Kuingin Menemukan Dirinya

Kuingin Menemukan Dirinya
CHAPTER 16


__ADS_3

Sudah empat hari kedua orang tua ku tidak berada di rumah. Aku menjalani hidupku seperti biasanya. Maksudku, saat orang tua ku sibuk berpergian ke luar kota untuk bekerja. Rasanya melelahkan harus mengejar oplet setiap pagi. Karna beberapa bulan belakangan ini aku selalu di antar Ayah ke sekolah. Menjalani kebiasaan lamaku sangat susah bagiku sekarang. Setelah hampir terbiasa dengan hidup layaknya seperti anak-anak lainnya.


Sekarang aku sedang mengobrol dengan teman se-geng ku di grup Whatsapp. Kami sedang membahas tentang hasil ulanganku yang membuat mereka berdecak tidak percaya. Ya, aku mendapatkan nilai yang jauh melambung dari ulanganku sebelumnya. Bahkan nilaiku yang tidak tuntas sudah selesai ku perbaiki berkat bantuan Rain. Dan Bu Mega terlihat sangat senang dengan perubahanku.


"Dek! Bisa tolong bukain pintu?" Pekik Kak Ina dari dapur.


Saking asyiknya chatingan, sampai-sampai aku tidak menyadari suara ketukan pintu yang berasal dari luar. Aku pun beranjak dari sofa dan menghampiri pintu yang terus di ketuk. Aku pun membuka pintu tersebut. Dan alangkah terkejutnya aku ketika melihat sosok Rain yang berdiri di sana.


"Rain. Kamu ngapain malam-malam kesini?" Tanyaku dengan heran.


Dia mendengus. "Aku kira aku di undang datang kesini," jawabnya.


"Hah?" Aku merasa tidak mengerti apa yang dimaksud Rain. "Ya sudah, deh, ayo masuk dulu. Lagi pula ini sudah agak larut. Nanti tetangga lain berpikir yang nggak-nggak lagi."


Aku pun bergeser dari posisiku sebelumnya untuk memberi jalan masuk Rain. Lalu aku pun menutup pintu dan menguncinya kembali. Setelah itu, aku menemui Rain yang telah duduk di sofa. Aku menanyakan alasan dia datang kerumahku. Ia pun mengatakan kalau dia di undang Kak Ina untuk menginap di rumahku. Kak Ina pun menghampiri kami dengan membawa tiga gelas minuman di atas napan. Dia pun membagikan minuman itu kepada kami. Lalu, ia pun bergabung dengan kami duduk di atas sofa.


"Benar yang di bilang Rain, Han. Kakak yang ngajak Rain nginap di sini." Ujar Kak Ina membenarkan ucapan Rain barusan.


"Tapi kenapa, Kak?" Tanyaku dengan sangat penasaran.


"Soalnya, Kakak mau berangkat pagi-pagi besok. Mungkin dari subuh," jawab Kak Ina.


"Hah? Memangnya Kakak mau kemana?" Aku benar-benar kaget saat Kak Ina mengatakan kalau dia akan berangkat besok.

__ADS_1


"Kakak harus pulang kampung. Anak Kakak sedang sakit, Dek. Jadi, Kakak harus merawatnya sampai dia sembuh. Kakak sudah bilang kok, sama Bunda. Dan dia mengizinkan, kok."


"Terus aku bagaimana?" Tanyaku yang mulai khawatir. Tidak mungkin kan, aku selama beberapa hari tinggal sama Rain.


"Hem.. Minggu depan kan, Adek sudah libur. Jadi, karna besok hari Jum'at dan jam pulang sekolah lebih cepat dari biasanya, habis Sholat Jum'at Adek dan Rain bisa langsung pergi nyusul Bunda."


Sontak aku dan Rain langsung berdecak kaget. Aku tidak pernah berpikiran kalau aku harus pergi dengan Rain. Apalagi disana kami akan tinggal cukup lama. Ya.. Kemungkinan dua minggu. Aku jadi khawatir kalau Rain akan bosan selalu bersamaku layaknya bodyguard.


"Eh, kok, pergi sama Rain sih, Kak? Aku kan bisa naik taksi atau pun transportasi yang lain," Tukasku.  "Lagian aku nggak enak ngerepotin Rain terus." Kata ku sambil menoleh ke arah Rain yang juga memandangiku.


Dia pun tersenyum. "Kamu nggak pernah kok, repotin aku. Malahan aku akan jadi repot kalau kamu pergi sendirian. Itu akan jadi beban pikiran buatku," ujar Rain.


Aku terdiam. Tidak ada kata yang bisa ku ucapkan lagi. Apa dia benar begitu perhatian denganku? Kak Ina hanya diam sambil sedikit tersenyum mengamati kami berdua. "Ya sudah, aku mau tidur dulu." Aku pun berdiri dari sofa berniat untuk meninggalkan Kak Ina dan Rain. Namun, Rain menahan tanganku. "Kamu kira aku mau tidur di ruangan sebesar ini sendirian. Ayo kita ambil peralatan kita buat tidur." Kata Rain dengan wajah yang terlihat aneh. Ya.. Jangan kira aku takut dengan wajah konyolnya itu.


...----------------...


Waktu pelajaran terakhir sudah selesai, dan bel pulang pun sudah berbunyi. Parkiran di penuhi oleh siswa-siswi yang sedang sibuk mengeluarkan motornya dari barisan. Dan kesempatan seperti inilah yang ku gunakan untuk menerobos pagar sekolah dengan aman.


Aku kaget ketika melihat mobil pickup Kakek terparkir di seberang jalan. Di sana terlihat Rain yang sedang duduk di kursi setir yang kacanya di buka lebar. Dia pun keluar ketika melihatku tengah berdiri di depan gerbang. Lalu, menyebrang jalan untuk menemuiku.


"Hany?" Tiba-tiba Kak Fatha sudah berdiri tepat di sampingku. Aku pun menoleh ke arahnya seraya tersenyum menjawab sapaannya. "Eh, Kak Fatha."


"Hany ngapain di sini?" Dia pun melihat keadaan sekeliling kami. "Lagi nungguin orang, ya? Pulang sama siapa?" Belum sempat aku menjawab pertanyaan Kak Fatha Rain sudah sampai di tempat kami berdiri.

__ADS_1


"Yok, Han, kita pulang." Ajak Rain.


Aku merasa tidak enak jika langsung meninggalkan Kak Fatha begitu saja. Sebelum pergi aku nencoba untuk berbasa-basi mengenalkan Rain kepada Kak Fatha.


"Bentar, Rain." Aku pun menoleh kepada Kak Fatha. "Kak kenalin ini Rain, teman ku sejak kecil." Rain pun mengulurkan tangannya untuk berjabatan.


Kak Fatha pun membalas jabatan tangan Rain. "Fatha" Ucapnya.


"Rain, ini Kak Fatha, yang selama ini mengajarkan aku belajar Kimia."


Rain pun tersenyum ke arah Kak Fatha. "Oh, jadi kamu guru privat-nya Hany itu. Hany pernah cerita tentang kamu. Dia bilang kamu itu.." Rain pun menatap ku dengan tatapan geli. Aku pun langsung mengubris Rain dengan cubitan di lengannya. "Apa-apaan sih, Rain" Aku pun tersipu malu. Rain hanya terkekeh renyah, sedangkan Kak Fatha terlihat aneh dengan tatapanya yang terlihat risih. "Oh ya, Kak, aku di jemput Rain. Kami harus buru-buru pulang karna kami harus berkemas."


"Memangnya kalian mau kemana?" Tanya Kak Fatha sangat penasaran.


"Kami mau ke rumah sakit buat jenguk Nenek aku yang lagi sakit. Lagi pula kan, minggu depan libur karna kelas dua belas ujian, jadi aku dan Rain akan habisin liburan di sana." Jelasku. "Kalau begitu kami pamit ya, Kak. Assalamu'alaikum."


"Walaikumsalam."


Aku meninggalkan Kak Fatha yang mematung di depan gerbang sambil menyaksikan kami pergi. Sedangkan Rain hanya menyengir ke arah Kak Fatha sebelum dia mengikutiku ke arah mobil pickup Kakek yang terparkir di seberang jalan. Pertemuan Kak Fatha dan Rain terasa menjanggal. Ada sesuatu yang aneh yang baru saja ku saksikan. Dari cara Kak Fatha melihat Rain, serta bagaimana cara Rain memberi Kak Fatha senyum sebelum kami pergi, itu semua terasa tidak biasa. Namun sudahlah. Aku yakin ini hanya prasangka ku saja. Lagi pula tidak mungkin Rain dan Kak Fatha saling mengenal. Memangnya sedekat apa Rain dengan orang Indonesia. Mungkin hanya aku pribumi yang dia kenal.


Sekarang aku sudah duduk di jok kursi samping Rain. Suara menggelegar mesin mobil pun mulai terdengar. Aku masih sempat melihat Kak Fatha yang masih memperhatikan kami dari sebrang jalan. Sebelum kaca mobil di tutup rapat oleh Rain.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2