
Aku terdiam untuk beberapa saat. Mencoba untuk mencerna pertanyaan yang baru saja di lontarkan Rain. Kenapa dia tiba-tiba menanyakan teman keluar ku tadi malam? Aku menatap mata Rain yang terlihat serius. Bisa di baca dari tatapannya itu kalau dia tidak sabar untuk menunggu jawaban dariku.
"Kak Fatha. Guru privat Kimia ku." Jawab ku santai sembari memalingkan pandangan. Rain terlihat keget. Sontak dia pun berteriak.
"Hany! Bisa-bisa nya kamu jalan berdua sama cowok di malam hari. Kalau dia apa-apain kamu bagaimana? Kalau dia jahatin kamu bagaimana? Kalau dia psikopat bagaimana? Kamu bisa mati, Han!"
Aku pun terkekeh. "Ha ha ha.. Kamu berlebihan deh, Rain. Kak Fatha orang nya nggak kayak yang kamu pikir barusan. Dia itu baik dan juga sopan." Ujarku menjelaskan. "Lagi pula aku juga sering keluar malam sama cowok," kata ku menggodanya.
"Dengan siapa?"
"Sama kamu." Rain pun mendengus sambil memalingkan pandangan. Lalu kembali menoleh ke arahku setelah beberapa saat.
"Eh, tapi aku cowok baik-baik, loh. Dan nggak mungkin nyakitin kamu. Lah, kalau cowok itu.. Siapa namanya?" Dia berusaha mengingat sesuatu. "Fatha," ucapku. "Ya, si Fatha itu, kita belum tahu siapa dia. Kalau dia jahatin kamu dan terus kabur. Kamu kan, nggak bakalan tau harus nuntut kemana?"
"Terus, kalau kamu yang jahatin aku, aku harus nuntut kamu kemana? Ke Thailand?" Aku memperjelas ucapan ku pada kata THAILAND.
"Ya.. Bisa jadi."
"Ya, sudah. Kamu aniaya saja aku sekarang. Terus kamu pulang ke Thailand. Nanti aku pergi ke Thailand buat nuntut kamu dan juga sambil pergi jalan-jalan."
"Memang masih pede jalan dengan muka benyok?"
"Masih, dong. Aku kan, selalu cantik di semua kondisi." Kataku menyombongkan diri.
"Huuu.. Dasar!" Rain pun menekan bagian belakang kepalaku.
Aku pun mengerang kesakitan. "Sakit tahu!" Dia hanya menyengir sambil menatapku yang memasang ekspresi kesal.
Tiba-tiba sebuah mobil memasuki halaman rumahku. Sontak aku dan Rain langsung menoleh ke arah sumber suara mesin mobil. Aku langsung berdiri ketika melihat mobil itu adalah mobil Ayahku. Dan Rain juga mengikuti ku.
Aku menghampiri orang tuaku yang baru saja keluar dari mobil. Bunda pun tersenyum sambil memeluk tubuhku. Aku pun balas tersenyum.
"Anak Bunda apa kabar? Gimana ngedate-nya?" Tanya Bunda secara tiba-tiba.
"Ah, Bunda. Baru pulang kok langsung nanya kayak gitu sih. Aku jadi malu, nih," kata ku dengan wajah tersipu malu.
"Ya.. Bunda penasaran aja sama cara pacaran anak Bunda." Kata Bunda menggoda ku.
"Aaahhh.. Bunda apa-apaan, sih. Aku itu nggak pacaran sama Kak Fatha. Kami cuma temenan."
"Temen apa temen?" Ujar Bunda yang masih menggodaku.
__ADS_1
"Ah, terserah Bunda aja, deh," tuturku dengan nada merajuk. Bunda pun tertawa.
"Hany, Ayah mau bilang sesuatu." Sekarang Ayah bicara dengan nada serius.
"Apa Ayah?"
"Nenek harus di rawat sampai kondisinya kembali stabil. Hipertensi-nya kembali bangkit dan dia mengalami stroke sebelah badan," jelas Ayah.
"Kasihan Nenek.." Tuturku. "Terus kalian harus pergi lagi buat jagain Nenek?" Tanyaku.
"Iya, sayang. Nenek harus ada yang jaga. Tante dan Om kamu nggak bisa jagain Nenek terus, mereka harus kerja. Dan yang nggak sibuk cuma Ayah sama Bunda." Jawab Bunda.
"Berapa lama kalian disana?"
"Kapan pulangnya belum bisa di pastikan. Karna kita tidak tahu kapan Nenek kamu akan bisa bergerak. Nenek juga harus melakukan semua pengobatan yang di sarankan oleh dokter. Dan kapan pulangnya kita masih belum tahu." Timpal Ayah.
"Kamu bisa nyusul ke rumah sakit pas libur sekolah. Minggu depan kamu libur, kan?" Tanya Bunda.
"Iya."
"Besok kamu bisa kesana di antar sama Kakek. Nanti Bunda yang bilang."
"Oke, Bunda."
Bunda dan Ayah pun meninggalkan aku dan Rain yang masih berdiri di mobil sambil menatap sepasang suami-istri itu.
"Rain masuk, yuk!" Ajak ku. Rain pun mengangguk. "Ayo." Kami pun menyusul Ayah dan Bunda yang sudah masuk ke dalam rumah.
...----------------...
"Rain kita mau kemana?" Tanyaku ketika menyadari kami telah meninggalkan kota Pekanbaru.
"Kesuatu tempat yang aku yakin kamu nggak pernah datang kesana," jawab Rain.
"Tapi kemana? Kok jauh banget." Kataku sambil melihat ke luar kaca jendela mobil.
"Ya.. Baru beberapa menit naik mobil aja, udah di bilang jauh. Gimana mau pergi ke Inggris, yang naik pesawatnya selama berjam-jam." Ejek Rain yang tengah fokus pada jalanan.
"Ya.. Walaupun berjam-jam setidaknya aku tau tujuan ku ke Inggris. Lah, kalau ini, aku sama sekali nggak tahu aku bakalan di bawa kemana," ujarku. Rain hanya menyeringai. "Jangan-jangan kamu mau culik aku lagi. Terus kamu bawa ke Thailand buat di jadikan TKW." Kata ku dengan tatapan tajam ke arah Rain.
"Jangan sembarangan bicara. Lagi pula kamu mana di terima jadi TKW. Nyapu halaman aja nggak becus."
__ADS_1
"Biarin. Lagi pula aku nggak harus jadi tukang sapu halaman kalau nanti ada di Thailand." Ujarku dengan nada ketus.
"Tapi kalau di rumah kamu harus tetap jadi tukang sapu halaman kan.."
Aku hanya diam tidak merespon Rain. Aku sangat menyesal karna sudah bertanya. Kami memang selalu begini. Satu topik akan menjadi perdebatan yang panjang. Dan akan berakhir kalau salah satu dari kami sudah mengalah. Entah mengapa terkadang aku merasa plin-plan dengan Rain. Saat dia jauh, aku merindukannya. Namun, saat dia bersamaku aku malah ingin tidak dengannya. Andaikan saja dia tidak membuatku kesal, pasti aku akan senang sekali saat bersama dia.
Aku menyandarkan kepalaku pada jok mobil agar tubuhku lebih nyaman. Lalu, aku pun menutup mata dengan lambat dan mencoba untuk menikmati alunan lagu yang di putar oleh Rain. Lama-kelamaan musik itu mulai terdengar samar. Mungkin karna volume yang di kecilkan oleh Rain.
"Han, aku menyukaimu. Tolong jangan tolak aku karna aku tulus mencintaimu." Aku hanya terdiam menatap wajah Kak Fatha yang terlihat tulus sambil memegang kedua tanganku. "Aku nggak bisa lihat kamu sama orang lain. Karna aku benar-benar cinta sama kamu." Tuturnya. "Apa kamu mau jadi pacarku?" Tanya Kak Fatha.
"Tapi.."
"Aku tau kamu memiliki perasaan terhadap orang lain. Tapi, coba kamu nilai, aku pasti lebih baik dari pada dia."
"Tapi kalian berdua penting bagiku. Dan aku tidak bisa memilih antara kalian berdua. Maaf, karna aku tidak bisa memutuskannya sekarang. Aku tidak mau melukai Kakak dan juga Rain."
"Tapi.."
Bayangan Kak Fatha pun memudar. Dan terdengar suara Rain yang memanggil-manggil namaku sambil menggoyangkan bahuku. Aku pun terbangun dari mimpiku yang menegangkan serta mendapati wajah Rain yang sangat dekat denganku. Aku pun menatap keluar jendela mobil. Mobil kami sudah terparkir di antara mobil-mobil yang berderet. Aku kembali menatap RainĀ lalu bertanya, "Kita ada dimana?"
Rain hanya tersenyum dan mengajakku keluar.
Hamparan danau terbentang luas di depan mataku. Suara kicauan burung terdengar berisik dari sebuah rumah wallet yang berdiri di depan parkiran. Dan tempat ini sangat bagus untuk di jadikan tempat bersantai.
Rain mengajakku duduk di salah satu meja yang ada di tepi danau. Setelah itu, dia pun meninggalkan ku untuk memesan beberapa camilan untuk kami nikmati. Aku hanya menikmati suasana yang ada di sekitarku. Hembusan angin, pemandangan langit sore, dan juga orang-orang yang berlalu-lalang, menjadi daya tarik untuk ku perhatikan. Tempat ini sungguh luar biasa.
Rain datang dengan membawa dua gelas minuman dan beberapa makanan ringan. Dia pun memberikanku segelas cappucino yang di campur dengan es. Ia sangat kenal dengan seleraku. Aku pun berterimakasih pada Rain. Lalu, meneguk minuman itu sambil memperhatikan sebuah tempat yang berada di seberang danau.
"Di sana tempat apa Rain?" Tunjuk ku pada sebuah tempat yang terlihat seperti taman.
Rain pun menoleh ke arah yang ku tunjuk. "Oh, itu. Itu taman. Biasanya itu jadi tempat berfoto oleh orang-orang."
Aku pun mengangguk. Lalu menoleh ke arah lain. Aku melihat beberapa perahu bebek yang terapung di tengah danau. Setiap perahu itu di naiki oleh dua orang, tiga orang, bahkan empat orang bagi yang membawa anak-anaknya. Aku tertarik ingin menaikinya. Sepertinya kelihatan seru. Aku pun mencob mengajak Rain untuk menaiki wahana itu. Dia pun menyetujuinya tanpa komentar.
Kami pun mendapatkan sebuah perahu bebek setelah cukup lama mengantri. Karna banyak sekali para wisatawan yang berminat untuk menaikinya. Aku dan Rain pun mengayuh wahana itu secara bersamaan. Rain juga yang bertugas mengatur arah perginya perahu kami. Beberapa kali kami bertabrakan dengan perahu bebek milik orang lain. Dan kami hanya tertawa bersama satu sama lain ketika hal itu terjadi.
Setelah beberapa menit, kami pun selesai bermain bebek. Lalu, Rain pun mengajakku menyusuri sebuah pulau yang ada di seberang dermaga. Untuk sampai ke pulau itu kami harus melewati jembatan yang menghubungkan dermaga dengan pulau itu. Angin sepoi-sepoi membuat jilbabku berkibar, yang kata Rain sangat bagus jika di foto. Rain pun memfoto ku dengan ponselnya. Bahkan kami juga menyempatkan untuk berselfi seperti yang di lakukan orang-orang di sekeliling kami.
Matahari sudah hampir tenggelam. Dan adzan magrib pun sudah berkumandang. Kami memutuskan untuk sholat dulu sebelum pulang. Kami pun sholat di musolah kecil yang ada di tempat wisata tersebut.
"Mau lihat sunset?" Tanya Rain ketika kami berada di luar mushola. Dengan semangat aku menjawab, "Ayo!" Rain pun memegang tanganku sambil mengajakku pergi ke sebuah kursi panjang yang ada di tepi danau.
__ADS_1
'Akan ku biarkan kau pergi asalkan tanganmu tetap menggenggam tanganku seperti saat ini'
...----------------...