Kuingin Menemukan Dirinya

Kuingin Menemukan Dirinya
CHAPTER 36 : KILAS BALIK 1


__ADS_3

Mungkin ada yang bertanya-tanya sebenarnya bagaimana akhir dari kisahku dan Rain dapat menemukan titik terang. Hal ini mulai berjalan sejak malam terakhir aku berada di rumah Kakek.


Saat itu jam menunjukan pukul 2 dini hari. Aku baru selesai mengemas pakaian ku dan bersiap untuk kabur dari rumah itu tanpa di ketahui siapa pun. Karna jika ada yang tahu aku pasti akan di cegah untuk pergi.


Aku membuka pintu kamar dan melihat kondisi di ruangan tengah. Benar-benar sepi. Saat itulah aku menyelinap ke luar rumah melalui pintu belakang.


Setelah berhasil keluar dari rumah tanpa ketahuan aku pun segera berlari menjauh menuju sebuah mini market yang berada di pinggir jalan besar. Aku mencoba menelpon seseorang yang bisa ku mintai pertolongan namun aku bingung harus menelpon siapa. Tiba-tiba ada panggilan masuk dari Kak Fatha dan aku pun segera mengangkatnya.


"Halo Hany! Kakak sudah bisa menebak kamu pasti belum tidur." Ujar Kak Fatha dari seberang sana.


"Halo Kak! Tolongin aku Kak.." Lirih ku dengan suara setengah gemetar.


"Kamu kenapa? Apa terjadi sesuatu yang buruk? Kamu lagi dimana? Biar Kakak jemput."


Pertanyaan beruntun dari Kak Fatha berhasil membuatku menangis terharu. Pria yang telah ku main kan perasaannya selama ini ternyata sangat tulus kepada ku. Aku sangat kesal pada diriku saat ini.


"Jawab Kakak cepat Hany!" Terdengar Kak Fatha berteriak panik.


"Iya, Kak. Sekarang aku lagi di mini market dekat rumah Kakek." Jawab ku yang masih terisak.


"Oke, Kakak akan segera menjemput kamu. Kamu jangan kemana-mana, okey!"


Kak Fatha pun memutuskan sambungan telepon nya.


Aku duduk pada salah satu bangku yang ada di depan mini market itu. Aku sadar kalau aku sedang di perhatikan oleh para pegawai mini market yang ada di dalam tempat belanja itu. Aku tidak menghiraukannya yang jelas sekarang aku hanya ingin pergi ke tempat di mana aku bisa menenangkan pikiran ku.


Tidak butuh waktu lama Kak Fatha pun datang menjemputku. Dia terlihat panik ketika melihat kondisi ku yang berantakan.


"Sayang kamu kenapa?" Tanya Kak Fatha.


Aku hanya diam tidak bisa menjawab. Kak Fatha pun membawa ku menuju ke dalam mobil lalu ia mengendarai mobil itu entah kemana.

__ADS_1


Aku tidak tahu sebenarnya Kak Fatha ingin membawa ku kemana. Aku juga tidak tahu aku harus kemana. Selama di perjalanan aku hanya diam dan menangis terseduh-seduh.


Mobil Kak Fatha berhenti di parkiran sebuah bangunan yang tinggi menjulang. Setau ku tempat ini adalah bangunan apartemen. Namun aku tidak peduli tentang itu. Pikiranku sangat kacau saat ini.


"Sayang ayo kita turun dari mobil." Pinta Kak Fatha dengan lembut kepada ku.


Aku pun segera menuruti permintaan Kak Fatha. Aku merasa pasrah dengan keadaan saat ini. Mungkin jika Kak Fatha memintaku untuk melompat dari atas gedung yang tinggi menjulang ini aku juga akan menurutinya.


Kak Fatha merangkul pundak ku sambil berjalan. Aku masih belum tahu apa yang akan kami lakukan di sini. Seperti yang ku bilang sebelumnya aku hanya pasrah. Dan hanya melihat ke lantai seperti saat ini merupakan bukti kalau aku kehilangan semangat diri.


Pintu sebuah apartemen pun terbuka. Hal itu membuat ku ingin melihat pemandangan apa yang ada di hadapanku itu. Aku pun mengangkat kepala dan melihat isi apartemen yang begitu bersih dan sudah tertata. Aku pun menoleh kepada Kak Fatha sebagai tanda tanya dan ia hanya tersenyum.


Kami memasuki apartemen yang terlihat mewah itu. Aku melihat ke sekitar yang mana terdapat beberapa barang-barang kesukaanku. Bahkan foto ku dan Kak Fatha juga banyak terpajang di dinding. Hal ini membuatku menebak kalau ini apartemen barunya Kak Fatha.


"Kamu salah, sayang. Sebenarnya apartemen ini merupakan hadiah yang akan Kakak berikan buat kamu sebagai hadiah pernikahan kita. Jadi ini adalah punya kamu." Ujar Kak Fatha seperti tahu isi pikiranku.


Aku cukup merasa bersalah pada Kak Fatha saat ini. Bagaimana bisa aku menyia-nyiakan pria yang memiliki cinta tulus ini? Bahkan dia sudah menyiapkan hadiah untuk ku ketika aku tidak ingin memilih gaun pengantin untuk pernikahan kami.


"Terima kasih, Kak.." Ucapku sambil terisak.


Kak Fatha pun membalas pelukan ku sambil menenangkan ku. "Sama-sama sayang. Seharusnya di saat seperti ini Hany jangan menangis lagi. Apa Hany menginginkan sesuatu yang lain?"


Aku menggeleng. "Aku hanya ingin bersama Kakak mulai saat ini dan seterusnya."


.


.


Beberapa hari berlalu setelah kejadian malam itu. Aku sudah menceritakan kepada Kak Fatha apa yang sebenarnya telah terjadi. Dari raut wajahnya dia terlihat kesal pada awalnya namun ia memaafkan ku karna aku sudah memilih jalan yang benar untuk kembali padanya.


Orang tua ku sempat khawatir karna pada pagi itu Bu Mega langsung menelpon mereka ketika tahu aku tidak ada dimana pun. Tetapi untung saja Kak Fatha segera mengabari mereka kalau aku bersama nya. Dan syukurnya dia tidak memberikan alamat kami.

__ADS_1


"Sayang, coba lihat. Mama mengirimkan contoh beberapa konsep pernikahan. Kamu suka yang mana?" Kak Fatha pun memperlihatkan ponselnya kepadaku.


"Aku suka yang bernuansa putih dan cream ini, Kak." Tunjuk ku pada salah satu foto.


"Baiklah. Mama akan mengurus dekorasi ini buat kita." Ucap Kak Fatha sambil tersenyum.


"Sampaikan terima kasih ku pada, Mama."


"Baiklah.."


Aku menatap wajah Kak Fatha yang terlihat sangat cerah dan gembira. Dia sudah sangat tidak sabar ingin menjadikan ku istrinya.


"Sayang coba sini deh, Kakak bisikin sesuatu." Ujar Kak Fatha tiba-tiba.


Aku yang merasa penasaran langsung mendekatkan wajah ku ke wajahnya.


"I love you." Kak Fatha pun mendaratkan sebuah kecupan di pipiku.


Hal tersebut membuat sontak kaget. Aku pun mencubit perut Kak Fatha dengan gemas.


"Ihh.. Kakak usil!"


Kak Fatha tertawa terbahak-bahak lalu memeluk ku dengan gemas. Aku tidak tahu sejak kapan calon suamiku ini menjadi sebucin ini. Mungkin saja ini efek karna kami tinggal bersama selama dua hari.


Tiba-tiba bel pintu apartemen berbunyi. Aku pun segera melepaskan pelukan Kak Fatha.


"Ahh.. Kakak masih mau kelonan.." Erangnya dengan suara manja.


"Sabar dulu ya, Bayi besar. Kasian Abang gofood-nya nunggu lama." Jelas ku.


Aku pun beranjak untuk membuka pintu utama apartemen. Bel itu berbunyi semakin kencang dan membuatku juga tidak sabar ingin membuka pintu itu. Ketika pintu sudah ku buka alangkah terkejutnya aku ketika melihat sosok yang ada di depan pintu itu.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2