
Sangkar dan Brima Yin telah berada di Desa Bunga ketika masih pagi. Sebelum menemui Peramal Yong Sio, mereka singgah dahulu sarapan pagi. Saat itu keadaan kedai masih sepi, sehingga mereka cepat terlayani.
Ketika masih sarapan, empat pendekar datang menghadang mereka. Ke 4 pendekar itu mendapat kabar dari seorang penjaga pos jalan bahwa Sangkar sedang berada di desa mereka. Setelah 4 pendekar itu melihat Sangkar, salah satu dari mereka langsung melemparkan tombaknya ke arahnya. Sangkar pun tangkas menghindari serangan tersebut.
" Siapa kalian, kenapa tiba-tiba menyerang kami " tanya Sangkar
Empat orang pendekar itu tidak menjawab pertanyaan Sangkar, malah mereka langsung menyerangnya.
Dua orang dari pendekar itu bersamaan datang menyerang Sangkar dengan pedang nya, sangkar meloncat salto hingga berada di belakang keduanya. kemudian Sangkar memukul pundak mereka hingga mereka terlempar jauh.
Kemudian Dua orang lagi datang menyerang nya, namun dua orang pendekar itu di serang duluan Brima Yin. Brima Yin meloncat, lalu menendang salah seorang dari pendekar itu hingga terlempar. Kemudian ia sigap memukul satu pendekar sisanya, namun di tangkis dengan lincah. Terus Brima Yin menggerakkan cepat badannya hingga berada di samping sang lawan, lalu menonjok lehernya hingga ia terlempar luka.
Sangkar kemudian meloncat memutar tubuhnya, lalu melontarkan pukulan kepada kedua pendekar yang menyerangnya tadi. kedua pendekar itu bersamaan menahan, lalu mendorong sangkar. Sangkar pun ter mundurkan, namun dengan lincah ia menapakkan kaki di sebuah dinding terus mendorong badannya kembali datang menghampiri dua pendekar itu.
Ketika Sangkar kembali menghampiri kedua pendekar itu, ia menggunakan jurus gabungan puncak tapak maut dengan gerakan dasar kuat tanpa akal untuk menyerang mereka. Dengan gerakan tangan yang lincah Sangkar pun menyerang mereka, ia melontarkan pukulan dengan tangan kanan dan kirinya masing-masing kearah mereka. Akan tetapi, kedua Pendekar itu menangkisnya dengan lincah.
Lalu kemudian Sangkar mempercepat lagi gerakannya, dimana ketika kedua pendekar itu menangkis pukulan nya spontan ia memutar tangannya. Kemudian langsung memukul tangan kedua pendekar itu, hingga mereka kesakitan. Setelah itu Sangkar cepat mendorong tubuh mereka, terus salto melewati mereka. Lantas dari belakang ia memukul tubuh kedua pendekar itu, hingga mereka terhempas luka parah.
Sementara itu, Brima Yin menendang salah satu lawan nya tadi dengan kuat hingga terlempar terluka, kemudian ia melempar pisau kearah lawan nya yang satu, sehingga tewas tertusuk pisau.
Selepas itu, Sangkar dan Brima Yin meninggalkan tempat itu, langsung menuju Peramal Yong Sio
•°•
Ketika Sangkar dan Brima Yin sedang menuju kediaman Peramal Yong Sio, mereka telah memakai topeng. Sebab saat itu banyak pendekar yang memburu sangkar. Lalu Setelah mereka berada di dalam rumah Peramal Yong Sio, mereka pun melepaskan topengnya.
" Ada keperluan apa lagi hingga kamu datang kembali kesini ? " ucap peramal Yong Sio bertanya pada sangkar
" Aku kemari untuk menanyakan keberadaan Ki Marpa Depal, di manakah dia sekarang ? " jawab Sangkar lalu bertanya
" Satu bulan yang lalu ia datang menemui saya. Ia berpamitan untuk pindah ke gunung timur kawasan Istana Lembah Damai " jawab peramal Yong Sio.
" Bisakah kami mengetahui ciri-cirinya " tanya Sangkar
" Aku tidak punya lukisan wajahnya untukmu " jawab Peramal Yong Sio
" Sebenarnya Ki Marpa Depal pernah menolong mu sekali, namun engkau tidak menyadarinya " lanjut Peramal Yong Sio
Sangkar pun menjadi bingung, entah di mana Ki Marpa Depal menolongnya
" Dia pernah mencegah kamu agar tidak menghampiri Raja Mayitsura dan menyarankan mu agar meninggalkan Dewi Maharani " ungkap Peramal Yong Sio
__ADS_1
Sangkar pun langsung mengingatnya setelah mendengar ucapan Peramal Yong Sio kali itu
" Ternyata lelaki bertopeng dulu adalah Ki Marpa Depal saat itu " gumam Sangkar
" Aku rasa Ki Marpa Depal tahu apa yang sedang di alami Sangkar, kenapa ia tidak langsung membawa pergi Sangkar saat itu " tanya Brima Yin
" Ki Marpa Depal tahu, bahwa Sangkar saat itu tidak akan percaya dan peduli kepada siapapun selain Dewi Maharani. Sehingga ia membiarkan Sangkar untuk menyadari sendirinya " ungkap Peramal Yong Sio.
" Lalu apa yang harus aku lakukan sekarang " tanya Sangkar
" Kamu harus mencarinya, sebab hanya dia harapan kamu untuk bisa memusnahkan kekuatan racun dan api segel yang ada di tubuhmu " jawab Peramal Yong Sio
Setelah itu, keduanya pun bergegas pergi dari Peramal Yong Sio untuk mencari Ki Marpa Depal. Sebelum mereka melangkah, Peramal Yong Sio memberi saran
" Sebaiknya kekuatan ilmu tanpa hati dan ilmu tanpa akal engkau segera pelajari. Setidaknya agar engkau tidak bisa di pengaruhi oleh kekuatan ilmu perasaan Dewi Maharani dan ilmu pikiran Raja Mayitsura " ujar Peramal Yong Sio
Kemudian keduanya berpamitan untuk melanjutkan perjalanan menuju kawasan gunung timur. Kawasan itu tidak terlalu jauh dengan istana lembah damai, akan tetapi jarang orang-orang lembah damai mendatangi tempat itu.
Di saat melanjutkan perjalanan, Sangkar tiba-tiba melihat Dewi Maharani dengan para pengawalnya. Mereka masuk Desa Bunga tanpa pamrih, sementara Desa Bunga adalah ujung kawasan kerajaan Istana Pesona Alam.
Karena hal itu, akhirnya Sangkar dan Brima Yin kembali ke rumah Peramal Yong Sio.
" Itulah Alasan mengapa aku menyuruh kamu agar segera mempelajari dasar ilmu tanpa akal dan ilmu tanpa hati secepatnya. Sebab mereka akan selalu mengejar kamu " pungkas Peramal Yong Sio
" Sebenarnya kekuatan alami mu sengaja di tekan oleh kedua orang tuamu agar tidak aktif. Karena jika kekuatan ilmu alami mu aktif, maka kamu akan di serang racun dan api segel yang telah meresap dalam tubuhmu, sementara saat itu kamu masih bayi " ungkap Peramal Yong Sio
" Akan tetapi jika kamu berlatih mengikuti gerakan murni dari kitab yang di berikan ibu mu, potensi kekuatan ilmu alami mu akan bisa bangkit. Hanya saja kamu akan menderita jika tanpa Ki Marpa Depal, bahkan bisa jadi kamu akan musnah " ungkap Peramal Yong Sio
" Namun aku yakin, tubuhmu saat ini sangat kuat untuk menahan serangan racun dan api segel itu, sampai kamu ketemu Ki Marpa Depal " lanjut Peramal Yong Sio berucap.
Lalu beberapa saat kemudian, mereka mendengar suara perkelahian di luar, sehingga mereka mencoba mengintip. Ternyata Dewi Maharani serta pengawalnya di serang para pendekar Desa Bunga.
Sangkar dan Brima Yin, mengambil kesempatan akan hal itu. Mereka bergegas meninggalkan Desa Bunga, mumpung Dewi Maharani dan pengawalnya sibuk bertarung.
•°•
Dalam perjalanan Sangkar teringat terus saran dari Peramal Yong Sio tadi
" Saran peramal itu ada benarnya juga, sebab perjalanan ke gunung timur masih harus melewati beberapa kawasan Kerajaan Tanah Abadi. Tidak mustahil mereka dapat menemukan aku, dan aku lebih baik mati dari pada menjadi budak mereka " gumam Sangkar
Ketika Sangkar sedang berpikir, brima yin menarik tubuhnya untuk bersembunyi. Ia melihat kelompok Jenderal Yuanki berada di depan mereka.
__ADS_1
" Bahaya ! Jendral Yuanki mempunyai penciuman tajam dari jauh, ia pasti mengetahui keberadaan ku " ungkap Sangkar
Spontan Brima Yin mengeluarkan minyak pewangi tubuhnya lalu melumur kan ke tubuh Sangkar dan dirinya.
Kemudian dari jauh mereka melihat Jendral Yuanki seperti sedang mencium suatu aroma, hinga beberapa saat kemudian muncul Raja Mayitsura. Lalu kemudian menyaksikan Raja Mayitsura dan Jendral Yuanki berbicara serius
Terus kemudian, mereka melihat Raja Mayitsura menggunakan sebuah ilmu kekuatan, hingga tidak lama kemudian muncul Dewi Maharani dengan para pengawalnya.
" Ternyata mereka antusias sekali mengejar ku, sepertinya aku harus benar-benar berhati-hati " gumam Sangkar.
Setelah itu, Brima Yin dengan penuh hati-hati pergi memeriksa daerah di belakang persembunyian mereka itu. Lalu beberapa saat kemudian ia kembali, terus mengajak sangkar untuk mundur kebelakang, sebab di sana ada sebuah gua.
•°•
Ketika di dalam gua Sangkar kembali memikirkan ucapan Peramal Yong Sio tadi, Hingga muncul ke inginannya untuk mengaktifkan kekuatan alami nya. Namun tetapi perasaan was-was selalu menekan niatnya, sebab ia merasa sangat lemah dan tidak bisa menahan racun dan api segel dalam tubuhnya.
Lalu kemudian Sangkar mencoba membuka-buka kitab dari ibunya tersebut, makin membacanya Sangkar makin tertarik dengan kekuatan yang di tuliskan pada kitab itu. Sehingga ia tidak peduli lagi, ia langsung berdiri mempelajari cara membangkitkan kekuatan ilmu alami nya.
Saat itu Sangkar langsung mempelajari cara membangkitkan kekuatan ilmu tanpa hati, dengan sangat serius ia mengikuti petunjuk dari kitab itu, hingga cepat mempelajarinya.
" Sangkar akhirnya mau membangkitkan ilmu kekuatan alami nya, sebaiknya aku menjaga di luar jangan sampai Raja mayitsura dan Dewi Maharani datang tiba-tiba kemari " gumam Brima Yin, lalu keluar gua.
Satu hari satu malam, Sangkar akhirnya bisa membangkitkan kekuatan ilmu tanpa hatinya. Sekejap perasaannya hambar kepada siapapun.
" Apa ini efek dari ilmu tanpa hati, perasaanku tiba-tiba hambar " gumam Sangkar.
Setalah Sangkar mengaktifkan ilmu tanpa hatinya, ia merasa racun yang ada di dalam tubuhnya aktif bangkit menyerang tubuhnya .
" Darah ku telah mengalir dengan darah pemilik ilmu beracun, aku pasti kuat menahan racun segel ini " gumam Sangkar menyemangati dirinya
Kemudian setelah itu, Sangkar beralih membangkitkan kekuatan alami ilmu tanpa akalnya
" Ternyata gerakan yang dasar kuat yang di ajarkan ayah itu adalah gerakan ilmu tanpa akal " gumam Sangkar
Sangkar dapat membangkitkan kekuatan ilmu alami tanpa akalnya dengan cepat. Sebab gerakan Dasar kuatnya, ia sudah kuasai dari awal.
Setelah bisa membangkitkan ilmu tanpa akalnya, Sangkar tidak mengingat lagi sebagian masa-masa dengan Dewi Maharani. Ia hanya bisa mengingat orang-orang baik, sebab tanda lingkaran cahaya putih menerobos pikirannya untuk mengingat sesuatu yang baik saja.
Dan Setalah itu, ia merasakan pengaruh api segel menyerang tubuhnya, sangkar merasa tubuhnya panas seakan terbakar api.
" Di dalan tubuh ku telah mengalir darah dari pemilik ilmu api, jadi aku pasti bisa menahan sakit ini " gumam Sangkar
__ADS_1
" Dan aku harus bisa membiasakan diri merasakan sakit dari pengaruh kekuatan racun dan api segel ini " gumam Sangkar