang ku alami tadi. Ya, semua orang pasti terkejut ketika mendapati sosok yang ia cari selama ini, tetapi orang itu sama sekali seperti tidak mengenalnya. Bahkan, dia terlihat seperti orang asing.
Tapi, aku sangat yakin kalau yang tadi itu adalah Rain. Wajahnya, tubuh tingginya, rambutnya, matanya, semua itu memang seperti yang di miliki Rain. Hanya saja dia terlihat lebih dewasa. Tapi, apakah mungkin itu bukan Rain. Bahkan Nora yang tak pernah bertemu dengannya saja memanggil namanya tanpa ragu. Atau itu memang Rain tetapi dia sedang membuat alibi untuk pura-pura tidak mengenalku.
Arkh..! Aku mengacak jilbabku frustasi. Pikiran ku sangat kacau sekarang. Rasanya kepalaku ingin pecah karna memikirkan semua itu. Jika dia benar-benar Rain berarti dia sudah menikah dengan wanita itu. Aku bisa melihat bagaimana wanita itu tersenyum lembut ke arah Rain. Dan Rain dengan mesra mengusap rambut wanita itu.
"Han! Kamu baik-baik saja, kan?" Tanya Nora dengan nada khawatir.
"Hah? A-Apa?" Aku tersentak dari lamunanku.
"Yah, dia melamun ternyata" kelu Nora.
"Memangnya ada apa?" Tanya ku.
"Tadi Nora bertanya, hubungan kamu sama Rain itu apa?" Jelas Vifi yang dari tadi mengamati.
"Oh, itu. Kan, aku sudah pernah cerita kalau Rain itu anak tiri Kakek ku dan dia juga teman kecilku."
"Tapi, kalau di lihat seberapa frustrasi nya kamu, kayaknya bukan cuma sekedar itu" ujar Nora.
"Ah, udah deh, jangan bahas dia lagi. Kepala aku mau hancur, nih!"
Aku setengah berteriak di depan kedua rekan ku itu. Dan untung saja mereka sangat mengerti dengan kondisiku.
"Ya sudah, kita makan saja dulu" ujar Vifi.
Aku memilih untuk menikmati makanan yang di pesankan oleh Vifi. Sebenarnya aku sedang tidak berselera untuk makan. Tapi, karna aku sama sekali belum sarapan, jadi mau tak mau aku harus makan. Uh.. Terasa hambar.
Setelah makan siang selesai, Vifi mengajak kami kembali ke alun-alun Rattanakosim Royal Square. Dia mengatakan kalau ia ingin sekali bermain air. Jadi, aku hanya mengikuti apa yang di katakan pria itu.
Walaupun tidak seseru bermain dengan anak-anak tadi, tetapi aku mencoba untuk menikmati suasana itu. Aku hanya berdiri dengan pistol air sambil mengamati Vifi dan Nora yang berlarian karna saling serang.
Bahkan mereka yang baru saja bertemu bisa begitu akrab, sedangkan yang sudah lama bersama seperti tidak mengenal satu sama lain.
Air mata ku menelusuri pipiku yang mulai menghangat. Seketika aku menangis bersamaan dengan pancuran air yang jatuh bagaikan hujan. Aku terisak di antara lautan manusia yang tengah bersorak ria. Dan entah mengapa hanya aku yang berbeda di keramaian ini.
Seolah merasa canggung, aku pun menyembunyikan wajahku di balik telapak tangan. Berusaha menghapus air mata supaya tidak disadari oleh siapa pun. Toh, jika Nora tahu, dia akan panik hingga memesan tiket pesawat tercepat untuk memulangkan ku. Karna dia sangat tahu aku punya mood yang buruk.
Tiba-tiba aku merasakan ada orang yang mengguncang siku ku pelan. Aku pun tersentak hingga langsung menurunkan telapak tangan dari wajahku. Di depan ku sudah berdiri seorang anak kecil dengan membawa sapu tangan. Dia pun memberikan sapu tangan itu kepadaku sambil tersenyum.
"Kh-Khop khun kha!" Ucapku terbata.
Dia hanya mengangguk dengan senyumnya yang belum pudar. Setelah itu, dia pun segera berlari. Aku sempat mengejarnya. Namun dia segera menghilang di balik kerumunan orang. Ku tatap sapu tangan bercorak ombak itu. Sangat indah dan menakjubkan.
...----------------...
__ADS_1
Hari ke dua perayaan Songkran. Aku berpura-pura sakit di depan Nora dan Vifi agar mereka tidak mengajak ku untuk jalan-jalan hari ini. Nora sempat tidak percaya karna sebelumnya kondisi ku sangat baik. Namun, setelah ku iming-imingi dia dengan anggapan dia bisa berduaan dengan Vifi, dia hanya pasrah saja. Vifi terlihat khawatir ketika dia melihat keadaanku. Tetapi, dengan keahlian aktingnya Nora yang super hebat, dia berhasil meyakinkan Vifi kalau aku akan baik-baik saja.
Setelah mereka pergi, aku pun bergegas bersiap untuk segera meninggalkan hotel. Eiittss..! Kalian jangan berpikir aneh-aneh. Aku tidak berniat kabur, kok. Aku hanya ingin mencari sebuah alamat yang di berikan Kak Fatha sebelum aku terbang ke Bangkok. Dia bilang itu alamat tempat tinggal Rain. Oleh karena itu, aku harus mencari tahu sesuatu di sana.
Setelah beberapa kali bertanya, barulah aku mendapatkan alamat pasti rumah tersebut. Sekarang aku sudah berdiri di depan gerbang besar yang tertutup dengan rapat. Bahkan saking rapatnya, aku tidak bisa mengintip sesuatu yang ada di balik pagar besi itu. Aku pun memencet tombol bel yang ada di samping pagar. Butuh waktu yang cukup lama untuk menunggu. Hingga pintu kecil di samping pagar itu terbuka dan menampilkan seorang wanita tua di balik pintu itu.
"Excuse me! Is this a resident of Chearavanont family?" Tanyaku pada wanita tua itu.
Dia terlihat sedikit bingung. Dan kurasa dia sudah tuli. Aku pun mengeja nama keluarga itu dengan jelas. Setelah mendapati bibir ku lebih jelas, barulah dia tersenyum dan mengangguk.
Aku merasa lega karna tujuanku sudah ku temukan. Aku berharap semoga Rain ada di rumah, karna aku ingin menuntut banyak hal kepadanya. Aku pun di ajak masuk oleh nenek itu. Ku rasa dia adalah nenek Rain. Beberapa tahun yang lalu dia mengatakan kalau dia memiliki nenek dari Ayahnya. Tetapi, dia mengatakan neneknya itu terkena stroke hingga ia menjadi bisu.
Ketika aku sampai di dalam rumahnya yang besar, aku langsung di hadapkan dengan tatapan aneh dari penghuni rumah tersebut. Salah satu dari mereka mendekati sang nenek dan terlihat sedikit memarahinya. Apakah bukan saat yang tepat? Nenek itu pun di ajak pergi sang gadis yang telah memarahinya itu.
Aku masih memaku di ambang pintu utama rumah itu. Sambil mengamati orang-orang yang tengah berdiri memandangi diriku dengan pandangan tidak enak. Ku rasa atmosfer di ruangan ini begitu menyesak kan hingga membuatku menjadi tegang.
"G-Good Morning! Can I-"
"Rain is not staying here again!" Potong pria yang berwajah tegas itu.
"What!?"
Sontak aku terkejut karna ucapan pria itu. Apa maksudnya kalau Rain tidak tinggal di rumah ini lagi.
"Should not I tell you never set foot in this house again! Why are you coming again!?" Itu teriak seorang wanita cantik yang berdiri di samping sang pria. "I've said Rain is not here and will never stay here again!" Lanjutnya.
"Yes, that time you came with Mega to look for Rain. Are you thick?" Ujar pria itu seolah dapat membaca pikiranku.
Aku baru ingat kalau aku pernah datang kemari bersama Bu Mega dan Kakek tentunya. Entah mengapa aku sampai lupa. Mungkin saja karna aku melewati rute jalan berbeda sehingga aku tidak mengingat alamatnya.
Sekilas terngiang di ingatanku kejadian yang persis sama seperti sekarang ini. Bagai De javu. Kami juga di teriaki seperti ini waktu itu oleh kedua orang ini. Namun, saat itu lebih parah.
"I just want to meet Rain, really! Can you tell me where he is now?" Kata ku dengan mengumpulkan keberanian.
"We don't know. And never again ask about Rain to us. Now please leave our house!" Pria itu mengulurkan tangannya menunjuk pintu yang ada di belakangku.
Aku tercekat di tempatku. Apakah barusan dia mengusirku. Bahkan aku belum sepenuhnya masuk ke dalam rumah itu.
Aku pun berbalik meninggalkan rumah itu dengan perasaan berkecamuk. Perdebatan singkat dengan tuan Chearavanont itu berhasil membuat mood-ku benar-benar hancur. Aku pun terhuyung lemas meninggalkan halaman rumah itu. Namun, tiba-tiba seseorang menarik tanganku yang membuatku refleks untuk menoleh.
Nenek Rain ada di sana. Dia memberikan secarik kertas kepada ku. Aku pun menerima kertas itu dengan sedikit bingung. Dia pun mengisyaratkan agar aku membuka lipatan kertas itu. Aku pun menuruti keinginannya. Di kertas itu tertulis sebuah tulisan yang terlihat seperti sebuah alamat. Aku pun mencoba untuk bertanya. Lalu, ia menunjuk salah satu bagian di bawah tulisan. Di sana tertulis 'Konyingyong family house'. Aku masih merasa bingung. Menyadari kebingunganku, Nenek itu pun mengeluarkan sebuah pena dari sakunya. Lalu, menulis sesuatu di tangannya.
"Rain lives there now. Find him there," tulisnya.
Aku pun tersenyum dan mengangguk. Aku pun memeluk Nenek itu seraya menangis. "Thank you so much," ucapku. Dia hanya membalas pelukanku dan mengusap punggung ku dengan lembut. Setelah itu, aku pun segera meninggalkan rumah kediaman keluarga Rain itu. Entah mengapa, aku merasa ada hal yang tidak beres dengan keluarga ini.
***
__ADS_1
Aku menekan bel yang terpampang di samping sebuah gerbang kayu bercat putih mengkilap. Sambil menunggu gerbang terbuka, aku mencoba untuk memeriksa kembali alamat yang ada di tanganku itu. Memastikan kembali bahwa tulisan itu sesuai dengan tempat yang ku datangi ini. Aku menganggukkan kepala setelah memeriksa kecocokan antara alamat di kertas dengan yang ku datangi. Lalu, tiba-tiba terdengar suara berisik di balik gerbang. Aku pun menoleh.
"Chai?"
Seorang pria tua dengan setelan kuno muncul dari balik gerbang itu. Aku pun mendekatinya sambil merekahkan seulas senyum. Dia pun tampak membalas senyuman ku. Aku pun memberi salam khas Thailand kepadanya. Lalu, menceritakan tentang Nenek Rain yang memintaku untuk mendatangi alamat ini.
Pria berumur itu pun kembali tersenyum. Dia ternyata adalah Tuan Kongyingyong sang pemilik rumah. Ia pun membenarkan kalau Rain tinggal di rumahnya.
"But, now Rain isn't at home," akunya.
"Ohh.." gumamku.
"If you want, you can wait inside" ujarnya sambil menunjuk ke arah rumahnya.
Tidak butuh waktu lama, aku pun langsung mengangguk. Entah kenapa rasanya aku ingin sekali memasuki pekarangan rumah Tuan Kongyingyong yang terlihat sangat tenang dan damai.
Aku pun mengikuti langkah Tuan Kongyingyong yang memanduku menuju rumahnya. Hingga seketika langkah ku berhenti ketika mendapati seseorang yang sangat ku kenali. Ah, tidak, aku tidak terlalu mengenalnya. Kami hanya bertemu sekali dan belum sempat untuk berkenalan. Dia adalah wanita berkursi roda yang kemarin bersama Rain.
Dia tersenyum sambil memutar roda kursinya mendekatiku. Aku pun membalas senyumannya seraya mendekatinya. Kami berhenti ketika jarak kami sudah dekat. Lalu, menatap satu sama lain untuk beberapa saat.
"Assalamualaikum, Hany!" ucapnya.
Sontak aku terkejut ketika wanita itu menyebut namaku.
"Tidak perlu terkejut, Rain yang mengatakannya padaku" lanjutnya.
Aku pun ber-oh kecil. "Waalaikumsalam."
"Mari masuk!" Ajak wanita itu dengan logat anehnya.
Tuan Kongyingyong pun mendorongkan kursi roda untuk wanita itu. Lalu, memberhentikannya di pinggir sebuah sofa di ruang tamu.
Tuan Kongyingyong pun meninggalkan kami berdua di ruangan itu. Dia mengatakan kalau dia ingin memberikan privasi agar kami bisa mengobrol dengan nyaman. Aku hanya tersenyum dan mengucapkan terimakasih kepada pria berambut putih itu.
Sepeninggalan Tuang Kongyingyong, aku pun kembali fokus pada wanita yang tengah duduk berhadapan dengan ku. Kami diam untuk beberapa detik, karna jujur saja aku tidak tahu aku harus memulai dari mana. Hai! Apa yang di katakan Rain tentang ku? Apa aku harus memulai dari sana? Ku rasa itu bukan ide yang bagus.
"Hai! Perkenalkan nama ku adalah Carsyelia Kongyingyong, dan aku sering di panggil Carsy." Wanita itu membuka pembicaraan di antara kami.
"Hai, Carsy! Aku Hany" balas ku.
"Iya, aku tahu. Rain sudah bercerita tentang mu."
"Benarkah!?"
"Hem," wanita itu bergumam sambil menundukkan kepala. Ekspresinya seketika berubah. Dan aku sangat menyadari perubahan itu. Hei, ada apa?
"Kamu adalah wanita yang di cintai suamiku."
__ADS_1
...----------------...