
"Hentikan.."
Rain menghentikan aktivitas menggairahkan itu di leherku. Mengangkat wajahnya dari ceruk leher yang sedari tadi dia nikmati. Dia menatap wajahku yang sudah di basahi oleh air mata yang menetes. Entah mengapa aku tiba-tiba menangis.
Rain pun mengambil posisi duduk di samping tubuhku yang terlihat lemah. Wajahku ku palingkan ke arah samping menatap dinding yang tidak jauh dari pandanganku. Air mata ku semakin menderas ketika ku rasa Rain mengusap bulir-bulir bening itu dengan jemarinya.
"Maafkan aku, Han.." Ucapnya seperti penuh dosa. Namun aku hanya menangis tanpa bersuara.
Rain pun berbaring di sampingku lalu menarik tubuhku agar bisa di dekapnya. Dalam pelukan Rain aku menangis sejadi-jadinya. Entah apa yang paling membuatku sedih. Rasanya dunia ini tidak adil. Membuatku dalam kondisi baik namun sebenarnya aku tidak baik-baik saja.
Apakah hanya karna aku tidak merasa bersyukur sehingga aku berfikir dunia tidak adil? Atau memang takdir ku saja yang tidak sebaik orang lain? Orang lain bisa bersama orang yang di kasihinya dalam jangka waktu yang lama. Sedangkan aku tidak.
"Sudahlah, berhentilah berdebat dengan diri sendiri. Ini bukan salah mu dan juga bukan salah siapa-siapa. Hanya alurnya saja di berikan seperti ini." Rain pun mengusap rambutku dengan lembut. "Kita tidak tahu apa yang akan terjadi kedepannya. Jadi tidak usah pusing-pusing untuk memikirkannya."
Kata-kata Rain barusan membuatku sedikit tenang. Perlahan air mataku sedikit mereda. Aku pun mengadah menatap wajah Rain yang juga sedang menatapku.
"Apakah kita bisa mengubah takdir, Rain?" tanyaku berharap mendapatkan jawaban yang ku inginkan.
"Kita sedang mengusahakannya, Hany."
Rain pun mengecup pucuk kepala ku yang memberiku kesan kenyamanan dan ketenangan. Aku pun menyelundupkan diriku dalam kehangatan pelukan Rain mencoba untuk menikmati momentum ini. Hingga jiwa ku ini terbawa ke alam bawah sadar yang membuatku semakin merasa tenang.
.
Mimpi indah itu mulai kusut oleh sebuah pandangan buyar yang membuatku terbangun. Aku menyadari kalau ternyata aku sendirian di atas tempat tidur. Rain sudah pergi entah dari kapan.
Aku pun meraih ponsel yang tergeletak di atas bantal, mencoba melihat jam yang tertera di sana. Sudah pukul 5.30 WIB, berarti sudah lewat waktu subuh. Aku pun segera pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuh.
Seraya shower itu mengguyuri tubuhku, aku kembali teringat akan apa yang aku lakukan semalam. Aku mengingat kata-kata yang kami ucapkan. Dan hal itu membuatku sangat bimbang.
Aku ingin bersama Rain, tetapi di sisi lain kami sudah punya pasangan masing-masing. Jadi apakah mungkin kami harus mengegoiskan diri dan tidak memikirkan orang lain? Selain itu hal yang kami lakukan ini adalah dosa. Mungkin salah satu dosa paling besar yang telah kami lakukan.
Aku mematikan keran dan segera menyiapkan diri untuk sholat subuh. Aku berdoa meminta ampunan sekaligus meminta petunjuk kepada Allah agar aku tahu apa yang harus aku lakukan. Setelah kegiatan ibadahku selesai ku lakukan barulah aku keluar dari kamar.
Ketika keluar kamar, wajah yang pertama kali ku tangkap adalah wajah Carsy. Dia tengah duduk di sofa depan tv sambil menikmati acara sinetron pagi. Aku pun menghampirinya yang terlihat sangat menikmati acara tersebut.
__ADS_1
"Selamat pagi, Carsy!" Sapa ku sambil tersenyum.
Dia pun tersontak kaget dan menoleh ke arahku. "Eh, selamat pagi juga, Hany!" Dia pun ikut tersenyum ke arah ku. "Kamu baru bangun ya?"
"Iya nih, Cars. Aku bangunnya telat." Ujarku sambil menggaruk tengkuk ku yang tidak gatal.
Carsy pun terlihat seperti menatapku dengan lamat-lamat membuatku sedikit gugup dengan tingkahnya itu.
"A-Ada apa, Cars?" tanyaku kikuk.
"Ternyata kamu sangat cantik ya, ketika tidak memakai jilbab," kata Carsy yang terlihat takjub dengan penampilan ku.
"Ah, Carsy kamu bisa saja." Jawab ku sambil tertawa ringan.
Setelah beberapa menit asyik mengobrol, kami pun memutuskan untuk ke dapur membuat sarapan untuk orang di rumah. Aku mengajarkan Carsy memasak masakan Indonesia atas permintaan darinya. Kami membuat nasi goreng sebagai sarapan dan beberapa gorengan untuk sebagai camilan.
Ketika semua makanan sudah kami tata di meja makan, Carsy pun segera memanggil Rain dan Bu Mega. Seperti semalam aku duduk di samping Bu Mega dan Carsy berada di samping Rain.
Sesekali aku memperhatikan sepasang suami istri itu. Carsy terlihat begitu telaten melayani Rain di meja makan. Dan begitu semangat ketika meminta Rain mencicipi hasil masakan buatannya itu.
Di sela sarapan pagi itu, kedua pasangan itu juga terlihat saling mengobrol dengan hangat tanpa menghiraukan kami yang ada di depannya. Perasaan cemburu sedikit muncul di dalam hati ku. Walau pun sebenarnya aku tidak punya hak, namun perasaan ini tak bisa untuk aku tahan. Sarapan pagi itu benar-benar membuatku kesal.
...----------------...
Aku pun segera membuka laptop dan memeriksa kotak masuk e-mail ku.
"Iya, Nor. Sudah terkirim, nih. Aku periksa dulu ya. Sampai jumpa.."
Aku pun menjauhkan ponselku dari telinga dan segera memeriksa berkas yang baru saja di kirim Nora.
Aku mengecek satu per satu hasil laporan itu agar tidak menemukan kesalahan. Dan setelah satu per satu selesai ku periksa aku pun kembali menghubungi Nora. Namun, kali ini aku hanya mengirim pesan padanya.
Aku berbaring di atas kasur sambil menatap langit-langit kamarku. Aku masih terpikir tentang kejadian semalam. Mengapa aku bisa terbawa suasana ketika aku menatap mata Rain. Apakah ini yang di namakan cinta?
"Apakah kamu sudah selesai?"
__ADS_1
Suara barusan itu langsung membuatku refleks bangun dari rebahan ku. Suara yang menjadi sensitif untuk di dengar itu membuatku berpikir tidak karuan.
"Apa yang kamu lakukan di sini?" Tanyaku dengan waspada.
"Kenapa kamu kelihatan takut pada ku, Han?" Tanya Rain yang terlihat sedih.
Aku pun mencoba menenangkan pikiran ku. Benar, seharusnya aku bersikap biasa saja. Melupakan hal yang telah terjadi adalah jalan satu-satunya yang harus di lakukan saat ini.
"Maaf Rain. Aku tidak bermaksud begitu," ucap ku dengan rasa bersalah.
Rain pun tersenyum lalu mendekati ku. Dia duduk di kursi belajar yang semalam dia duduki.
"Soal semalam.."
Aku terhenti sejenak karna sedang berfikir kata-kata apa yang harus aku ucapkan agar terdengar tidak menyinggung perasaan Rain.
"Hum?" Gumam Rain dengan penuh tanda tanya.
Melihat ekspresi Rain yang seolah tidak terjadi apa pun di antara kami membuatku tidak ingin membahas masalah itu lagi. Mungkin saja dia juga berpikir sama seperti ku yang ingin melupakannya.
"Tidak apa-apa." Final ku.
Aku pun mengalihkan pandangan sambil tersenyum masam. Seperti ada muncul perasaan tidak terima di hatiku karna Rain telah melupakan kenangan indah namun pahit yang mereka punya.
"Aku dengar minggu depan kamu akan bertunangan. Apa itu benar?"
Pertanyaan yang terlontar dari mulut Rain itu seolah membuat ku tertarik. Aku pun segera menoleh ke arahnya dengan tatapan heran. Bagaimana bisa dia tahu soal pertunangan itu. Padahal informasinya hanya di ketahui oleh aku, Kak Fatha, keluarga ku dan keluarga Kak Fatha.
"Fatha yang memberi tahu ku. Dia memperingatkan ku untuk jangan mengganggu kamu lagi. Bagaimana pendapatmu?"
Rain menatap ku dengan serius seolah menginginkan jawaban yang memuaskan. Tetapi aku bingung harus menjawab apa.
Sebenarnya hal yang di katakan Kak Fatha ada benarnya. Namun, di sisi lain aku juga tidak ingin jauh dari Rain.
Rain pun mendekatiku dan memegang kedua bahu ku sambil menatap mataku dengan tatapan yang penuh harapan. Aku pun menatap nanar coklat itu dengan perasaan yang campur aduk.
__ADS_1
"Batalkan pertunangan itu Hany!" Perintah Rain dengan penuh harap.
...----------------...