Legenda Pendekar Sangkar

Legenda Pendekar Sangkar
Episode 23 ( Perjalanan Mencari Ki Marpa Depal )


__ADS_3

Dengan pengawalan Dewi Arini Sangkar akhirnya melewati area Kerajaan Tanah Abadi. Saat ini mereka telah berada wilayah perbatasan Kerajaan Lembah Damai, sehingga Dewi Arini berhenti sampai di situ untuk mengawal Sangkar. Sebab ia tidak mungkin memasuki wilayah Kerajaan Lembah Damai, karena Kerajaan tersebut adalah musuh bebuyutan Kerajaan Tanah Abadi.


Sebelum Sangkar melanjutkan perjalanannya Dewi Arini mewanti-wanti dahulu Sangkar agar berhati-hati selama dalam perjalananya. Lalu kemudian, ia memberi beberapa puluh pisau beracun sebagai perlindungannya dalam menghadapi musuh. Ia juga memberi beberapa uang yang cukup banyak untuk bekal selama perjalanan.


Setelah itu Sangkar mengucapkan kata perpisahan kepada Dewi Arini, lalu kemudian ia melanjutkan perjalanannya menuju gunung timur bersama Brima Yin. Saat itu meraka berjalan dengan menutupi wajahnya, agar tidak dikenal oleh orang-orang Lembah Damai di perjalanannya


Setelah beberapa langkah kemudian, mereka akhirnya memasuki desa pertama Kerajaan Lembah Damai. Desa itu di namakan desa Pinus, Sebab desa itu terkenal dengan tumbuhan Pinus yang amat subur dan lebat.


Ketika berada di desa tersebut Sangkar menyaksikan banyak para rakyat di paksa kerja oleh orang-orang pemerintahan. Sangkar sangat tidak tega melihat hal itu, hingga bergegas untuk menghajar para oknum pemerintah tersebut, akan tetapi Brima Yin mencegahnya.


" Jangan gegabah kamu! jangan sampai kita ketahuan oleh mereka, hingga akhirnya kita akan dalam bahaya " pungkas Brima Yin.


Kemudian akhirnya mereka pun langsung melanjutkan perjalanannya. Lalu Beberapa langkah berikutnya, Sangkar melihat anak kecil memunguti roti yang tergeletak di tanah terus hendak memakannya. Sangkar pun sontak menghentikannya, setelah itu memberi beberapa uang koin kepada anak itu.


" Adik, makanannya sudah kotor lebih baik adik membeli yang baru " ucap Sangkar ketika memberi uang kepada anak tersebut


Anak itu menjadi sangat bahagia dan langsung memeluk sangkar sembari mengucapkan kata terimakasih.


Lanjut beberapa langkah kemudian, Sangkar melihat seorang wanita paruh baya duduk berlinang air matanya sambil memegang rambutnya. Sangkar pun datang menghampiri wanita itu, lalu memberi sejumlah uang padanya.


" Semoga hidupmu berkah nak ! " ucap wanita tua itu kepada Sangkar sambil memeluknya.


Kemudian Sangkar pamit dari wanita tua itu, lalu melanjutkan perjalanannya menuju desa berikutnya.


<<


Ketika di pertengahan jalan Sangkar dan Brima Yin di hadang oleh tiga pendekar hebat dari Desa Pinus tersebut. Mereka itu di juluki setan pencabut nyawa.


" Berani sekali kalian melewati Desa Pinus tanpa membayar pajak dahulu kepada kami " ucap salah satu dari tiga orang Pendekar itu.


" Maafkan atas kelancangan kami, kami tidak tahu sebelumnya " ucap Brima Yin, lalu melemparkan sejumlah koin kepada mereka.


Akan tetapi, ketiga pendekar itu tidak mau mengambil sebagian dari harta bawaan mereka, ketiganya ingin mengambil semua apa yang di bawa oleh mereka. Namun Sangkar dan Brima Yin tidak mau memberikannya, sehingga terjadi pertarungan dengan tiga Pendekar Desa Pinus itu


Brima Yin saat itu melarang sangkar untuk ikut bertarung, sehingga ia menghadapi sendiri tiga Pendekar itu. Kemudian ia mengeluarkan jurus tongkat memukul harimaunya untuk melawan para bandit itu.


Kemudian salah satu dari Pendekar itu datang menyerang Brima Yin dari samping dengan pedangnya, Brima Yin menundukkan kepala lalu memukul perut penyerang itu dengan ujung tongkatnya, hingga ia terpukul mundur dengan luka. Terus dua orangnya sekaligus menyerang Brima yin dengan meloncat menghunuskan pedang ke arah tubuh Brima Yin. Brima Yin cergas menahan serangan itu dengan tongkatnya, terus ia mendorong mereka sekaligus melepas tongkat nya. lalu spontan ia melontarkan tendagan ke tubuh mereka, sehingga mereka terhempas luka.


Ketiga pendekar itu kemudian bergegas menyerang Brima Yin bersamaan, namun Sangkar sontak melontarkan mereka pisau beracun yang di berikan oleh Dewi Arini kepadanya, sehingga ketiganya tewas di tempat.

__ADS_1


•°•


Sangkar dan Brima Yin kemudian melanjutkan perjalanan mereka, dengan menahan panas terik matahari mereka menuju desa berikutnya. Lalu setelah Beberapa jam kemudian, mereka pun tiba di desa tersebut.


Sesuai perkataan Dewi Arini, bahwa akan menjumpai penjual kuda, di desa kedua setelah perbatasan. Desa itu bernama desa mekar indah, dan memang desa itu sangat indah dan tertata rapi.


Saat itu hari telah menjelang sore, sehingga Sangkar dan Brima Yin berniat bermalam di desa tersebut. Namun sebelum mencari penginapan mereka membeli kuda terlebih terdahulu, lalu Kemudian meneruskan mencari penginapan. Akan tetapi di desa terpencil seperti itu, mana mungkin tersedia penginapan, hingga akhirnya mereka menyewa rumah warga setempat.


Rumah warga yang di sewa saat itu adalah rumah Bu Darsih dan Pak Warto, pasangan suami istri yang amat sangat miskin di desa tersebut.


" Kenapa kalian mau menyewa rumah kami, kamar kami hanya tersedia bantal dan lantai tanpa alas tidur " ungkap Bu Darsih.


" Nenek !, kami sudah terbiasa tidur dengan melantai " jawab Brima Yin


Bu Darsih pun tersenyum, lalu merapikan untuk Sangkar dan Brima Yin


" Desa ini keliatannya sangat aman, tentram dan sejahtera " ujar Sangkar menilai


" Jangan terlena dengan penataannya yang begitu rapi nak, di sini rakyat menderita akan tingginya pajak dan pungli yang begitu banyak " ungkap Bu Darsih


•°•


" Semenjak anak-anak kami di paksa di bawa ke kerajaan untuk menjadi budak, kami hanya tinggal berdua. Di setiap makan seperti ii kami selalu rindu kepada mereka, akan tetapi malam ini kami merasa bahagia dengan adanya kalian " ungkap Pak Warto.


Setelah makan mereka kemudian melanjutkan dengan mengobrol, hingga bercanda bersama. Lalu makin lama malam makin larut, sehingga mereka menyudahi obrolannya terus masuk tidur.


Di pertengahan malam ketika mereka asik tidur, tiba- tiba ada yang mengetuk-ngetuk pintu sehingga membangunkan pak Warto. kemudian pak mengintip dari jendela ternyata mereka adalah penjaga kampung utusan Istana, lalu Pak Warto pergi membuka pintunya.


" Ada apa malam-malam mendatangi rumah saya " tanya Pak Warto setelah membukakan mereka pintu


" Kami mendengar ada dua orang tamu bermalam di rumah Pak Warto, apakah itu benar " ujar Ketua Penjaga Kampung itu


" Iya " jawab Pak Warto


Suara keras para penjaga itu membangunkan Bu darsih, sehingga ia bangkit dari tidurnya. kemudian Bu darsih hendak menemui mereka, namun sebelumnya ia mengintip Sangkar dan Brima Yin terlebih dahulu.


Ketika Bu Darsih menatap Sangkar, Ia sangat kaget melihat tanda di tubuhnya. Kemudian ia cepat pergi menutupi tubuh sangkar yang terbuka itu dengan selimut, lalu menuju menemui para penjaga itu.


" Eh para penjaga malam, ada apa to ? " tanya Bu Darsih lembut

__ADS_1


" Kami mau melihat dua tamu yang bermalam sedang bermalam di rumah ini " jawab seorang Penjaga Kampung dari imIstana itu.


" Oooh ! mereka adalah anak saudara aku dari Desa pinus, mereka mau menuju ke kerajaan, tetapi mereka mampir dahulu di rumah kami " pungkas Bu darsih berbohong.


Pak Warto heran menjadi heran dengan sikap Bu Darsih itu


" Kenapa dia berbohong dan kelihatan panik seperti itu ya " gumam Pak Warto


Kemudian Ketua Penjaga Kampung dari Istana tersebut pergi mengintip tamu Bu darsih dan Pak Warto itu . Beruntung saat itu wajah sangkar terbalut selimut, sementara Brima Yin terlihat tidak jelas olehnya, Sehingga ia tidak mengenali mereka.


Setelah itu Ketua Penjaga itu memanggil teman-temannya pergi dari rumah Pak Warto dan Bu Darsih tersebut.


" Kenapa kamu berbohong dan seakan panik seperti itu Bu " tanya Pak Warto selepas para penjaga itu pergi.


" Salah satu tamu kita itu anak Bima Darma dan Dewi Seruni " jawab Bu Darsih


" Aapa " kaget Pak Warto.


" Tanda di tubuhnya sangat jelas, itu seperti tanda di tubuh Bima Darma dan Dewi Seruni " Ungkap Bu Darsih


Kemudian Pak Warto dan Bu Darsih datang membangunkan Sangkar dan Brima Yin, hingga membuat mereka heran


" Kenapa pak Warto dan Bu Darsih panik seperti ini " Gumam Brima Yin ketika melihat mereka


" Ada apa ya kek, nek " tanya Sangkar


" Sebaiknya kalian tinggalkan tempat ini dan keluar dari kawasan kerajaan Lembah Damai, di sini ber bahaya buat kamu nak ! " ujar Pak Warto


" Emang ada apa kek " tanya lagi Sangkar


" Raja Surya agung telah menginstruksikan siapa saja yang menemukan anak Bima Darma dan Dewi seruni wajib membunuhnya, lalu jasadnya di bawah ke kerajaan " ungkap Pak Warto


" Jadi Kakek dan nenek sudah tahu siapa aku dan kalian juga kenal kedua orangtua aku " lagi-lagi Sangkar bertanya


" Tanda di tubuhmu tidak ada yang tidak mengenalnya " jawab Bu Darsih


" Bima darma dan Dewi seruni dulu pernah bersembunyi di gubuk kami ini, ketika sedang mengandung kamu nak " lanjut Pak Warto


" Tapi kek, nek ! aku harus melanjutkan perjalanan. Aku harus menemukan Ki marpa depal, sebab racun dan api segel telah menyerang tubuhku " ungkap Sangkar

__ADS_1


Pak Warto dan Bu Darsih pun terdiamkan, sebab mereka sudah tau maksud dari Sangkar tersebut.


__ADS_2