
Langkah ku terhenti ketika aku merasa seseorang menarik tanganku dari balik pintu. Badanku pun berbalik menatap sosok yang mungkin sudah sedari tadi berada di sana. Sekarang matanya sedang bertatapan dengan mataku seolah ingin mencari sesuatu ke dalam tatapan itu. Sejenak aku terbawa suasana kembali ke masa lalu.
Aku mengalihkan pandanganku dan menghempaskan genggaman tangan Rain. Aku pun melihat ke sekeliling ruangan memastikan tidak ada orang yang melihat kami. Lalu, aku pun kembali menatap Rain dengan pandangan tajam.
"Kalau ada yang melihat kita gimana?" tegas ku seraya memarahi Rain. "Kalau mereka berpikir yang engga-engga tentang kita gimana?" lanjutku.
Rain terdiam selama beberapa detik. Pandangannya tidak teralih dari menatap wajahku.
"Aku merindukanmu, Hany." Ucap Rain dengan lembut.
Aku tidak menyangka kalau kalimat itu yang akan ku dengar dari mulut Rain setelah apa yang ia barusan lakukan. Bukannya mencoba untuk melihat situasi, bisa-bisanya dia berkata kalimat manis seperti itu kepada calon istri orang. Padahal aku yakin barusan dia mengintip plus menguping pembicaraan ku dengan Kak Fatha.
"Berhentilah berkata manis, Rain! Aku sudah di lamar Kak Fatha." Aku pun menunjukan cincin yang terlingkar indah di jari manisku. "Sebentar lagi aku akan bertunangan dengan Kak Fatha. Jadi berhentilah menggangguku!"
Aku pun segera meninggalkan Rain yang masih menatapku dengan perasaan sedih. Entah apa yang ada di pikirannya, aku tidak tahu. Yang aku tahu sekarang faktanya kami sudah mempunyai pasangan masing-masing dan tidak akan ada harapan untuk bersatu. Selain itu, aku sudah memantapkan diri untuk hanya mencintai Kak Fatha. Walau pun kadang aku masih merasa sedikit kebingungan dengan perasaanku.
Di satu sisi aku menyadari kalau Kak Fatha adalah tempat untuk ku berpulang. Sedangkan di sisi lain kadang ketika bersamanya aku masih memikirkan Rain. Aku masih bingung dengan perasaanku sendiri. Dan satu hal yang ku pahami, terkadang waktu yang kita habiskan bersama orang lain tak dapat mengalihkan rasa yang kita miliki pada orang yang paling kita cintai.
.
.
__ADS_1
Malam telah tiba menjadi perantara pergantian hari yang penuh duka kami. Rasanya sangat aneh ketika sosok yang paling berisik ketika makan bersama di meja ini kini hanya menyisakan kenangan. Dan sekarang ini hanyalah tersisa keheningan saat makan malam ini.
Aku menoleh ke kursi dimana Kakek biasanya duduk. Bertanya tentang bagaimana pekerjaanku, bercerita tentang masa mudanya yang bahkan sudah dia ceritakan berkali-kali dan juga memberiku nasehat-nasehat bagaimana menjalani hidup yang baik. Namun, sekarang di atas meja yang sama dan tempat yang sama suasana itu tidak ada lagi. Sepertinya kepergian Kakek akan memberikan banyak perubahan yang ada di rumah ini.
Makan malam kami berlalu begitu saja tanpa ada pembicaraan hangat atau sekedar bercerita ringan. Baik Bu Mega, Rain, dan Carsy tidak ada berkata satu patah kata pun saat ada waktu berkumpul seperti ini. Sepertinya mereka masih terlarut dengan pikiran masing-masing. Sama seperti ku yang sedari tadi memikirkan kenangan bersama kakek.
Setelah makan malam, aku kembali ke kamarku untuk beristirahat. Sepertinya semua orang lelah setelah melewati peristiwa yang membuat kami terguncang ini. Jujur kepergian kakek adalah hal yang cukup membuatku syok. Namun, apa yang bisa ku lakukan selain mengiklaskan?
Tok! Tok!
Suara ketukan itu membuatku tersadar dari lamunan ku. Aku pun segera bangkit dari kasur lalu setengah berlari membuka pintu. Ketika daun pintu bergeser di sanalah muka tampan Rain di tampilkan. Aku sejenak terpaku karna melihat keberadaannya yang tak terduga ini.
"Boleh aku masuk?" Tanya Rain setelah beberapa detik berada di depan pintu.
Aku pun bergeser sedikit memberi jalan kepada Rain untuk masuk. "Cepatlah masuk," Ucapku. Lalu aku pun segera menutup pintu ketika sudah memastikan tidak ada orang yang ada di sekitar sana.
Rain duduk di kursi belajar yang ada di samping tempat tidur. Sedangkan aku duduk di ujung seberang tempat tidur yang selurus dengan posisi Rain.
Ada rasa yang aneh saat menyadari kami berdua di dalam satu kamar yang sama. Padahal dulu kami juga sering berada di kamar yang sama. Tapi entah mengapa sekarang suasananya berbeda. Sangat canggung.
Rain menatapku tanpa suara selama beberapa detik. Membuat irama detak jantungku semakin terpacu dengan cepat. Entah mengapa setiap melihat Rain ada rasa yang tidak bisa ku jelaskan muncul di dalam diriku. Tetapi rasa itu tidak pernah muncul ketika aku bersama Kak Fatha.
__ADS_1
"Apa yang kamu pikirkan?" Rain mulai bersuara.
"Tidak ada." Jawabku datar.
"Kenapa kamu tidak mengusirku? Padahal tadi sore kamu menegaskan kalau aku tidak boleh mengganggu mu lagi." Rain pun mulai menatapku dengan serius. Dia memutar kursi belajar itu selurus ke arahku. Dia pun melipat tangannya di dada menambah aura keseriusan yang membuatku merasa terintimidasi.
"Seharusnya begitu. Kamu tidak boleh berada di sini. Kita bukan anak remaja lagi yang masih di maklumi oleh orang-orang." Aku terhenti sejenak, "Lagi pula kita sudah mempunyai pasangan masing-masing. Seharusnya kita tahu batas untuk menghargai mereka."
Aku sedikit mengalihkan pandanganku agar tidak bertatapan dengan wajah Rain. Aku yakin tidak akan bisa berkata dengan lantang ketika aku mengklaim diriku milik orang lain di depan orang yang sebenarnya aku cintai.
Rain terdiam sambil menatapku dengan tatapan teduh miliknya. Mungkin saja kata-kata yang barusan aku ucapkan begitu menohok hatinya. Sehingga dia tidak bisa mengucapkan kata-kata lagi.
Aku memberanikan diri untuk menatap matanya. Seketika diriku merasa di penuhi oleh aliran cinta. Tatapan Rain yang bagaikan sihir dan hipnotis mampu membuatku tidak dapat memperkeras gagasanku barusan. Aku terhanyut dalam tatapan nan indah itu.
Aku pun menaikan semua badanku ke atas kasur lalu bergeser ke tengah. Begitu pun Rain yang kini sudah menaiki kasur. Ia pun meraih tengkuk ku dan mengecap bibirku dengan lembut. Bibir kami saling bersentuhan dan membuat gerakan sesuai irama. Aku terhanyut oleh hal yang tidak pernah ku lakukan itu sebelumya.
Perlahan Rain pun membaringkan ku di atas kasur berukuran queen itu. Sama-sama merasa seperti melayang entah kemana gerakan di bibir itu semakin lama semakin membuas. Tangan Rain pun mulai merabah bagian titik ransanganku. Sehingga membuatku secara refleks mengusap bagian leher belakangnya. Entah perasaan apa yang sedang terjadi sekarang, yang hanya ku rasakan adalah rasa menginginkan orang di hadapanku ini.
Aku menyelundupkan tanganku kedalam kemeja Rain. Badannya yang terasa panas membuatku merasakan kenyamanan. Dia pun segera melepaskan kancing bajunya dan membuang kemejanya itu kesembarangan arah.
Pemandangan tubuh atletis Rain yang berada di atasku semakin membuatku semakin bergairah. Aku pun kembali menarik tengkuk Rain dan menempelkan bibirku ke benda kenyal yang buas itu.
__ADS_1
Seperti halnya aku, Rain juga sangat terbawa suasana saat ini. Dia bertindak seperti orang yang sudah memiliki hak atas diriku. Menciumku, memeluk ku, dan meraba hal yang seharusnya tidak dia raba.
...----------------...