
Cahaya berwarna nuansa biru menerangi jalanan yang ku pijak bersama Kak Fatha. Hembusan angin sepoi-sepoi menambah suasana malam menjadi semakin damai. Langit tampak terang dengan taburan bintang dan awan hitam yang mengelilinginya. Serta pantulan cahaya bulan di tengah sungai memberikan kesan indah tersendiri untuk ku tatap.
Untuk pertama kalinya aku datang kesini. Walau pun aku sudah pernah mendengar tentang jembatan yang baru di buat ini. Beberapa temanku seperti Rasel, Melsi, dan teman yang memiliki kekasih lainnya sudah pernah datang kemari. Karna memang jembatan ini juga digunakan sebagai tempat menghabiskan waktu oleh para pasangan remaja. Selain mereka, ada juga para remaja lelaki yang mengelompok di pinggir jembatan hanya untuk menghabiskan waktu bersama teman-teman mereka. Seperti mereka yang ada di sekitar kami. Banyak yang ku lihat siswa dari sekolah kami. Namun, karna saking banyaknya orang, jadi mereka tidak menyadari aku dan Kak Fatha ada di sekitar mereka.
Aku menoleh ke arah Kak Fatha yang berdiri di sampingku. Dia tengah menatap ke arah bentangan sungai yang ada di depan kami. Wajahnya datar tanpa berekspresi. Namun, jika di perhatikan lebih saksama dia tampak sedang gelisah. Aku tidak mengerti mengapa dia tiba-tiba terlihat sedih. Padahal sudah sedari tadi kami bersama dia terlihat biasa-biasa saja. Sekarang aku sangat penasaran dengan apa yang sedang dia pikirkan. Aku pun memilih untuk berbicara dengannya.
"Kakak terlihat gelisah. Apa Kak Fatha punya masalah?" Aku mencoba berbicara agak pelan agar dia tidak terlalu merasa terusik.
Dia pun menoleh ke arahku dan tersenyum. "Tidak. Kakak tidak ada masalah," Jawabnya. Padahal aku tahu betul dari tatapannya dia memiliki masalah. Bahkan dari cara Kak Fatha menjawab pertanyaanku aku tahu dia memiliki tidak hanya satu masalah.
"Ayolah, Kak. Aku ini teman Kakak sekarang. Aku mau kok, mendengar curhatan Kakak walau pun kita harus berada di sini semalaman." Ujarku mencoba menghiburnya. Dia hanya menyengir, lalu mengalihkan pandangannya ke arah sungai kembali. Kak Fatha membuang nafas kasar sebelum mulai bercerita. Dia terlihat ragu-ragu mengungkapkan kata untuk memulai ceritanya. Setelah beberapa saat barulah dia mengatakan sesuatu.
"Sebenarnya Kakak baru putus dengan pacar Kakak." Sontak aku langsung kaget mendengar ucapan yang keluar dari mulut Kak Fatha. Aku tidak menyangka kalau dia memang memiliki pacar. Aku terdiam menunggu Kak Fatha melanjutkan kalimatnya. "Kami pacaran sudah sejak SMP. Lebih tepatnya sudah hampir tiga tahun. Tapi, entah kenapa tiba-tiba Karin memutuskan Kakak. Kakak bahkan tidak tahu salah Kakak apa," ujar Kak Fatha.
"Mungkin Kakak punya salah sama Karin. Tapi Kakak tidak menyadarinya." Aku mencoba untuk memancing semua masalahnya.
"Itu tidak mungkin. Kami selalu berbagi cerita setiap saat. Tapi tidak ada hal yang bisa membuat Karin marah. Dia tahu semua yang Kakak lakukan setiap hari. Bahkan, Kakak mengajarimu pun dia tahu."
"Terus apa yang membuatnya ingin putus dengan Kakak?" Tanyaku.
Kak Fatha menghembuskan nafas. "Kakak rasa dia sudah punya pacar baru. Makanya dia memilih untuk mencampakkan Kakak." Dia terlihat sangat sedih. Sedih yang sangat mendalam. Bahkan sampai-sampai dia tidak mau menatap wajahku ketika bicara. Aku merasa kasihan padanya.
Aku pun mengelus bahu Kak Fatha yang lebih sedikit tinggi dari pada bahuku. Dia pun menoleh ke arah tanganku yang bergerak-gerak di bahunya. Lalu, ia pun menatapku yang tersenyum. "Kakak harus kuat. Kalau Kakak memang jodoh dengan dia, aku yakin suatu saat kalian pasti akan di pertemukan kembali," ujarku. Dia tersenyum. "Kamu udah kayak yang ada di film-film saja." Kata Kak Fatha yang mulai kembali normal.
"Tapi betul, kan?"
"Ya iyalah, namanya juga jodoh. Kalau nggak ketemu gimana bisa jodoh," kata Kak Fatha.
__ADS_1
"Kok bicara Kakak kayak ngawur, gitu? Kayak orang yang lagi gila karna putus cinta," goda ku.
"Heh, bisa aja kamu, ya.." Kak Fatah pun mengosok kepalaku hingga membuat jilbabku berantakan.
"Kak Fatha.. Stop! Jilbab aku jadi nggak rapi, nih." Bentak ku sambil menghentikan tangannya yang masih berkutik di kepalaku. Dia pun menghentikan perbuatannya. Lalu menatap ku dengan tatapan memprihatinkan.
"Han.." Sahutnya lembut.
"Hum?"
"Berjanjilah kamu harus selalu dekat denganku apa pun yang terjadi," ujarnya.
Aku pun tersenyum. "InsyaAllah. Aku akan selalu menjadi orang terdekat Kakak." Dia pun tersenyum. Aku tidak mengerti mengapa Kak Fatha berkata demikian. Tapi aku sudah berjanji pada diri ku sendiri akan menjadikan Kak Fatha sebagai salah satu orang terpenting dalam hidupku.
"Ya sudah. Ayo kita pulang. Hari sudah larut malam dan lingkungan ini sudah mulai tidak cocok untuk Hany. Kakak akan antarkan kamu pulang."
"Kak.. Kak! Bangun! Kenapa Kak Ina tidur di sini?" Tanyaku seraya membangunkan Kak Ina. Dia pun bangkit dari sofa sambil mengusap wajahnya. "Bunda sama Ayah belum pulang, ya?" Tanyaku pada Kak Ina yang masih setengah sadar.
"Mereka pergi ke pusat kota. Nenek kamu masuk rumah sakit." Sahut Kak Ina yang masih memicingkan matanya.
"Apa? Nenek masuk rumah sakit lagi? Terus kenapa aku tidak di ajak?" Tanyaku dengan tegas.
"Kamu kan, nggak di rumah. Lagian mereka tadi buru-buru. Jadinya nggak sempat nunggu Adek pulang." Kak Ina pun menguap. "Ya sudah, ganti baju sana! Cuci muka, gosok gigi, terus cuci kaki. Setelah itu langsung tidur, ya. Kakak sudah nggak tahan nih, pengen tidur. Lagian kamu nge-date-nya lama banget." Cerocos Kak Ina yang masih menutup mata.
"Ih, Kak Ina sotoy banget. Pakai Bahasa Inggris segala lagi." Dia hanya mengabaikanku lalu pergi ke kamarnya. Sedangkan aku, memilih untuk menggantikan Kak Ina dan berbaring di sofa sambil memainkan ponselku.
...----------------...
__ADS_1
Matahari bersinar di pagi minggu yang cerah. Suara hentakan sepatu para pejogging menggema memenuhi jalan. Jam sudah menunjukkan pukul setengah delapan. Namun aku masih tetap berkutit pada sebuah sapu lidi yang sedari tadi ku ayunkan. Para pejogging pun melewati rumahku. Aku pun berhenti sejenak untuk melihat mereka yang hanya terdiri atas laki-laki. Beberapa dari mereka bisa ku kenal, karna mereka adalah teman sekelasku. Salah satu dari mereka pun menyapaku. Dan aku hanya membalasnya dengan senyuman ramah. Mereka sudah hampir menjauh. Aku pun memutuskan untuk melanjutkan kerjaan ku kembali.
"Teman kamu, ya?" Aku sontak terkejut karna tidak menyadari kehadiran Rain. Dia berdiri tegak di belakangku sambil menatap arah para pejogging itu pergi. Aku mencoba menenangkan diriku sebelum menjawab pertanyaannya. "Iya. Namanya Ilham. Kami satu kelas," jawabku. Rain pun mengangguk tanda mengerti. Lalu, dia pun menatapku sambil tersenyum aneh.
"Kamu kenapa?" Tanyaku yang mulai merasa bingung dengan tingkahnya.
"Kita pergi jalan-jalan, yuk. Aku bosan di rumah, makanya pergi ke sini." Kata Rain dengan ekspresi jengkelnya.
Aku berpikir sejenak untuk mempertimbangkan ajakan Rain. Aku mau pergi, tapi aku tidak mungkin meninggalkan rumah saat Kak Ina jug tidak ada di rumah.
"Aku mau pergi, sih. Tapi aku tidak mau meninggalkan rumah tanpa ada yang jaga. Lebih baik kita tunggu Kak Ina pulang dulu."
"Memang Kak Ina kemana?"
"Ke pasar. Sebentar lagi juga pulang, kok," ujarku sambil melanjutkan sapuan ku.
Rain tetap berdiri di tempatnya beberapa saat. Lalu, dia pun mengambil tong sampah yang tergeletak di atas rumput. Ia pun mendekati ku untuk mengutip dedaunan kering yang sudah aku kumpulkan. Aku pun membantunya untuk memasukkan dedaunan itu ke tong sampah. Setelah semua daun itu selesai di kutip, Rain pun membuangnya di tempat pembakaran sampah di belakang rumah.
Aku melepas lelah ku dengan duduk di teras rumah. Sambil menghirup udara pagi yang segar, aku meluruskan kaki ku agar rasa pegalnya agak berkurang. Rain muncul dari sudut rumah dengan membawakan tong sampah yang sudah kosong. Dia pun meletakkan nya di tempat tong itu sebelumnya berada. Rain pun duduk di sampingku dengan kaki yang juga di luruskan di atas rumput. Dia pun menoleh ke arahku yang juga memandangi nya. Aku pun tersenyum. "Makasih ya, atas bantuannya," ucapku. Rain pun membalas senyuman ku. "Sama-sama," balasnya. Lalu kami pun mengalihkan pandangan kami.
Aku pun merasakan kepanasan di bagian belakang leherku. Keringatku yang sedari tadi bercucuran sudah membasahi kulit kepalaku. Rambut ku terasa lepek dan itu membuatku sangat tidak nyaman. Aku pun melepaskan ikat rambutku yang berantakan untuk di perbaiki. Lalu, aku pun mengikatnya kembali dengan bentuk ikatan bun agar leherku bisa sejuk kembali.
Aku kembali memperhatikan Rain. Dia tengah menatap ke arah jalanan yang terlihat sepi. Aku tahu dia sedang memikirkan sesuatu. Namun aku enggan untuk bertanya. Tetapi rasa penasaran ku tidak bisa ku tahan. Akhirnya aku memutuskan untuk bertanya.
"Rain, kamu ada masalah?" Tanyaku dengan suara yang tenang. Rain hanya terdiam dan tetap menatap lurus ke arah jalan itu. "Kalau ada masalah aku bisa membantu mu," tawarku dengan lunak. Dia pun menoleh ke arahku dengan tatapan yang serius. "Boleh aku bertanya sesuatu?" Tanyanya setelah beberapa detik terdiam. Aku pun mengangguk dengan ragu-ragu sambil menunggu pertanyaan darinya. "Dengan siapa kamu tadi malam?"
...----------------...
__ADS_1