Kuingin Menemukan Dirinya

Kuingin Menemukan Dirinya
CHAPTER 13


__ADS_3

Deruhan mesin motor tua baru saja terdengar meninggalkan halaman rumahku. Itu berarti hari sudah terlalu tinggi untuk di sapa sebagai pagi. Aku terbangun dengan kondisi tertidur di atas lantai yang dialasi sejadah. Bahkan bawahan mukenah pun masih melekat di pinggangku dengan baik.


Aku menoleh ke arah gorden jendela yang masih tertutup. Cahaya yang tampak malu-malu menerobos melalui cela kain panjang itu. Aku pun beralih pandangan menuju sisi lain kamarku. Di sana terpampang jam bulat dengan jarum panjangnya di angka sepuluh dan jarum pendek di angka mendekati sebelas.


Aku segera bangkit dari baringanku dan langsung mengemas alat sholat ku yang tergeletak di lantai. Setelah itu, aku pun mengambil handuk untuk menyegerakan penyegaran tubuhku.


Setelah merasa sangat segar, aku pun keluar dari kamarku menuju dapur tempat Kak Ina biasanya beraktivitas. Seperti dugaanku, dia sudah menyiapkan sarapan yang hampir bisa di sebut sebagai makan siang. Aku pun menghampiri Kak Ina yang sibuk di meja makan.


"Ehm.. Bunda dimana, Kak?" Tanyaku ketika menyadari Bunda yang sama sekali tidak terlihat. "Bunda pergi sama Ayah ke kebun karet Kakek," jawab Kak Ina singkat.


Aku langsung mengerutkan dahi dan merontah. "Kok, mereka nggak ajak aku sih, Kak. Aku kan mau ikut juga," rengek ku.


Kak Ina pun tersenyum sambil memberikanku sepasang sendok dan garpu. Aku tidak terima dia mengabaikan ucapanku dan hanya memberikan senyuman kepadaku. Aku pun kembali merengek. "Kak Ina.. Kok, Kak Ina nggak ada respon?"


"Ya.. Mau bagaimana lagi, Hany kan, masih tidur," Tukas Kak Ina sambil memberikan ku sepiring nasi goreng. Aku pun mengerutkan bibir. "Padahal aku ingin ikut."


Kak Ina kembali tersenyum. Dia pun duduk di seberang kursi ku sambil mengamati ku melahap nasi goreng. Butuh beberapa menit sebelum Kak Ina mengangkat suaranya. Setelah nasi goreng di piringku habis, barulah dia bicara.


"Kamu nggak bakalan suka berada di kebun karet. Di sana banyak nyamuknya." Kak Ina mencoba untuk memperbaiki keadaan hatiku. Aku pun mendelik ke arahnya. "Biarin. Paling tidak kan, di sana ada Rain," ungkapku. "Huu.. Dasar genit!" Sorak Kak Ina sambil melempar plastik tisue ke arahku. Aku pun terkekeh di seberangnya.


"Eh, ngomong-ngomong soal Rain, tadi dia kesini, loh!" Ujar Kak Ina.


Aku hampir tersedak di tengah minumku saat mendengar nama Rain disebut. "Hah? Rain kesini?" Dia pun mengangguk.


Kak Ina pun menceritakan tentang kronologi pagi yang telah kulewatkan. Dia mengatakan kalau Rain datang kemari untuk mengajakku pergi keluar. Tetapi, karna aku masih tertidur, dia memustuskan untuk pergi sendiri. Jadi, dia tidak ada di kebun. Terus dia pergi kemana?


"Eh, tapi tadi pagi ada cowok yang datang kesini, Dek. Dia bilang kalau dia mau ketemu sama kamu. Tapi Kakak bilang kalau Adek masih tidur. Setelah itu, dia pun pergi." Aku langsung kaget mendengar cerita Kak Ina tersebut. Aku tahu siapa yang di maksud Kak Ina. Pasti pria itu adalah Kak Fatha. Aku lupa kalau aku punya janji jalan-jalan hari ini dengannya.

__ADS_1


"Astagah! Cowok itu pasti Kak Fatha, kan?" Tukasku sambil menepuk meja makan.


"Ah, benar. Dia bilang namanya Fatha." Ujar Kak Ina yang terlihat baru saja teringat sesuatu. "Oh ya, maaf sebelumnya, Dek. Tadi si Fatha itu minta nomor Handphone Adek. Jadi, Kakak kasih, deh. Nggak papa, kan?"


"Enggak masalah, Kak." Aku pun beralih dari tempat ku duduk dan pergi menuju kamarku untuk mencari ponselku yang entah di mana ku letakan. "Adek mau kemana?" Teriak Kak Ina yang baru saja kutinggalkan. "Nyari Handphone!"


Aku menemukan ponselku di bawah bantal tempat tidur. Aku pun menyalakan layarnya yang masih mengkilap. Ku lihat satu notifikasi tertera di layar benda persegi panjang itu. Lalu, aku pun menekan layar tersebut untuk melihat isi pesan yang belum sempat terbaca.


Nomor tidak di kenal. Dan aku bisa mengetahui itu nomor Kak Fatha dari isi pesan yang ku baca. Dia bertanya apakah aku sudah bangun. Dan pesan ini masuk sekitar satu jam yang lalu.


Aku pun membalas untuk memberitahunya bahwa aku sudah bangun. Serta meminta maaf karna tidak menepati janji untuk jalan-jalan bersama Kak Fatha. Pesan itu di balas dengan cepat oleh Kak Fatha. Dan alangkah terkejutnya aku karna acara jalan-jalan itu memang di batalkan.


Tiba-tiba ponselku berdering. Hampir saja aku menjatuhkannya karna terpelenjat kaget. Di sana tertera nomor Kak Fatha yang belum sempat ku simpan. Aku pun menjawab telpon itu dengan ragu-ragu.


"Ha-halo?" Terdengar suara berisik di seberang sana.


"Halo, Han! Maaf karna kita tidak jadi jalan-jalan. Mendadak Kakak ada acara yang tidak bisa di tunda. Jadi, kita pergi nanti malam saja, ya?"


Setelah aku menyetujui ajakannya, Kak Fatha pun menutup telpon tersebut. Aku pun kembali menaruh ponselku di bawah bantal agar aku tidak lupa dimana aku meletakkannya. Setelah itu, aku pun pergi menemui Kak Ina lagi di dapur.


...----------------...


Tepat setelah sholat isya, Kak Fatha datang menjemputku. Aku pun mengambil tas sandang yang biasa ku bawa dan menaruh ponsel di dalamnya. Setelah itu, aku menemui Kak Ina yang sedang asyik memainkan ponselnya di sofa. Aku pun meminta izin kepadanya, karna hanya dia orang yang tersisa di rumah.


Aku keluar dari rumah dan mendapati Kak Fatha yang tengah berdiri di samping mobilnya. Kali ini dia membawa mobilnya bukan motor bergigi yang selalu dia bawa. Mobilnya berwarna putih dengan nomor plat yang menunjukkan namanya. Sepertinya mobil itu hanya memiliki dua baris jok mobil. Hal itu bisa ku ketahui dari ukuran mobil yang terlihat mungil.


"Apakah kita bisa berangkat sekarang? Atau Kakak perlu meminta izin sama orang tua Hany dulu?" Tanya Kak Fatha yang masih berdiri di tempatnya.

__ADS_1


"Tidak perlu, Kak. Mereka sedang tidak dirumah. Kita bisa pergi sekarang," jawabku.


Aku pun mendekati Kak Fatha sambil memegangi tali tas sandangku. Aku merasa gugup, karna sebelumnya aku tidak pernah pergi dengan laki-laki selain Rain. Dan ini adalah kali pertama.


Kak Fatha membukakan pintu mobil ketika aku sudah mendekatinya. Aku pun masuk ke dalam mobil sambil melemparkan senyum kepadanya. Tidak butuh waktu lama untuk dia menempati kursi pengemudi. Lalu, ia pun menyalakan mesin mobil.


Aku terus memperhatikan Kak Fatha dalam waktu yang lama. Dia terlihat tampan dengan pakaian yang di kenakannya. Sebuah kemeja bergaris biru putih dengan sweeter rajut yang melapisinya di bagian luar. Celana jeans yang agak longgar membaluti kaki Kak Fatha yang bisa di bilang berisi. Serta rambutnya yang di pomade rapi menambah daya tarik dari seorang Fathana Jordi.


"Kamu cantik." Ujar Kak Fatha yang membuatku tambah gugup. "Makasih," balasku.


Setelah Kak Fatha mengatakan itu, aku pun tidak berani menengok ke arahnya lagi. Bahkan karna saking gugupnya aku bahkan tidak bertanya kami akan kemana.


Kami hanya terdiam untuk waktu yang cukup lama. Sebelum Kak Fatha akhirnya berhenti di sebuah restoran yang agak jauh dari tempat tinggalku.


Kak Fatha pun mengajakku duduk di lantai paling atas restoran. Di tempat itu pemandangannya cukup indah. Kelap-kelip lampu kota terpancar di jendela di samping tempat duduk kami. Dan hal itu membuatku merasa kami tidak hanya sekedar makan malam biasa. Tapi sedang berkencan.


Seorang pelayan datang membawakan buku menu untuk kami. Kak Fatha pun memintaku untuk lebih dulu memesan makanan. Aku memilih untuk memesan minuman saja. Dan cappucino selalu menjadi pilihanku.


Aku hanya menyaksikan Kak Fatha makan sambil menyeruput cappucino yang tadi ku pesan. Sesekali aku menyendok red velvet yang di pesankan Kak Fatha khusus untuk ku. Dia terlihat seperti orang kelaparan dengan makan secepat itu. Hanya beberapa menit, makanan di piringnya pun telah habis di lahapnya.


Aku mencoba untuk mencari topik pembicaraan. Tidak butuh waktu lama, sesuatu terbesit di benakku.


"Ngomong-ngomong teman perempuan Kakak itu dimana?" Tanyaku mencoba memulai pembicaraan.


Kak Fatha pun mengarahkan pandangan ke arahku. "Kemaren kan, kita janjinya siang. Kalau malam dia bilang dia nggak bisa." Jawabnya dengan tenang.


"Oh.. Begitu," Ujarku.

__ADS_1


"Nanti kalau kamu sudah selesai, kamu kasih tahu Kakak, ya. Tiba-tiba Kakak sakit perut, nih." Kak Fatha mengerang kesakitan. Lalu dia pun pergi menuju toilet setelah meminta izin kepada ku.


...----------------...


__ADS_2