Kuingin Menemukan Dirinya

Kuingin Menemukan Dirinya
CHAPTER 12


__ADS_3

Suasana kegembiraan terpancar lebar di tengah ruang makan rumah Kakek. Lemparan senda gurau terdengar dari mulut Kakek dan Ayah yang berbalas kalimat satu sama lain. Aku, Bunda, Bu Mega, dan salah satu tamu kami hanya tertawa melihat mereka yang tidak berhenti berdebat. Sambil menikmati hidangan makan malam, kami pun terbawa suasana malam itu.


Sesekali aku melihat ke arah Rain yang berhadapan tempat duduk denganku. Dia terlihat terbawa suasana seperti yang lain. Sedangkan aku hanya terfokus pada makanan yang hampir tidak bisa ku habiskan.


Aku menawarkan diri untuk mencuci piring setelah kami selesai makan malam. Aku memohon sebagai permintaan maaf karna tidak membantu mereka memasak. Awalnya Bu Mega tidak mengizinkannya, karna piring kotor itu sangat banyak. Namun, setelah Rain meminta izin untuk membantu ku, dia pun menyetujuinya.


Aku dan Rain harus tinggal di dapur lebih lama untuk membereskan piring kotor itu. Sedangkan para orang tua sudah lebih dulu menuju ruang keluarga. Kami membagi tugas agar kerja kami cepat selesai. Aku yang menggosok piring dengan sabun, dan Rain yang membilas piring-piring tersebut.


Selama melakukan aktivitas cuci piring kami hanya terdiam. Aku dan bahkan Rain tidak berbicara satu sama lain. Aku ingin sekali berbicara dengannya, tapi aku merasa bingung harus memulai dengan kalimat apa. Aku tidak ingin terlihat gugup di depan Rain.


Tugas mencuci piring pun sudah kami laksanakan. Namun, kami juga masih belum bicara. Entah mengapa Rain terlihat berbeda. Biasanya, setiap dia bertemu denganku pasti dia lebih dahulu menyapaku tanpa rasa segan. Tapi, ini sudah beberapa jam, namun Rain sama sekali tidak ingin bicara denganku. Aku bosan kalau hanya diam seperti ini.


"Aku mau pulang!" Lontar ku pada saat mereka sedang asyik bercerita.

__ADS_1


Mereka pun berhenti berbincang dan pandangan mereka langsung terarah kepada ku. Tak ketinggalan Rain yang juga melakukan hal yang sama. "Lah, kok, pulang, Han? Kita kan, baru sebentar di sini. Jarang loh, kita main ke rumah Kakek. Ini pun kebetulan menyambut kepulangan Rain," Kata Bunda yang tidak setuju dengan keinginan ku.


Aku pun menoleh ke arah Rain yang terlihat aneh dengan gelagap gelisah yang ia perlihatkan. Dan hal itu membuatku semakin membuatku geram melihatnya. "Besok pagi aku harus sekolah, Bun. Dan aku juga punya PR yang harus aku kumpul besok pagi," ujarku memberi alasan. "Kalau Bunda sama Ayah masih mau di sini, nggak masalah. Aku bisa pulang sendiri," lanjutku.


Aku pun berdiri dan mengambil tas sandangku di kursi. Lalu, berjalan tanpa menghiraukan panggilan Ayah dan Bunda yang mencegahku untuk pergi. Kalau kamu berpikir aku ini egois. Memang, sampai sekarang aku masih memelihara sifat itu.


Tiba-tiba sentuhan tangan lembut menyambar tanganku yang mempunyai tekstur lebih kasar dari tangan milik Rain. Dia pun membawaku keluar rumah, bukan kembali berkumpul dengan keluarga kami. Aku hanya mengikuti kemana dia membawaku pergi. Dan berhenti ketika dia berhenti.


Dia pun melepaskan pegangannya dengan kasar ketika kami berada di luar rumah. Dia terlihat marah sampai-sampai nafasnya terdengar tidak teratur. Dia pun memalingkan wajahnya lalu berkata, "Apa kamu selalu ingin memberi kesan buruk ketika aku pulang?" Aku pun terbawa suasana emosi mendengar pertanyaan dari Rain.


Rain terlihat memaku di tempatnya. Dia menatapku beberapa detik lalu memalingkan pandangannya ke arah yang lain. Sedangkan aku memilih untuk memalingkan pandanganku ke arah rumput kuaci yang terlihat basa oleh tetesan embun.


Setelah beberapa menit Rain pun berkata, "Aku minta maaf." Aku pun menoleh ke arahnya. "Hany, aku minta maaf karna tidak menyapamu seperti biasanya. Aku merasa gugup ketika mendengarmu akan datang kesini. Dan rasa percaya diriku bertambah roboh ketika aku melihatmu setelah beberapa bulan yang lalu." Rain pun menatap mataku lebih dalam lagi. "Hany, aku merindukanmu!" Secara langsung dia menyambarku dengan pelukannya yang hangat.

__ADS_1


Aku hanya terpaku diam di tengah dekapan Rain yang hangat. Aku tidak bisa melakukan apa-apa kala saat itu. Jantungku berdegup kencang dan aku yakin Rain bisa merasakan denyutannya. Aku benar-benar tidak akan menyangka dia akan memelukku seerat itu.


Aku merasakan air mataku menetes di pipiku yang memanas. Bahkan beberapa bulir mungkin jatuh di punggung baju Rain. Entah mengapa air mata itu mengalir dengan sangat cepat. Aku pun tidak tahu alasan mengapa aku menangis.


Rain pun melepas pelukannya ketika tersadar aku tersedu. Dia pun menatap wajahku yang basah oleh air mata. Dia pun mengusap air mataku dengan kedua telapak tangannya sambil berkata, "Kenapa kamu menangis?" Aku terus saja tersedu seperti anak TK yang baru saja di jahili oleh teman-temannya. Dan Rain adalah guru TK ku yang berusaha menenangkan muridnya.


Setelah tangisanku agak redah, Rain pun mengajakku untuk pergi ke kafe untuk memperbaiki mood-ku yang sudah rusak. Dia bilang, kalau kita kembali ke dalam rumah itu bukan ide yang bagus dan tidak akan membuatku tersenyum seperti saat ini.


Rain pun mentraktirku secangkir cappucino kesukaanku. Dia sangat tahu kalau aku suka cappucino. Ia juga hampir mengetahui semua tentangku bahkan hobi jorokku yang sering mengupil pun dia tahu.


Aku tidak pernah berpikir kalau dia akan mengingat semua hal tentangku. Mempelajariku seperti aku mempelajari matapelajaran kimia. Bahkan Rain lebih paham diriku dari pada aku sendiri. Entah karna kami dari dulu sering bersama atau dia yang memang sengaja mencoba memahamiku, aku tidak tahu. Yang jelas dia seseorang yang sangat perhatian kepadaku.


Kami mengobrol dalam waktu yang cukup lama. Setelah merasa malam sudah larut, kami memutuskan untuk pulang. Seperti sebelumnya, kami menyusuri jalan dengan jalan kaki. Tetapi, jarak yang kami tempuh lebih jauh dari pada sebelumnya. Untung saja kota kami tidak mengenal siang dan malam. Jadi, kami tidak merasa kesepian menyusuri jalanan di tengah malam.

__ADS_1


Kami sampai di rumahku setelah kurang lebih tiga puluh menit berjalan. Ketika kami sampai, tepat mobil ayahku memasuki halaman. Melihat kami yang terduduk di teras, Ayah dan Bunda pun segera keluar dari mobil. Mereka pun menanyakan keadaan kami. Lalu, setelah mengetahui kami baik-baik saja, mereka pun terlihat tenang. Aku pun meminta Ayah untuk mengantarkan Rain pulang. Setelah menyaksikan mereka pergi, aku dan Bunda pun masuk ke dalam rumah untuk beristirahat.


...----------------...


__ADS_2