Kuingin Menemukan Dirinya

Kuingin Menemukan Dirinya
CHAPTER 25


__ADS_3

"Hai Nora! Sudah berapa lama kamu menungguku?"


"Eh, Hany. Belum lama. Ayo kita bergegas, 15 menit lagi pesawat kita akan berangkat."


Aku dan Nora pun bergegas menaiki pesawat kami. Beberapa menit berikutnya pesawat kami pun mulai lepas landas dan melayang di udara. Aku merasa capek karena harus terburu-buru menemui Nora. Dan syukurlah aku tidak terlambat.


Aku pun memeriksa tas ku untuk mencari ponsel. Saat itulah aku merasakan sebuah buku ada di dalam sana. Aku pun mengeluarkan buku itu yang ternyata adalah buku yang ku bawa dari kantor ku dua hari yang lalu. Aku pun meletak kan buku itu di pangkuanku dan meneruskan tujuanku.


Nora pun mengambil buku itu dan membolak-baliknya sebentar. "Ini buku yang ada di ruangan kamu, kan?" Tanya Nora. Aku pun mengangguk. Dia pun membuka halaman pertamanya. Seketika Nora tertawa. "Ha ha ha.. Katakan manusia konyol mana yang menulis hal bodoh seperti ini," gelaknya.


Aku pun merebut buku itu dari Nora. "Kembalikan padaku!"


Tiba-tiba dia memegang tangan ku. "Oh.. Ternyata kamu pulang buat jemput cincin ini. Pantasan saja pulangnya buru-buru" ledek Nora.


"Ya-ya-ya. Anggap saja begitu. Karna kalau ku sangkal kamu nggak bakalan mau mengalah."


Aku pun melihat jam di ponselku. Disana tertera pukul 9.30. Aku pun mengecek Whatsapp. Ada pesan yang datang dari Fajri. Aku pun membukanya. Dia mengatakan:


"Kalau kalian sudah sampai di Bangkok, kalian akan di sambut salah satu temanku yang bernama Vifi. Jadi, kalian jangan khawatir, jadwal kerja kalian sudah di atur olehnya."


Aku tidak mengerti dengan apa yang dikatakan Fajri. Jadwal kerja? Bukannya dia sudah memberikan jadwal kerja itu.


"Nor, jadwal kerja kita sudah di aturkan?" Tanyaku pada Nora.


"Sudah, Han. Memangnya ada apa?"


"Barusan aku dapat pesan dari Fajri, katanya ada temannya yang ada di Bangkok yang akan menyambut kita. Dan dia juga yang membuat jadwal kita."


"Tapi, disini semuanya sudah ada. Besok kita akan ada rapat di Perusahaan Ashava. Dan setelah itu kita akan ada lounching produk di salah satu mall di pusat kota." Jelas Nora padaku.


"Tapi, kenapa Fajri bilang begitu?" Aku masih terheran-heran.


"Sudahlah, Han. Fajri memang begitu. Dia selalu mempermainkan kita. Terutama perasaanku." Kata Nora dengan ekspresi sedikit kecewa.


"Kok kamu jadi baper begini?" Ledek ku.


"Tidak apa-apa. Sesekali aku mau curhat," ucap Nora.


Beberapa jam kemudian, kami mendarat di salah satu bandara di Bangkok. Setelah turun dari pesawat, kami pun mengambil barang-barang dan menuju jalan keluar bandara. Namun, ketika aku berjalan, tiba-tiba seseorang menghampiriku. Aku pun sontak terkejut melihat pria yang ada di depanku itu. Dia menatapku sambil mengulaskan sebuah senyuman di bibirnya.


"Kamu Hany, kan?" Tanya pria itu dengan logat anehnya.


"I-iya. Kamu siapa?" Tanya ku dengan kikuk.


"Kenalkan, saya Viskha Adoragon. Kamu bisa memanggil saya Vifi." Dia pun mengulurkan tangannya.


"Oh, jadi kamu Vifi. Saya kira Vifi itu perempuan" sahutku sambil menjawat tangan Vifi.


"Tidak. Saya laki-laki" ucap Vifi dengan nada humor.


"Oh iya, kenalkan ini teman sekaligus sekretaris saya, Nora." Nora dan Vifi pun saling berkenalan. Setelah acara berkenalan selesai, Vifi pun mengajak kami menuju hotel kami.


Di perjalanan menuju hotel, aku sibuk bertanya-tanya pada Vifi tentang perusahaan tempat kami akan mengadakan promosi produk. Vifi mengatakan kalau dia bekerja di sana, maka dari itu Fajri memintanya untuk mengarahkan kami. Kami juga berbincang tentang penyebaran produk yang sebelumnya pernah kami ekspor. Dan Alhamdulillah, produk itu berkembang pesat di Thailand.


"Oh iya, Fi, Fajri bilang kamu yang akan mengatur jadwal kami. Maksudnya itu bagaimana, ya? Soalnya sebelumnya kami sudah atur jadwal sendiri. Dan itu juga atas kemauan Fajri" tanyaku kepada pria berdarah Thailand itu.


"Iya, Hany. Sebenarnya jadwal kalian sudah tepat. Kalian harus meeting tanggal 16, bukan?"


"Iya. Tapi kan, ini masih tanggal 12. Berarti kami akan meeting tanggal 13, kan?"


Vifi pun menggeleng sambil tersenyum. "Kalian lupa tanggal 13 April itu-" Belum sempat Vifi menyelesaikan kalimatnya aku langsung menyela, "Perayaan Songkran."

__ADS_1


"Betul sekali!"


"Berarti selama tiga hari ini kita bisa jalan-jalan dong, Han?" Timpal Nora.


"Sepertinya begitu, Nor."


"Aku akan mengajak kalian berkeliling Bangkok sambil menikmati festival yang ada," ujar Vifi.


"Makasih, Fi," ucap ku.


Vifi pun memarkirkan mobilnya di sebuah hotel berbintang lima. Dia pun mengajak aku dan Nora untuk mengambil kunci kamar kami. Setelah itu, ia pun mengantarkan kami ke kamar penginapan.


"Ini kamar kalian. Kalau kalian butuh sesuatu hubungi saja aku. Ini kartu namaku" Vifi mengulurkan sebuah kartu kepadaku.


"Berikan saja pada Nora, Fi. Dia yang akan menghubungi mu nanti," pinta ku. Nora pun menerima kartu nama tersebut.


"Baiklah, kalau begitu aku harus kembali ke kantor. Kalian beristirahatlah dulu" kata Vifi.


"Oke. Terimakasih Vifi. Sampai jumpa!" Ucap ku.


"Sampai jumpa!"


Vifi pun meninggalkan kamar kami. Seketika Nora pun mendekati ku dengan gesture yang sedikit aneh. "Ada apa?" Tanyaku.


"Vifi itu ganteng juga, ya." Ujar Nora.


"Dasar gadis genit!"


...----------------...


Ssrrrr!!


Hhhuuuuuu!!


Aku mengusap wajahku yang sedikit terasa lembab. Aku baru sadar kalau aku masih mengenakan mukenah karna aku tertidur selepas sholat subuh. Aku pun melepaskan mukenah ku, lalu melipat dan menyimpannya di atas bantal. Aku baru sadar kalau Nora tidak ada di kamar. Bahkan ini belum waktunya makan siang. Kemana dia pergi?


Aku menoleh ke arah pintu balkon yang terbuka lebar. Sekilas aku melihat troli balkon itu terlihat basa seperti baru saja di guyur hujan. Namun, kelihatannya langit sedang cerah di luar.


Memilih untuk tidak berdebat dengan diri sendiri, aku pun memutuskan untuk mendekati tempat itu. Dan-seketika aku di kejutkan dengan gerumunan orang yang tengah berkumpul di jalanan dengan pakaian mereka yang basah. Ah, aku lupa lagi kalau hari ini ada perayaan Songkran. Tidak heran kalau suaranya sangat berisik bahkan bisa di dengar sampai ke dalam hotel ini.


Mereka yang tersadar ada orang yang ada di atas balkon, sesekali berteriak seperti mengajak orang-orang itu untuk turun dan bermain air. Mereka menyemproti orang-orang tersebut dengan pipa air besar hingga hampir membuat orang itu basah jika saja mereka tidak lari dari tempat itu. Tak terkecuali aku yang hampir saja terkena cipratan air besar itu, tetapi untung saja tempat ku sedikit lebih tinggi untuk di gapai.


Aku hanya tersenyum memperhatikan tingkah laku mereka di bawah sana. Terlebih lagi beberapa dari wajah mereka yang di warnai dengan berbagai warna. Entah itu di sengaja, atau tradisi, aku tidak tahu. Yang jelas sepertinya itu sangat menyenangkan.


Ponsel ku tiba-tiba berdering. Aku pun segera meraih ponsel tersebut yang tergeletak di atas kasur.


"Halo! Nor, kamu ada di mana?" Serangku mendadak.


"Han, aku di luar bareng Vifi. Kami terjebak di kedai kecil depan hotel" ungakp Nora di seberang sana.


"Lah, kok bisa?"


"Iya, kan lagi ada festival, jalanan rame-lah, Han"


"Eh, bukan itu, maksudnya kok, bisa bareng Vifi?" Tanyaku heran.


"Ohhh.. Itu." Terdengar suara tertawa khas Nora di sebrang sana. "Tadi Vifi ke hotel buat ngajak kita sarapan sambil nyari senapan air. Karna kamu lagi tidur, jadi kita nggak tega buat bangunin. Ya.. Kita pergi berdua aja jadinya."


Aku pun merotasi bola mataku. "Bisa-bisanya kamu mencari kesempatan!"


Nora terdengar terkekeh.

__ADS_1


"Kalau begitu kita tunggu kamu di mobil, ya. Jalan nya sedang di tutup. Jadi mobil kita terparkir di pinggir trotoar sebelum jalan raya. Kamu kesini, tapi gak usah mandi, percuma nanti juga akan basah" jelas Nora panjang lebar.


"Iya-iya. Tunggu di sana. 15 menit lagi aku akan sampai."


Aku pun memutuskan sambungan setelah perbincangan selesai. Setelah itu, aku bergegas mencuci muka dan mengganti pakaian sekenanya. Setelah aku selesai dengan jilbab ku, aku pun segera meninggalkan hotel untuk menemui sekretaris ku itu.


Air mancur berhamburan dimana-mana. Seperti hujan, bahkan ini lebih parah. Air ada di setiap sisi. Bahkan beberapa orang sengaja di guyur dengan ember layaknya seperti adegan di film komedi. Bahkan aku yang sempat berjaga-jaga dengan payung pun masih bisa di kenai sedikit air.


Tidak terlalu lama untuk sampai di tempat yang di sebutkan Nora, aku pun melihat sebuah mobil berwarna putih terparkir di samping trotoar. Aku pun segera berlari dan menerobos masuk ke dalam mobil tersebut. Di dalamnya sudah ada Vifi dan Nora yang duduk di jok depan. Sungguh dia memang sekretaris yang genit!


"Kamu baik-baik saja, Hany?" Tanya Vifi dengan logat khasnya.


"Iya, Fi, aku baik-baik saja" jawabku. "Ngomong-ngomong kita mau kemana?"


"Vifi mau mengajak kita ke Rattanakosin Royal Square. Katanya, di sana perayaan Songkran-nya meriah" timpal Nora.


"Iya, Hany, kita bisa mengadakan beberapa kegiatan di sana. Sekali gus, aku ingin mengikuti ritual."


Aku hanya ber-oh kecil. "Ya sudah kalau begitu."


Rattanakosim Royal Square, di sinilah kami sekarang. Menikmati serunya bermain air dan mengikuti Vifi mengadakan ritual. Ada beberapa kegiatan yang di lakukan di sini, seperti mencuci patung Buddha, memberi makanan ke biksu, membuat pagoda dari pasir, dan juga melepaskan burung. Aku hanya menikmati kegiatan dan suasana tersebut. Selagi Vifi dan Nora sibuk mengikuti ritual, aku lebih memilih untuk bermain perang air bersama anak-anak yang sedari tadi menggodaku dengan pistol air. Aku pun memiliki pistol air. Vifi yang memberikannya kepadaku. Dia mengatakan kalau tidak afdol kalau tidak membawa pistol air ke perayaan Songkran. Jadi, mau tak mau aku harus menggunakan pistol ini sebaik mungkin.


Anak-anak itu sangat menikmati pancuran air yang ku tembakan ke atas kepala mereka. Sesekali mereka menembakkan peluru air nya ke arah ku hingga membuat baju ku menjadi lembab. Aku pun dengan semangatnya membalas tembakan mereka. Hingga membuat beberapa dari mereka berlari kocar-kacir ke segala arah.


Salah satu anak itu menabrak kursi roda yang tengah di duduki seorang wanita. Entah mengapa dia ada di kerumunan orang ini tanpa ada yang mengawasinya. Ku lihat dia tengah kewalahan mengambil pistol yang baru saja jatuh dari pangkuannya. Dan tidak ada satu pun yang peduli bahkan untuk melihatnya yang kesusahan.


Aku pun mendekati wanita itu dan memunguti pistol airnya. Lalu, aku pun menyerahkannya pada dia.


"Khob khun kha!(Terimakasih!)" ucap wanita itu sambil tersenyum.


Aku hanya menjawab dengan anggukan sambil balas tersenyum.


"What are you doing here alone?" Tanyaku penasaran. "Are you waiting for someone?" Lanjutku.


Dia pun masih tersenyum bahkan sekarang lebih manis. Dia mengangguk pelan. "I'm waiting my husband."


Aku agak kaget, namun tidak terlalu. Karna aku mengira wanita ini seumuran dengan ku atau bahkan lebih tua dariku.


"Hu-Husband?"


"Chai! (Iya!)" Ujar wanita itu dengan semangat.


"Then, where your husband?"


"There!"


Wanita itu menunjuk kesuatu tempat di antara ke rumunan orang yang berebut membeli mi kotak. Aku pun menyipitkan mata dan mencoba mencari orang yang di tunjuki wanita ini. Di sana terdapat banyak laki-laki. Lalu, yang mana? Atau jangan-jangan dia sedang mengerjai ku.


"There are many peoples. So, which one?" Tanyaku masih penasaran.


Gadis itu pun tersenyum ke arah seseorang yang ada di belakangku. Lalu, ia melambaikan tangan dengan penuh bergairah. "That's my husband!"


Lantas aku pun berbalik dan melihat sosok pria tinggi dengan postur yang sangat familyar. Aliran darah ku seketika bergerak cepat bagaikan kejutan listrik. Dan bibir ku mulai bergemetar. Aku membeku di tempatku. Begitu pun dengan pria yang tengah membawa dua mi kotak di tangannya. Lutut ku mulai terasa goyah dan ingin tumbang. Wajah ku memanas karna menahan air mata.


"Hany!"


Bukan, itu bukan suara pria itu. Itu suara panggilan Vifi yang mendekat bersama Nora.


"Kamu kemana saja, Han. Kami capek nyari kam-" Nora pun terlihat bungkam.


"R-Rain!?"

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2