
Semua hal yang ada di dunia ini tidak bisa kita terka. Sudah menjadi kehendak yang maha kuasa untuk merahasiakannya dari kita. Adakalah kita mendapatkan keberuntungan dan adakala kita merasa dirugikan. Dan keseluruhannya merupakan ujian untuk kita.
Seperti halnya aku yang baru saja mendapatkan kebahagiaan malah di terpa badai seketika. Berita kepergian Rain yang tanpa sebab membuatku bingung dan gelisah.
Air mata ku mengalir tanpa henti di sepanjang perjalanan menuju rumah. Mengingat Rain yang pergi tanpa memberi kabar pada ku sejak hari terakhir kami bersama di Transmart. Apa yang sebenarnya terjadi pada Rain?
Ayah yang mengemudi di sampingku mencoba untuk menenangkan ku. Dia mengusap kepala ku dengan lembut sambil tersenyum perhatian. "Ayah yakin Rain baik-baik saja," sahutnya. Namun, air mataku tetap saja mengalir. Bahkan pada saat aku tidak lagi ingin menangis.
Ayah langsung membawa kami kerumah Kakek. Dan seperti kilat menyambar aku langsung menerobos keluar mobil dengan segera. Aku pun berlari menuju teras rumah Kakek. Bunda dengan sigap mengikutiku dari belakang. Dia terlihat sangat prihatin melihat sikapku yang tidak karuan.
"Kakek..! Kakek..! Ini Hany, Kek. Aku mohon bukain pintunya."
Aku berteriak seolah menuntut pada pintu yang tidak bersalah itu. Entah mengapa aku menjadi tidak terkendali. Ingin rasanya aku mendobrak pintu ini agar aku segera menghampiri Rain yang tengah duduk santai di dalam sana. "Sabar sayang, pasti semuanya baik-baik saja, kok." Bunda mengusap punggungku dengan pelan. Namun tetap saja aku menangis.
Kakek membukakan pintu dengan wajah yang terlihat sedih. Dia pun segera memelukku dengan erat sambil mencium kepalaku. Aku menangis tersedu-sedu dalam dekapan Kakek. Begitu pun dengan Bunda yang terlihat terharu. Kakek tidak melepaskan dekapannya hingga tangisanku mulai mereda. Saat itulah dia mengajakku masuk dan mulai menceritakan semuanya kepadaku.
"Kamu pasti bingung kenapa Rain memutuskan pergi tanpa pamit." Ujar Kakek.
Aku hanya mengangguk.
"Rain pergi bukan karna dia benci atau bermasalah dengan kamu. Tapi, Kakek yakin dia tidak pernah bercerita tentang masalah keluarganya pada kamu."
Aku hanya diam menyimak.
"Rain anak yang baik. Dia sayang pada kedua orang tuanya. Namun, seperti yang kamu tahu, ibu dan ayahnya sudah berpisah. Dan suatu keputusan yang berat baginya untuk memilih antara ayah atau ibunya. Bertahun-tahun dia mencoba untuk membuat ayah dan ibunya kembali bersama. Tetapi semua itu gagal karna ibunya sudah tidak mau lagi bersama ayahnya Rain. Dan setelah beberapa tahun ibu Rain menikah dengan Kakek." Kakek berhenti sejenak. "Kamu mau tahu kenapa dia datang kesini dan pergi secara tiba-tiba?"
"Memanganya kenapa, Kek?"
"Beberapa bulan yang lalu Ayah Rain jatuh sakit. Ayahnya meminta kepada Rain agar Rain membawa Ibunya pulang kerumah. Namun, setelah beberapa hari membujuknya, Nenek kamu tetap saja tidak mau. Dan Rain harus kembali untuk menyelesaikan sekolahnya. Tetapi dia tidak putus asa dan kembali setelah ujian sekolahnya selesai. Dia terus membujuk Ibunya tetapi Ibunya tetap menolak. Dia pun mendapat kabar dari Bibinya kalau kondisi Ayahnya sudah membaik. Rain pun memilih menghabiskan liburannya disini bersama kita." Jelas Kakek.
"Terus kenapa Rain tiba-tiba pergi, Kek?" Tanyaku dengan penasaran.
"Dua hari yang lalu Rain pulang dengan kondisi yang sangat buruk. Dia datang menemui kami sambil bersujud meminta Nenekmu untuk menemui Ayahnya. Rain mengatakan kalau Ayahnya sudah sekarat. Tetapi, Nenekmu tetap saja menolak dan meneriaki Rain dengan keras."
Air mataku kembali meluncur dengan deras. Pipiku terasa sangat panas seperti terbakar. "Terus apa yang terjadi selanjutnya, Kek?"
Kakek terlihat menghembuskan nafas. "Rain segera pergi setelah mendapat tamparan dari Nenekmu. Kakek berniat untuk mengejarnya tetapi Nenekmu segera jatuh pingsan. Dan sampai sekarang Kakek tidak tahu Rain ada dimana." Kata Kakek dengan wajah penuh penyesalan.
"Sekarang Bu Mega ada dimana?" Tanyaku.
"Dia ada di kamar. Kondisinya sudah sedikit membaik tapi masih lemah karna dia tidak mau makan."
Aku pun memilih untuk melihat keadaan Bu Mega. Dia terlihat sangat menyedihkan, bahkan lebih para dari pada aku. Aku meletakkan telapak tanganku di kepalanya. Sangat panas. Aku pun menggenggam tangannya sambil menatap matanya yang sayu.
"Bu.. Ibu yang sabar, ya. Aku yakin kalau Rain baik-baik saja."
Aku berucap seolah aku tidak terpukul. Namun, aku harus menghibur Bu Mega agar dia bisa lebih semangat.
"Rain marah sama Ibu, Han. Dia pasti tidak mau lagi bertemu Ibu. Ibu sangat menyesal telah memarahinya." Ucap Bu Mega dengan nada lemah.
"Aku yakin kalau Rain tidak seperti yang Ibu bilang. Rain itu kan, anak yang baik, Bu."
__ADS_1
Bu Mega hanya diam dan memalingkan wajahnya sambil menangis.
"Ibu tidak bisa begini. Ibu harus kuat. Ibu harus makan. Kalau begini terus, ibu bisa sakit parah. Kasihan Rain loh, Buk. Masak kedua orang tuanya harus sakit." Aku mencoba membujuk Bu Mega untuk makan. "Mau aku suapin buburnya?" Aku pun menyendokkan bubur itu kepada Bu Mega. Dan Alhamdulillah dia tidak menolak.
...----------------...
Akhir-akhir ini aku sering merenung. Tidak bersemangat bahkan pada saat di sekolah bersama teman-temanku. Mereka mengatakan kalau aku mirip orang stress. Dengan wajah sembab dan mata yang membengkak.
Sudah beberapa hari sejak Rain menghilang secara misterius. Selama itu pula aku lebih sering mendekam di kamar sambil merenung memikirkan keberadaannya. Aku tidak bisa memikirkan hal lain selain Rain. Hanya Rain yang ada di pikiranku untuk saat ini.
Mata pelajaran kedua hari ini selesai. Bel istirahat pun sudah berbunyi. Semua teman-teman di kelas ku sudah bangkit dari bangku untuk meninggalkan kelas. Sedangkan aku lebih memilih untuk menyenderkan kepalaku di meja.
"Han! Kamu absen ke kantin lagi?" Ujar Melsi yang sudah berdiri di pinggir mejaku.
"Aku nggak lapar, Mel. Kalau kamu lapar kamu pergi saja sana ke kantin." Kataku dengan nada lemas.
Melsi terdengar mendengus kesal. "Sampai kapan si Han, kamu terus-terusan begini? Memangnya kamu kira kalau kamu begini Rain akan kembali? Yang kamu lakukan ini cuma akan membuat Rain tambah sedih."
Melsi berbica dengan tegas ke arahku. Namun, aku tetap diam dan mengabaikan ucapan Melsi. Ia pun meninggalkan ku dengan wajah yang sangat kesal. Tetapi aku sama sekali tak peduli. Yang aku pikirkan hanya keberadaan Rain.
Tak lama setelah Melsi pergi Kak Fatha datang menghampiriku. Ku rasa teman-temanku mengadukan ku kepada Kak Fatha. Maka dari itu Kak Fatha mendatangiku langsung ke kelas.
"Han.. Hany nggak ke kantin?" Tanya Kak Fatha.
Butuh waktu cukup lama untuk ku menjawab pertanyaan Kak Fatha. Karna jujur, sekarang aku tidak ingin beebicara dengan siapa pun.
"Aku nggak lapar, Kak."
Kak Fatha tersenyum. "Coba kamu raba wajah kamu. Kamu kurusan loh, sekarang." Aku hanya diam tidak menanggapi. "Kita ke kantin, yok! Biar Kakak yang traktir Hany."
"Sekali lagi aku tidak lapar, Kak. Dan aku tidak mau makan!"
Aku berbicara dengan nada tegas kepada Kak Fatha. Kak Fatha terlihat kaget melihat ekspresi ku tadi. Segera aku tersadar kalau aku tidak seharusnya begitu.
"Maaf, Kak." Ucapku sambil tertunduk.
"Tidak apa-apa Han, Kakak mengerti kok, apa yang kamu rasakan." Kak Fatha pun mengambil posisi duduk berhadapan denganku. "Han, kamu masih kepikiran Rain, ya?"
Aku hanya diam sambil memalingkan wajah ke arah yang lain.
"Ada suatu hal yang ingin Kakak sampaikan. Ini tentang Rain."
Seketika kepalaku menoleh ke arah Kak Fatha. "Ada apa Kak?"
...----------------...
Aku berbaring di atas kasur sambil menatap langit-langit kamarku. Aku masih memikirkan tentang apa yang di katakan Kak Fatha tadi siang. Rain sungguh tidak adil. Dia menemui Kak Fatha yang baru saja dia kenal. Sedangkan aku yang menjadi temannya sejak kecil dia biarkan aku menderita karna memikirkannya.
Aku meraih sebuah kotak yang ku letakkan di ujung atas kasurku. Kotak itu di balut sampul kado berwarna biru muda polos di sertai pita silver yang tersimpul rapi di atas penutupnya. Aku pun membuka kotak itu. Di dalamnya terdapat sepasang sepatu kets warna putih dan sebuah amplop. Aku lebih memilih untuk mengambil amplop itu terlebih dahulu. Dan mencari tahu apa yang ada di dalam amplop tersebut.
Di dalam amplop tersebut terdapat selembar surat yang di tulis oleh Rain. Dengan cermat aku membacanya berulangkali sambil bercucuran air mata. Di dalam surat itu tertulis:
__ADS_1
^^^"Assalamu'alaikum Hany,^^^
^^^Aku minta maaf sama kamu karna telah pergi tanpa kabar. Aku minta maaf karna tidak bisa menjadi teman yang baik buat kamu. Dan aku juga minta maaf karna telah membuat kamu sedih.^^^
^^^Han.. aku mohon kamu jangan sedih dan terus memikirkan aku. Aku tidak suka kalau melihat kamu menangis. Aku juga tidak mau kalau kamu sampai jatuh sakit hanya karna mikirin aku.^^^
^^^Hany.. Seharusnya kamu tidak boleh sedih. Masih ada banyak kok, orang-orang di sekitar kamu. Ada Kakek, Nenek, Bunda, Ayah, Kak Ina, teman-teman kamu dan masih banyak lagi. Aku yakin mereka bisa bahagiain kamu dan sangat sayang sama kamu. Terutama Fatha. Aku yakin dia akan selalu ada buat kamu. Karna aku sangat tahu kalau dia orang baik dan sangat cinta sama kamu. Kamu jangan sia-siakan dia, ya.^^^
^^^Han.. Aku ingin berpesan sama kamu. Tolong jaga Ibuku dengan baik. Aku sangat memohon padamu untuk hal yang satu ini. Dan aku juga minta kepadamu untuk selalu bahagia. Tolong jangan sedih lagi. Lupakan saja semua hal tentang ku, tentang kita. Karna setelah ini aku mungkin akan pergi dan tidak kembali lagi. Kamu jaga diri baik-baik, ya.^^^
^^^Wasallam,^^^
^^^NB: Oh ya, aku sudah membuatkan mu video terjemahan lirik lagu yang kamu suka itu. Ada di dalam kartu memori yang ku selipkan di dalam amplop. Coba kamu lihat isinya."^^^
Aku memeriksa amplop itu sekali lagi. Ternyata benar ada sebuah kartu memori. Aku pun segera berlari mengambil laptop untuk melihat isi dari kartu memori tersebut. Hanya ada satu folder di dalamnya dan terdapat dua video di dalam folder tersebut.
Aku pun memutar salah satu video tersebut. Video yang ku buka itu berisi slide fotoku dengan Rain pada saat kami di pekanbaru. Slide foto itu diiringi lagu Eternity beserta terjemahan kalimat yang di tampilkan pada setiap lirik yang dinyanyikan. Tiba-tiba aku tersenyum mengingat rangkaian peristiwa dari foto-foto tersebut. Semua ini akan menjadi kenangan antara aku dan Rain.
Rain.. Bagaimana aku bisa melupakanmu. Sedangkan kau telah melukiskan kenangan indah di dalam ingatanku.
Tiba-tiba ponselku berdering. Aku pun memeriksa panggilan yang sedang berproses. Ternyata dari Kak Fatha. Aku pun segera mengangkatnya.
"Halo, Kak? Ada apa?" Tanyaku.
"Halo, Han. Nggak, Kakak cuma mau memastikan kalau kamu baik-baik saja."
"Alhamdulillah, aku sudah baikan kok, Kak."
"Kamu nggak nangis-nangis lagi kan? Nggak mikirin Rain lagi, kan?" Tanya Kak Fatha di seberang sana.
"Nangisnya udah redah, kok. Tapi.. Kalau soal nggak mikirin Rain aku nggak bisa berhenti mikirin dia, Kak. Terlalu banyak hal yang kami lalui sampai-sampai susah untuk di buang." Kataku dengan nada penuh penghayatan.
Kak Fatha terdiam sejenak. " Ya sudah, terserah kamu saja. Yang penting kamu jangan sedih-sedih lagi. Dan jangan lupa makan, ya!"
Aku pun tersenyum. "Iya, Kak."
"Kalau begitu Kakak tutup dulu ya, telponnya. Soalnya kan, kamu harus tidur."
"Iya, Kak."
"Ya sudah. Assalamu'alaikum."
"Wa'a.." Tiba-tiba aku teringat akan sesuatu. " Eh, tunggu bentar, Kak!"
Kak Fatha terdengar agak kaget. "Ada apa, Han?"
"Hem.. Soal yang kemaren.. Aku terima Kak, bunga sama coklatnya."
"Terus..."
Dengan malu-malu aku mengatakan, "Aku mau jadi pacar Kakak."
__ADS_1
Hari itu entah apa yang harus ku rasakan. Entah aku harus bahagia karna telah menjadi pacar Kak Fatha, atau merasa sedih karena harus kehilangan Rain. Terkadang aku merasa seperti orang yang munafik. Saat bersama Kak Fatha aku malah masih memikirkan Rain yang entah dimana saat ini. Terkadang aku juga terfikir, apakah aku benar-benar mencintai Kak Fatha, atau hanya sekedar termakan omongan Rain. Dan sangat jahatlah aku jika ku jadikan orang sebaik Kak Fatha sebagai pelampiasan.
...----------------...