
Pembelajaran ku dengan Kak Fatha berjalan dengan mulus hingga selesai. Sekarang aku sudah berada di rumah, tepatnya di dalam kamar. Lampu sedari tadi sudah ku matikan. Namun mataku belum sepicing pun ku pejamkan. Aku masih ingin menjelajahi internet.
Sederet postingan muncul di laman akun instagram milikku. Beberapa di antaranya adalah postingan selebriti dan selebihnya adalah postingan dari orang-orang yang ku kenali. Sangat membosankan. Aku tidak pernah tertarik dengan hal-hal yang ada di instagram. Apalagi hanya melihat foto alay dari teman sekolah ku.
Aku pun mengarahkan kursor laptop-ku ke arah tombol silang yang ada di sudut atas monitor. Kemudian beralih ke situs youtube untuk mencari musik. "Eternity by 9x9" Itulah lagu yang ingin ku dengarkan saat ini.
Lagu itu pun terputar dengan video lirik yang menampilkan gambar vokalis lagu Eternity. Aku pun mendengarkan lagu dengan hikmat sambil sesekali melirihkan lirik lagu tersebut. Lagu ini mengingatkan ku akan Rain. Karna dia lah yang mengenalkan lagu Eternity kepadaku. Rain mengatakan kalau lagu ini adalah lagu favoritnya.
Menurutku, lagu favorit Rain memang enak untuk di dengarkan. Alunan iramanya sangat meyakinkan. Walau pun aku tidak mengerti arti dari keseluruhan liriknya. Hanya beberapa yang bisa ku mengerti yaitu lirik yang menggunakan bahasa Inggris.
Setelah satu putaran lagu habis, aku memutuskan untuk memutar lagu itu kembali. Aku pun memutuskan untuk menyimpan lagu itu ke laptop-ku agar aku tidak sulit untuk memutarnya. Setelah tersimpan, aku pun memutarnya di play musik dan menambahkan beberapa lagu di trek musik.
Ketika asyik mendengarkan lagu, tiba-tiba satu pemberitahuan tampil di monitor laptop-ku. Itu sebuah pesan dari web Whatsapp. Aku pun membuka pesan tersebut yang datang dari Rain.
✉ Rain: Han, kamu sudah tidur?
Aku pun membalas,
✏Hany: Belum.
Langsung di baca.
✉ Rain: Ohh. Aku kira kamu sudah tidur.
✏Hany: Belum. Memangnya ada apa?
Aku bertanya dengan antusias.
Dia pun mengetik.
✉ Rain: Tidak ada. Aku cuma mau memastikan kalau kamu baik-baik saja.
Aku pun tersenyum,
✏Hany: Aku baik-baik saja. Terimakasih sudah peduli.
✉ Rain: Sama-sama. Ngomong-ngomong, kamu lagi apa?
✏Hany: Lagi dengerin musik. Eh, aku habis ngunduh lagu favorit kamu, loh.
✉ Rain: Oh, ya? Kamu suka, nggak? Arti lirik lagu itu bagus, loh.
✏Hany: Memangnya apa'an?
__ADS_1
✉ Rain: Nanti saja aku kasih tahu. Sekarang lebih baik kamu tidur saja. Besok pagi kan, kamu harus sekolah.
✏Hany: Huh! Dasar mentang-mentang bisa berbahasa Thailand!
Aku pun menyertai kalimatku dengan emotikon kesal.
✉ Rain: Aku janji bakalan kasih tau. Tapi sekarang kamu harus tidur. Selamat malam.
✏Hany: Selamat malam. Mimpi yang indah Rain.
Ceklis dua pun berwarna biru dan setelah itu tidak ada balasan. Aku sedih percakapan kami sudah berakhir.
Aku pun mematikan laptop-ku dan menyimpanya di atas meja. Setelah itu, aku pun kembali ke kasur dan kali ini untuk tidur.
"Selamat malam semuanya. Semoga kalian mimpi yang indah. Dan jangan lupa baca do'a."
Aku pun membaca do'a sebelum tidur. Lalu menarik selimut lebih panjang dan mulai menutup mata.
...----------------...
"Pagi, Dek Hany! Ini ada kiriman buat, Dek Hany." Sapa tukang pos yang menghampiriku di depan rumah.
Aku pun mengambil kotak tersebut dari si tukang pos, "Dari siapa, Pak?" Tanyaku.
"Kurang tau juga, Dek. Bapak cuma di kasih alamat penerima, Dek. Ini benar kan, alamatnya?" Si tukang pos pun menunjukan secarik kertas kepadaku.
"He-he.. Kalau begitu Adek tanda tangan dulu, ya, sebagai tanda terima."
Aku pun menandatangani kertas yang di tunjukkan oleh Pak Pos.
"Kalau begitu saya pamit, ya, Dek. Assalamu'alaikum!" Ujarnya.
"Walaikumsalam! Makasih, ya, Pak!"
Dia pun berlalu. Setelah itu aku pun bergegas pergi ke sekolah karna aku merasa aku sudah sangat terlambat. Aku pun meminta pada Ayahku untuk mengantarkan ku. Dan untung saja dia tidak sedang sibuk.
Aku sampai di sekolah tepat sebelum lonceng berbunyi dan gerbang sekolah pun masih terbuka. Aku pun bergegas pergi ke kelas setelah berpamitan pada Ayah. Sesampainya di kelas aku pun langsung di hadang Melsi temanku. "Han, kamu di cari Kak Fatha." Ujarnya.
"Oh, begitu. Makasih udah di kasih tahu." Kata ku.
"Dia bilang buat ketemu di perpustakaan jam istirahat kedua." Lanjut Melsi.
"Oh. Oke!"
__ADS_1
"Sebenarnya kalian ada hubungan apa, sih? Kok kamu nggak cerita?" Tanya Melsi.
"Bukan hal yang serius, kok. Nanti aja aku kasih tahu."
Guru Matematika wajib pun memasuki kelas dengan mententeng tas hitam di pundaknya. Dia pun meletakkan tas-nya di atas meja dan mulai mengambil posisi duduk yang nyaman. "Siap, kan!" Ujarnya.
Bel istirahat kedua pun berbunyi. Aku pun bergegas merapikan semua peralatan belajarku dan menyimpannya ke dalam tas.
"Oke semuanya, kita cukupkan pelajaran kita sampai di sini. Siapakan!"Ketua kelas pun memberikan aba-aba, lalu kami mengucapkan salam.
Setelah itu kami pun beranjak dari tempat duduk masing-masing untuk menyalami Bu guru yang hendak keluar kelas. Aku menjadi murid pertama yang menyalami tangan Bu Rania. Karna aku ingin bergegas menemui Kak Fatha yang mungkin sudah menunggu di perpustakaan. Aku juga ingin bertanya tentang suatu hal padanya.
Di perpustakaan aku menemukan Kak Fatha sedang membaca buku di sebuah meja perpustakaan. Aku pun perlahan berjalan mendekatinya agar tidak menimbulkan keributan.
"Assalamu'alaikum, Kak!" Ucapku.
Dia pun menoleh, "Eh, Hany. Ayo duduk!" Ujarnya.
Aku pun duduk berhadapan dengan Kak Fatha. Seketika, sekelilingku menjadi kehilangan fokus terutama para wanita. Tentu saja, itu bukan hal yang aneh mengingat apa yang sedang mereka saksikan. Seorang Fathana Jordi yang di idamkan banyak wanita namun tidak pernah berdekatan dengan satu pun wanita, sekarang sedang berduaan dengan seorang adik kelas yang cantiknya tidak seberapa. Fix, sekali lagi Kak Fatha membuat siswi sekolah ini patah hati lagi. Siap-siap saja Hany.. Kamu bakalan di-bully! Astagah..!
"Hany kenapa?" Tanya Kak Fatha secara tiba-tiba. Aku pun tersadar akan keadaan ku. " Ah, nggak kenapa-napa." Ujarku. Dia pun melihat ke sekitarnya. Kak Fatha pun sadar kalau kami sedang di perhatikan. "Jangan di pikir, kan. Mungkin mereka cemburu karna posisi mereka di rebut oleh Hany." Kata Kak Fatha menggoda. Aku pun tersenyum, "Kak Fatha bisa saja." Kak Fatha pun ikut tersenyum sambil membuka buku yang akan kami pelajari.
Kami menghabiskan waktu istirahat kedua untuk belajar. Kami menyelesaikan soal latihan yang tadi malam tidak sempat kami selesaikan. Dan sekarang sudah masuk bakda Dzuhur, waktunya untuk kami selesai.
"Makasih, ya, Kak Fatha, untuk hari ini." Ucapku.
"Iya, sama-sama."
"Oh ya, nanti malam kita nggak usah belajar dulu ya, Kak. Soalnya aku ada acara."
"Oh, oke, deh! Jangan lupa belajar di rumah, ya. Yang rajin belajarnya!"
"Siap, pak!" Ujarku sambil memberikan tanda hormat. Tiba-tiba aku teringat akan sesuatu, "Eh, Kak Fatha. Aku mau nanya, Kakak ada kasih alamat rumah aku sama orang lain, nggak?" Tanyaku dengan penasaran.
Kak Fatha terlihat bingung. "Hemm.. Gumana mau kasih ke orang lain, alamat rumah Hany aja Kakak nggak tahu." Katanya.
Hem, berarti bukan dari Kak Fatha. Terus dari siapa, dong?
"Memangnya kenapa?" Tanya Kak Fatha.
Aku pun tersenyum, "Nggak kenapa-napa, kok, Kak." Jawabku.
"Kalau begitu, Kakak pamit dulu, ya. Soalnya waktu dzuhur sudah masuk."
__ADS_1
"Ah, iya, Kak." Kak Fatha pun beranjak dari tempat duduknya.
...----------------...