
Aku langsung mendorong Rain saat mendengar kalimat yang barusan ia lontarkan itu.
"Maksud kamu apa memintaku untuk membatalkan pertunangan?!" Tukas ku kepadanya.
"Setelah pergi meninggalkan ku begitu saja dan membuatku sedih setiap harinya, dan sekarang dengan mudahnya kamu berkata seperti itu?" Aku pun berteriak di depan wajah Rain. Air mata ku mulai merembes membasahi pipiku.
"Seharusnya kamu sadar siapa yang kini telah menikah duluan. Dan siapa yang telah meninggalkan siapa. Hatiku sakit Rain saat tahu kamu telah memiliki istri. Dan selama ini hanya Kak Fatha lah yang selalu ada bersama ku."
Aku menangis sejadi-jadinya setelah kalimat yang barusan aku ucapkan. Raut wajah Rain memperlihatkan penyesalan. Dia hanya terdiam memperhatikan ku yang menangis dengan hebatnya.
"Tidak ada lagi harapan di antara kita. Aku harap kita bisa menjalani hidup masing-masing."
Setelah kalimat itu ku sampaikan, aku pun segera berlari meninggalkan Rain yang masih terdiam di kamar ku. Aku berlari hingga bertemu Bu Mega di ruang tamu.
"Ada apa Hany? Kenapa kamu nangis?" tanya Bu Mega dengan muka panik.
Aku pun langsung memeluk Bu Mega karna wajahnya mengingatkan ku akan kakek. Aku tersedu-sedu di dalam dekapan Bu Mega yang hangat.
"Sudah.. Sudah. Hany jangan menangis lagi ya. Sini ayo kita bercerita." Bu Mega pun mengajak ku duduk di kursi ruang tamu.
"Ada apa? Ayo cerita sama Ibu." ucap Bu Mega dengan lembut.
Aku menyeka air mata ku terlebih dahulu sebelum mengucapkan kalimat yang ingin ku katakan pada Bu Mega.
"Rain Bu, dia memintaku untuk membatalkan pertunangan," ucapku terbata-bata.
"Kenapa begitu?" tanya Bu Mega dengan nada lembut.
"Tidak tahu, Bu. Dia itu begitu egois menginginkan dua wanita sekali gus. Dia sudah menikah tetapi masih saja mengejarku."
"Ibu tahu Rain memang dari dulu sangat menyukai Hany. Dari kecil dia selalu bersemangat untuk bercerita tentang Hany kepada Ibu. Dia pernah mengatakan kalau dia ingin menikahi Hany ketika ia besar. Namun, takdir berkata lain. Dia harus menikahi gadis lain karna suatu tragedi."
Aku sedikit bingung ketika Bu Mega mengatakan kata 'tragedi' itu. Maksudnya apa? Dan tragedi apa?
__ADS_1
"Maksudnya Bu?"
"Carsy telah bercerita dengan Ibu soal pernikahan mereka. Rain terpaksa menikahi Carsy karna Carsy telah menyelamatkan nyawanya sehingga membuat kaki Carsy patah." Jelas Bu Mega.
"Aku sudah tahu itu, Bu. Carsy juga sudah pernah menceritakannya kepada ku."
"Rain adalah anak yang penuh rasa tanggung jawab. Selama Carsy di rawat dia selalu menemani Carsy melakukan aktivitas apa pun, dan hal itulah yang membuat Carsy jatuh cinta padanya." Bu Mega terlihat serius ketika menceritakan tentang Rain kepadaku. Dia menjelaskan semuanya agar ketidak salah pahaman ku berkurang.
Aku pun menyimak semua cerita yang di sampaikan oleh Bu Mega. Rasa kesal ku pun berubah menjadi rasa empati kepada Rain. Aku tidak pernah menyangka dia semenderita itu. Bahkan setelah kehilangan keutuhan keluarganya dia juga harus merelakan cintanya. Dan yang hanya bisa ku lakukan dari dulu adalah selalu menyalahkannya.
Perbincangan ku dan Bu Mega pun berakhir ketika azan magrib sudah berkumandang. Kami pun kembali ke tempat tujuan kami masing-masing. Aku memutuskan untuk kembali ke kamar untuk membersihkan tubuh. Serta mendinginkan kepala ku yang rasanya sangat berat.
...----------------...
Malam pun tiba, tanpa memberi tahu ku Kak Fatha rupanya berkunjung malam ini ke rumah Bu Mega. Dia membawakan banyak sekali makanan karna dia baru saja kembali dari luar kota.
"Terimakasih ya, Kak. Ini banyak banget.." ucapku pada Kak Fatha yang kini duduk di sampingku.
Kami semua berkumpul di ruang tamu malam itu. Tak terkecuali Rain yang juga ikut bergabung bersama kami. Melihat Rain dan Kak Fatha yang tidak saling mengobrol memunculkan ide di kepalaku untuk mencairkan suasana.
"Kak kok ga nyapa Rain sih, kan kalian sudah lama tidak mengobrol," ujarku berbasa-basi.
"Bukan begitu Hany, Kakak kan baru saja sampai." Jawab Kak Fatha sambil tersenyum.
"Kalau begitu bagaimana kalau kita pergi jalan-jalan bersama saja. Carsy pasti ingin melihat kota kita, iya kan Carsy?" tanyaku kepada Carsy yang tengah menyemil kue yang di bawakan Kak Fatha.
"Benar. Aku ingin melihat kota ini. Ini pertama kalinya aku kesini." Jawab Carsy dengan semangat.
"Kalau begitu kalian pergi saja. Ibu ingin beristirahat." timpal Bu Mega.
"Ibu yakin ga pengen ikut?" tanyaku.
"Iya Hany, ibu yakin."
__ADS_1
"Kalau Kak Fatha sama Rain gimana? Kalian setuju, kan?"
"Kakak akan ikut kamu," jawab Kak Fatha sambil tersenyum.
"Baiklah, aku setuju." Ujar Rain.
Setelah sepakat dengan keputusan jalan-jalan, kami pun bersiap-siap untuk menyusuri kota. Kami menggunakan mobil Kak Fatha untuk jalan-jalan kali ini.
Aku pun mengambil kursi depan di samping Kak Fatha. Sedangkan Rain dan Carsy duduk di belakang. Aku mengajak Carsy berbelanja ke sebuah mall yang ada di kota. Carsy sangat bersemangat ketika melihat beragam model baju gamis yang di pajang di sekeliling mall. Ia pun memilih sambil memperlihatkan kepada Rain hal-hal yang dia suka.
Aku melihat Rain yang begitu sibuk menanggapi ocehan Carsy tentang baju yang ia pilih. Sesekali Rain tanpak melirik ku yang juga sibuk dengan Kak Fatha. Mungkin saja kami merasakan perasaan yang sama. Rasa tidak nyaman ketika melihat orang yang kita cintai bersama dengan orang lain. Alias cemburu.
"Hany mau sekalian ke butik malam ini?" tanya Kak Fatha di sela-sela aku memilih baju.
Aku yang tidak fokus lantas menjawab, "Ngapain, Kak?"
"Hany belum nyari baju untuk tunangan kita, kan?"
Tangan ku seketika berhenti bergerak di antara helaian baju yang tengah ku lihat-lihat. Kalimat yang barusan Kak Fatha lontarkan itu seolah membuatku terpaku di tempatku berdiri. Seharusnya aku merasa senang, tetapi aku malah merasa resah ketika mendengar kata pertunangan itu.
Aku melirik ke arah Rain yang sedang menatap ke arahku. Aku semakin bimbang karna tidak bisa membuat keputusan terbaik saat ini. Rasanya aku mau pura-pura pingsan saja agar ada peralihan isu.
Carsy pun datang mendekati aku dan Kak Fatha. "Hey, apa aku tidak salah dengar? Kalian mau bertunangan?" tanya Carsy dengan semangat.
Kak Fatha pun memeluk tubuhku dari samping. "Benar, kami akan bertunangan minggu depan. Mohon doa restunya, ya."
"Wah.. Kenapa kamu tidak bilang Hany? Aku bisa membantu mu memilihkan gaun." Kata Carsy sambil tersenyum.
"Benarkah? Kalau begitu ayo kita ke butik setelah ini." Kak Fatha terdengar sangat bersemangat. Sedangkan aku hanya diam di dalam pelukannya. "Mohon bantuannya, Carsy.."
Tidak ada kata atau pun kalimat yang bisa aku ucapkan saat ini. Yang aku lakukan hanyalah menatap Rain yang terlihat sedih. Aku ingin mengatakan padanya apakah benar kita sedang merubah takdir? Apakah diam di saat penentuan nasib juga termasuk cara merubah takdir? Entahlah aku tidak tahu dengan siapa aku akan pulang.
...----------------...
__ADS_1