Kuingin Menemukan Dirinya

Kuingin Menemukan Dirinya
CHAPTER 11


__ADS_3

Sore itu suasana ruangan kelas ku sangat terasa menegangkan. Semua murid terfokus pada lembar kertas ulangannya masing-masing. Namun, beberapa dari murid ada juga yang melakukan kegiatan lain seperti membuat suara usikan atau pun menatap loteng mengharapkan hidayah jatuh.


"Yang sudah selesai silahkan kumpul dan di perbolehkan pulang!" Ungkap Bu Mega setelah hampir satu jam terdiam.


Suara berisik gesekan lantai pun terdengar memenuhi ruangan kelas. Satu per satu temanku pun mulai menenteng tasnya untuk segera meninggalkan kelas. Tak ketinggalan Melsi yang juga mulai meninggalkan bangkunya. "Mau aku tunggu?" Tawarnya. Aku menolak dan menyuruhnya untuk pulang terlebih dahulu.


Tak lama setelah Melsi berlalu, aku pun selesai mengerjakan ulanganku. Aku pun menyimpan pena dan buku yang ku jadikan alas ke dalam tas, lalu menyandang tas itu untuk segera meninggalkan kelas. Aku meninggalkan kertas ulanganku di atas meja guru sebelum keluar kelas. Sebelum pergi, aku sempat melihat Bu Mega yang sibuk dengan buku yang di bacanya. Bahkan dia sama sekali tidak memperhatikan muridnya ketika ulangan.


Aku baru saja menuruni tangga yang sedang ramai di lewati oleh anak-anak sekolah. Namun, ketika sampai di lantai dasar aku langsung di sambut oleh Melsi dan Kak Fatha. Aku pun mendekati mereka yang sedari tadi mengamatiku.


"Ada apa?" Tanyaku yang merasa heran dengan keberadaan mereka berdua.


"Aku lupa, aku mau pinjam novel yang kemaren. Boleh, kan?" Ujar Melsi yang menjelaskan keberadaannya.


"Tentu saja. Tapi novelnya ada di rumah." Jawabku.


"Ya sudah, nanti aku jemput ke rumah kamu, ya. Dadah!" Melsi pun segerah berlari meninggalkan aku dan Kak Fatha.


"Aneh!" Ucapku dengan nada pelan.


"Apanya yang aneh?" Tanya Kak Fatha yang mendengar ucapanku.


Aku pun menoleh ke arah Kak Fatha. "Eh. Nggak ada kok, Kak." Kataku di ikuti senyum. Kak Fatha pun mengangguk tanda mengerti. "Eh, ngomong-ngomong Kakak ngapain di sini?" Tanyaku.


"Nungguin Hany. Terus apa lagi?" Jawabnya.


Aku pun tersipu malu mendengar jawaban dari Kak Fatha. "He he.. Memangnya Kakak ada perlu apa sama aku?"


"Hem.. Tidak ada. Cuma mau mastikan saja kalau murid Kakak tidak strees saat menghadapi ulangan. Ternyata dia murid yang pintar. Dia terlihat santai saat mengerjakannya." Kata Kak Fatha dengan nada menggoda.


"Kakak apa-apa'an, sih." Tukasku dengan wajah yang tersipu malu.


"Ha ha ha.. Bukannya itu fakta?"


"Nggak, kok. Aku deg-degan, takut kalau nggak bisa jawab satu soal pun."


"Tapi bisa, kan?" Tanya Kak Fatha dengan keyakinan.


"Alhamdulillah." Ucapku.


"Bagus kalau begitu." Dia pun memberi senyuman bangga padaku. "Pulang bareng, yuk!" Ajak Kak Fatha. " Mumpung Kakak pulang sendirian, nih." Lanjutnya.


"Memang biasanya Kakak pulang sama siapa?" Tanyaku penasaran.


"Pacar." Jawabnya singkat.


Aku agak terkejut, tapi masih bisa bersikap tenang. "Hah? Memangnya Kakak punya pacar?"


"Punya." Jawabnya dengan meyakinkan. "Kalau kamu nanya terus kapan kita pulangnya?" Ujar Kak Fatha.

__ADS_1


"Sekarang."


Kak Fatha pun tersenyum melihat tingkahku yang bisa di bilang kekanak-kanakan. Lalu kami pun pergi menuju parkiran untuk mengambil sepeda motor Kak Fatha.


Motor Kak Fatha pun berhenti di depan halaman rumah bercat putih. Dia pun menatap pekarangan rumah itu dengan saksama. Aku pun turun dari motor Kak Fatha dan membuka helm yang di pinjamkannya. Lalu memberikan helm tersebut kepada sang pemilik.


"Makasih ya, Kak, sudah ngantarin aku pulang." Ucapku ketika memberikan helm kepada Kak Fatha.


"Iya, sama-sama." Ujarnya yang mengamati perkarangan rumahku.


Aku pun menyaksikan Kak Fatha yang terlihat antusias mengamati rumahku. Mungkin dia tidak yakin ada orang yang menempati rumah yang terlihat seram itu.


"Ini beneran rumah Hany? Hany tinggal di sini?" Tanya Kak Fatha yang terlihat curiga.


Aku pun tertawa melihat ekspresi Kak Fatha. "Ha ha.. Iya, Kak." Jawabku. "Kakak nggak yakin, ya?"


"Iya.. Soalnya rumah kamu kayak nggak ada penghuni gitu."


"Memang benar, sih. Rumah aku cuma ada dua penghuni, yaitu aku dan Kak Ina. Jadi, memang kayak sepi, gitu." Jelasku.


"Orang tua Hany kemana?"


"Mereka itu jarang di rumah. Mereka sering keluar kota untuk mengurus kerjaan. Ya.. Jadinya cuma ada aku dan Kak Ina."


"Oohh.. Begitu. Sayang, rumah sebesar ini hanya dihuni dua orang." Ujar Kak Fatha sambil menatap ke arah pintu rumahku yang tertutup.


"Sebenarnya mau, tapi Kakak nggak bisa soalnya ada urusan yang harus Kakak kerjakan. Lain kali aja, ya."


"Hem. Iya" Ucapku diiringi senyuman.


"Oh iya, lusa kita jalan, yok? Mumpung masih ada waktu buat santai." Tawar Kak Fatha.


"Hem.. Gimana, ya.." Ujarku ragu-ragu dengan tawaran Kak Fatha.


"Ga usah khawatir, kita nggak bakalan berdua, kok. Kakak bakalan ajak sesorang untuk nemanin kita, dan yang pasti dia perempuan." Kata Kak Fatha dengan gaya orang bijak.


Mendengar hal itu aku langsung curiga. Jangan-jangan.. "Kakak bakalan ajak pacar Kakak, ya?" Tanyaku dengan nada setengah berteriak.


Kak Fatha terlihat agak terkejut. Namun, dia pun normal kembali setelah beberapa detik. Dia pun tersenyum dengan senyum yang di kulum. "Lihat saja nanti." Ujarnya.


Aku menjadi khawatir kalau Kak Fatha benar-benar akan membawa pacarnya nanti. Selain cemburu, aku hanya akan menjadi pengawal yang mengekori mereka selama seharian. Ya Allah.. Aku mana sanggup..!!


"Sampai ketemu dua hari lagi ya, Han. Assalamu'alaikum!" Dia pun menjalankan motornya tanpa menungguku bicara.


Aku terkejut dengan apa yang di lakukan Kak Fatha. Aku baru sadar atas apa yang dia katakan."Memangnya Kakak mau kemana besok?" Teriak ku. Namun Kak Fatha sudah terlalu jauh dan mungkin tidak mendengar teriakan ku.


Aku pun beranjak dari tempat ku berdiri menuju pintu rumahku. Namun, ketika aku ingin memasuki rumah, tanganku di tahan oleh seseorang. Dan orang itu adalah Melsi.


"Melsi! Kamu membuatku kaget." Tukasku pada Melsi yang cengengesan melihatku.

__ADS_1


"He he.. Maaf, deh. Oh iya, tadi aku ketemu Kak Fatha di depan komplek. Kamu habis pulang sama dia, ya?" Tanya Melsi dengan penuh penasaran.


Aku pun tersipu, "Ya.. Begitu."


"Wahh.. Kamu sekarang sudah hebat, ya, bisa dekat sama Kak Fatha. Kalian pacaran, ya?"


Aku langsung mengelak, " Enggak, kok, enggak. Kami hanya sebatas guru dan murid." Jelasku pada Melsi yang mungkin sudah berpikiran aneh.


"Tapi, TTM juga, kan? Kayak yang di film FTV, gitu.." Kata Melsi yang mulai menggodaku.


Aku pun menyengir, "Apa-apaan sih, Mel. Ada-ada saja." Ujarku sambil melewati pintu yang setengah terbuka.


"Tapi iya, kan?" Teriak Melsi yang mengekoriku di belakang.


"Enggak!!" Balasku berteriak.


...----------------...


Sebuah ayunan berayun kesana-kemari dengan lajunya. Hampir saja rambutku meraih tanah karna kaki ku yang sudah terlalu panjang untuk ayunan tersebut. Sudah lama sekali rasanya aku tidak memainkannya. Karna tempat ini hanya tersedia untuk ku dan Rain.


Aku menikmati suasana angin yang mampu melambaikan rambutku yang terikat. Aku terus memainkan ayunanku sambil mengamati Melsi yang sedang mengkaji isi laptop ku. Entah apa yang sedang dia cari, bahkan dia tidak mau memberitahu ku.


"Ini Rain, kan, Han?" Tanya Melsi secara tiba-tiba.


Aku pun mengehentikan ayunanku. Lalu melihat gambar di monitor laptopku. "Iya. Itu Rain." Jawabku.


"Dia tambah ganteng, ya, sekarang." Ujar Melsi.


Aku pun menoleh ke arah Melsi yang menatap foto Rain sambil tersenyum. "Kamu masih suka sama Rain?" Tanyaku memastikan perasaan Melsi.


Dia pun terlihat menghela nafas. "Itu sudah lama sekali. Bahkan aku sudah sempat melupakan wajah Rain. Tapi, ketika aku melihat foto ini, aku jadi jatuh cinta lagi." Kata Melsi.


Aku bisa membayangkan ketika kami masih kelas enam sekolah dasar. Saat itu Melsi masih tinggal di rumah neneknya yang bersebelahan dengan rumah Kakek dan Keluarga Rain. Kami selalu bermain bertiga. Walau pun Rain sudah kelas satu SMP, dia selalu menemaniku dan Melsi untuk menjadi penengah ketika kami bertengkar. Memang sedari dulu Rain selalu bersikap seperti orang yang bijak.


Dulu, Melsi selalu mengatakan kalau Rain adalah pacarnya. Dan dia selalu melekat pada Rain ketika kami bersama. Rain hanya menerima apa yang di lakukan Melsi tanpa menegurnya. Dan hal itu membuatku cemburu.


Aku dan Melsi pernah bertengkar karna memperebutkan Rain untuk menjadi teman bermain. Dengan cepat Rain melerai kami waktu itu. Tetapi, karna kami bertengkar sangat parah, aku pun tidak sengaja melempari Rain dengan kerikil sehingga mengenai matanya. Hampir satu minggu Rain masuk rumah sakit karna kecerobohan kami. Semenjak itulah aku dan Melsi mulai berdamai walaupun beberapa kali masih melangsungkan pertengkaran.


Setelah kami lulus dari sekolah, Melsi pun pindah ke Padang untuk memenuhi tugas ayahnya. Sejak itu aku dan Melsi berpisah dan bertemu lagi ketika masuk SMA.


"Sekarang dia sudah tidak di sini lagi." Kataku.


"Aku tahu. Kami pernah bertemu beberapa bulan yang lalu. Kami sempat ngobrol di kafe. Dan dia menceritakan tentang dirinya padaku."


Aku hanya terdiam untuk beberapa saat. Lalu, Kak Ina muncul dari pintu dapur. "Dek! Handphone Adek bunyi, nih. Ada panggilan." Ujar Kak Ina yang membawa ponsel bergetar di tangannya.


Aku pun mendekati Kak Ina dengan perasaan heran. Heran karena, aku sama sekali belum memberikan nomor telepon ku pada siapa pun.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2