Legenda Senopati Terakhir

Legenda Senopati Terakhir
Melihat Calon Istri Selingkuh


__ADS_3

Sadewa Pasha ingin memberikan giok zamrud merah untuk merayakan tiga tahun hubungannya dengan Ratih Kumara.


Lelaki itu sudah mempersiapkan apapun yang diinginkan Ratih, namun di kebun belakang istana, dia melihat dengan mata kepala sendiri, Ratih sedang bermesraan dengan salah satu petinggi istana.


“Ra-ratih.”


Sadewa menggelengkan kepala seolah tidak percaya Ratih sedang melakukan hal tidak senonoh dengan laki-laki lain. “Kenapa ada suara *******?”


Semua sudah terlambat.


Giok zamrud merah yang dibawa Sadewa jatuh tepat di atas batu besar dan pecah menjadi serpihan kecil. Di saat yang sama, Ratih ketakutan karena mendengar suara rintihan Sadewa. Sepasang lawan jenis itu segera membereskan pakaian dan mendekati Sadewa.


Sadewa berdiri tepat di hadapan Ratih dan lelaki asing itu.


“Sadewa!” tegur Ratih. “Berani-beraninya kau datang ke kebun ini! Selain anggota keluarga istana, tidak ada yang boleh masuk ke bagian dalam kebun, termasuk dirimu.”


“Loh, bukankah dua minggu lagi adalah hari pernikahan kita?” Sadewa memandang Ratih penuh harap, namun tidak bisa menahan sedih ketika matanya melihat pecahan giok zamrud merah yang sudah hancur menjadi kepingan kecil.


“Dua minggu, kan? Itu berarti kau belum resmi jadi anggota keluarga istana. Sudah, jangan berharap banyak atau aku buat laporan palsu agar prajurit istana menangkapmu serta menjebloskanmu ke penjara!”


Sadewa masih mencari pembelaan. Dia tidak mau menyerah begitu saja dengan argumen-argumen Ratih.


“Jika aku tidak boleh masuk ke kebun karena aku bukan anggota keluarga istana, lalu lelaki itu kenapa kau izinkan masuk?”


“Jangan seenaknya bicara!” Ratih membentak Sadewa untuk untuk kesekian kalinya. “Dia adalah anak kandung Panglima Jalak Putih, sedangkan kau hanya anak yatim piatu yang bahkan tidak memiliki wibawa sama sekali di istana.”


Ratih diam sejenak, lalu menginjak pecahan giok zamrud merah yang membuat giok itu makin hancur lagi, bahkan mustahil untuk dibenarkan.


Dengan wajah mulai memerah, Ratih mendekati Sadewa lalu menamparnya. “Kau itu harusnya bersyukur karena salah satu selir Ayahanda memohon sampai kau diangkat jadi anak angkat di istana. Ingat, posisimu hanya anak angkat, bukan anak kandung!”


“Ta-tapi,” Sadewa tidak diberikan kesempatan bicara sedikitpun.


“Tidak ada tapi!” Ratih menoleh ke arah Bayu, anak kandung Panglima Jalak Putih. “Kau tidak perlu mengasihani anak yatim yang tidak tahu balas budi sepertinya! Mari kita kembali ke kamar, Ayahanda sudah menyiapkan pesta untuk nanti malam.”

__ADS_1


Berjalan mengikuti Ratih, pemuda berkuncir itu malah mendapat makian, lagi dan lagi.


“Sadewa! Kenapa kau mengikutiku? Ini daerah terlarang untukmu. Ruangan ini hanya boleh dimasuki keluarga petinggi istana, sedangkan kau tidak terikat darah sama sekali dengan petinggi istana ini! Ingat, kau hanya dipungut karena kebaikan ayahandaku!”


Kemudian Ratih melanjutkan ucapannya. “Kenapa? Kau membenci Bayu yang dua minggu lagi akan menikah denganku? Pergi saja urus kuda dan kebun istana!”


Sadewa tidak habis pikir, kenapa Ratih tiba-tiba berubah.


Tiga tahun lalu, Ratih seperti tergila-gila padanya, apalagi saat Sadewa masih bekerja sebagai juru masak istana. Wajahnya masih putih nan bersih, sedangkan kulitnya kuning langsat. Wajahnya jauh lebih tampan dari wajah pangeran istana, bahkan semua orang mengakui ketampanannya. Rambut kuncir, gingsul di dua sisi pipi, hingga senyuman manis, tidak seorang pun bisa berpaling ketika melihat wajah Sadewa.


Namun, semua itu sirna kala Panglima Jalak Putih memperkenalkan putranya yang bernama Bayu Dewandaru, sesosok pendekar hebat yang diutus kerajaan menuntaskan misi besar di negeri seberang.


Setiap hari, laki-laki itu bekerja mengurus kebun dan peliharaan istana, entah itu kuda, sapi, ataupun lembu. Pagi untuk mencari rumput di ladang dan hutan, siang memeras susu sapi, sedangkan malam harinya digunakan Sadewa untuk berlatih gerakan dasar persilatan.


Tapi, kali ini sedikit berbeda.


Sadewa serasa berada di dalam mimpi. Dia melihat seseorang asing berdiri di sana. Seseorang yang belum pernah dia temui sekalipun dalam dua belas tahun pengabdiannya di Kerajaan Basundara.


Dengan kecerdasan di atas rata-rata, Sadewa Pasha mampu mengingat seluruh gerakan yang dipraktekkan Ki Bratasena selaku sesepuh pendekar istana. Dia hanya mengintip dari balik jeruji besi sebelah Utara aula perguruan.


Ki Bratasena sadar, setiap malam, Sadewa Pasha selalu melihat mereka berlatih. Sengaja sang guru membiarkan Sadewa melihatnya karena sang guru tahu, Sadewa Pasha memiliki bakat di atas rata-rata murid yang berlatih di sini.


Sampai suatu ketika, Ki Bratasena menepuk pundak Sadewa saat murid-murid lain berlatih ilmu meringankan tubuh.


“Kenapa tidak bergabung dengan yang lain? Kau nampak tertarik dengan dunia pendekar. Kau juga memiliki bakat terpendam. Kemarilah, ikut latihan bersama murid-murid lain, aku yang memberimu izin.”


Sadewa terkejut. Dia teringat sesuatu.


Jika Ratih memergokinya berlatih dan mengadukannya pada petinggi istana, nasib Sadewa tidak akan lama. Pasalnya, semenjak Sadewa memergoki Ratih berduaan dengan Bayu Dewandaru di kebun kemarin, Ratih membuat propaganda agar para petinggi menganggap Sadewa penghianat istana.


“Ti-tidak, Guru Brata, aku tidak mau ambil resiko. Guru memberiku izin berdiri di sini dan mengamati setiap sesi latihan yang dilakukan mereka, sudah cukup membuatku senang. Aku belajar banyak selama dua tahun terakhir.”


“Apa Ratih yang membuatmu enggan bergabung dengan perguruan?”

__ADS_1


Sadewa hanya diam. “Sebentar, aku penasaran bagaimana Guru Brata tahu aku mengamati gerakan mereka selama dua tahun. Padahal, aku yakin, tidak ada orang yang tahu keberadaanku, apalagi kamarku selalu dikunci kepala prajurit.”


“Aku tahu semuanya.” Guru Brata hanya tersenyum. “Seorang pendekar dengan bakat di atas rata-rata pasti punya cara sendiri untuk lolos dari masalah, termasuk dirimu. Menggunakan ranting yang dipahat, lalu dilapisi timah panas untuk membentuk pola sesuai kunci, hal itu hanya bisa dilakukan orang cerdas. Dan kau berhasil mengakali kunci kamarmu hanya dengan benda sederhana.”


“Ma-maksudnya?” Sadewa melongo. “Jangan, jangan kau ungkit masalah itu! Jelaskan dulu kenapa Guru Brata tahu bagaimana caraku kabur dari kamar pengasingan dan aku yang mengamati proses latihan selama dua tahun terakhir!”


“Kebatinan.”


Belum sempat Sadewa menimpali ucapan Guru Brata, seseorang tiba-tiba menggedor pintu kamar Sadewa yang letaknya tepat lima meter dari aula pelatihan.


Guru Brata menahan tangan Sadewa, lalu menyuruhnya menutup mata.


Saat dibuka, Sadewa berada di alam lain bersama empat orang berpakaian serba putih dengan empat warna jenggot berbeda. Mereka menyalami Sadewa layaknya kawan lama, lantas duduk melingkar dengan Sadewa menjadi poros.


Di tengah keheningan, empat orang berpakaian serba putih membentuk pola segel segitiga. Bagian tengahnya memancarkan cahaya kemerahan seperti laser, menusuk cepat ke arah jantung Sadewa sehingga dia berteriak sangat keras.


Wushh!


Angin hangat menerpa, tubuh Sadewa yang mulanya menggunakan pakaian biasa, berubah jadi zirah api hitam yang seolah menyatu dengan tubuhnya.


Sadewa kembali dibuat terkejut kala melihat sebilah pedang panjang dengan ukiran naga keemasan di hadapannya. Pedang itu berdiri tegak dan seimbang seolah dia memiliki nyawa. Ki Bratasena meminta Sadewa menyentuh pedang itu.


Duar!


Duar!


Duar!


Tiga petir menyambar keras. Langit terbelah jadi dua. Belasan siluman langit turun ke bumi untuk menyaksikan seseorang yang kini terpilih jadi pewaris kekuatan Dewa.


“Selamat datang, Sadewa Pasha, calon penerus kekuatan Pedang Kalacakra, pedang legendaris yang akan membuatmu jadi pendekar terkuat sepanjang masa.”


Ketika terbangun, Sadewa sadar itu semua hanya mimpi. Namun, dia yakin, mimpi yang baru saja dia alami adalah pertanda tentang masa depannya kelak.

__ADS_1


__ADS_2