Kuingin Menemukan Dirinya

Kuingin Menemukan Dirinya
CHAPTER 20


__ADS_3

Suasana kafe The Star masih sama seperti kemaren. Ramai di penuhi pengunjung yang di dominani oleh kaum anak muda. Hampir semua meja diisi. Dan hanya beberapa meja yang terlihat sepi. Suara alunan musik pop yang terdengar membuat suasana kafe lebih bersemangat di pagi yang cerah. Serta menimbulkan semangat tersendiri bagi pengunjung untuk menyambut paginya.


Aku sudah berada di antara salah satu meja di kafe The Star. Dengan Kak Fatha dan Rain yang duduk di sebelah kanan dan kiri ku. Mereka saling berhadapan. Rain dengan wajah bingungnya dan Kak Fatha dengan wajah gelisahnya. Aku baru sadar kalau sudut bibir Kak Fatha melebam. Namun dia mencoba menutupinya dengan bedak.


"Wajah Kakak kenapa? Kok bisa lebam kayak gitu?" Tanyaku sambil menunjuk area lebamnya itu.


Kak Fatha pun memegang sudut bibirnya. "Oh, ini. Ini cuma karna kecelakaan kecil. Biasa kadang-kadang Kakak suka ceroboh."


"Oh.. Lain kali Kakak harus hati-hati, ya. Kasihan tuh, mukanya jadi hijau biru gituh."


"Iya, Han." Ucap Kak Fatha.


Kami mulai terdiam lagi untuk berapa menit. Aku berfikir bagaimana cara memulai tujuan kami ini.


"JADI.."


Aku dan Kak Fatha tertawa karna kami mengatakan hal yang sama di waktu yang sama. Aku membiarkan Kak Fatha untuk berbicara duluan. Karna bagaimana pun di sini dia yang harus bertanggungjawab atas kesalahannya.


Kak Fatha mulai memandangi Rain dengan serius. Rawut wajahnya menunjukkan kalau dia sangat gugup. Aku sangat memahami situasinya sekarang. Pasti sangat aneh jika tiba-tiba kita meminta maaf kepada seseorang yang tidak mengetahui apa salah kita. Terutama lagi pada orang yang baru kita kenal. Kak Fatha terlihat menarik nafas sangat dalam dan sesaat menghembuskannya. Aku tebak pasti dia akan mulai mengangkat suara.


"Rain. Aku minta maaf." Ujar Kak Fatha seraya menjulurkan tangannya ke depan Rain.


Rain terlihat sangat kaget dan kurasa bingung. Dia memperlihatkan reaksi yang sangat aneh ketika Kak Fatha meminta untuk berjabat tangan.


"Eh, tunggu dulu. Aku masih nggak ngerti dengan apa yang Fatha lakukan. Rasanya kamu nggak ada salah sama aku." Tutur Rain yang masih terkejut.


Kak Fatha pun menoleh ke arahku. Aku pun mengerti bahwa dia sedang meminta bantuanku.


"Jadi.. Kemaren itu kami sempat bertengkar di mobil." Aku menjeda sebentar. "Dan pertengkaran itu karna kamu Rain." Ujarku sambil menatap Rain dengan rasa malu.


Rain terlihat masih bingung dan membutuhkan penjelasan. Dia masih bergantian menatapku dan Kak Fatha berharap kami memberikan penjelasan yang lebih rinci.


"Pokoknya kita itu punya kesalahan satu sama lain. Dan aku harap kamu mau memaafkan Kak Fatha, Rain."


Aku menatap wajah Rain dengan penuh harapan. Berharap dia segera memberi maaf pada Kak Fatha agar masalah ku dan Kak Fatha selesai.


"Iya. Pasti aku maafin, kok. Lagi pula aku yakin kalau ini hanya masalah sepele." Kata Rain sambil tersenyum. Lalu ia pun menyambut jabatan tangan Kak Fatha.


Aku senang melihat mereka bisa berteman dengan cepat. Aku berharap setelah ini mereka bisa menjadi teman akrab seperti pertemanan anatara aku dan Rain maupun dengan Kak Fatha. Ada satu hal lagi yang hampir saja aku lupakan. Yaitu permintaan maafku.


"Kak.." Panggilku.


"Iya. Ada apa, Han?" Kak Fatha menoleh ke arahku.

__ADS_1


Aku pun menundukkan kepalaku, "Aku minta maaf soal kemaren. Maaf karna sudah marahin Kakak."


Kak Fatha pun mengusap kepalaku sambil tersenyum. Dia pun lebih mendekatkan wajahnya ke wajahku.


"Sudah Kakak maafin, kok. Lagian itu juga salah Kakak karna terbawah emosi. Jadi kita saling memaafkan saja, ya." Ujar Kak Fatha.


Aku pun tersenyum dan mengangguk.


"Ya sudah. Sebagai permintaan maafku, hari ini aku akan ajak kalian jalan-jalan kemana pun yang kalian suka. Kalian bisa pilih kemana saja yang kalian mau." Kata Kak Fatha dengan penuh semangat kepada kami.


"Serius nih, Kak?" Kak Fatha mengangguk. "Wahh.. Rain kita bakalan jalan-jalan gratis hari ini. Kita mau kemana dulu, ya?"


Aku pun mencoba memikirkan tempat yang paling asyik di Pekanbaru.


"Ah, bagaimana kalau kita pergi nonton! Kamu pengen banget kan, Rain, nonton film yang di perankan Joaquin Phoenix itu." Tutur Kak Fatha yang terlihat bersemangat.


"Oh, iya. Untung kamu ingatkan aku Fath. Padahal kemaren aku sudah hampir lupa sama film itu. Ya sudah ayo!" Ajak Rain.


Tiba-tiba perutku terasa keroncongan. Aku baru sadar bahwa aku tidak makan selama belasan jam. Dan sekarang perut ku benar-benar terasa kosong.


"Kita sarapan dulu boleh?" Tanyaku kepada Rain dan Kak Fatha. Mereka hanya tersenyum dan mengangguk.


...----------------...


Sejak melewati pintu masuk hingga sekarang kami sudah duduk, aku terus saja memeluk lengan Rain. Aku memgatakan kepada Rain bahwa aku takut gelap. Tapi, Rain tetap menakutiku dengan nada bicaranya yang aneh.


Aku duduk di anatara Kak Fatha dan Rain. Seperti anak kecil, aku tidak melepaskan lengan Rain dari pelukanku. Sesekali aku bersandar pada bahu Rain karna merasa capek. Di tengah asyik menonton, juga terdengar Rain dan Kak Fatha mengobrol tentang film tersebut. Terkadang mereka terdengar bergurau satu sama lain. Sepertinya mereka cepat akrab.


Aku tersadar setelah Rain menggoyangkan lenganku. Suasana bioskop sangat berbeda. Ruangan yang tadi gelap sekarang sudah terang. Layar bioskop pun sudah tidak memutar adegan film lagi. Dan semua orang mulai meninggalkan ruangan.


"Rain aku ketiduran, ya?" Tanyaku yang baru sepenuhnya sadar.


"Iya, Han, kamu ketiduran." Jawab Kak Fatha yang ada di samping kiriku.


"Maaf ya, Kak. Tadi kan niatnya mau nonton malah ketiduran."


"Iya. Tidak masalah. Kalau ngantuk mau gimana lagi." Kata Kak Fatha.


Aku pun tersenyum ke arah Kak Fatha.


"Oh, ya. Bagaimana kalau kita ke Transmart? Kalian pernah kesana nggak?" Tanya Kak Fatha.


"Ehm.. Pernah, sih. Pas jalan-jalan kemaren kan, Rain. Tapi kami belum sempat buat naik wahana permainan nya." Jelasku kepada Kak Fatha.

__ADS_1


"Ya sudah. Kalau begitu kita kesana, yok!"


Kami pun di ajak Kak Fatha untuk bermain di salah satu Mall yang sedang trend di masa itu. Kami memuaskan diri kami untuk bermain, berfoto, dan menikmati makanan yang ada di sekitar Mall. Tak lupa pula kami membeli kudapan untuk dibawa pulang. Kak Fatha pun memberikanku sebuah boneka ubur-ubur warna merah muda hasil dari mesin boneka yang ia mainkan. Tak mau kalah, Rain juga memberikan ku sebuah boneka ubur-ubur dengan warna biru mudah kepada ku. Dan hari itu menurutku hari yang sangat menyenangkan.


Hari sudah hampir sore. Langit pun mulai berwarna jingga. Suasana jalanan pun mulai menjadi ramai. Dan suhu sekitar pun mulai menjadi sejuk.


Aku baru saja selesai menunaikan ibadah shalat ashar. Ketika aku tersadar kalau kedua temanku tidak terlihat di mana pun. Aku pun memeriksa di tempat sholat laki-laki. Namun, mereka juga tidak terlihat.


Satu notifikasi datang dari Kak Fatha. Dia mengatakan kalau dia dan Rain sedang pergi ke pusat perbelanjaan untuk membeli sesuatu. Dan aku diminta untuk menunggu mereka di salah satu kedai McDonald.


Aku menunggu Kak Fatha dan Rain sambil menyantap makanan yang baru aku pesan. Aku memesan satu burger, sekotak kentang goreng, dan satu gelas Coca-Cola agar aku tidak merasa bosan saat menunggu mereka. Namun, ketika makanan itu mulai habis mereka juga belum kembali.


Aku mulai khawatir dan merasa panik. Aku pun mulai berpikir yang tidak-tidak. Namun, aku yakin kalau Kak Fatha dan Rain tidak mungkin akan meninggalkanku.


Setelah hampir setengah jam menunggu, Kak Fatha datang dengan seikat bunga serta coklat di tangannya. Aku merasa legah karna Kak Fatha sudah ada di sini. Rasa panikku mulai turun dan di sertai rasa lapang dada.


"Kak Fatha dari mana saja? Rain mana?" Tanyaku sambil melihat situasi di sekitar Kak Fatha.


Tidak ada Rain di mana pun. Tetapi aku yakin kalau dia baik-baik saja.


"Han.."


Kak Fatha memegang tanganku dan mengajakku bangkit dari kursi. Aku sontak kaget dengan apa yang di lakukan Kak Fatha. Dia pun menatapku sambil tersenyum manis. Aku hanya diam membeku sambil menatap mata Kak Fatha. Serta menantikan apa yang selanjutnya akan di lakukannya. Semua orang yang ada di sekitar kami pun mulai menyoroti matanya ke arah kami. Berbagai ekspresi bisa kulihat dari sudut mataku.


"Hany. Will you be mine?" Ucap Kak Fatha dengan lembut.


Seketika aliran darahku bergerak seperti kilat. Mataku terbelalak saking kagetnya. Aku merasa kaki ku tidak berpijak di bumi. Dan kalimat yang baru saja di ucapkan Kak Fatha menggema di dalam kepalaku.


Kak Fatha pun memberikan coklat dan buket kepada ku. Namun, aku masih belum tersadar dan masih terpaku di depan Kak Fatha. Jantung ku benar-benar berdegup kencang.


"Kalau Hany, terima hadiah ini, maka Kakak anggap Hany menerima Kakak. Tapi kalau Hany menolak Kakak, silahkan Hany buang bunga itu ke tong sampah yang ada di sana."


Dengan penuh kesadaran aku mengambil hadiah itu dari tangan Kak Fatha. Namun, aku tidak semata-mata menerimanya. Aku pun memberikan penjelasannya.


"Kak Fatha, aku akan ambil bunga ini sebagai jaminan. Aku tidak bisa memberi jawabannya sekarang. Jadi, aku mohon kasih aku waktu."


"Aku akan kasih kamu waktu semau kamu. Karna aku tidak akan pernah bosan untuk menunggumu."


"Makasih, Kak."


Aku pun tersenyum manis menatap wajah Kak Fatha yang teduh. Dia pun juga menatapku sambil tersenyum. Yang membuat ku terasa tenggelam di dalam lautan matanya.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2