
Wariningsih tiba-tiba berfirasat buruk, hatinya bergejolak ingin segera kembali kebelakang
" berhenti ! sebaiknya kita balik kebelakang, untuk hari ini kita tunda dulu perjalanan kita " ujar wariningsih mengajak
" memangnya ada apa ? " tanya sangkar
" aku merasakan firasat buruk " jawab wariningsih
baru saja wariningsih berucap, para pengawal dan pendekar senior kerajaan lembah damai datang mengepung mereka
" Brima Yin ! ternyata kamu masih hidup " ucap yadri Patra menegur
" Hari ini kau akan menyesali perbuatanmu yang telah mengkhianati kerajaan lembah damai " lanjut yadri Patra mengancam
Brima yin tidak menggubris ucapan yadri Patra tersebut, ia hanya mengambil sikap siaga untuk menghadapi mereka.
" Yen mou ! cepat serahkan sangkar kepada kami " ucap jalbaja salah satu pendekar senior yang datang menangkap sangkar.
" Kalian langkahi dahulu mayat ku baru dapatkan dia " balas wariningsih.
mendengar ucapan wariningsih itu yadri patra emosi, lalu mengintruksikan para pengawal pemanah untuk menyerang mereka. serangan panah pun mengarah kepada mereka, sangkar Brima yin, dan wariningsih dengan tangkas menangkis juga menghindari serangan itu.
Kemudian wariningsih, menyerang balik dengan melemparkan beberapa kipas terbang beracunnya kepada mereka, sehingga beberapa dari pengawal pemanah itu tewas di tempat.
Begitu pun dengan sangkar, dengan tangkas ia melontarkan pisau beracun Dewi Arini ke arah parah pengawal pemanah itu, sehingga semua dari mereka pun tewas di tempat. Sementara Brima Yin, tidak melakukan apa-apa ia hanya mengeluarkan panahnya sebagai persiapan penyerangan berikutnya.
Yadri patra semakin emosi ketika melihat para pengawal pemanah tewas semua, sehingga ia mengintruksikan para pengawal tempur untuk menyerang mereka kembali. Ketika itu Brima yin mulai beraksi, ia menyerang mereka dengan panahnya secara cepat, hingga beberapa dari para pengawal tempur itu meninggal.
Setelah mata panahnya habis, brima yin langsung melawan mereka dengan gerakan tangan kilatnya. dengan gerakan tersebut brima yin mampu menumbang beberapa pengawal tempur istana itu dengan enteng . pukulannya dengan cepat menembus dada, kepala serta bahu mereka, hingga mereka tewas di tempat.
Sementara itu, wariningsih mengunakan gerakan kilatnya, lalu ia melibas para pengawal tempur istana itu satu persatu dengan mudah. ia mematahkan leher, mematahkan tangan, memukul dan menendang mereka dengan begitu cepat, sehingga mereka juga tewas di tempat.
Sedangkan sangkar menggunakan gabungan jurus tapak maut dengan gerakan dasar kuat tanpa akalnya, hingga dengan gampangnya menumbangkan para pengawal tempur istana itu. Ia menghantam kepala, dada, bahu dan perut mereka dengan kuat , sehingga mereka mampus di tempat.
Melihat para pengawal tempur istana telah habis di libas oleh sangkar, Brima yin dan wariningsih, Sembilan pendekar senior kerajaan spontan mengambil tindakan. mereka meloncat menyerang sangkar, Brima yin, dan wariningsih dengan membagi diri tiga lawan satu.
__ADS_1
tiga dari sembar pendekar kerajaan tersebut mengelilingi wariningsih, kemudia mereka menyerang sekaligus dengan melontarkan senjata andalan mereka masing- masing. Dengan bersamaan, tombak beracun, kapak terbang dan gumpalan api jurus tapak api datang mengarah kepada wariningsih . akan tetapi, dengan cekatan Wariningsih menghindari tiga serangan sekaligus itu. lalu wariningsih sigap datang menyerang mereka dengan gerakan kilatnya, namun masing-masing tiga pendekar dengan mudah menangkis setiap serangan wariningsih.
Setelah itu, tiga pendekar tersebut melontarkan pisau kepada wariningsih secara bersamaan, dengan cergas ia menahan pisau itu dengan kipasnya. Lalu kemudian, salah satu pendekar kerajaan itu sontak mengarahkan tombaknya ke arah wariningsih, sigap wariningsih menghindari tombak itu dengan menggerakkan tubuhnya kesamping, lalu spontan menangkap tombak tesebut. Terus ia melempar balik tongkat itu kepada pemilik nya, Hingga sang pemilik pun sontak menghindari. Akan tetapi selepas itu, wariningsih datang mendadak lantas memukul dada pendekar tersebut, sehingga akhirnya ia terlempar luka.
lalu sesudah itu, Dua pendekar kerajaan itu meloncat mengarahkan tonjokan ke arah wariningsih, namun dengan tangkas wariningsih menahan tonjokan tersebut dengan masing-masing tangannya. kemudian dengan cepat ia menggerakan tangannya, terus cergas menangkap tangan dua pendekar kerajaan tersebut.
sesudah itu ia mematahkan kedua tangan pendekar tersebut, lalu sontak mengarahkan tangannya memukul wajah kedua pendekar kerajaan itu. setelah itu, dengan cepat ia meloncat dengan memutar badannya sambil mengarahkan tendangan kepada dua pendekar itu, sehingga keduanya terlempar luka.
kemudian itu, pendekar kerajaan pemilik jurus tapak api mengularkan puncak jurus tertingginya, lalu menyerang warningsih dengan beberapa gumpalan api. akan tetapi wariningsih dengan mudah menghindari serangan itu.
Seetelah itu, sang pemilik tombak mengarahkan 3 tombak kerah wariningsih, hingga mengelilinginya. kemudian Wariningsih mengeluarkan kipas terbang beracunnya, lalu mengunakan gerakan kilatnya, lantas dengan tangkas menghindar dan menangkis serangan tombak itu.
Wariningsih, yang lagi serius menghindari dan menangkis serangan tombak itu, tanpa sadar tiba-tiba kapak terbang menancap kepunggung nya, hingga ia terluka. Terlukanya wariningsih dari kapak tersebut, membuat dirinya menjadi lemah bergerak, sehingga akhirnya satu tombak dapat mengenai lengan kanannya.
Kemudian itu, sang pemilik jurus tapak api tadi meloncat menyerang kembali wariningsih. Ia mengarahkan pukulan ke dada wariningsih, hingga wariningsih terlempar dengan luka yang amat parah.
•°•
Brima Yin dengan jurus tongkat pemukul harimaunya ia melawan tiga pendekar pula, dan kali ini ia menggunakan dua tongkat sekaligus. tiga pendekar itu serentak menyerang Brima yin dengan menghunus pedang kearah tubuhnya. Dengan tangkas Brima yin memutar tongkatnya hingga memegang tengahnya, lalu mengarahkan tangkisan terhadap dua pedang pendekar yang menghunus tubuhnya dari depan. Sementara itu tongkatnya yang satu, ia tangkiskan hunusan pedang pendekar yang menyerangnya dari belakang.
Brima yin kemudian mendorong tiga pendekar itu hingga termundurkan, Lalu ia meloncat dengan memutarkan tubuhnya sembari menendang mereka, dan akhirnya ke tiga pendekar itu terlemparkan.
Brima yin mencoba mengarahkan pukulan kearah mereka namun selalu meleset, hingga akhirnya makin lama ia makin puyeng. kemudian, salah satu dari pendekar itu spontan memukul Brima Yin, namun Brima yin cergas menahannya dengan tangan kanan. lalu satu pendekar lagi menyerang dari belakang Brima yin sontak menahannya dengan tangan kiri
Akan tetapi, serangan dari salah pendekar itu lagi, Brima yin sudah tidak bisa menahannya. ia di tendang punggungnya, hingga terdorong ke depan, lalu berikutnya di tendang dua orang bersamaan lantas ia terlemparkan menabrak pohon, hingga ia terluka parah
•°•
Sementara itu, sangkar melawan tiga pendekar masih dengan jurus gabungan tapak maut dengan gerakan dasar kuat ilmu tanpa akal. tiga pendekar itu menyerang sangkar juga bersamaan.
Dua orang datang menyerang depannya dengan pukulan tangan, sangkar sigap menahan pukulan mereka itu dengan masing-masing tangannya. lalu, salah seorang datang menyerangnya dari belakang dengan tendangan, sangkar cergas mendorong dua pendekar yang menyerangnya dari depan itu, lalu meloncat salto belakang. Akhirnya tendangan pendekar dari belakang itu mengenai dua orang temannya tadi, sehingga mereka terlemparkan. Kemudian sangkar meluncurkan tendangann kepada pendekar yang menendangnya dari belakang tadi, hingga ia terlemparkan pula.
Kemudian, tiga pendekar itu mengeluarkan jurus utama mereka. masing-masing mengeluarkan tiga bayangan, lalu datang menyerang sangkar dengan kilat. tiga bayangan menyerang sangkar dengan pukulan tangan, sangkar tangkas menahannya. dua dari depan sangkar ia tahan dengan masing-masing tangannya, satu dari belakang ia tahan dengan kakinya. terus sangkar melayangkan tubuhnya keatas, akan tetapi tiga bayangan yang lain sontak menyambarnya dengan tendangan, sehingga ia terlempar jauh.
•°•
__ADS_1
Sangkar dalam keadaan luka, menatap wariningsih dan Brima yin sudah tidak berdaya lagi. ia melihat warningsih saat itu akan segera di bunuh oleh pendekar yang menyerangnya. akhirnya dengan terpaksa sangkar menggunakan ilmu tanpa akalnya. kemudian sontak terbang menyerang tiga orang yang hendak membunuh wariningsih tersebut.
Ketiga pendekar itu, sadar bahwa sangkar datang menyerang, sehingga mereka sigap menyambut serangan sangkar tersebut. Sangkar memukul mereka dengan cepat, akan tetapi mereka dapat menangkis dan menghindarinya. kemudian, tiga orang itu spontan mengeluarkan jurus andalannya.
Sang pemilik jurus tapak api meluncurkan pukulan ke wajah sangkar dengan tangan apinya, sontak sangkar mengayangkan badannya . kemudian satu pendekar lagi meluncurkan pukulan ke arah wajahnya dari samping, sangkar lekas menangkap tangan pemilik jurus tapak api itu, lalu memutarkan badannya hingga melewati kedua tubuh pendekar tersebut. terus ia memukul tubuh mereka dari belakang dengan pukulan tanpa akal. Dua pendekar itu akhirnya terhempas tewas.
Kemudian satu pendekar lagi datang menendang sangkar, sangkar tangkas menangkap kakinya. kemudian ia memukul dasar kakinya dengan kuat, hingga ia terhempas menabrak pohon lantas tewas.
Setelah itu, Tiga pendekar yang menumbangkan brima yin tadi datang menyerang sangkar. mengelilingi sangkar dengan kilat, ia menjadi jadi bingung. Dalam keadaan tegang, sangkar spontan mengubah jurusnya dengan ilmu tanpa hati, lalu kemudian dengan tenang ia menyikapi mereka
kemudian satu orang dari tiga pendekar itu mengeluarkan pukulan tangan mengarah kewajah sangkar, cergas ia menangkap tangan pendekar itu, lalu mematahkannya. terus ia meninju lehernya, sehingga ia terkapar tewas memuntahkan darah.
Satu pendekar lagi meluncurkan serangannya, sangkar spontan meloncat memutarkan badan melewati tubuhnya, kemudian berbalik cepat, lalu menendang batang lehernya, ia pun terhempas tewas menyambar pohon. seorang lagi memukul kepala sangkar dari belakang, sangkar tangkas tunduk lalu menendang kakinya, terus cergas meraih tangannya. Setelah itu sangkar mematahkan tangan pendekar itu, kemudian meninju dadanya hingga tewas di tempat.
tiga sang pemilik banyangan pun datang menyerang sangkar dengan masing-masing bayangannya. mereka bersamaan mengarahkan tonjokan kearah sangkar, sangkar tangkas meloncat terbang keatas sehingga mereka saling menyerang, kemudian sangkar balik menyerang mereka dengan gerakan tenaga dalam kekuatan ilmu tanpa hai.
Sangkar memutar tubuhnya dengan cepat lalu menendang dua bayangan, terus dengan kilat meluncurkan pukulan tangan kepada tubuh dua bayangan pula, lalu sontak menghantam kepala dua bayangan lagi. Sehingga akhirnya 6 bayangan dari dua raga terhempas , hingga kembali keraga mereka masing, lantas raga asli terluka dengan memuntahkan darah dari mulutnya.
Sangkar kemudian hendak akan menyerang lagi tiga bayangan terakhir, namun saat itu ia sudah tidak sempat melakukannya. Sebab serangan racun dan api segel di tubuhnya mendadak bangkit, sehingga ia merasakan sakit yang mendalam dan akhirnya tak bisa lagi menyerang .
Melihat sangkar menderita serangan api dan racun segel tersebut, pemilik bayangan itu menarik bayangannya kembali keraganya. lalu kemudia melemparkan tali ketubuh sangkar, terus hendak akan melilitkan kepada sangkar.
Wariningsih yang melihat kejadian itu, meskipun luka parah ia berusaha terbang, lalu memutuskan tali pengikat pendekar bayangan itu. Tindakan wariningsih itu membuat pendekar bayangan gerakan, Seingga ia sergap memukul tubuh wariningsih, lantas Wariningsih terhempas kembali dengan luka yang makin parah.
Brima yin, melihat pendekar bayangan sedang menyerang wariningsih, ia cepat berlari mengambil tubuh sangkar. kemudian, ia membawa pergi sangkar dengan mengendongnya, namun tetapi yadri Patra spontan mengejar.
" hiiiyaa " teriak wariningsih
yang melempar kipas terbang beracunnya ke arah yadri Patra, ia berniat menghalangi yadri patra dalam mengejar brima yin dan sangkar.
Brima yin mendengar suara teriakan wariningsih tadi sontak menoleh kearahnya, lalu kemudian wariningsih dengan lincah melemparkan kipas terbang beracunnya kepada kebrima yin. terus ia memberikan isyarat mata agar kipas itu briman yin mengambil dan menyimpannya.
Sementara itu, Yadri patra sedang menahan kipas terbang beracun wariningsih itu dengan pedangnya, kemudian ia menangkap kipas terbang beracun tersebut, lalu melempar kembali kepada wariningsih. Akhirnya dengan tidar sadar kipas terbang beracun wariningsih tersebut menancap di dadanya sendiri, Lantas ia tewas di tempat.
Setelah menangkap kipas terbang beracun dari wariningsih tadi, brima yin cepat berlari membawa sangkar, Namun yadri patra dapat dapat mengejarnya. Kemudian yadri Patra menghunus pedang keleher Brima yin, Brima yin sontak mengarahkan kesamping tubuhnya. kemudian yadri Patra spontan menendang Brima yin, hingga ia terlmpar jatuh bersama sangkar yang di gendongannya.
__ADS_1
Brima yin, dengan tubuhnya yang luka parah memaksa berdiri untuk melawan. Namun tetapi, yadri patri dengan tendangan bayangannya cergas datang menyerangnya, Brima yin akhirnya terhempas jatuh kejurang.
Lalu kemudian yadri Patra mengambil tubuh sangkar dari tanah, setelah itu ia mengikat tubuhnya bersama tiga pendekar. Dan sesudah itu mereka pun pergi membawa sangkar ke istana lembah damai.