
Dari jauh Brima Yin melihat pasukan Jenderal Yuanki dan Dewi Maharani menuju arah tempat mereka, sehingga ia khawatir dengan keamanan Sangkar yang sedang berlatih. Maka ia pun sontak pergi menghadang mereka.
Brima Yin menyerang mereka dengan panah dari atas bukit, sehingga satu persatu pengawal Jendral Yuanki dan Dewi Maharani tewas tertusuk anak panah. Namun setelah itu, Brima Yin kehabisan mata panah, lantas ia menyerang mereka dengan tangan kosong.
Brima Yin datang menyerang Jendral Yuanki dengan gerakan cepatnya. Namun Jendral Yuanki cergas menangkis serangan Brima Yin itu, lalu Jendral Yuanki sigap menarik tangan Brima Yin itu kemudian menghantam tubuhnya. Tetapi Brima Yin tangkas menahan serangan itu dengan kedua tangannya, akan tetapi ia termundur kan akibat tekanan pukulan Jendral Yuanki sangat kuat.
Lalu kemudian, dua pengawal utama Dewi Maharani melontarkan pisau terbang kepada Brima Yin dari belakang, Brima Yin sigap memutarkan badan menghindari serangan itu.
Setelah itu Dewi Maharani menyerang Brima Yin dengan ilmu perasaannya, hingga Brima Yin tidak bisa bergerak. kemudian tujuh pengawal Dewi Maharani melemparkan pisau terbang ke tubuh Brima Yin, Beruntung sangkar cepat datang merebut tubuh Brima Yin. Brima Yin akhirnya terhindar dari serangan pisau pengawal dewi maharani tersebut
" Kang mas " panggil Dewi maharani ketika melihat Sangkar.
Namun Sangkar tidak meresponnya, ia hanya bersiaga melawan Dewi Maharani dan yang lainnya.
Dewi maharani heran melihat reaksi Sangkar itu, Sebab sedikit pun ia tidak memberi respon positif kepadanya. Sehingga Dewi maharani sontak mengeluarkan ilmu perasaannya untuk memperdaya perasaan sangkar, akan tetapi Sangkar sudah tidak bisa di pengaruhi. Dewi Maharani pun kaget, ternyata Sangkar telah membangkitkan kekuatan ilmu alaminya.
" Kang mas !, apa kamu benar-benar sudah membenci aku, hingga membangkitkan ilmu alami dalam tubuhmu tanpa menghiraukan resikonya " gumam Dewi Maharani sedih
Lalu kemudian Sangkar menyerang tujuh pengawal utama Dewi Maharani. Ia menggunakan gerakan tanpa hati, hingga sekali libas mereka terpapar luka.
Jendral Yuanki kaget melihat gerakan Sangkar itu, kemudian sontak ia menyerang sangkar dengan pedangnya. Sangkar sigap mengarahkan tubuhnya kesamping kiri, lalu dengan cepat tangannya menghantam pinggir pedang Jendral Yuanki, sehingga pedang itu terlempar. Lalu ia meluncurkan pukulan kepada Jenderal Yuanki dengan tangan kanannya, namun Jendral Yuanki menangkis cepat. Terus Sangkar tangkas memukul tubuh Jendral Yuanki dengan tangan kirinya, hingga akhirnya Jendral Yuanki termundur kan luka.
Sangkar kemudian menyerang lagi Jenderal Yuanki, akan tetapi tiba-tiba racun dan api segel melucuti tubuhnya dengan ganas, ehingga tidak bisa bergerak melainkan berusaha menahan sakit . Melihat hal itu, Dewi Maharani sontak melemparkan selendangnya kepada sangkar, kemudian melilitkan tubuhnya. Brima Yin melihat hat itu, cergas mengambil sebuah pedang yang tergelatak di tanah, lalu melompat memangkas selendang itu. Akhirnya Sangkar pun terlepas dari lilitan selendang Dewi Maharani tersebut.
Lalu kemudian Jendral Yuanki datang menyerang Brima yin dengan jurus cakarnya. Ia melontarkan cakaran ke wajah Brima Yin, Brima Yin pun cergas menghindar. Terus Brima yin menyerang balik Jenderal Yuanki dengan tendangan, namun Jenderal Yuanki menangkap kaki Brima Yin.
Kemudian Jendral Yuanki mencakar kaki Brima Yin, terus memukul pahanya hingga Brima Yin terlempar luka. Brima Yin pun akhirnya tidak bisa lagi berdiri, kakinya telah luka parah.
Sementara itu, Dewi maharani telah membungkus sangkar dengan lilitan selendangnya, lalu meloncat mengambil tubuhnya. Akan tetapi, saat Dewi Maharani akan mengambil tubuh Sangkar, Dewi Arini tiba-tiba datang menendang Dewi Maharani dari samping, hingga ia terlempar jauh.
" Kurang ajar kamu Dewi Arini, kamu selalu menghalangi jalan ku ! " pungkas Dewi Maharani.
__ADS_1
Kemudian Dewi maharani menggunakan ilmu perasaannya lalu menggerakkan seluruh benda di sekitarnya, menyerang Dewi Arini. Akan tetapi, Dewi Arini dengan cekatan menghindari serangan itu.
Setelah itu Dewi maharani menekan gerakan Dewi Arini dengan ilmu perasaannya, hingga Dewi Arini tidak bisa bergerak. Dengan sekuat tenaga Dewi Arini melawan kekuatan tenaga dalam ilmu perasaan Dewi Maharani itu, namun tidak bisa mengalahkannya.
Lalu Kemudian Jendral Yuanki meloncat menyerang Dewi Arini, Namun inani mendadak datang lalu cergas memukul tubuh Jendral Yuanki dari samping. Jendral Yuanki pun terlempar jauh dengan luka.
Sementara Dewi Maharani, sambil menekan gerakan Dewi Arini, sambil menggerakkan tubuh sangkar datang kepadanya. Sehingga tubuh Sangkar melayang menuju Dewi Maharani. Inani yang melihat hal itu, sontak melempar pisau beracun ke arah Dewi maharani, akan tetapi pisau itu berbalik menyerangnya.
Kemudian salah satu pengawal Dewi Arini meloncat menangkap tubuh sangkar, lalu Inani dan 5 orang lainnya mengepung Dewi Maharani. Dewi Maharani melihat itu semakin geram, sehingga mengeluarkan salah satu serangan puncak dari ilmu perasaannya. Beberapa logam runcing segitiga keluar dari tubuh Dewi Maharani menyerang Dewi Arini dan 6 pengawalnya. Hingga akhirnya Dewi Arini dan 6 pengawalnya terluka tertusuk logam runcing Dewi maharani itu.
Dewi Maharani kemudian terbang merampas Sangkar dari salah satu pengawal Dewi Arini tadi, namun tetapi tiba-tiba serangan dari depan menghantamnya. Silau cahaya mata abadi menyerangnya, sehingga Dewi Maharani jatuh ketanah dengan kepala sakit. Kemudian sang pemilik cahaya abadi itu melempar asap beracun kearah Dewi Maharani. Dewi Maharani pun sigap menahan serangan asap racun itu, kemudian menggerakkan asap racun itu kembali menyerang sang pemiliknya. Akan tetapi, Sang pemilik mata abadi itu dengan cepat meraih tubuh sangkar lantas melarikannya.
Meskipun asap beracun itu telah mengarah kepada sang pemilik abadi itu, namun sebagian masih melingkari Dewi Maharani, sehingga Dewi Maharani belum bisa bergerak lanjut.
Melihat Sangkar di ambil sang pemilik abadi itu, Brima Yin sontak berdiri, lalu melempar pedang kearah Dewi Maharani terus mengejar yang membawa Sangkar itu . Kemudian Dewi Arini pun juga sontak melemparkan pisau beracun kepada Dewi Arini, setelah itu sigap melarikan diri bersama 7 pengawalnya.
Sementara itu, Dewi Maharani sibuk menangkis serangan dari para lawannya. ia mengembalikan serangan itu kepada masing-masing yang menyerangnya, akan tetapi mereka telah berhasil melarikan diri. Selepas itu Dewi Maharani sangat emosi, ia sangat marah dengan mereka yang mencegahnya menangkap Sangkar itu.
•°•
Dengan melangkah pelan-pelan Brima Yin mengikuti belakang yang membawa Sangkar tadi, kemanapun ia pergi. Lalu setelah beberapa lama kemudian, sang pembawa Sangkar itu berhenti di sebuah pohon besar. Kemudian ia menyandarkan tubuh sangkar kesebuah pohon, terus memberikan pil kepadanya.
" Kenapa kamu bersembunyi, kemarilah Brima Yin " pungkas Sang pemilik mata abadi itu.
Brima Yin pun heran, kenapa sang pemilik mata abadi mengetahui keberadaan dan namanya.
Lalu kemudian Brima Yin pun pelan-pelan datang menghampiri. Ketika Brima Yin melangkah mendekat, Sang pemilik mata abadi itu menoleh ke arahnya
" Selir Puspa " ujar Brima Yin, setelah melihat wajah sang pemilik maat abadi itu.
Ternyata yang yang membawa Sangkar itu adalah Selir Puspa.
__ADS_1
" Maaf Tuan Selir, aku tidak mengenal tuan sebelumnya " pungkas Brima Yin sambil menyembah.
" Berdirilah!, harusnya aku berterimakasih kepadamu, karena telah mengirim surat kepadaku mengenai Sangkar " tutur Selir Puspa dengan lembut.
" Biibi " Sangkar memanggil Selir Puspa, setelah mendengar Brima Yin menyebut namanya
Suara itu membuat Selir Puspa senang, ternyata pil yang di berikan itu cepat mengurangi rasa sakit racun dan api segel yang menyerang tubuh Sangkar.
" Kamu jangan banyak bergerak dulu, biar pil penahan sakit yang ku beri menyebar dalam tubuhmu secara cepat " ungkap Selir Puspa memberitahu.
" Biibi !, ayah dan ibuaku sudah telah meninggal " lanjut Sangkar memberitahu
" iya, bibi sudah tahu!. Brima Yin telah mengirim surat kepadaku semua tentang kamu, termasuk meninggalkannya kedua orang tuamu " jawab Selir Puspa
Sangkar kemudian menatap Selir Puspa dengan air mata, hingga membuat Selir Puspa tidak bisa menahan isak tangisnya.
" Kamu harus kuat nak, dunia memang kejam untuk kamu " ucap Selir Puspa
" Ketahuilah!, kau adalah lelaki yang tercipta dengan kuat, maka dari itu kau pasti bisa melewati semua ini " lanjut Selir Puspa berucap
" Aku berjanji, aku akan buat dunia ini tersenyum bahagia tanpa ada lagi kejahatan " ujar Sangkar
Selir Puspa pun menganggukkan kepalanya dalam menjawab ucapan Sangkar.
Lalu setelah itu, tidak lama kemudian Selir Puspa berpamitan pulang kepada, dan menyerahkan Sangkar kepada Brima Yin. Akan tetapi belum sempat Selir Puspa melangkah, Inani tiba-tiba datang.
" Dewi Maharani sedang menuju kemari, sebaiknya segera tinggalkan tempat ini " ungkap Inani.
Selir Puspa sekilas mengingat wajah Inani, ia salah satu yang mengepung Dewi Maharani tadi.
" Jika kamu datang untuk menjebak Sangkar, tidak akan ku biarkan ragamu hidup berdamai " ancam selir Puspa
__ADS_1
Lalu kemudian Brima Yin memapah sangkar, terus mereka pergi meninggalkan tempat itu.