
Butuh waktu beberapa jam untuk Nora mengatur jadwal kepulanganku. Aku tahu ini akan membuat Nora kerepotan karna semuanya harus dilakukan secara mendadak. Namun, Nora berkata ini adalah masalah serius jadi dia dengan suka rela untuk membereskan semua pekerjaan kami yang tersisa.
"Sekali lagi aku minta maaf ya, Nor karna sudah sangat ngerepotin kamu." Ucapku sambil menatap prihatin kepada Nora.
"Tidak apa-apa, Han. Memang sudah seharusnya ini menjadi tugas aku. Lagi pula aku tahu kamu sangat terpuruk sekarang. Tidak mungkin fokus jika tetap berada di sini." Jelas Nora sambil menatapku dengan air muka sedih.
Air mata yang sedari tadi ku tahan pun berhasil lolos. Aku pun segera memeluk Nora. Walau pun kami tidak memiliki tali persaudaraan, aku sudah menganggap Nora seperti saudara kandungku. Dia adalah orang yang paling peduli padaku untuk saat ini.
"Udah.. udah. Nanti kelamaan nangis di sini jadi ketinggalan pesawat lagi." Ujar Nora seraya menghiburku.
Aku pun menyeka sisa air mata di sudut mataku lalu tersenyum. "Iya. Aku berangkat sekarang, ya." Aku pun beralih memandang Vifi yang berdiri di belakang Nora sejak tadi. "Fi, jagain Nora, ya!"
Vifi pun mengangguk dan tersenyum. "Pasti, Hany. Kamu jangan khawatir," ucapnya dengan logat khas seperti biasanya.
"Kalau begitu aku pergi dulu."
Aku pun berjalan meninggalkan kedua rekan kerjaku itu. Akhirnya aku akan pergi meninggalkan kota ini. Kota yang memberikan ku petunjuk akan keberadaan Rain yang belum berhasil untuk ku bawa pulang.
.
.
Aku langsung menuju rumah kakek yang sudah terlihat ramai oleh orang bertakziah. Bendera putih pun sudah tertancap kokoh di depan halaman rumah kakek.
Air mataku berderai ketika melihat sosok raga tanpa jiwa itu terbaring di atas kasur dengan seluruh tubuh di tutupi kain panjang. Tak ku sangka orang yang ku sayangi di rumah ini sudah pergi menuju tempat peristirahatan terakhirnya.
Aku mengambil tempat duduk di samping Bu Mega yang tak kuasa menahan tangisnya ketika melihatku yang baru saja datang. Aku pun memeluknya dengan erat seraya mengatakan untuk tetap kuat kepadanya. Walau pun sebenarnya aku sendiri sangat hancur di dalam.
Bunda yang juga berada di samping Bu Mega terlihat sama hancurnya. Bagaimana tidak, ayah yang paling di cintainya, laki-laki yang menjadi cinta pertamanya sekarang sudah tiada. Aku bisa merasakan bagaimana kesedihan yang begitu mendalam terpancar di setiap penjuru rumah ini.
Setelah selesai membaca surat yasin dan berdoa, jenazah kakek pun di mandikan. Ayah, Kak Fatha, dan beberapa warga ikut dalam pelaksanaan pemandian jenazah kakek. Sedangkan kami para wanita membantu menyiapkan kafan untuk kakek.
Aku menoleh ke arah foto nenek yang masih terpampang kokoh di dinding. Wajahnya yang terlihat damai membuatku sedikit lebih tenang. 'Setidaknya nenek dan kakek bisa bersama sekarang'.
Namun, tiba-tiba aku teringat Bu Mega. Bagaimana dia akan menjalani hari setelah kakek tidak ada? Sedangkan Rain belum berhasil untuk ku bawa pulang.
Aku pun menghampiri Bu Mega yang sedang menunggu jenaza kakek selesai di mandikan. Aku kembali memeluknya untuk membuatnya lebih tenang.
__ADS_1
"Ibu yang sabar ya. Ini bukan kemauan kita, tapi semua ini pasti ada hikma yang akan kita dapatkan." Ujarku sambil mengelus punggung Bu Mega.
"Iya, Hany. Ibu sudah ikhlas dengan semua ini." Bu Mega pun tersenyum.
Aku pun ikut tersenyum melihat senyum yang mereka di bibir Bu Mega. Walau pun sebenarnya ada kesedihan yang mendalam yang masih tak dapat terobati di hati Bu Mega. Dan aku sangat tahu apa yang paling di butuhkan Bu Mega sekarang.
Tiba-tiba suara rusuh terdengar di antara para takziah yang berada di luar rumah. Aku dan Bu Mega pun penasaran dengan hal ribut apa yang terjadi di luar. Suara bisikan para tamu yang datang membuat kami semakin penasaran. Aku pun berdiri bersamaan dengan Bu Mega. Tetapi kami tiba-tiba tertegun ketika sosok yang muncul dari pintu depan.
"Assalamualaikum, Mama."
Sejenak Bu Mega masih terlihat bingung dan mematung di tempatnya. Beberapa detik kemudian barulah ia tersadar dengan apa yang terjadi.
"Waalaikumsalam.."
Rain pun berjalan mendekati kami bersama Carsy yang berada di sampingnya. Dia pun langsung memeluk Mama nya dengan air matanya yang meluncur mulus di pipi.
"Ma, Rain sudah kembali, Ma.."
Tangisan haru terjadi kembali di antara kami. Aku juga ikut menangis menyaksikan orang tua dan anak itu bertemu kembali setelah sekian lama. Begitu pun Carsy yang juga ikut terharu.
Bu Mega tampak tak kuasa melihat kepulangan Rain. Dia tidak percaya akan apa yang terjadi sekarang. Anak yang telah bertahun-tahun ia cari akhirnya pulang dengan sendirinya setelah sekian lama. Ia sangat syok sehingga membuat badannya terasa sedikit lemah.
...----------------...
Setelah pemakaman kakek selesai di lakukan, kami pun kembali berkumpul di rumah kakek. Kami berkumpul bersama dengan tujuan untuk membahas beberapa hal penting terkait harta benda yang ada di rumah peninggalan keluarga Bunda.
Setelah beberapa jam berdiskusi akhirnya keputusan bersama telah di buat. Bahwasannya rumah milik kakek di berikan kepada Bu Mega dengan syarat barang yang ada di dalam rumah harus tetap ada di dalamnya terutama barang peninggalan nenek. Bu Mega menyetujui, karna rumah yang sudah beberapa tahun ia tunggui ini sudah menjadi tempat ternyamannya untuk pulang. Dan kami pun yakin Bu Mega pasti bisa untuk menjaga dan merawat rumah Kakek.
"Karna masalah ini sudah clear, bagaimana kalau kita sekarang beristirahat? Saya tahu pasti kalian semua capek." Kata Ayah yang sekarang menjadi kepala keluarga tertinggi.
"Iya, benar yang di katakan Ayah Hany. Kalian lebih baik beristirahat sekarang." lanjut Bu Mega.
"Tapi maaf sebelumnya, Bu. Kami tidak dapat menemani Ibu di rumah. Karna besok kami harus keluar kota untuk menyelesaikan pekerjaan," kata Bunda dengan perasaan tidak enak.
"Tidak apa-apa, di sini sudah ada Rain bersama Carsy jadi saya tidak akan terlalu kesepian," jawab Bu Mega dengan lembut. "Biar lebih rame, boleh engga saya mintak Hany tinggal di sini beberapa hari?"
Aku yang mendengar permintaan dari Bu Mega tersebut langsung terkejut. Tidak biasanya Bu Mega memintanya untuk tinggal di rumahnya. Apa lagi sekarang sudah ada Rain dan Carsy. Sudah pasti tidak akan kesepian sama sekali.
__ADS_1
"Kalau kami terserah kepada Hany saja, Bu. Kalau dia bersedia silahkan saja." Kata Ayah.
"Bagaimana, Hany?" Tanya Bu Mega langsung kepadaku.
Aku pun menoleh kepada Kak Fatha seraya meminta pendapatnya. Kak Fatha pun memberi anggukan sebagai jawaban. "Baiklah, Bu. Aku akan di sini selama beberapa hari."
Bu Mega pun tersenyum legah.
"Kalau begitu kami pamit dulu ya, Bu." Ujar Ayah mengakhiri. "Assalamualaikum.."
Aku, Bu Mega, Rain, Carsy, dan Kak Fatha pun menjawab salam dari Ayah. Setelah itu mereka meninggalkan tempat kami berkumpul setelah bersalaman.
Tidak lama setelah itu Kak Fatha pun ikut pamit. Aku pun mengantarkan calon suamiku itu ke halaman depan.
"Kakak hati-hati di jalan, ya.." ucapku sambil tersenyum.
"Iya sayang." Sahut Kak Fatha yang membuatku terkaget.
"Eh, sejak kapan kakak jadi romantis gini?" tanyaku yang senang mendengar lontaran kata yang di ucapkan Kak Fatha barusan.
"Hum.. dari barusan dan seterusnya." Jawab Kak Fatha sambil tersenyum di akhir kata.
"Dari dulu kek kaya gini, Kak. Biar aku makin cinta hehe.."
"Hany sudah jago gombal ya sekarang.. siapa yang ngajarin, hum?"
"Ga ada. Belajar sendiri." Ujarku sambil menunjukan deretan gigiku.
"Jangan sering-sering ya, ga baik buat jantung Kakak." Kak Fatha pun mencubit hidungku karna gemas.
"Ih.. Kak Fatha! Sakit tau.."
"Maaf sayang.." Ucap Kak Fatha yang membuatku juga sedikit gemas. "Ya sudah Kakak pamit ya. Kamu jaga diri baik-baik ya. Nanti kita ketemu lagi kalau ada waktu, oke?"
"Iya kak.."
Kak Fatha pun mengucapkan salam lalu berlalu menuju mobilnya. Aku mengawasinya hingga mobil Kak Fatha sudah benar-benar pergi. Kemudian aku pun kembali ke dalam rumah.
__ADS_1
...----------------...