
"Selamat datang! Silahkan nikmati hidangannya.."
Aku mencoba untuk bersikap seramah mungkin sambil melemparkan senyum kepada tamu yang datang. Ya, ini adalah hari pernikahan sepupuku. Dan aku di tugaskan untuk menjadi "Penanti Tamu".
Pergelaran resepsi pernikahan di tempat ku tinggal tidak ada perbedaannya dengan resepsi biasa. Namun, setiap stand yang di sediakan sebagai tempat makanan, minuman, dan meja tamu di jaga oleh parah keluarga dari pihak tempat penyelenggara acara. Tempat Penanti Tamu, biasanya di jaga oleh anak-anak yang masih gadis atau lajang seperti aku dan beberapa sepupuku ini. Dan juga di lengkapi dengan pihak kedua mempelai yang berada di depan stand.
"Kak Dija, aku mau ke dalam dulu, ya. Aku belum makan nih, sejak pulang sekolah tadi." Tutur ku pada salah satu sepupuku.
"Ah, iya. Pergi gih, sana. Makan dulu. Nanti Hany pingsan lagi." Ujar Kak Dija.
Aku puntersenyum padanya. Lalu aku pun bergegas ke dalam acara untuk mencari makanan.
Setelah mendapatkan sepiring makanan, aku pun mencari meja yang kosong untuk menikmati makananku. Dan mataku tertuju pada sebuah meja yang berada paling sudut. Meja yang bersih, tidak di tempati, dan juga agak jauh dari meja yang lainnya.
Aku pun menyantap makananku dengan nikmat di tempat yang nyaman itu. Tanpa menghiraukan orang lain dan tanpa di hiraukan, aku merasa tentram di tengah keramaian ini. Aku merasa sangat lelah sekarang. Setelah hampir tiga jam duduk di tempat itu tanpa dapat beranjak. Benar-benar melelahkan. Jika sudah tahu rasanya aku berniat untuk membuat resepsi pernikahan ku besok secara sederhana saja dengan sedikit tamu. Karna aku sudah merasakan betapa melelahkannya jika mengadakan pesta yang besar.
Tukk!
Sepiring makanan tergeletak persis di seberang piring makananku. Bau maskulin dari pomade rambut pun menerobos ke dalam hidungku. Aku merasa agak tidak nyaman sekarang, karena meja ini tidak di tempati oleh diriku sendiri melainkan ada tamu lain. Dan dari bau pomade yang tercium bisa di tebak itu laki-laki.
Aku pun menoleh ke arah pria yang baru datang itu. Dan ketika aku mengangkat kepalaku alangkah terkejutnya aku melihat sosok Kak Fatha yang tengah mengurusi kursi tempat untuk dia duduk. Aku terus mengamatinya hingga dia menatap mataku ketika selesai.
Astaghfirullahalazim..! Aku pun memalingkan pandangan ku setelah menatap mata Kak Fatha selama beberapa detik. Tiba-tiba aku merasa jantung ku berdebar. Ini kenapa, ya?
"Hany kenapa? Kok, ekspresi nya begitu pas lihat Kakak?" Tanya Kak Fatha ketika melihatku memalingkan wajah.
Aku pun memegang dadaku dan menarik nafas sebelum menjawab pertanyaan Kak Fatha, "Nggak kenapa-napa, kok, Kak." Jawabku sambil melempar senyum.
"Kakak ganggu, ya?" Tanya-nya masih menatapku.
"Eng-enggak, kok." Ujarku gugup.
Kak Fatha pun tersenyum. Setelah itu dia pun mulai menyantap makanannya. Aku pun menyaksikannya tanpa memperdulikan sisa makananku. Menyaksikan Kak Fatha makan saja sudah membuatku merasa kenyang sekarang. Entah mengapa begitu.
Kak Fatha pun berhenti menyuap makanannya. Dia pun menoleh ke arahku. "Han, kenapa Hany senyum-senyum sendiri?" Tanya Kak Fatha.
Aku pun tertawa tanpa sebab, "Ha ha ha.. Kayaknya aku ketahuan menguntit Kakak sedang makan." Kak Fatha kelihatan bingung. "Habis aku suka aja pas lihat Kakak makan. Seperti sedang menyaksikan fenomena yang sangat menakjubkan." Kata ku sambil tersenyum.
__ADS_1
Tiba-tiba aku tersadar akan kata-kata yang baru saja ku lontarkan. Aku pun mengalihkan pandangan ku lagi ketempat lain. Apa aku baru saja mengatakan isi hatiku? Aku sangat merasa malu di depan Kak Fatha sekarang. Bagaimana kalau dia akan menertawakan ku setelah ini. Aku tidak sanggup untuk melihat wajahnya lagi. Aku pun memejamkan mataku untuk mengatasi situasi saat ini. Rasanya aku ingin kabur karna tidak sanggup melihat wajah Kak Fatha. Apa yang harus aku lakukan sekarang.
"Kalau begitu Kakak akan sering makan di depan Hany."
Ucapan Kak Fatha membuatku kaget setengah mati. Tanpa sadar aku langsung menoleh ke arahnya. Dia tersenyum menatap wajahku yang mungkin sekarang sudah berwarna merah. Aku pun segera mengatasi situasi yang memalukan ini.
"Ma-maaf, Kak. A-Aku cuma bercanda so-soal.." Tiba-tiba Kak Fatha menempelkan telunjuk di bibirnya. Bunyi desisan pun muncul dari sela bibir yang di tutupinya. Aku pun menatapnya penuh tanda tanya. "Aku tahu kalau kamu bukan sedang bercanda. Dan hal itu berasal dari dalam hatimu." Katanya.
Aku pun tertawa mendengar kata-kata Kak Fatha. Dia pun merasa bingung dengan sikapku. Ekspresinya pun berubah yang membuatku lebih tertawa lagi dan tidak mau berhenti.
"Hany kenapa?" Tanya Kak Fatha yang kelihatan mulai takut.
"Ha ha ha.. Aku nggak bisa berhenti tertawa. Ha ha ha.." Ujarku.
Kak Fatha pun mulai terlihat panik. Namun, dia tetap menungguku sampai berhenti tertawa. "Kak Fatha kenapa diam saja?" Tanyaku.
"Habis Hany masih ketawa." Jawabnya.
"He-he.. Iya, soalnya baru kali ini aku lihat Kak Fatha berbicara dengan nada serius. Padahal aku sudah tahu Kak Fatha sejak kelas sepuluh." Jelasku.
"Kan kita baru kenal beberapa hari. Mungkin habis ini Hany bakalan lebih kaget melihat siapa Kakak sebenarnya." Kata Kak Fatha dengan nada menyeramkan.
"Seorang musafir yang sedang mencari air." Katanya.
Aku pun tertawa lagi. "Kalau begitu aku yang akan membawakan air buat Kakak." Kataku sambil memberikan gelas milik ku padanya. Kak Fatha pun tersenyum dan mengambil gelas minuman itu dari tanganku. Lalu dia pun meminumya hingga habis. "Makasih, ya, Han!" Aku pun mengangguk.
Tiba-tiba Kak Dija datang menghampiriku. Dia terlihat kaget ketika melihat Kak Fatha berada satu meja dengan ku. Kak Fatha pun tersenyum pada Kak Dija lalu menyapanya. Kak Dija hanya membalasnya dengan senyuman tipis dan agak kaku. Dia pun lebih mendekat kepadaku. "Ada telpon buat kamu dari Rain." Bisiknya sambil memberikan ponselnya padaku. Aku pun menerimanya. Lalu Kak Dija pun pergi.
Aku pun meminta izin pada Kak Fatha untuk mengangkat telpon. Lalu agak menjauh agar bisa bebas berbicara dengan Rain.
"Assalamu'alaikum, Rain! Ada apa?" Tanyaku pada Rain.
"Waalaikumsalam! Nggak ada aku cuma mau menanyakan kabarmu. Kamu apa kabar?"
"Astaga Rain.. Apa harus setiap hari kamu harus menanyakan kabarku?" Ujarku sambil tersenyum.
"Oh, itu harus. Aku harus memastikan kamu selalu baik-baik saja." Kata Rain dengan penuh keyakinan.
__ADS_1
"Ha-ha. Aku baik-baik saja, Rain. Jangan khawatirkan aku. Khawatirkan saja dirimu. Aku dengar kamu sekarang sudah tinggal di asram, benar?" Tanyaku.
"Dari mana kamu tahu, apa kamu tahu dari nenekmu?" Tanya Rain menggodaku.
"Dia ibumu, bukan nenekku." Ujarku menggerutu.
"Ha ha ha.. Baiklah kalau begitu." Dia tertawa. "Oh iya. Kamu sedang ada di pesta, bukan? Kenapa tidak bergabung dengan yang lain? Apa kamu bersama orang lain?" Lanjutnya.
Aku terdiam untuk beberapa saat. Lalu menoleh ke belakang untuk melihat Kak Fatha yang sedang mengamatiku.
"Ah, tidak ada. Aku tadi cuma lapar lalu pergi makan." Jawabku.
Aku tidak mau kalau sampai Rain tahu kalau aku sedang bersama Kak Fatha. Kalau dia tahu pasti urusannya akan sangat panjang.
"Oh, baiklah kalau begitu."
"Eh, kenapa kamu bertindak seolah kamu ini adalah pacarku? Menanyai semua hal yang ku lakukan." Kataku dengan nada ketus.
"Ha ha.. Do'a kan saja itu akan terjadi. Assalamu'alaikum!" Dia pun memutuskan sambungan telponnya.
Huh! Dasar si Rain!
Aku pun kembali ke meja di mana Kak Fatha masih menunggu ku. Dia pun menatapku dengan tatapan aneh. Aku pun melemparkan senyum tipis padanya. "Kakak baik-baik saja?" Tanyaku.
"Sangat baik." Jawabnya. "Hem.. Ngomong-ngomong tadi itu siapa? Pacar Hany?" Tanya Kak Fatha.
Aku pun tersenyum mendengar pertanyaan bodoh Kak Fatha. "Ah, bukan, Kak. Itu cuma teman." Jawabku.
"Hem.." Gumamnya. "Han, Kakak boleh bicara sesuatu, nggak?" Ujarnya dengan wajah serius.
Aku mulai merasa gugup sekarang, "Apa, Kak?"
"Hany mau, nggak.."
Aku benar-benar kaget dengan pertanyaan yang Kak Fatha lontarkan. Hampir saja aku tidak bisa bernapas karna pertanyaannya itu.
"Ya. Aku mau."
__ADS_1
...----------------...