Kuingin Menemukan Dirinya

Kuingin Menemukan Dirinya
CHAPTER 34


__ADS_3

Rain menatap sendu ke arah ku. Seolah ingin aku melakukan sesuatu untuk membuat takdir kami agar bisa berubah. Aku pun melepaskan rangkulan Kak Fatha dan berhadapan dengannya.


"Besok saja ya, Kak. Hari sudah mau larut, sebentar lagi butik pasti akan tutup." tutur ku mencari alasan untuk menolak ajakan Kak Fatha. "Lagi pula aku sudah mengantuk," lanjut ku.


Kak Fatha terdiam selama beberapa detik menatapku. Lalu dia pun tersenyum.


"Ya sudah, kalau Hany mengantuk Kakak ga akan paksa Hany." Dia pun menoleh ke arah Carsy. "Lain hari kita perginya ya, Carsy." Carsy pun tersenyum dan mengangguk.


Aku pun kembali menoleh ke arah Rain. Dia terlihat legah. Melihat ekspresi Rain yang sudah tenang, aku pun ikut merasa tenang. Entah apa yang ada di pikiran ku saat ini. Kenapa aku tidak begitu bersemangat lagi untuk membahas tentang pertunangan ku dengan Kak Fatha.


Setelah selesai belanja, kami pun pulang karna alasan ku yang sudah mengantuk tadi. Ketika di mobil Kak Fatha menggenggam tangan ku sembari menyetir.


Aku pun melirik Rain yang berada di kursi belakang dari kaca spion. Mukanya terlihat tidak senang menatap kami. Aku pun segera menarik tanganku dari genggaman Kak Fatha. Kak Fatha menoleh ke arah ku dengan ekspresi penuh tanda tanya.


"Kakak harus fokus nyetirnya, ini sudah malam, loh. Nanti kalau ada yang mendadak muncul dari depan gimana?" Alibi ku agar Kak Fatha tidak curiga.


"Haha.. Hany.. Hany.." ucapnya. "Memang apa yang bakal muncul di depan kita?" tanya Kak Fatha di sela kekehan nya.


"Apa saja, Kak. Bisa jadi kayak yang di film-film." Aku pun menoleh ke belakang, "Benarkan Carsy? Di Thailand juga pasti ada adegan yang seram-seram di jalan kan?" tanya ku pada Carsy yang duduk di sebelah Rain.


Carsy pun tertawa, "Entahlah Hany. Aku jarang menonton film horor." jawabnya.


"Kamu mau menonton film horor Indonesia, ga?"


Itu bukan aku yang bertanya, melainkan Rain. Carsy pun langsung menoleh ke arah Rain dan tersenyum. "Sangat mau Rain!" jawabnya antusias.


"Baiklah, kalau begitu kita akan menonton besok ya sayang." Rain pun merangkul Carsy yang membuat senyuman Carsy semakin merekah.

__ADS_1


Aku yang melihat keromantisan sepasang suami istri itu pun langsung menelan saliva. Ternyata Rain juga bisa bersikap romatis kepada Carsy. Padahal Carsy mengatakan kalau Rain sama sekali tidak mencintainya. Apa Rain sudah mulai mencintai Carsy? Tapi jika iya kenapa dia masih mengejarku?


Aku yang merasa pusing karna terlalu banyak berpikir pun langsung menenggelamkan diriku pada sandaran kursi mobil. Menutup mata mencoba mengabaikan pembicaraan sepasang suami istri yang terdengar seru di belakang ku. Entahlah, bisa di katakan aku mungkin cemburu.


"Kalian belum ada niatan untuk punya anak, ya?"


Pertanyaan yang terlontar dari mulut Kak Fatha itu berhasil membuatku membuka mata lebar seketika. Dari sekian banyak pertanyaan kenapa harus itu?


Aku melirik Rain dan Carsy yang tiba-tiba diam seketika. Terlihat Carsy yang memalingkan mukanya ke arah kaca mobil. Seperti enggan untuk menjawab kedua orang itu hanya terdiam di belakang sana.


"Kak.. Mereka kan termasuk baru juga menikah. Dan kemaren Carsy sakit, mungkin mereka masih menunda program itu, ya kan, Carsy?" Timpalku untuk memperbaiki suasana.


"Ehe- iya, Han." jawab Carsy kikuk.


Kak Fatha pun ber-oh kecil tanda mengiyakan.


Tak terasa kami sudah sampai di depan rumah Bu Mega. Rain dan Carsy pun lebih dulu keluar sambil membawa belanjaan. Sedangkan aku masih duduk di dalam mobil bersama Kak Fatha.


"Kamu cantik banget malam ini, Han." Ucap Kak Fatha sangat lembut.


Aku pun tersenyum, "Makasih, Kak."


Kak Fatha pun menatapku lamat-lamat, begitu juga aku yang sedang menatapnya. Dia pun menyentuh pipi kiri ku dan mengelusnya.


"Makasih ya Han, sudah hadir di hidup Kakak."


Aku hanya tersenyum dan mengangguk sebagai tanda jawaban. Tidak ada kata-kata yang ingin ku ungkapkan kepada Kak Fatha saat ini. Rasanya sangat berbeda dari sebelumnya. Saat ini seperti ada sebuah hati yang perlu ku jaga walau pun sebenarnya hati itu bukan milik ku.

__ADS_1


Kak Fatha mengelus rahangku yang membuatku tersiaga. Ia pun memotong jarak di antara kami semakin mendekatkan wajahnya dengan ku. Seketika aku langsung menoleh ke arah lain mencoba menghindari hal yang akan terjadi selanjutnya. Pergerakan Kak Fatha pun seketika terhenti.


"Kenapa Hany?" tanya Kak Fatha yang terdengar kecewa.


"Gapapa, Kak." Aku pun menghembuskan nafas yang sedari tadi ku tahan di dalam hidung.


Kak Fatha pun menjauhkan tangannya dari wajahku lalu kembali kepada posisinya saat mengendara. Dari raut wajahnya sudah ku pastikan dia sangat kecewa. Tangannya yang menggenggam setir sangat kuat menandakan dia ingin marah.


Aku sangat kasihan melihatnya, namun tidak ada yang bisa ku lakukan. Tidak mungkin aku memaksakan diri ku untuk melakukan itu sedangkan aku tidak ingin melakukannya. Hatiku seperti tidak tersentuh ketika Kak Fatha melakukannya. Rasanya tidak sama sepeti saat bersama Rain waktu itu.


Tanpa meminta izin kepada Kak Fatha aku langsung keluar dari mobil. Aku rasa aku membutuhkan udara segar agar oksigen di otak ku berjalan dengan lancar. Segera aku berlari menuju ke dalam rumah tanpa menoleh kebelakang.


Aku berlari menuju kamarku melewati Rain dan Carsy yang mungkin sedang teeheran-heran. Aku pun langsung mengunci pintu ke kamar ketika sudah berada di kamar dan menangis di sebalik pintu sambil terduduk lemah.


Aku merasa diriku sudah tidak benar. Menolak pasanganku dan mencintai suami orang adalah hal yang paling buruk. Ingin rasanya aku menuntut takdir yang tidak adil kepada ku. Kenapa selalu saja ada penghalang besar untuk aku mencapai kebahagiaan.


Aku mendengar Rain sedang memanggil namaku dari sebalik pintu. Dia mengetuk pintu kamarku dengan sangat panik. Nada suaranya terdengar sangat khawatir di luar sana. Namun, aku tidak ada niat untuk membukanya.


Aku pun berbaring di atas kasur mengabaikan suara pintu yang di ketuk dengan kasar. Ku ambil ponsel dan earphone dari dalam tas-menyumbatkan earphone ke lubang telinga-menghidupkan musik.


Hanya alunan musik yang terdengar sekarang. Walau pun musik tersebut tak dapat mengalihkan pikiranku yang kalut, namun mereka dapat membuatku tidak mendengar suara Rain yang berteriak di balik pintu.


Kartu ponselku ku matikan agar tidak ada seorang pun yang mengspamku. Aku benar-benar menyendiri saat ini. Aku ingin mengalihkan pikiranku yang sedang kacau akibat perasaan yang terbelenggu. Mencoba untuk berpikir jernih memilih sebuah pilihan.


Hampir dua jam aku berdiam diri sambil menatap langit-langit kamarku. Alunan lagu yang sedari tadi sudah terputar beberapa lagu yang sama sekali tidak ada masuk di otak ku. Suara musik tersebut sama seperti halnya ketika guru mengatakan masuk ke telinga kanan dan keluar ke telinga kiri. Hanya lewat saja. Sedangkan pikiran kita entah berada dimana.


Aku membuang nafas kasar ketika rasanya sudah lelah berfikir. Menanggalkan earphone dari telingaku dan mematikan musik di ponsel. Tidak terdengar lagi suara gedoran pintu dari Rain. Mungkin dia sudah lelah dan tidur.

__ADS_1


Setelah terdiam selama beberapa jam ini aku sudah menentukan keputusanku. Aku akan mencoba membulatkan niat dan tekad demi kebahagiaan ku di masa mendatang. Aku memutuskan untuk tetap pada rencana semula. Dan hal yang harus aku lakukan pertama kali adalah keluar dari rumah ini.


...----------------...


__ADS_2