
Dia masih memaku di tempatnya berdiri. Dengan matanya yang membelalak menatap mataku. Aku pun tersenyum lebih lebar. Mencoba untuk memahami keterkejutan nya.
"Aku baru sampai, loh, Bu. Apa Ibu langsung mau memarahi ku. Jarang-jarang, loh, aku datang ke sini." Kata ku untuk mencairkan suasana.
Dia pun tersenyum dan menatapku dengan lebih lembut. "Alhamdulillah, saya baik-baik saja." Ujarnya.
Aku baru sadar setelah melihatnya sendiri, bahwa dia itu memiliki tatapan lembut yang bisa meneduhkan hati. Dan senyumannya sangat manis dan mirip sekali dengan senyum Rain. Andaikan saja dia bisa begini waktu mengajar di kelas. Paling tidak dia akan di sukai para murid di kelasnya.
Tiba-tiba Kakek muncul dari belakang Bu Mega. Dia terlihat khawatir dengan keberadaan ku dengan Bu Mega. "Apa kalian baik-baik saja?" Tanya Kakek.
Bu Mega pun membalik menghadap Kakek. "Kami baik-baik saja, Yah." Tuturnya dengan nada lembut.
'Menjengkelkan!' Aku pun mendengus sambil memutar bola mataku.
"Baiklah kalau begitu." Kakek terlihat legah. "Hany, ayo ke dapur! Nenekmu baru saja selesai memasak. Ayo kita makan!" Ajak Kakek kepada ku.
'Memangnya Nenek yang mana?' Batinku. "Heh, ayo, Kek." Ujarku tanpa penolakan.
Kami pun menikmati makanan dengan hikmat. Seperti biasanya, kalau kami makan bersama, Kakek akan selalu bercerita tentang pengalamannya waktu dia pergi merantau ke Malaysia. Aku tidak pernah bosan mendengar cerita Kakek. Walau pun aku sudah sekian kali mendengarnya bahkan aku sudah hafal semua jalan ceritanya. Karna menikmati makanan sambil mendengar cerita Kakek dapat membuat rasa rinduku kepada alamarhuma Nenekku menjadi terbayar.
"Dan setelah Kakek kembali ke Indonesia, Kakek pun bertemu..." Kakek menggantungkan kalimatnya. "Nenek. Gadis melayu yang sangat Kakek cintai sampai kapan pun. Benarkan, Kek?" Sambungku dengan menatap mata Kakek dalam-dalam.
Kakek pun menatap mataku dengan lembut. "Hem!" Ujarnya di sertai anggukan yang memiliki arti.
Aku pun menatap Bu Mega yang menundukkan kepala sambil menatap makananya yang ia permainkan dengan sendok. Mungkin dia merasa cemburu dengan kata-kata yang ku lontarkan. Aku pun mencoba untuk memperbaiki keadaan.
"Itu wajar kan, pasti kita masih mempunyai rasa cinta kepada orang yang bahkan tidak bersama kita lagi. Iya, kan, Bu?" Tanyaku padanya. Dia pun mengangkat kepalanya dengan ekspreai sedikit terkejut. "Hem, mungkin saja itu benar Hany." Jawabnya dengan lembut.
Setelah selesai makan, aku pun membantu Bu Mega membereskan alat makan dan mencuci piring. Kami bekerja bersama tanpa berbicara satu sama lain selama beberapa menit. Tetapi, entah kenapa aku ingin sekali berbicara dengannya. Aku mencoba memulai pembicaraan dengan membahas tentang Rain.
"Hem.. Rain gimana kabarnya?" Tanyaku seolah tidak pernah berhubungan dengannya.
"Dia baik-baik saja." Jawab Bu Mega datar.
__ADS_1
Aku terus mencoba untuk membuka jalur pembicaraan. "Oh. Ngomong-ngomong Rain sudah memasuki semester terakhir, kan. Setelah ini dia mau menyambung dimana?" Lanjutku.
"Kamu tahu dari mana kalau Rain sudah memasuki semester terakhir?" Tanya Bu Mega.
Aku tersentak. Sepertinya aku salah bertanya. "I-itu perkiraanku saja." Ujarku mengelak.
"Aku tidak tahu. Aku menyerahkan semuanya kepada Rain dengan Ayahnya. Apa pun pilihannya aku yakin itu yang terbaik untuknya." Ujar Bu Mega yang fokus pada bak cuci piring.
"Apa Ibu memiliki masalah dengan Rain?" Tanyaku saat mencurigai ada sesuatu yang tidak beres.
Bu Mega pun menatapku dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Air matanya pun keluar membasahi pipinya. "Ada apa?" Tanyaku. Dia pun memeluk ku secara tiba-tiba. Aku tidak membayangkan dia akan melakukan ini padaku.
"Hany, Rain. Rain tidak mau lagi melihatku. Dia membenciku." Ujar Bu Mega dengan air mata yang semakin berderai di pipinya.
Aku sangat simpati melihat tingkahnya seperti ini. Wanita yang ku lihat sangat angkuh di sekolah ternyata memiliki sisi rapuh di dalam dirinya. Dia yang selalu terlihat pemarah, sombong, dan tidak pernah tersenyum pada siapa pun di sekolah, ternyata memiliki sifat yang sangat bertolak belakang ketika berada di rumah. Aku sangat menyesal karna telah membencinya selama ini. Aku pun mengelus punggungnya dengan lembut dan membiarkan dia menumpahkan segala hal yang di rasakannya.
Setelah selesai mencuci piring, kami pun memutuskan untuk duduk berdua di teras depan rumah Kakek. Seperti sebelumnya, kami hanya diam tanpa bicara, dan merasakan semua hal yang ingin kami rasakan.
"Tidak masalah Hany. Memang sejak aku lahir aku sudah memiliki banyak beban masalah." Ujar Bu Mega sambil menatap kejauhan yang ada di depannya.
Aku menoleh ke arahnya. "Tapi setiap masalah ada solusinya."
"Aku tahu. Ini sudah menjadi keputusanku. Karna masalah itu tidak datang secara tiba-tiba, tetapi aku lah yang selalu mencarinya." Kata Bu Mega.
Aku mencoba untuk mengertikan perasaannya. Apa dia memang memiliki masalah sebanyak yang dia katakan atau dia hanya ingin membuatku berempati.
"Sudah hampir senja, aku harus pulang. Sampaikan salamku pada Kakek, ya! Aku pamit, Assalamu'alaikum!"
Dia pun mengguk, "Walaikumsalam!"
Aku pun meninggalkan rumah Kakek dengan perasaan yang bercampur aduk.
...----------------...
__ADS_1
Malam ku benar-benar kacau. Berjuta pikiran terasa melayang-layang di atas kepalaku. Aku menatap langit-langit kamarku sambil memeluk gulingan. Mencoba untuk memikirkan semua hal yang baru saja aku ketahui.
Tiba-tiba suara ketukan terdengar dari balik pintu kamarku. Aku pun bangkit dari baringanku dan menyeru untuk membuka pintu. Ketika pintu kamar mulai terbuka, saat itulah Kak Ina tampil di sana.
"Dek, ayo makan dulu. Adek kan, belum makan dari pulang sekolah." Ajak Kak Ina yang terlihat khawatir.
Aku pun tersenyum, "Sudah kok, Kak. Tadi aku makan di rumah Kakek." Kata ku.
"Tapi, pasti sedikit, kan? Ayo kita makan lagi. Kakak sudah buatin Adek sup, loh." Kata Kak Ina mencoba untuk membujuk.
"Kalau begitu simpan dulu aja di lemari es, besok panaskan lagi." Ujarku lembut.
Kak Ina pun terlihat lesu, " Ya sudah kalau begitu." Dia pun pergi meninggalkan kamarku.
Aku pun kembali berbaring sambil menatap langit-langit kamarku lagi. Terlalu gelap dan terasa menyeramkan. Aku pun teringat akan lampu kelap-kelip yang baru saja ku pasang beberapa hari yang lalu. Aku pun mencari alat pemantik lampu yang kemaren aku gantung di sandaran tempat tidurku. Tidak perlu waktu yang lama, aku pun menemukan alat itu dan menekan tombol yang terdapat di tengahnya.
Seketika kamarku di terangi cahaya yang berkelap-kelip. Nuansa cahaya yang berwarna biru itu mampu menerangi ke sekeliling kasurku. Kini kamarku tidak lagi terlihat gelap dan menyeramkan. Malahan terlihat indah, sehingga membuatku betah untuk bergadang semalaman.
Aku pun mengambil laptop yang ada di atas bantal. Membukanya, lalu memeriksa aplikasi Whatsapp. Ternyata tidak ada pesan dari Rain. Bahkan akunnya terakhir dilihat ketika kami terakhir saling kontekan. Kenapa dia tidak menghubungiku malam ini?
Pesan dari grup masuk tanpa henti. Memang sudah hampir dua hari aku tidak membuka aplikasi Whatsapp-ku. Jadi tidak heran chat grub sekolah jadi menumpuk.
Aku pun membuka grup yang masih ramai berbincang itu. Namun aku terkejut saat melihat pembahasan mereka yang menyebutkan nama ku. Aku pun langsung menyelidiki akar dari pembicaraan itu. Mataku pun langsung terbelalak ketika akar pembicaraan itu di mulai oleh Kak Fatha.
"Hany kamu di mana? Kakak nungguin kamu nih, di kafe." Tulisnya di dalam forum chating.
Setelah itu tentu saja deretan akun membalas kiriman Kak Fatha. Bukan hanya para laki-laki yang menggodanya, bahkan tidak sedikit perempuan juga ikutan. Sungguh ini hal yang sangat memalukan. Bisa aku bayangkan apa yang akan aku hadapi besok di sekolah. Aku pun memutuskan untuk keluar dari grub. Sebelum ke adaanku di sadari oleh murid-murid yang masih menggoda Kak Fatha.
Aku pun melipat laptop-ku kembali dan menyimpannya di atas meja belajar. Kemudian, aku kembali berbaring dan menatap lampu kelap-kelipku yang bersinar indah memenuhi langit-langit kamarku. Aku pun tersenyum. Tiba-tiba aku teringat pesan Kak Fatha yang ada di grub itu. Ternyata dia sangat peduli padaku sehingga dia mau buat menungguku yang tidak akan datang malam ini.
'Ternyata Kak Fatha baik juga, ya. Selalu peduli dengan pelajaran kimia ku. Padahal kami, kan, tidak ada janji malam ini.' Aku pun tersenyum dan menatap lampu-lampu yang masih menghiasi loteng ku. Aku pun terus menatap lampu itu hingga mataku mulai menyipit sedikit-demisedikit. Lalu, pemandanganku terhadap cahaya itu mulai pudar dan setelah itu gelap.
...----------------...
__ADS_1