Kuingin Menemukan Dirinya

Kuingin Menemukan Dirinya
CHAPTER 28


__ADS_3

Aku membuka mataku perlahan. Mengerjapkannya. Mencoba untuk menetralkan pandanganku yang masih terlihat buram. Kepalaku masih terasa sedikit berat. Namun, tidak sesakit semalam.


Aku memandangi jendela yang menampilkan pandangan fajar yang indah. Suara hantaman ombak di bibir pantai serta kicauan camar terdengar jelas dari balik jendela kaca itu. Aku baru tersadar bahwa waktu subuh hampir habis.


Aku pun mencoba untuk bangkit dari baringan ku. Namun, seketika aku merasakan ada sesuatu yang menyangga tangan kanan ku. Aku pun menoleh ke arah yang berlawanan. Dan mendapati sosok Rain yang terlelap di sisi ranjang dengan tangan yang menggenggam tanganku. Aku pun mencoba berhati-hati saat melepaskan tanganku dari genggaman Rain. Aku tidak ingin membangunkan pria yang terlihat lelah itu. Entah apa yang terjadi semalam, aku tidak tahu. Tapi bisa ku pastikan aku telah menyusahkan Rain.


Aku pun meninggalkan Rain yang masih terlelap. Sebelum pergi aku telah menyelimuti Rain agar tidak kedinginan. Karna suasana tempat ini sangat dingin di pagi hari. Sekarang aku berniat untuk sholat, walaupun aku tahu ini cukup terlambat. Tapi, lebih baik di kerjakan dari pada tidak sama sekali.


Setelah selesai sholat, aku pun pergi menjemur pakaian kami yang basah kemarin. Karna pakaian itu sudah agak kering, jadi bisa ku pastikan kalau nanti siang sudah bisa di pakai. Melihat cuaca di tempat ini yang begitu cerah, aku yakin akan ramalanku.


Hembusan angin membuat gaun yang ku kenakan menggembung. Anginnya sangat kencang, hingga juga dapat membuat rambutku melambai di udara. Aku memang tidak memakai jilbab sekarang. Lebih tepatnya sejak semalam. Sekarang aku mengenakan pakaian Bu Mega ibunya Rain. Dan soal jilbab, Bu Mega tidak menyimpan jilbab dan punyaku pun masih basa. Jadi, aku tidak memakainya. Toh, di sini juga tidak ada orang. Cuma ada aku dan Rain.


Ngomong-ngomong soal dimana aku sekarang. Sekarang aku berada di Villa milik keluarga Rain. Setelah hujan kemarin, Rain membawa ku ke tempat ini. Entah mengapa aku tidak menolak saat Rain mengajakku kabur seperti ini. Bahkan, aku lupa bagaimana frustasinya Nora yang tidak ku beri kabar dari kemarin.


Aku menghirup udara segar yang dapat menenangkan pikiran. Tempat ini sangat menakjubkan. Sebuah Villa yang berada di tengah pulau memanglah ide yang sangat bagus. Bahkan tempat ini bisa di katakan surganya kebebasan.


Setelah menikmati udara segar pantai, aku pun memilih untuk masuk ke dalam rumah untuk membuat makanan. Kemarin aku sempat melihat Rain membeli bahan makanan untuk kami masak. Karna dia masih tidur, alangkah lebih baik aku membuat sarapan untuknya.


Aku pun memulai aksi ku dengan mencuci beberapa bahan makanan yang ku temukan di lemari es. Entah kapan Rain meletakkannya di sana, aku tidak tahu. Yang jelas di dalam lemari es sudah ada tomat, wortel, telur, beras, kecap, dan beberapa kemasan ayam potong. Semua bahan-bahan itu membuatku langsung terpikir, apa yang harus aku masak. Dan nasi goreng langsung muncul di otak ku.


Aku sangat menikmati air dingin yang menggenang di dalam wadah pencuci beras. Rasanya sangat segar. Aku begitu menghayati dinginnya air tersebut sambil sesekali memainkan beras yang ada di dalamnya. Entah apa yang ku lakukan. Aku merasa seperti anak SD yang sedang bermain masak-masak. Karna jujur aku sudah lama sekali tidak memasak sendiri.


Saat aku sedang membersihkan beras dengan telaten, tiba-tiba aku merasakan ada yang memelukku dari belakang. Seketika tanganku berhenti dari kegiatannya. Ku rasa karna efek kaget. Aku bisa merasakan dagu Rain yang dia tangkupkan di bahu ku. Dan nafas hangatnya yang menggelitik telingaku.


"Kenapa tidak membangunkan ku?" Tanya Rain dengan suara pelan.


Aku sedikit gugup karna kondisi kami saat ini. Butuh waktu beberapa saat untuk aku bisa menjawab pertanyaan Rain.


"Aku tidak tega membangunkanmu. Kamu terlihat sangat lelah" jawabku.


"Hem? Benarkah?"


Rain pun semakin mempererat pelukannya di pinggangku. Hingga membuatku benar-benar tidak bisa segera lari dari sana. Bahkan tubuhku terasa beku di tempat itu. Tanganku hanya diam terendam dalam air beras yang sudah keruh itu.


Aku tidak tahu harus berbuat apa sekarang. Tubuhku terasa lemah dalam dekapan Rain yang hangat. Sedangkan Rain, dia terlihat begitu menikmati dekapan ini tanpa ingin berniat melepaskannya. Apa yang harus ku lakukan?


"A-Apa aku menyusahkanmu semalam? Apa kamu tidak tidur?" Tanyaku dengan nada yang masih gugup.


Sesaat tidak ada tanggapan dari Rain. Namun, bisa ku rasakan kalau dia sudah mengangkat dagunya dari bahuku. Lalu, selanjutnya dia pun melepaskan lingkaran tangannya di pinggangku. Dan hal ini bisa membuatku sedikit lebih santai.


Rain pun memasuk kan tangannya ke dalam wadah pencuci beras, lalu memegang tanganku dan memainkannya di dalam air. Tangan kami bergerak membentuk rotasi dan di ikuti butiran beras yang terbawa air. Lalu, Rain pun menyaring beras dengan telapak tangannya dan membuang sisa air yang ada di dalam wadah.


Setelah itu, dia pun memegang kedua bahu ku dan membalikkan badanku secara perlahan. Aku hanya bisa pasrah sambil tertunduk. Entah mengapa sejak pertemuan kemarin aku merasa seperti orang yang tak berdaya. Aku hanya bisa pasrah dengan apa yang di lakukan Rain.


Aku mengangkat kepalaku menatap mata Rain yang tengah memandangi ku. Lalu, dia pun tersenyum lembut sambil memegang keningku.


"Apa kepalamu masih sakit? Semalam kamu demam. Badan kamu sangat panas dan kamu menggigil," kata Rain.


Aku baru tahu kalau aku demam hebat semalam. Jadi, karna itu dia berada di sana. Merawatku.


"Jadi, semalam kamu tidak tidur karna merawatku?"


Bukannya menjawab pertanyaan, aku malah melemparkan pertanyaan kembali. Rain pun mengangguk tanda mengiyakan.


Sekarang aku benar merasa bersalah karna telah merepotkan Rain. "Maafkan aku karna merepotkan.."


"Paling tidak sekarang kita impas." Rain pun tersenyum tipis. Aku sama sekali tidak mengerti. "Terimakasih sudah memberikan kenangan indah untuk ku." Dia pun tersenyum lebih lebar, hingga membuatnya begitu terlihat mempesona.


Aku hanya menatapnya tanpa ekspresi. Mengapa pria ini selalu melontarkan kata-kata manis sejak kemarin. Apa dia tidak sadar kalau dia sudah menjadi milik orang lain. Begitu pula dengan aku yang akan segera menjadi miliki Kak Fatha.


"Jangan pikirkan orang lain. Pikirkan saja dirimu untuk saat ini. Setidaknya hanya untuk hari ini." Dia berbicara seolah dia memahami apa yang aku pikirkan.

__ADS_1


"Tapi, Rain-"


"Aku mohon, untuk hari ini saja. Tolong wujudkan mimpiku. Aku sangat mencintaimu, Hany."


Rain menatapku dengan penuh arti. Dia terlihat sangat tulus. Dan aku tidak tega untuk menolak keinginannya. Terlebih lagi hal ini juga di inginkan diriku.


Maafkan diriku dan Rain ya Allah.. Kami tidak bermaksud membuat orang-orang yang mencintai kami kecewa. Tapi, seperti yang di katakan Rain, kami hanya membuat kenangan yang bisa kami ingat.


Aku pun tersenyum lalu mengangguk. Rain pun tersenyum dan segera memelukku. Aku pun membalas pelukannya yang hangat. Lalu, setelah beberapa saat kami pun melepaskan pelukan masing-masing.


Rain pun membantu ku membuat makanan. Kami memasak nasi goreng seperti yang ku rencanakan sebelumnya. Aku tidak menyangka kalau Rain lebih ahli dalam hal memasak. Bahkan dia mengerjakan hampir 75% pembuatan makanan kami tersebut.


Setelah makanan matang, kami pun memulai sarapan kami. Rain yang lebih dulu duduk di meja makan terus mengerang kelaparan. Sesekali dia merengek seperti balita yang meminta susu pada ibunya kepadaku. Aku tahu dia hanya mencoba untuk terlihat lucu. Tapi itu sangat menyebalkan.


Aku pun datang dengan nampan berisi dua piring nasi goreng dan dua gelas jus jeruk. Rain yang sudah tidak sabar langsung menyambar piring miliknya. Aku hanya tersenyum melihat tingkahnya yang masih terlihat seperti anak-anak. Dan menurutku dia masih terlihat lucu seperti dulu.


"Wow! Nasi goreng buatanku sangat enak," ujar Rain tiba-tiba.


"Eh, itu kan aku yang buat" sergahku.


"Tapi ini enak karna bumbu yang aku racik."


"Tapi tadi kan kita pakai bumbu serbaguna. Gak ada tuh, kamu yang racik bumbu."


"Yahh.. kamu nggak tau sih, kalau aku tadi meracik bumbu spesial."


"Hah, emang ada? Kok aku nggak liat."


"Ini tuh, bumbu yang berbeda. Bumbu itu cuma ada di antara kita berdua."


"Yahh.. Aku kira beneran. Ternyata cuma mau menggombal."


Rain pun tertawa melihat diriku yang terbawa serius sejak tadi. Aku pun kembali menyuap makanan ku tanpa mempedulikan Rain yang terlihat begitu puas. Bagaimana dia bisa menjadi seperti remaja SMA untuk sesaat?


"Rain, aku mencintaimu."


Entah mengapa kalimat itu keluar dari bibirku secara tiba-tiba. Aku pun menoleh ke arah Rain yang terlihat kaget menatap ku. Aku tahu ini akan mengejutkannya. Tetapi, jujur saja aku pun terkejut. Bagaimana hati ku bisa begitu jujur kepadanya.


"Katakan sekali lagi."


"Aku mencintaimu."


Rain pun memalingkan pandangannya ke arah lautan yang luas di depannya. Entah mengapa dia terlihat tidak tenang. Matanya terlihat sedikit berkaca-kaca. Dan nafasnya terdengar agak tidak teratur. Ku kira dia sedang menahan dirinya untuk tidak menangis.


Aku kembali mengalihkan pandanganku ke arah bentangan laut. Menatap semburat merah yang mulai tampak di langit sore itu. Hembusan angin yang kencang membuat diriku kedinginan. Aku pun memeluk tubuhku agar aku sedikit lebih hangat. Tak ada suara yang terdengar jelas selain deruhan ombak. Dan samar-samar suara burung camar pun terngiang. Suasana ini sangat menyejukkan hatiku. Dan aku ingin menetap di sini untuk selamanya.


"Kenapa baru sekarang, Han? Kenapa tidak hari itu?"


Aku pun kembali menoleh ke arah Rain yang masih menatap jauh ke depan.


"Maksud kamu apa?" Tanyaku bingung.


"Jika saja hari itu kamu tidak menerima Fatha kita tidak akan seperti ini. Kamu pasti sudah menjadi milik ku sekarang. Dan aku akan mengalami seperti hari ini setiap hari."


Aku menundukkan kepala setelah mendengar kalimat Rain. Sebenarnya itu hanya sebuah kesalahpahaman. Aku tidak menerima Kak Fatha waktu itu. Dan kalian sudah tahu itu. Namun, Rain tidak mengetahuinya. Pasti dia sangat terpukul saat itu.


"Maafkan aku Rain, seharusnya aku tidak menerima pemberian Kak Fatha. Tapi sumpah, kamu telah salah tanggap. Aku tidak sama sekali menerima Kak Fatha hari itu. Kamu salah paham Rain," jelas ku.


Rain pun mengusap wajahnya seketika. Terlihat jelas di wajahnya kalau dia mendadak frustasi. "Maafkan aku, Han." Dia pun segera memelukku dengan erat, dan mengusap rambutku dengan lembut. Bisa ku dengar kalau dia sedang menangis. Aku pun mengusap punggungnya perlahan, mencoba menenangkannya.


"Tidak apa-apa. Aku tau kalau saat itu kamu sangat kacau."

__ADS_1


Isak kan Rain terdengar lebih jelas. Bahunya terasa naik turun dan nafasnya tidak teratur. Aku bisa memahami apa yang dia rasakan. Bahkan sekarang mataku juga membendung air mata.


"Jika kita bisa memutar waktu, mari kita mulai semuanya dari awal. Aku akan ada di sampingmu untuk saat ini, nanti, dan seterusnya."


...----------------...


Langit senja masih tampak sedikit cerah. Namun, matahari sudah tenggelam sepenuhnya. Aku baru selesai menunaikan ibadah sholat magrib. Dan sekarang aku berada di tepi pantai untuk menikmati suasana sunset.


Aku baru saja berdoa, meminta petunjuk dari Allah tentang masa depanku. Apakah ini takdirku, atau hanya sekedar buaian sesaat untuk di jadikan kenangan. Aku berharap aku mendapat jawaban segera.


Tiba-tiba Rain muncul di sampingku. Dia pun melingkarkan tangan kanannya di bahuku. Aku pun menyandarkan kepalaku di bahunya. Dan kami pun menikmati pemandangan menakjubkan yang ada di depan kami.


"Rain apa kamu tidak ingin pulang? Ibumu sangat merindukanmu."


Seketika Rain menoleh ke arah ku. Ku lihat matanya yang begitu cemas setelah aku menyebut tentang ibunya. Raut wajahnya pun terlihat sedih kembali. Dia tidak bisa berbohong lagi. Dia sangat merindukan ibunya.


"Bu Mega baik-baik saja secara fisik. Namun, jiwanya sangat tersiksa karna memikirkanmu. Bukan hanya dia, kami semua."


Rain terlihat sedih sekali. Air mukanya terlihat sangat murung. Ada penyesalan yang terlihat di sana. Kebencian, kerinduan, semua bercampur aduk di otaknya.


"Rain apa yang terjadi dengan kisah mereka. Mengapa mereka membuatmu tersiksa?"


Aku berusaha mengupas tentang permasalahan Rain. Aku tahu ini sebenarnya buka urusanku, tapi aku sudah terlibat dan harus menyelesaikan kepingan masalah ini.


"Kamu tau kan, kalau sesuatu yang berbeda tidak akan pernah sama." Rain mulai angkat suara. "Begitulah yang terjadi pada Ayah dan Ibuku."


Aku mencoba menyimak ceritanya dengan saksama.


"Ayahku seorang keturunan dari keluarga berada. Dia merupakan anak pertama dan mewarisi sebagian harta ayahnya. Sedangkan ibuku, dia hanya seorang anak yatim piatu yang tinggal di sebuah desa yang jauh dari kampung halamannya."


Seketika aku bisa berasumsi tentang apa yang terjadi dengan kisah cinta itu.


"Ibu ku berasal dari Aceh dan pergi merantau bersama Bibinya sejak tamat SMA. Mereka tinggal di sebuah provinsi dimana tempat itu penghasil rempah-rempah. Selain itu, di sana tempat pemeluk agama Islam terbesar di Thailand. Setelah beberapa lama bekerja, Ibu ku merasa nyaman di sana. Hingga ia mendapat kabar bahwa keluarga satu-satunya, Nenek ku, meninggal karna sakit. Dan Ibu ku memutuskan untuk menetap di Thailand selamanya."


"Suatu hari Ayahku mendatangi desa tempat Ibuku tinggal. Dia di sana mencari bahan makanan untuk restoran yang baru saja dia buka. Namun, pertemuan mereka membuat mereka saling jatuh cinta. Seiring waktu berlalu, mereka juga sering bertemu, dan pada akhirnya Ayahku melamar Ibuku. Tetapi tentu saja Ibu menolak. Karna Ibu tahu kalau mereka berbeda, baik secara latar belakang maupun keyakinan. Dan pada akhirnya mereka berpisah untuk sementara waktu."


"Hampir empat tahun mereka tidak berhubungan satu sama lain. Ibu ku telah menyelesaikan pendidikan kuliah di Aceh karna mendapat beasiswa. Ia pun kembali ke Thailand untuk mengunjungi kerabatnya yang sudah lama tidak ia jumpai. Dan saat itu, tanpa sengaja dia bertemu Ayahku lagi. Ayahku mengatakan kalau ia sudah belajar tentang Islam dan sudah menjadi seorang mualaf. Ayahku pun melamar gadisnya dan membawanya ke rumah keluarganya. Para anggota keluarga tentu saja menolak. Karna mereka mengira Ibuku seorang gadis yang tidak terpandang dan tidak tahu asal-usulnya. Namun, Ayahku tetap bersikeras menikahi Ibuku. Mereka hidup bahagia di bawah tekanan keluarga Ayahku. Hingga aku lahir, keluarga kami masih terlihat bahagia."


"Namun, hati mana yang bisa tegar jika hampir setiap hari di usik dengan kata-kata tajam. Bertahun-tahun Ibuku mencoba untuk bertahan hingga pada akhirnya kesabarannya habis. Di usiaku yang masih kecil, mereka memutuskan untuk berpisah. Dan setelah itu Ibuku pun memutuskan untuk membawaku pulang ke Indonesia."


Aku sangat prihatin dengan kisah keluarga Rain. Aku tidak menyangka jika jiwa orang-orang ini sangat tersiksa. Di tambah lagi olehku dulu yang selalu membenci Bu Mega karna aku mengira dia telah merebut Kakek ku. Jika saja dulu aku tahu dia sudah menderita, aku tidak akan tega berbuat seperti itu padanya.


Tanpa sadar air mataku mengalir. Aku sangat tersentuh dengan kisah itu. Dan selain itu, aku teringat akan kekejaman yang pernah ku lakukan pada Bu Mega. Maafkan aku Bu, aku menyesal.


Rain pun menghapus air mata ku dengan jari jempolnya. Lalu, dia pun memegang kedua pipiku seraya berkata, "Aku tidak ingin kisahku seperti mereka. Maukah kamu membuat hidupku bahagia?"


Aku pun mengangguk seketika. Ku tatap nanar mata Rain yang berwarna kecokelatan. Seakan ingin tenggelam dalam tatapan yang lembut dan penuh arti itu.


Semburat cahaya matahari pun sudah menghilang di langit. Menyisakan langit gelap dengan bintang yang mulai tampak satu per satu. Dan hanya ada aku dan pria yang telah berhasil membuatku jatuh cinta untuk pertama kalinya. Pria itu adalah Rain. Laki-laki yang selalu ada untuk ku dari dulu hingga saat ini.


"Han, maukah kamu menikah denganku?"


Pertanyaan yang meluncur dari bibir Rain seketika membuat tubuhku bergetar. Jantungku terasa berdetak tak berirama. Dan pipiku mulai memanas.


Perlahan wajah Rain semakin dekat dengan wajahku. Sekarang jarak wajah kami hanya sekitar 5 sentimeter. Aku tak hentinya menatap wajahnya yang begitu tampan. Ada apa denganku?


Perlahan Rain mulai memotong jarak antara kami. Jantungku semakin berdegup kencang. Karna aku tahu apa yang akan terjadi setelah ini. Aku pun menutup mataku perlahan ketika aku merasakan panasnya nafas Rain yang mulai terasa jelas di wajahku. Namun, seketika aku melihat dua wajah orang yang sangat aku kenali. Sontak tanganku mendorong Rain hingga ia mundur beberapa langkah.


"Ini tidak benar. Ini salah." Ucapku di sela nafasku yang menggebu-gebu. Wajah yang ku lihat itu adalah wajah Kak Fatha dan Carsy. Aku hampir saja melupakan hal yang sangat penting. Pada kenyataannya kami tidak bisa bersama.


"Ini tidak benar. Ini salah." Aku terus saja menyerukan kalimat itu. Dan ku rasa Rain sudah memahami isi pikiranku. Dia terlihat frustasi. Tapi, aku tidak peduli. Untung saja aku tersadar sebelum kami melangkah lebih jauh.

__ADS_1


"Rain, aku mau pulang."


...----------------...


__ADS_2