
"Han, ada apa?"
Tanya Rain saat sadar aku tertinggal di belakangnya.
"Ini ada pesan dari Kak Fatha. Dia minta aku untuk datang ke kafe The star." Jawabku.
"Memangnya Fatha ada di sekitar sini?"
"Aku nggak tahu juga. Tapi Kak Fatha nggak mungkin menipu aku." Kata ku kepada Rain. "Kalau begitu kamu jemput Handphone Ayah sendiri dulu, ya. Aku mau cek dulu di kafe The star."
"Tapi Han.."
Aku pun mengusap pundak Rain dengan lembut, "Jangan khawatir, aku akan baik-baik saja. Aku mohon kali ini saja kamu biarkan aku pergi. Aku bisa jamin kalau tidak akan terjadi apa-apa. Bilang sama Ayah dan Bunda kalau aku mau ketemu Kak Fatha."
Rain hanya menatap ku dengan wajah khawatir. Aku bisa tahu dari ekspresi wajahnya kalau dia tidak yakin dengan rencanaku untuk menemui Kak Fatha. Namun aku tahu, kalau dia tidak akan berani untuk menahanku.
"Ya sudah, pergilah. Nanti aku akan sampaikan ke Ayah sama Bunda kamu." Kata Rain.
"Kalau begitu aku pergi, ya."
Rain pun mengangguk.
Kami berpisah di depan rumah sakit. Rain pergi menuju parkir untuk mengambil mobil. Sedangkan aku menunggu taksi untuk mengantarku ke tempat janjianku dengan Kak Fatha. Rain sempat tersenyum saat mobilnya melewatiku. Senyum itu seakan mengisyaratkan bahwa dia masih khawatir denganku. Namun aku membalas senyumannya di ikuti anggukan, aku akan baik-baik saja.
...----------------...
Aku memasuki kafe The star yang sedang ramai di penuhi pengunjung. Kafe The star merupakan salah satu kafe baru yang sangat terkenal pada masa itu. Banyak para remaja yang mengunjungi kafe tersebut, karna memang kafe itu sangat bergaya modern dan juga sangat keren.
Aku melihat Kak Fatha duduk di sebuah tempat tak jauh dari pintu masuk. Aku pun langsung menghampiri mejah itu dan duduk dengan posisi berhadapan dengannya. Dia tersenyum menatapku. Aku pun menjadi gugup. Kenapa tiba-tiba terasa begini. Sebelumnya terasa biasa saja.
"Hai Hany. Apa kabar?"
"Alhamdulillah, baik, Kak. Kakak bagaimana, ujiannya sukses?"
"Alhamdulillah, sukses, Han."
"Oh.. Syukur kalau begitu."
Aku pun mengalihkan pandanganku ke arah jendela yang ada di samping meja kami. Melihat pemandangan suasana sore yang terjadi di pusat kota. Ramai dan damai.
__ADS_1
"Kakak sengaja loh, pilih tempat di sini." Ujar Kak Fatha. Sontak aku menoleh ke arahnya. "Karna Kakak tahu kalau Hany suka duduk di dekat jendela."
Aku terkejut mendengar apa yang Kak Fatha katakan. Dari mana dia tahu kalau aku suka duduk di dekat jendela.
Aku memandang wajahnya yang kini bergantian menatap suasana luar. Entah kenapa pertemuan kami kali ini terasa aneh. Padahal tidak ada yang berbeda dengan kami. Kami tetap seperti ini. Kak Fatha masih seperti biasanya bergaya rapi dengan rambut klimis-nya. Dan aku, aku tidak memiliki perubahan apa pun.
"Kenapa Hany menatap Kakak seperti itu?"
Aku tertangkap basa sedang menatap Kak Fatha.
"Eh, nggak apa-apa kok, Kak." Ujarku sambil tersenyum malu.
"Oh, oke. Kalau begitu kita pesan makanan saja. Hany mau makan apa?" Tawarnya.
"Nggak usah, Kak. Kakak saja yang makan. Aku tadi baru makan di rumah sakit." Kata ku menolak.
"Ya sudah, kita pesan minuman saja."
Aku juga hendak menolak tawarannya itu, tetapi Kak Fatha sudah terlanjur pergi memesan.
Hanya selang beberapa menit Kak Fatha kembali duduk di tempatnya. Dia mengatakan kalau pesanan kami akan segera datang. Aku pun memulai pembicaraan dengan menyakan hal-hal biasa kepada Kak Fatha. Dia pun menjawabnya dengan semangat. Obrolan kami pun mulai mengalir entah kemana-mana. Sesekali aku tertawa begitu pun dengan Kak Fatha. Dia sangat antusias menceritakan tentang kepanikan teman-temannya saat ujian kemaren. Dan aku hanya mendengarnya sambil sesekali memberi respon.
"Ada apa, Han?" Tanya Kak Fatha yang sedari tadi mengamatiku.
"Nggak ada apa-apa kok, Kak. Tapi kayaknya aku harus pulang. Takutnya nanti orang-orang pada khawatir nyariin aku. Makasih sudah traktir aku minuman. Kalau begitu aku pamit ya, Kak." Kata ku.
"Eh, tunggu dulu. Kita pulangnya sama-sama. Kebetulan Kakak bawa mobil. Biar Kakak anterin Hany pulang."
Kak Fatha pun langsung bangkit dari tempat duduknya setelah menyelesaikan kalimatnya. Aku hanya menunggunya untuk membayar tagihan minuman kami. Setelah beberapa saat, dia pun kembali menjemput ku.
Aku baru sadar kalau perjumpaan kami berlalu tanpa ada maksud dan tujuan. Aku mengira ada hal lain yang menjadi alasan Kak Fatha untuk bertemu denganku selain untuk sekedar pertemuan biasa. Tetapi Kak Fatha tidak mengatakan apa pun, bahkan alasan dia ada di sini pun tidak di katakannya. Tiba-tiba aku teringat Rain. Tidak seharusnya aku meninggalkannya sendirian. Seharusnya aku mengajak dia saja untuk datang bersamaku untuk menemui Kak Fatha tadi. Sekarang aku merasa bersalah pada Rain.
"Kak, aku kepikiran Rain, deh." Ujarku pada Kak Fatha yang sedang serius menatap jalanan senja. "Tadi, aku tinggalin dia di rumah sakit. Aku kira kita bakalan sebentar. Tapi ternyata lama. Sekarang aku merasa bersalah sama Rain. Dia sekarang lagi apa ya? Pasti dia bosan nungguin aku."
Tiba-tiba mobil Kak Fatha berhenti mendadak. Sontak aku langsung kaget dan menoleh ke arah Kak Fatha. Aku melihat tatapannya yang tajam menusuk ke dalam mataku. Dan hal itu membuat ku semakin terkejut. Aku pun mengalihkan pandanganku dari tatapan Kak Fatha. Sekarang aku merasa tidak nyaman di sertai rasa yang sedikit takut. Ada apa dengan Kak Fatha?
"Kenapa Han? Kenapa kamu mengalihkan pandangan kamu?" Ujar Kak Fatha dengan emosi yang terdengar di tahannya.
Aku masih tidak berani menatapnya. Aku hanya terdiam dengan jantung yang berdentum tak beraturan.
__ADS_1
"Aku hanya minta satu hal sama kamu. Bisa nggak kalau saat kita berdua kamu tidak membahas Rain." Tegasnya.
Lagi-lagi aku terkejut dengan ungkapan Kak Fatha yang tidak terduga itu. Aku pun langsung menatap tajam ke arah wajahnya yang masih menatapku.
"Memangnya kenapa? Rain itu teman aku loh, Kak. Lagian dia itu orangnya baik dan selalu ada untuk aku." Ujarku.
"Aku tahu Rain itu teman kamu dan selalu ada untuk kamu. Tapi kamu sadar nggak kalau dia lakuin semua itu karna dia ada maunya." Kak Fatha berbicara dengan nada setengah marah.
"Jangan pernah Kakak mengatakan hal buruk tentang Rain. Tahu apa Kakak tentang dia. Aku itu sudah sedari kecil kenal sama dia. Kami itu tumbuh bersama. Jadi, aku tahu dia tidak mengharapkan apa pun dari aku. Jadi, Kakak jangan sembarangan mengatakan apa pun tantang Rain."
Wajahku terasa memanas dan air mata mulai terbendung di pelupuk mataku.
"Tapi, Han.." Aku memotong ucapan Kak Fatha, "Cukup, Kak! Cukup! Aku tidak menyangka Kakak bisa berbuat seperti ini. Mengatakan keburukkan seseorang tanpa mengetahui kebenaran tentang orang itu. Kakak jahat tahu nggak. Aku benar-benar kecewa sama Kakak."
Aku pun segera keluar dari mobil Kak Fatha dan berlari menjauh dengan air mata terurai. Kak Fatha pun mengejarku dengan mobilnya. Dia pun membujuk ku untuk kembali ke mobilnya. Tetapi aku terlanjur emosi dan meneriakinya berkali-kali agar dia pergi. Dan akhirnya dia pergi meninggalkan ku.
Aku seperti wanita bodoh yang menangis di tepi jalan yang gelap. Sebentar lagi azan akan berkumandang, aku tidak ingin semuanya khawatir. Aku pun memutuskan untuk menghubungi Rain. Dia sangat terkejut mendengar suaraku yang terisak di telpon. Dia mengatakan kalau dia akan segera menjeputku.
Entah dengan kecepatan berapa Rain mengendarai mobilnya. Sehingga dia tidak butuh waktu lama untuk sampai ke tempatku. Dia tercengang melihat keadaan ku yang bisa di bilang kacau.
"Han.. Ada apa?" Tanyanya.
Aku menatap wajahnya yang terlihat lugu. Lalu aku menghambur ke tubuhnya yang hangat.
"Rain.. Kak Fatha jahat. Dia jahat Rain.."
Aku menangis dalam dekapan Rain. Dia pun mengelus kepalaku.
"Sudah-sudah.. Kamu yang tenang, ya. Lebih baik kita pulang, sekarang sudah magrib, tidak enak kalau kita di lihat orang."
Rain pun mengajak ku masuk ke dalam mobil dan membawaku pulang.
Malam itu kami membatalkan rencana makan malam kami dengan Fajri. Rain meminta Fajri untuk mengundurkan acara kami menjadi besok malam. Hal itu berhubungan dengan kondisiku yang kurang baik. Sejak aku sampai di hotel, aku memilih menguncikan diri di kamar hotel. Bahkan, ketika Bunda menyapaku, aku sama sekali tidak meladeninya.
Sepanjang malam aku terpikir tentang kejadian di dalam mobil Kak Fatha. Aku tidak menyangka kalau Kak Fatha bisa berpikiran seburuk itu terhadap Rain. Aku pikir dia pria yang dewasa dan tidak pernah berpikiran kekanak-kanakan seperti itu. Tapi hal yang tidak aku mengerti kenapa Kak Fatha bisa berkata seperti itu. Bahkan dia tidak mengenali Rain. Kak Fatha memang naif.
Tiba-tiba ponselku berbunyi. Aku pun meraihnya dan membuka sebuah pesan yang baru masuk tersebut. Tentu saja itu dari Kak Fatha yang memohon minta maaf. Sebenarnya aku sadar satu hal, aku juga salah pada Kak Fatha dan dia tidak memiliki salah terhadapku. Seharusnya dia meminta maaf kepada Rain bukan kepada ku. Aku pun mengiriminya balasan berupa permintaan, bahwa aku akan memaafkannya kalau dia juga meminta maaf kepada Rain. Selang beberapa detik Kak Fatha pun membalas bahwa dia setuju.
...----------------...
__ADS_1