
Rain menepati janjinya semalam. Ke esokan harinya kami pergi jalan-jalan berkeliling kota Pekanbaru. Kami memulai perjalanan kami ke mal-mal yang ada di sekitar kota Pekanbaru. Membeli makanan, baju, dan juga aksesoris lainnya.
Setelah berbelanja, kami meneruskan perjalanan kami ke bioskop. Kami sempat berdebat ketika memilih judul film. Karna memang selera kami berbeda. Setelah beberapa menit menentukan pilihan, akhirnya si penjaga tiket menyarankan kami sebuah judul film yang dapat membuat kami sepakat untuk menonton film tersebut.
Waktu tidak terasa saat aku dan Rain pergi berkeliling. Saat waktu ashar hampir tiba, kami pun memilih untuk beristirahat di mushola Mall tempat kami menonton. "Sebelum pulang kita ke Gramedia dulu, ya. Aku mau cari novel baru di sana." Ungkap ku. Rain hanya menjawab dengan anggukan kepala.
Deretan buku-buku tersusun rapi di atas rak buku. Berbagai macam judul tertera di setiap deretan rak tersebut. Aku menelusuri setiap judul yang terdapat di rak itu. Berharap ada buku seru yang dapat membuatku ingin membelinya.
"Kak! Novel terbaru apa-apa saja ya, Kak?" Tanya ku pada penjaga toko.
"Yang baru ya, Dek. Itu tuh, yang di leret depan ujung sana." Jawab Kakak itu sambil mengarahkan ku ke tempat yang ia sebut.
Aku pun mengekorinya hingga dia berhenti di sebuah rak buku yang mana deretannya di penuhi judul buku yang sama.
"Ini, Dek. Novel ini baru di cetak bulan lalu dan langsung jadi bestseller. Ceritanya seru bangat, Kakak saja sampai-sampai ke tagihan bacanya."
"Oh, begitu ya, Kak."
Aku pun mengambil salah satu buku di rak dan membaca sinopsis yang ada di belakang buku tersebut. Dari sinopsis yang ku baca memang novel ini sepertinya menarik.
"Kalau begitu aku ambil satu deh, Kak." Ujarku.
"Ya sudah, silahkan langsung bawa ke kasir."
Aku pun membayar novel tersebut dengan harga yang di tetapkan. Setelah si penjaga kasir memberikan bungkusan berisi buku kepada ku barulah aku sadar kalau semenjak tadi Rain sudah menghilang. Aku pun berkeliling di sekitar lorong rak buku untuk menemukannya. Dan setelah melewati beberapa rak buku, barulah aku menemukan Rain yang tengah sibuk membaca buku yang tak ku tahu judulnya apa.
"Ternyata kamu di sini. Aku kira kamu sudah pergi karna merasa bosan." Kata ku yang menghembus nafas lega.
"Eh, Han. Kayaknya buku ini cocok untuk kamu."
Rain pun memperlihatkan buku yang sedang di bacanya. Aku pun membaca beberapa baris kalimat yang ada di buku tersebut.
"Ini buku Kimia, kan?" Tanyaku.
"Iya. Buku ini sangat praktis sekali. Bisa membuat kita paham pembelajarannya dengan cepat." Jelas Rain. "Ini tuh, bagus banget, Han. Aku belikan satu buat kamu, ya."
"Eh, nggak usah-" Belum sempat kalimat itu ku selesaikan Rain sudah pergi menuju meja kasir. Aku pun mengejarnya hingga ke tempat dia membayar.
"Eh, Rain. Nggak usah, biar aku saja yang bayar." Tawarku.
"Tidak apa-apa, Han. Anggap saja ini hadiah dari aku." Kata Rain. "Aku mau kamu mempelajari buku ini dengan sungguh-sungguh, oke?"
Aku hanya mengangguk.
Rain pun membayar buku tersebut kepada penjaga kasir. Sedangkan aku hanya memperhatikan transaksi yang dilakukan oleh Rain. Sebenarnya aku merasa tidak enak kepada Rain. Mengingat harga buku yang di belinya terbilang cukup mahal. Tetapi hal tersebut tidak seharusnya di pikirkan. Toh, juga bukan aku yang meminta Rain membelikannya.
"Bang, bisa pinjam pulpennya?"
Si penjaga kasir pun memberikan sebatang pena kepada Rain.
"Eh, buat apaan Rain?" Tanyaku.
__ADS_1
"Lihat saja nanti." Jawabnya.
Aku mengamati apa yang sedang di lakukan Rain. Dia membuka lembaran pertama buku yang baru saja dia beli. Setelah itu dia pun menuliskan sesuatu di atas lembaran buku tersebut.
"Makasih, ya, Bang."
"Iya, sama-sama."
Abang penjaga kasir pun menerima pena yang di serahkan Rain.
"Ini bukunya jangan lupa di pelajari, ya!" Rain menyerahkan bukunya kepadaku.
Aku pun meraih buku tersebut dari tangannya. Aku langsung membalik sampul dari buku Kimia itu, dan mendapati sebuah tulisan yang baru saja di tulis oleh Rain.
Jangan sampai lupa untuk membacaku. Karna kalau kamu lupa, tuanku akan merasa sedih.
-Untuk Hany tersayang
Aku pun memukul lengan Rain setelah membaca kalimat yang ditulisnya itu.
"Apa-apaan sih, Rain. Lebay tahu!" Tukasku dengan senyum yang masih tersisa di bibirku.
"Ha ha ha.. Biar pas kamu baca, kamu selalu ingat aku. Aku jamin deh, pas kamu mau membaca, kamu pasti bakalan lihat halaman depannya dulu. Karna aku tahu kalau kamu pasti suka dengan kata-katanya."
Rain berbicara dengan penuh keyakinan. Karna dia sudah tahu kalau aku memang akan melakukan hal-hal seperti yang sudah dia katakan.
Kalau tentang menebak diriku, Rain adalah juaranya. Sebab dia sangat mengenal diriku melebihi aku sendiri. Menurutku itulah kelebihan yang hanya dimiliki oleh Rain, tetapi tidak dimiliki orang lain. Rain seperti memiliki indra ke-enam.
"Ya sudah, ayo!"
Begitulah cerita bagaimana buku itu membuat sayatan luka setiap kali aku membacanya. Namun, dibalik sakit yang ditimbulkannya terdapat sedikit rasa rindu yang di obatinya. Buku pemberian Rain memang sangat memberikan banyak pengajaran kepadaku mengenai Kimia. Dan membuatku lebih bersemangat untuk memperdalam pengetahuan ku mengenai hal yang bersangkutan dengan Kimia.
Hingga menginjak kuliah aku masih menggunakan buku pemberian Rain. Walau pun warnanya sedikit sudah kusam, namun sampulnya masih kujaga dengan baik agar tidak robek. Aku merasa buku itu sangat berjasa dalam perjalanan kesuksesanku. Walau pun sekarang aku sudah bekerja, aku tetap saja membaca buku pemberian Rain. Karna aku tahu, setiap yang di tinggalkan oleh Rain semuanya adalah amanah yang harus kujaga.
...----------------...
Sisa-sisa liburanku ku habiskan dengan merawat Nenek di rumah sakit. Kondisi Nenek semakin membaik dari hari ke hari. Bahkan dokter mengabarkan bahwa Nenek sudah bisa di rawat jalan beberapa hari lagi. Nenek mengakatan kalau ini terjadi karna do'a dan kehadiran anggota keluarganya yang selalu menjaganya.
Aku dan Rain baru saja keluar dari ruang rawat Nenek. Ketika kami berjalan, kami pun berpapasan dengan sepupuku yang baru pulang dari Bandung.
"Hany!" Sapanya.
"Fajri?" Jawabku dengan heran.
"Hany, kamu apa kabar?" Tanyanya dengan wajah ceria.
"Aku baik. Kamu?"
Fajri pun menjabat tanganku tanpa izin.
"Aku baik, Han. Aku rindu sama kamu." Ujarnya dengan penuh gairah.
__ADS_1
Aku pun berdehem karna ucapannya yang mungkin menyinggung hati gadis yang ada di sampingnya.
"Nggak masalah kok, dia orangnya pengertian. Lagi pula dia kenal kamu, kok." Kata Fajri.
"Jadi, aku kapan di kenalkan sama dia?" Gurauku.
"Iya-iya." Fajri pun menoleh kepada gadis itu. "Ini Sandra. Hem.." Fajri terlihat malu-malu. Sambil tersenyum dia berkata, "Dia pacarku."
Aku hanya tersenyum geli melihat ekspresi sepupuku itu. Dia terlihat sangat bersemangat.
"Oh.. Jadi dia pacar kamu. Ngomong-ngomong ini impor dari Bandung, ya?" Tanyaku bergurau.
"Eh, memangnya kamu kira dia benda!" Tukas Fajri balik bercanda. Aku pun tertawa. "Nggak, kok, dia orang di sini. Baru kenal kemaren." Lanjut Fajri. Gadis itu pun mencubit lengan Fajri.
"Kok, kamu berani banget, ya, bawa kabur anak orang. Malah kenalnya baru kemaren lagi." Ujarku.
"Salah dia sendiri kenapa mau dibawa kabur." Kami pun tertawa.
"Eh, ngomong-ngomong ini siapa, nih? Jangan bilang dia saingan aku?"
Fajri menanyakan tentang Rain yang sedari tadi menyimak pembicaraan kami.
"Apa-apaan sih, kamu. Ini itu Rain, loh. Yang dulu pernah pergi ke rumah Nenek." Jelasku.
Fajri terlihat sedikit menerawang ingatannya. Lalu, setelah beberapa saat barulah dia sadar tentang siapa Rain.
"Heii.. Bro!"
Fajri pun menyambar tubuh Rain dengan pelukan. Rain pun membalas pelukan tersebut.
"Lama nggak ketemu ya, Bro. Sekarang Bro sekolah dimana?" Tanya Fajri layaknya kepada teman akrabnya.
"Nggak usah nanya-nanya, deh. Toh, kalau di kasih tahu kamu juga nggak bakalan tahu." Tempisku pada Fajri.
"Dimana, Bro?" Tanya Fajri. "Bro sekarang sudah pindah ke Thailand, ya?"
Rain hanya tersenyum.
"MasyaAllah... Ternyata teman kita ini orang luar negri, ya."
Sekali lagi Fajri memeluk tubuh Rain. Dan kali ini di ikuti dengan tepukan pelan di punggung Rain.
"Kalau begitu nanti malam kita dinner, ya. Aku yang bakalan traktir. Kalian harus datang, oke!"
"InsyaAllah.. Kami bakalan datang." Ucapku.
"Ya sudah, kami mau lihat Nenek dulu. Sampai jumpa nanti malam."
"Iya."
Fajri dan Sandra pun pergi menuju ruang rawat Nenek. Sedangkan aku dan Rain melanjutkan tujuan kami untuk pergi ke hotel untuk mengambil Handphone Ayah yang tertinggal. Tiba-tiba ponsel ku terasa bergetar dari dalam tas. Aku pun berhenti berjalan dan memeriksa ponselku itu. Ada sebuah pesan masuk. Dan itu dari Kak Fatha.
__ADS_1
...----------------...