
Aku dan Kak Fatha duduk di teras depan rumahku. Kami menghabiskan malam ini sambil menatap langit yang di taburi kelap-kelip bintang. Aku bersandar di bahunya sembari menikmati susana malam ini. Dan aku tidak ingin malam ini cepat berlalu.
Di kepalaku masih terngiang-ngiang kejadian saat di kafe. Aku masih belum percaya kalau semua ini nyata. Aku akan menjadi seorang istri. Hah, seorang istri? Aku masih belum percaya. Apakah aku bisa menjadi istri yang baik untuk Kak Fatha. Aku belum yakin. Namun, aku akan mencoba untuk menjadi pendampingnya yang setia. Dan berjanji tidak akan menghianatinya.
Aku mengusap cincin pemberian Kak Fatha sambil menatap wajahnya yang teduh. Akan tetapi aku sadar akan satu hal. Saat ini, dibalik keteduhan wajahnya ada kegelisahan yang terpancar. Aku tahu dia sedang memikirkan sesuatu. Aku menyentuh wajahnya yang menengadah ke langit, meminta agar dia memandangi wajahku. Dia pun menurunkan pandangannya dan menatap wajahku.
"Kasih tahu aku, apa yang ada di pikiran Kakak?" Tanyaku.
Dia memalingkan pandangannya. Lalu kembali menatap langit. Aku menunggu jawabannya hingga beberapa detik. Hingga aku kembali bersuara. "Kak.."
"Kakak bingung, Han. Sudah tujuh tahun lamanya Kakak menyimpan semua ini. Dan sekarang, Kakak tidak ingin lagi menyimpannya."
Sontak aku pun langsung mengangkat kepalaku dari bahu Kak Fatha. "Maksud Kakak apa?" Tanyaku.
Dia pun menatapku dengan serius sambil menggenggam kedua tanganku. "Han, dengar. Sebentar lagi kita akan menikah. Jadi, sebelum kita menikah Kakak tidak ingin ada rahasia di antara kita." Kak Fatha berbicara dengan nada yang sangat serius. "Ini adalah tentang Rain," lanjutnya.
Aku sangat terkejut ketika nama Rain di sebut. Sudah lama sekali nama itu tidak terdengar dari mulut Kak Fatha. Dan yang mengejutkan lagi dia berkata tentang 'Rahasia'.
"Rain?"
"Iya. Rain." Dia berhenti sejenak. "Hany, kamu tidak tahu kan, kalau aku dan Rain berteman akrab sejak SMP?" Pertanyaan itu hampir membuatku syok. "Aku dan Rain memang sudah berteman akrab sejak lama. Bahkan lebih jauh sebelum kita berteman."
Aku baru mengerti sekarang kenapa mereka sangat terlihat akrab ketika dulu waktu kami pergi bersama. Ternyata mereka memang sudah akrab waktu itu.
"Terus, kenapa kalian berpura-pura seakan baru kenal di depanku?" Tanyaku.
"Itu atas keinginan Rain." Jawab Kak Fatha.
"Tapi kenapa Rain meminta seperti itu?"
"Han.. Kamu pernah berpikir kenapa aku tiba-tiba ada di dalam hidup kamu? Ini semua bukan kebetulan Han. Walaupun aku tahu ini memang kehendak Allah. Tetapi Allah menjadikan Rain sebagai perantara. Dialah yang memintaku untuk datang ke kelasmu hari itu."
"Hah?" Lagi-lagi aku terkejut.
"Iya. Rain sudah pulang beberapa hari sebelum kamu melihatnya di kafe waktu itu. Dan.. Sejak dia pulang, dia hanya mengawasimu selama itu. Karna dia tidak berani untuk menemuimu."
"Tunggu. Kakak mengatakan di kafe waktu itu. Maksud Kakak saat ulang tahun Rain?" Kak Fatha pun mengangguk. "Jadi, Kakak ada di sana?" Tanyaku.
__ADS_1
"Iya. Aku menyaksikan kalian bertengkar saat itu. Setelah kamu pergi aku menghampiri Rain yang benar-benar terluka saat itu. Dan sebagai teman aku tidak tega melihatnya seperti itu. Dia selalu memintaku untuk menjagamu. Tetapi aku selalu menolak. Namun, malam itu aku langsung menerima tawarannya." Jelas Kak Fatha.
"Jadi, dulu waktu Kakak menawarkan diri untuk mengajariku, semua itu adalah keinginan Rain?" Tanyaku.
Dia mengangguk. "Semua itu adalah rencana Rain, Han."
Aku sangat tidak menyangka kalau Rain sepeduli itu padaku. Jujur, semua hal ini tak pernah terpikir oleh ku. Bahkan aku mengira Kak Fatha memang tulus membantuku waktu itu. Tetapi, itu semua dia lakukan semata untuk Rain.
"Namun, seiring waktu aku mulai membuat kesalahan, Han. Aku mulai mencintai kamu. Dan yang paling parah lagi aku berusaha merebut kamu dari Rain. Dia sangat marah ketika ia tahu bahwa aku mulai mencoba memisahkan kalian. Dan juga kami sempat bertengkar ketika sehari sebelum dia menghilang."
Kak Fatha menceritakan semua hal tentang Rain yang tidak ku ketahui. Air mataku mengalir mendengar cerita yang di katakan Kak Fatha. Aku tidak menyangka kalau Rain sangat menyayangiku lebih dari yang ku kira. Bahkan dia rela memukuli teman akrabnya hanya untuk membelaku. Rasanya tidak adil kalau aku tidak memberikannya apa-apa atas semua yang dia lakukan untuk ku. Namun, apa yang harus ku lakukan. Keberadaannya saja aku tidak tahu ada dimana.
"Han, ada satu hal lagi. Tapi Kakak mohon kamu jangan marah. Sebenarnya Kakak masih berkomunikasi dengan Rain," ujarnya.
Dengan cepat wajahku langsung berpaling menatap Kak Fatha. "Apa?"
"Iya, Han. Namun, tidak selalu. Hanya beberapa kali dalam setahun. Dia selalu mengirimi Kakak e-mail untuk menanyakan kabar kita."
"Terus, kenapa Kakak tidak memberi tahuku?"
"Tapi Kak, Kakak tahu kan, kalau aku, Bu Mega, Kakek, dan yang lain tidak bisa melupakan Rain hingga saat ini. Dengan teganya Kakak merahasiakan ini semua dari kami." Kataku dengan bercucuran air mata.
"Kakak tahu, Han. Tetapi, Kakak harus bagaimana. Di satu sisi Kakak sangat prihatin melihat kalian yang selalu berharap akan menemukan Rain. Dan di sisi lain jika Kakak tidak menuruti Rain, maka dia benar-benar akan menghilang. Maka dari itu, Kakak memilih untuk menuruti kemauan Rain. Kakak minta maaf sama kamu Han, atas semua ini."
Kak Fatha pun memegang tanganku sambil bermohon. Namun, lidahku terasa kelu untuk bicara sekarang. Yang ada di pikiran ku hanya ada Rain. Tidak ada yang lain lagi. Aku terus menangis tanpa memperdulikan Kak Fatha yang sedang memohon maaf dariku.
"Han, jika kamu tidak mau memaafkan Kakak, tidak apa. Kakak akan menerimanya. Namun, satu hal lagi yang harus kamu tahu. Rain sekarang sudah pulang ke Bangkok." Kata Kak Fatha.
Mendengar kalimat itu aku langsung berhenti menangis. Bagaikan bunga yang mekar di pagi hari, kalimat itu memberikan sebuah harapan baru untuk aku bisa bertemu dengan Rain.
"A-Apa itu benar, Kak?" Tanyaku.
"Iya. Aku berkirim e-mail dengannya tiga bulan yang lalu. Dan dia mengatakan kalau dia sudah kembali ke Thailand."
"Berarti dia belum pasti ada di Bangkok?"
"Kakak juga tidak tahu. Tapi, semua keluarganya kan, ada di sana. Jadi, kemana dia akan pergi selain kerumah keluarga ayahnya."
__ADS_1
Aku tersenyum mendengar pernyataan itu. Aku sangat bersemangat sekarang. Aku yakin kalau aku bisa menemukan Rain.
"Makasih, ya, Kak. Kakak sudah memberiku harapan kembali." Aku memeluk Kak Fatha.
"Tidak seharusnya kamu berterima kasih. Karna kamu harus tahu semua hal ini."
"Baiklah, kalau begitu," ujarku. "Ngomong-ngomong Kakak nggak perlu minta maaf. Karna semua ini menjadi pelajaran tersendiri untuk ku. Berarti sekarang kita impas."
Kak Fatha pun tersenyum. Lalu, ia bangun dan berdiri. "Mau kemana?" Tanyaku.
"Sudah malam, Hany tidur deh. Besok kan, harus bangun lebih awal buat siap-siap," jawabnya.
" Ya sudah, kalau begitu aku masuk ya.."
"Iya."
"Selamat malam. Assalamu'alaikum."
"Walaikumsalam.."
Aku pun meninggalkan Kak Fatha yang masih berdiri di tempatnya. Dia mengamatiku hingga aku benar-benar masuk ke dalam rumah. Setelah aku menutup pintu, barulah aku mendengar mesin mobilnya berderuh. Suara mobil itu pun mulai terdengar samar lalu menghilang.
...----------------...
"Sampai jumpa dua bulan mendatang. Bunda dan Fatha akan mempersiapkan acara pertunangan kamu dengan baik." Kata Bunda sambil tersenyum. Aku pun memeluknya. "Makasih, Bunda."
Tadi pagi orang tua Kak Fatha datang membawa tanda lamaran. Kami sekeluarga sontak kaget dengan rencana lamaran yang begitu mendadak. Bahkan aku sendiri tidak tahu kalau Kak Fatha akan bergerak secepat ini. Tentu saja, Ayah dan Bunda menyambut lamarannya dengan suka ria. Bahkan dalam waktu 30 menit, mereka bisa menetapkan tanggal pertunangan kami.
Ya, kami akan bertunangan dua bulan lagi. Tepatnya setelah pekerjaan ku selesai. Kami sepakat untuk menyamakan hari pertunangan kami dengan acara peresmian perusahaan baru Kak Fatha. Jadi, aku sangat yakin kalau acara itu akan besar sekali.
Setelah proses pelamaran itu selesai, semua orang pun pergi untuk mengantarku ke bandara. Dan sekarang kami sudah ada di bandara, mengucapkan salam sebelum aku berangkat.
Aku pun memeluk Ayah, dan dia pun membalas pelukanku. "Hati-hati, ya, Nak," ucapnya. Aku pun beralih ke Kakek. Dia memelukku sambil mengusap punggungku. "Kamu harus menyelesaikan tugas mu dengan cepat. Dan cepatlah kembali." Ujar Kakek. "Iya, Kek," kata ku. Ketika menuju Bu Mega, air mataku langsung mengalir dan memeluknya. Dia pun membalas pelukanku. "Bu, aku janji akan membawa Rain pulang," ujarku. "Cepatlah kembali," balasnya. Aku pun beralih menuju kedua orang tua Kak Fatha yang juga ikut mengantarku. Aku pun menyalami mereka satu per satu. Setelah itu, aku pun menghadap Kak Fatha yang berada di belakangku. Aku pun memeluknya. Dia membalas pelukanku. "Sampai jumpa dua bulan lagi," ucapnya. "Hem.." Gumamku. "Kakak akan merindukan kamu, Han." Kata Kak Fatha sambil melepas pelukannya. "Aku juga," ucapku.
Aku pun menarik koper ku, lalu melambaikan tangan pada mereka. "Sampai jumpa semuanya.." Teriak ku. Lalu, aku pun pergi menuju pesawatku.
...----------------...
__ADS_1