Kuingin Menemukan Dirinya

Kuingin Menemukan Dirinya
CHAPTER 35-END


__ADS_3

^^^2 tahun kemudian..^^^


Hangat sinar matahari menerpa wajah ku di kala sore itu. Aku menggoyangkan kursi ku sambil meneliti setiap jahitan pada kain yang sedang ku kerjakan itu. Pola gambar sebuah nama yang ku lukis di atas kain berwarna biru tua itu seakan membuat ku tersenyum ketika melihatnya. Aku sangat bersemangat untuk menyelesaikan jahitan di atas kain biru tua itu.


Tok! Tok! Tok!


Tetesan darah segar keluar dari jari telunjuk ku. Ketukan pintu barusan itu membuat ku terkejut sehingga kecerobohan itu terjadi. Jari ku tertusuk jarum jahit. Namun, aku segera tersadar dan mengecap jari itu. Lalu meninggalkan pekerjaanku untuk beralih menuju pintu yang barusan di ketuk.


Pintu itu terbuka dan menampakan seorang wanita yang wajahnya sangat ku ku kenali. Aku pun tersenyum sumringah melihat kedatangan wanita itu.


"Carsy! Ayo masuk." Ucap ku sambil memberinya jalan untuk masuk ke dalam rumah.


Carsy pun duduk di sofa yang ada di ruang tamu. Dia terlihat mengamati seisi ruangan rumah ku.


"Wow.. Besar sekali rumah ini, Han. Pasti kamu sangat kesepian tinggal hanya berdua di rumah ini." Ujar Carsy.


Aku pun tersenyum, "Ya.. Begitulah. Sangat kesepian sekali."


"Tapi aku yakin sebentar lagi rumah ini akan terasa ramai karna kehadirannya." Carsy pun menunjuk ke arah perutku.


Aku pun tersenyum sambil mengelus perutku yang sudah membesar.


"Aamiin.." ucapku.


Carsy pun ikut tersenyum.


"Tumben sendiri. Rain dimana?" Tanya ku.


"Rain sedang ada urusan, Han. Jadi dia tidak bisa ke sini."


Aku pun mengangguk tanda mengerti.


"Sebenarnya ada sesuatu yang ingin aku beri tahu, Han." Carsy pun tiba-tiba mengambil sesuatu dari dalam tas nya.


Carsy pun memberikan sebuah tespack dan hasil USG kandungan kepada ku. Hal itu membuat ku sontak terkejut.

__ADS_1


"Ka-kamu.. Kalian..?" Tanyaku tidak menyangka.


Carsy pun tersenyum sambil mengangguk. Aku pun segera memegang tangan Carsy dengan perasaan sangat gembira.


"Sejak kapan, Cars? Kok kamu baru cerita?" Tanyaku antusias.


"Sebenarnya Rain sudah menerima ku sudah dari lama. Tetapi dia tidak bisa melakukan itu karna setiap dia mencoba dia selalu terbayang wajah mu, Han. Lalu enam bulan yang lalu dia pergi ke psikolog untuk meminta bantuan dan akhirnya dia bisa."


Aku yang mendengar itu langsung merasa sangat tidak enak dan prihatin. Karna masa lalu seseorang, orang lain bisa merasakan dampak buruknya.


"Maafkan aku Carsy karna membuat mu dalam masalah." Kata ku sambil menundukan kepala.


Carsy pun tersenyum dan mengangkat wajahku. "Lupakan saja, Han. Itu adalah masa lalu dan kita tidak boleh lagi terperangkap di sana, benar kan? Lagi pula kita sudah menemukan jalan kita masing-masing."


"Makasih ya Carsy. Rain pasti sangat beruntung memiliki istri yang baik dan sabar seperti mu."


"Sama-sama, Hany." Carsy pun mengusap perutku.


"Oh iya, kami akan pindah ke Thailand mulai besok." lanjut Carsy.


"Aku sedang mengandung dan aku ingin bersama keluarga ku saat-saat seperti ini. Tapi kami akan kembali setelah bayi kami berumur 2 tahun nanti."


"Aku akan sangat merindukan mu.." Aku pun memeluk Carsy dengan mata yang berkaca-kaca.


"Aku juga Hany. Aku akan selalu menghubungi mu selama di sana." Ujar Carsy sambil mengusap punggungku dengan lembut.


"Janji ya.."


...----------------...


Aku bersama Kak Fatha datang untuk mengantar Rain bersama keluarganya ke bandara. Mereka sudah bersiap dengan koper mereka untuk segera terbang menuju negara asalnya.


Aku memeluk Bu Mega yang juga ikut bersama Rain. Aku meneteskan air mata ketika memeluk wanita yang memiliki banyak kisah dengan ku itu.


"Kabari jika cucu Ibu lahir ya. Ibu akan segera kembali untuk melihat cucu Ibu." Bisiknya di telingaku sambil terisak.

__ADS_1


"Iya, Bu. Aku akan segera menelpon Ibu. Bu Mega jaga diri di sana ya. Sering-sering lah menghubungiku." Balas ku.


Kami pun melepas pelukan dan tersenyum. Aku memperhatikan Bu Mega yang berjalan duluan. Setelah itu Carsy menghampiriku dan memeluk ku. Aku pun membalas pelukannya.


"Jaga diri mu dan keponakan ku ya.." Ucap ku.


Carsy pun tersenyum. "Pasti, Han." Carsy pun berlalu dan mengikuti Bu Mega di belakangnya.


Aku memperhatikan kedua wanita itu mulai menjauh, saat itulah Rain muncul di depanku. Aku menatap nanarnya yang kecoklatan serta wajah yang tampan itu.


"Aku masih mencintaimu, Han.." lirihnya.


Aku melihat sekeliling untuk melihat keberadaan Kak Fatha. Dia terlihat menjauh dari kami karna sibuk berbicara di telpon. Aku pun kembali menatap Rain. Dari lubuk hatiku yang paling dalam aku ingin mengatakan kalimat ini sekali lagi, " I love you Rain.."


Aku pun menutup mata dengan buliran air yang jatuh dari pelupuk mata ku. Sebuah kecupan hangat mendarat mulus di dahi ku. Darahku seketika terasa mendidih dan air mata ku semakin menderas. Aku memberanikan membuka mata dan menatap mata Rain. Rain pun mengusap air mata ku.


"Sampai jumpa, Hany. Aku harap nanti nya kita bisa menerima keadaan kita satu sama lain. Tidak ada lagi cinta sebagai pria dan wanita, tetapi yang ada hanya cinta sebagai saudara."


Mendengar kata-kata itu hati ku sangat teriris. Ada rasa tidak terima dan rasa yang tidak bisa di jelaskan. Namun, aku sadar yang di katakan Rain sangatlah benar. Kami harus menerima keadaan dan takdir kami. Ini pasti yang terbaik untuk kami.


"Terima kasih telah menemukan ku, Han. Dan terima kasih telah menyadarkan ku. Kamu memang selalu menjadi yang terbaik."


Rain pun tersenyum dan berlalu menuju Kak Fatha yang sedang menelpon entah siapa. Aku pun berbalik dan melihat mereka bersalaman dan saling tertawa. Entah apa yang mereka bicarakan sebelum perpisahan.


Satu hal yang ku pahami sekarang bahwa takdir itu tidak bisa di tebak. Sekeras apa pun dua orang berjuang jika tidak di takdirkan akan tetap tidak bisa bersama. Namun, di sini ada kesalahan. Terlambat untuk sadar akan cinta dan berjuang saat semua telah menjadi kacau itu salah satu faktor pemicu kegagalan.


Jika saja pada hari itu aku tahu bahwa Rain akan salah paham aku pasti akan melarangnya untuk pergi dan menyatakan perasaanku saat itu juga. Tidak akan ada perasaan kehilangan, tidak ada pencarian, dan tidak ada kesalahan. Tetapi itulah takdir yang tidak bisa kita minta dan tidak bisa di tolak.


Semuanya sudah di atur dan kita cukup menjalani. Sepertinya uang yang sudah kita kumpulkan untuk membeli sesuatu dan pada akhirnya uang tersebut terpakai untuk keperluan lain, hal itu tidak perlu kita sesali karna itulah takdir uang itu.


Jadi begitulah akhir dari kisah Hany dan Rain yang akhirnya bisa tetap bersama namun dalam ikatan yang berbeda.


Dan ingat, kisah ini happy ending ya teman-teman^_^


Papay...

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2