Kuingin Menemukan Dirinya

Kuingin Menemukan Dirinya
CHAPTER 8


__ADS_3

Aku berjalan menyusuri koridor menuju ruang serbaguna. Dengan langkah yang sangat cepat aku arungi kerumunan siswa yang mencoba menutupi jalan. Aku sudah sangat terlambat.


Ketika sampai di depan pintu ruang serbaguna, aku mencoba untuk menarik nafas untuk menghadapi segala yang ada di dalam ruangan. Aku pun menarik gagang pintu dan mengucapkan salam ketika pintu terbuka. "Assalamu'alaikum!"


Semua pasang mata yang berada di dalam ruangan serbaguna langsung menoleh ke arahku. Berbagai ekspresi mereka tunjukan untuk sesaat dan ketika sadar mereka pun langsung menjawab salamku.


Aku pun menoleh ke arah Kak Fatha yang sedang menatapku dengan senyumannya. Aku pun mengangguk sambil membalas senyumannya. Dia pun mempersilahkanku untuk duduk.


Ya, sekarang aku berada di kelas mata pelajaran kimia khusus untuk peserta Olimpiade Nasional. Aku datang kemari atas permintaan Kak Fatha selaku siswa yang bertanggung jawab atas kegiatan ini. Dia bilang,


"Han, Kakak boleh bicara sesuatu, nggak?"


"Apa, Kak?"


"Hany mau, nggak ikut kelas kimia khusus besok? Soalnya kebetulan besok pagi kebetulan kami akan membahas tentang materi yang sedang Hany pelajari. Dan itu akan sangat membantu Hany untuk menghadapi ulangan minggu depan." Jelas Kak Fatha dengan semangat.


"Ya, aku mau."


Begitulah cerita yang membuatku bisa masuk ke kelas ini. Padahal kelas ini sama sekali tidak cocok untukku karna hanya di isi oleh orang-orang pintar.


"Hei, kalian! Jangan pandang Hany seperti itu, dong. Nanti dia bisa nggak konsentrasi belajarnya. Kalian tenang saja, Hany tidak akan mengambil posisi kalian, kok, dia cuma mau belajar." Ujar Kak Fatha pada murid-muridnya. Mereka pun tertawa.


Pelajaran pun di mulai. Semua murid mulai fokus terhadap pembelajaran yang di berikan Kak Fatha. Tak kecuali denganku yang sangat berambisi untuk memahami materi BAB ini. Ketika aku belajar sendiri di rumah aku tidak mengerti sama sekali dan berpikir kalau pelajaran yang ini sangat sulit. Namun, ketika Kak Fatha menjelaskannya aku sangat mengerti. Bahkan ketika  Kak Fatha memberikan soal latihan kepada kami, aku bisa menjawab dengan benar semuanya. "Kerja bagus Hany!" Kata Kak Fatha ketika menyerahkan buku latihanku. Belajar di kelas khusus memang menyenangkan!


Kelas pun berakhir ketika bel istirahat kedua berbunyi. Para siswa pun bergegas untuk meninggalkan kelas. Kak Fatha mengakhiri kelas dengan sangat fantastis,  yaitu dengan memberikan kata-kata penyemangat untuk para peserta Olimpiade. Aku sangat suka ketika ia mengucapkan kata-kata itu.


Aku pun menghampiri Kak Fatha yang sedang membereskan buku-buku yang ada di meja. Aku membawakannya sebotol air mineral untuk dia minum. Karna sepertinya dia sangat membutuhkan hal itu.


"Orang bilang pria berkeringat itu keren." Kataku sambil menyodorkan sebotol air minum.

__ADS_1


Dia pun berhenti, "Oh, ya?" Tanya Kak Fatha sambil mengelap keringat yang membasahi keningnya.


"Sudahlah! Ayo minum!" Kak Fatha pun menerima botol air yang ku tawarkan. Lalu, dengan sekali tegukan dia hampir menghabiskan air yang ada di dalam botol itu.


"Aku suka dengan cara Kakak memberi semangat pada mereka." Ucapku.


"Hm.. Itu sudah seharusnya Kakak lakukan agar mereka tidak merasa stres ketika menghadapi lomba nanti." Katanya.


"Kakak guru yang hebat!"


Dia pun tertawa pelan, "Tidak juga. Kakak hanya mencoba untuk membantu."


Aku pun tersenyum. "Oh ya, aku kira mengajar itu mudah dan tidak melelahkan. Tapi setelah melihat Kakak, sepertinya menjadi guru juga melelahkan."


"Memang benar. Makanya kamu jangan mempersulit Bu Mega. Memangnya nggak kasian sama dia?" Tanya Kak Fatha.


"Enggak!" Jawabku dengan cepat. 'Eh, tapi kasian juga, sih. Pasti dia sangat lelah melakukan semuanya. Apa lagi di tambah konflik yang aku buat. Kasian sekali..'


"Eh, Kakak mau kemana?" Tanyaku.


"Ngantarin buku." Katanya sambil berjalan meninggalkanku.


"Eh, tungguin!" Ujarku sambil mengejarnya.


...----------------...


Sepulang sekolah aku memutuskan akan mengunjungi rumah Kakek. Tidak seperti biasanya, sekarang aku pergi sendirian atas kehendak hati nuraniku. Biasanya aku pergi bersama Ayah dan Bunda. Itu pun karna Bunda yang selalu memaksaku ikut.


Sekarang aku sedang berdiri di depan gerbang pintu rumah Kakek. Aku menatap pekarangan rumah itu sambil memegang tali tas sandangku. Aku berusaha untuk mengumpulkan keberanian untuk bisa memasuki pekarangan itu. Karna sudah lama sekali aku tidak menijaki rumput kuaci yang membentang di halaman rumah Kakek.

__ADS_1


Aku mendorong pintu gerbang yang tingginya sepinggang itu. Lalu berjalan menuju teras rumah Kakek. Aku pun mengetuk pintu rumah Kakek sambil mengucapkan salam. Hanya beberapa ketukan, Kakek langsung muncul dari balik pintu.


"Walaikumsalam!"  Kakek langsung memasang ekspresi kaget ketika melihatku di depan pintu. "Eh, ternyata cucu Kakek. Ayo masuk!"


Aku pun memasuki rumah Kakek yang begitu sederhana dan terbilang klasik. Namun, walau pun begitu rumah ini memiliki banyak kenangan.


"Kakek panggilkan Nenekmu dulu, ya." Aku langsung terpelenjat ketika Kakek mengucapkan kata itu. Aku merasa seperti aku masih berumur dua belas tahun lalu. Dimana orang yang ku panggil nenek masih orang yang sama. Namun, aku sadar sekarang umurku hampir tujuh belas tahun dan orang yang kucintai itu sudah pergi beberapa tahun yang lalu. "Iya, Kek. Aku akan menunggunya di sini." Ujarku.


Sambil menunggu aku pun memilih untuk mengelilingi ruangan tamu Kakek. Pemandangannya masih sama seperti terakhir kali aku merasa benar berada di sini. Foto-foto Nenek masih di pajang rapi tanpa ada satu pun di pindahkan. Bahkan lukisan besar Kakek dan Nenek masih tertempel di dinding dengan baik.


Tiba-tiba aku teringat terakhir kali aku datang ke tempat ini. Waktu itu masih ada Rain yang selalu mengikutiku kemana ku pergi.


"Hany! Kamu mau kemana? Eh, di situ ada hantu, loh!" Teriak Rain ketika melihatku pergi menuju ruang kerja Nenek.


Aku pun membalik melihatnya. Sambil ketus aku mengatakan, "Kamu kira aku anak SD yang bisa kamu takuti. Aku ini sudah kelas 2 SMP, kamu tahu itu, kan!"


Rain pun masih bersikeras, "Aku serius, loh. Kemaren aku melihat Nenek kamu duduk di meja mesin jahitnya."


"Biarkan saja. Itu malah lebih bagus. Biar aku bisa melepas rindu dengan Nenekku." Kata ku sambil memasuki ruang kerja Nenek yang hampir penuh sarang laba-laba.


Rain pun terus mengekoriku. "Ayolah Han, kita kembali ke ruang tamu. Di sini banyak laba-laba, loh." Katanya dengan nada membujuk.


"Enggak bakalan! Kamu kira aku suka lihat wajah ibu kamu ada di sana. Lebih baik aku melihat mata laba-laba dari pada lihat wajah ibu kamu!" Tekan ku dengan wajah kesal.


Aku tersenyum ketika membayangkan kejadian itu. Usia pubertas ku memang penuh keegoisan dan juga kemarahan. Bahkan hal itu masih berlaku sampai sekarang. Seperti yang kamu tahu aku masih belum menerima Ibu Rain sebagai Nenekku.


Kalau di pikir-pikir ternyata aku sangat jahat pada Rain. Aku menyakitinya dengan kata-kata yang mungkin membuatnya terluka. Aku baru menyadarinya setelah tiga tahun berlalu. Mungkin kalau aku yang di berinya kata-kata seperti itu mungkin aku tidak akan sanggup. Dan kemungkinan aku akan membenci Rain seumur hidupku. Tetapi Rain benar-benar lelaki yang tangguh dan sangat pintar. Dia tidak pernah memasukan semua kata-kata pahitku ke dalam hatinya. Dia sadar akan ke egoisan gadis yang sedang melalui masa menuju kedewasaan.


"Hany!"

__ADS_1


Suara itu terdengar sangat jelas menggema di telingaku. Aku pun menoleh dan mendapati sosok wanita  yang kini sedang terpaku di sela pintu menuju ruang tengah. Aku pun tersenyum dan menghampirinya. "Bu Mega, apa kabar?"


...----------------...


__ADS_2