KULTIVASI MURNI

KULTIVASI MURNI
Bab 29 Perlindungan Jian Ni


__ADS_3

Zhi rhen kemudian kembali masuk ke ruangannya untuk berlatih. Disana dia hanya duduk diam meditasi layaknya seorang pertapa.


"Wwuusss." Suara hembusan angin mengelilingi Zhi rhen. Seluruh keringat membasahi bajunya. Tampak kesakitan terlihat pada wajahnya.


"Hueekk." Zhi rhen kembali memuntahkan seteguk darah.


"Benar-benar sulit, meski aku sudah memahami teorinya, Tapi dalam melakukannya membuatku kehilangan kendali. Bagaimanapun juga, aku harus terus berusaha." Gumam Zhi rhen dalam hati.


Zhi rhen kemudian melanjutkan latihannya sekali lagi. Kali ini dia nampak lebih fokus dari sebelumnya.


"Wwuuss." Suara Angin kembali berhembus mengelilingi Zhi rhen.


"Bagus.. Aku sudah terbiasa mengendalikannya. Sekarang hanya tinggal menyalurkan tenaga dalam ke Hati dan Energi dari dantian di alirkan ke syaraf mata." Gumam Zhi rhen dalam hati.


Saat Zhi rhen sudah hampir berhasil melakukannya. Tiba-tiba saja terjadi bentrokan kembali antar Arus energi dari meridian dan juga dantian.


"Gawat... Aku tidak bisa menahannya. Jika begini terus, seluruh meridian ku bisa hancur." Gumam Zhi rhen dalam hati.


Kali ini.. Bukan hanya keringat yang keluar dari tubuhnya. Tetapi butiran darah sudah mulai merembes dari pori-porinya. Darah juga mengalir keluar dari mulutnya.


"Gawat... Apa yang harus ku lakukan. Jika aku melepaskan energi ini, aku akan mati karena dampak serangan balik. Tapi jika mempertahankannya, Aku akan menderita kerugian yang sangat besar." Gumam Zhi rhen dalam hati.


Kondisi seperti itu terus terjadi. Kali ini, dia bahkan sudah menggunakan Tingkat Raja tahap ke 5 untuk mempertahankan keadaannya.


Terlihat sebuah Aura yang lepas kendali dari Ranah jiwanya, yakni aura kaisar yang mulai menyelimuti tubuhnya.


"Fokuslah... Fokuslah, dan tetap tenang nak." Ucap suara seorang perempuan.


"Ini.. Ibu.. Apakah ini kau." Gumam Zhi rhen dalam hati mempertanyakan suara itu.


Terlihat kalung yang yang di kenakan Zhi rhen bersinar sangat terang. Dengan kristal biru yang tampak sangat indah.


"Yah.. Ibu merasakan energi kehidupanmu yang terguncang. Sehingga ibu menggunakan sedikit energi kehidupan ibu, untuk masuk ke alam bawah sadar mu." Ucap perempuan itu yang tidak lain adalah Ibu Rubah Jian ni.


"Ibu.. Apa yang harus ke lakukan? Jika begini terus akan membuatku semakin dalam bahaya." Tanya Zhi rhen.


"Dari pengetahuan ibu, kau harusnya tahu. Sebelum masuk ke Tingkat Surga, kau tidak boleh berlatih Mata Dewa." Ucap Jian ni.


"Maafkan aku ibu." Ucap Zhi rhen yang terlihat kesusahan mengendalikan energinya yang menjadi kacau.


"Fokus lah dan tetap tenang. Jangan khawatir pada apapun. Sekarang gunakan kekuatan dari Pedang semesta yang ada di dalam ranah jiwamu untuk menekan energi yang sedang kacau itu." Ucap Jian ni sambil terus mengarahkan Zhi rhen.


Zhi rhen kemudian melakukan semua hal yang diarahkan Jian ni. Sedikit-demi sedikit energi yang kacau itu menjadi stabil.


Tetapi hal yang tidak terduga tiba-tiba terjadi. Energi yang kacau itu menjadi lebih berantakan.


"Kretak... Kretak...." Suara keretakan terjadi pada dinding formasi di ciptakan Zhi rhen.

__ADS_1


"Ibu...!" Panggil Zhi rhen dengan panik sebab jika sampai Formasinya hancur. Akan sangat berbahaya bagi Sekte Langit.


"Tenanglah Nak. Tetap jaga konsentrasi mu. Fokuslah pada Hatimu. Baik Ibu ataupun Pedang semesta, tidak akan membiarkan hal buruk terjadi padamu." Ucap Jian ni dengan sedikit keras.


"Ingatlah nak. semakin besar resikonya, maka hasilnya akan semakin baik. Kau sudah setengah perjalanan, jangan sia-siakan hasil latihan mu. Tetaplah yakin bahwa kau akan berhasil." lanjut Jian ni meyakinkan Zhi rhen.


Zhi rhen yang mendapat keyakinan dari ibunya menjadi lebih Fokus. Semua energi berantakan yang ada di sekitar Zhi rhen menjadi lebih padat. Aura kaisar menekan segala yang ada didalam ruangan.


"Kretak... Kretak.... Kretak...." Terlihat Formasi yang sebentar lagi akan hancur.


"Selamat Nak..! Kau akan menjadi orang pertama di tingkat raja yang memiliki kekuatan mata dewa. Tidak...!! Mungkin juga, itu akan memberikan hasil yang lebih baik lagi. Ibu akan pergi dan melindungi mu dari dalam." Gumam Jian ni pelan.


Zhi rhen sekarang nampak terlihat Fokus dan tenang. Bahkan, dia tidak mendengarkan perkataan Jian ni lagi.


Terlihat sebuah garis biru layaknya kilau petir muncul di dahi Zhi rhen. Garis yang merupakan tanda penyatuan dirinya dengan Pedang semesta.


Terjadi guncangan di sekitar Paviliun damai, Bahkan Wu hui yang sedang berlatih menjadi sangat terkejut. Seketika itu juga dia berlari ke arah ruangan Zhi rhen berada.


"BUUUMM....!!" Sebuah ledakan terjadi menghancurkan formasi yang di buat Oleh Zhi rhen. Seluruh asap memenuhi seisi ruangan.


Wu hui yang tiba di lokasi menjadi sangat terkejut dan tidak dapat bergerak. Sebab dia melihat, bayangan transparan seorang perempuan yang sangat cantik sedang memeluk Zhi rhen yang berlumuran darah.


"Brruukk..." Zhi rhen kemudian terjatuh saat bayangan itu menghilang.


"Tuan muda...!! Tuan muda..!! Apa yang terjadi? Apa kau baik-baik saja?" Teriak Wu hui yang datang melihat kondisi Zhi rhen.


"Tetua Lei...!! Tetua Lei...!! Teriak Wu hui yang menggemparkan sekte langit.


Beberapa murid yang melihat tindakannya menjadi sangat marah.


"Dasar pelayan tidak memiliki sopan santun. Biar ku beri sedikit pelajaran padamu." Ucap seorang murid sambil menyerang Wu hui.


Wu hui yang panik tidak dapat melakukan apapun. Dia kemudian memuntahkan seteguk darah karena serangan murid itu.


"Tetua Lei... Tetua Lei...!!!" Teriak Wu hui yang semakin keras.


Seketika itu juga, tempat itu juga menjadi ramai. Sudah banyak petugas, murid dan pelayan yang berkumpul.


"Wu hui... Meskipun kau bagian dari Paviliun damai, tidak seharusnya kau berbuat onar di sini." Ucap seorang petugas yang menjabat sebagai salah satu guru di sekte langit.


"Tetua Lei...!!" Teriak Wu hui semakin keras.


"Dasar keras kepala." ucap orang itu yang hendak memukul kepala Wu hui.


"Berhenti...!! Guru Tan..! Apa kau tahu yang telah kau lakukan." Bentak Tetua Lei yang baru datang di ikuti oleh seluruh Tetua dan juga Ketua Zhen.


"Tetua Lei.. Maafkan aku, tetapi pelayan ini membuat keributan di sekte langit." Ucap petugas itu ( Tan si ) yakni seorang guru di sekte langit.

__ADS_1


"Dia merupakan pelayan dari Paviliun damai. Kau tidak berhak mendisiplinkannya." Bentak Tetua Lei yang terlihat marah.


"Tetua Lei...!! Tolong aku..!! Tolong datang ke Paviliun damai..!!" Teriak Wu hui memotong pembicaraan. Dia bahkan bersujud sambil membanting kepalanya di tanah.


Ketua Zhen dan Para Tetua yang mendengarkan Wu hui menjadi cemas seketika.


"Wu hui... Hentikan..! Ayo kita kesana..!" Teriak Tetua Lei yang menyadari keadaan di Paviliun damai.


Mereka semua kemudian pergi ke Paviliun damai. Wu hui kemudian menyentuhkan telapak tangannya pada Dinding formasi. Sebuah celah kemudian terbuka layaknya sebuah pintu. Ketua dan Para Tetua seketika itu juga berlari masuk.


Mereka yang ada diluar sana sangat terkejut. Sebab, saat pintu Formasi terbuka. Tampak sebuah taman yang sangat indah, bahkan beberapa tanaman herbal yang sangat langka terlihat memenuhi taman itu.


"Itu... Itu... Tanaman itu, bukankah itu Bunga Krisan Emas." Ucap salah satu murid.


"Iya... Aku juga melihatnya..!! Aku bahkan melihat Tanaman kelenjar ganda, Bunga giok biru dan beberapa tanaman langka lainnya." Ucap murid lainnya.


"Siapa sebenarnya yang menetap di Paviliun damai ini." Gumam dalam hati beberapa orang yang ada di sana.


Ketua dan Para tetua kemudian masuk ke ruangan yang tampak berantakan. Mereka sangat terkejut melihat Zhi rhen yang sedang duduk meditasi di tengah ruangan itu.


"Tuan muda...! Tuan muda..!" Teriak Wu hui yang melihat Zhi rhen.


"Sssttt... Diam lah Wu hui, rhen'er sedang berkosentrasi dan fokus. Kita tidak boleh menggangunya." Ucap Tetua ketiga Lao lu.


Mereka semua kemudian hanya diam memandangi Zhi rhen. Mereka semua tampak terlihat khawatir melihat kondisi Zhi rhen yang berlumuran darah.


"Ini bukanlah Mata Dewa seperti yang ada pada pemahaman Ibu. Tidak..!! Apapun itu aku tidak perduli. Setidaknya kekuatan mata ini bisa membawaku masuk ke dalam kalung kehidupan." Gumam Zhi rhen dalam hati.


Zhi rhen kemudian lebih berkonsentrasi lagi. Fokus akan kekuatan matanya untuk melihat ke dalam kalung kehidupan. Dia kemudian mencoba memasukkan ranah jiwanya kedalam kalungnya.


"Akhirnya aku berhasil masuk. Energi kehidupan disini benar-benar padat." Gumam Zhi rhen dengan pelan.


Zhi rhen kemudian terkejut melihat sebuah kristal suci berwarna biru yang mulai meredup.


"Gawat... sudah kuduga ini akan terjadi. Ibu..! Aku tidak membiarkan hal buruk ini terjadi." Gumam Zhi rhen sambil meneteskan darahnya pada kristal itu.


Sambil terus meneteskan darahnya Zhi rhen juga fokus memberikan energi kehidupannya. Esensi darah dan kehidupan Zhi rhen yang terserap, membuat kristal suci menjadi lebih bersinar dari sebelumnya.


"Syukurlah... " Gumam Zhi rhen yang jatuh berlutut.


Ranah jiwa Zhi rhen kemudian kembali ke dirinya. Terlihat darah mengalir dari ujung mulutnya. Dia kemudian membuka matanya dan melihat Ketua dan para Tetua.


"Rhen'er...! Kau tidak apa-apa.." Ucap Tetua Lei yang terlihat khawatir.


"Bibi...!! Aku tidak apa-apa. Bibi tidak perlu khawatir." Ucap Zhi rhen sambil berdiri.


"Brruuukkk..." Belum sempat dia berdiri dengan baik. Zhi rhen kembali terjatuh dan tidak sadarkan diri.

__ADS_1


"Rhen'er....!! Rhen'er..!! Tuan muda...!!" Ucap mereka semua bersamaan yang terlihat lebih khawatir.


__ADS_2