
Sadewa Pasha pingsan di ruangan Ketua Bratasena.
Ki Seno Aji minta tolong Datuk Lembu Sora pergi ke Kawah Condrodimuko di Gunung Lawu bersama Empu Ganda Wirakerti. Amanat untuk mengambil ramuan khusus dari serpihan besi tua langka dan serbuk siluman merah dipasrahkan pada Datuk Lembu Sora.
Serbuk siluman merah adalah serbuk langka yang hanya bisa diperoleh di tempat-tempat tertentu.
Untuk mendapat satu genggaman serbuk sangatlah susah. Seorang pendekar harus mengalahkan siluman tingkat naga demi bisa mendapat sejumput serbuk yang diambil dari jantung yang dibekukan dengan kekuatan khusus.
“Ambil tiga jumput dan oleskan di leher kiri Sadewa. Aku yakin, tato itu ada di sana. Tato pembawa keselamatan yang tertulis dalam kitab legendaris Dewa Pasha.” Ki Seno Aji memberikan syal merahnya kepada Datuk Lembu Sora.
“Sisa serbuk siluman merah kita tinggal empat jumput. Abah Suradira yang terakhir membawa serbuk itu setelah mengalahkan Namus Sang Gagak yang terus mengganggu kenyamanan Perguruan Api Abadi. Apa kita harus izin terlebih dahuilu atau langsung mengambilnya? Menurutku, tidak elok apabila kita menggunakan serbuk yang didapat Abah Suradira untuk kepentingan pribadi kita sendiri.”
“Ini bukan kepentingan pribadi. Ini kepentingan Nusantara. Aku punya firasat, lima tahun ke depan akan terjadi pertempuran besar yang mengancam maslahat pendekar kita. Hanya Sadewa yang ditakdirkan jadi gardah utama pembela saat masa-masa kita hampir habis.”
__ADS_1
“Tapi, Ki?”
“Apa kau meragukan firasatku? Apa kau lupa, kau selamat dari pembantaian dahulu karena aku menyuruhmu sembunyi di dalam gubuk padahal pendekar Tiongkok sedang menghancurkan seisi desa dengan bola api raksasa?”
“Masa lalu dan mungkin kebetulan,” sergah Datuk Lembu Sora. “Memang kalau dipikir lagi, mustahil selamat dari tiga bola api raksasa hanya dengan tinggal di dalam gubuk reyot tak berpenghuni. Belum lagi, atap gubuk itu sudah usang dimakan rayap.”
“Sudahlah, Sora, jangan terlalu banyak tanya dan lakukan saja tugasmu sebagai wakil ketua Serikat pendekar Nusantara.” Ki Seno agaknya terkesan egois, tapi dia benar-benar memikirkan masa depan Nusantara.
Datuk Lembu Sora melesat dengan ilmu meringankan tubuh. Dia menjemput Empu Ganda Wirakerti lebih dulu. Sang bangau sedang merawat lukanya sendiri dengan kekuatan mustika putih yang konon bisa menghidupkan orang mati.
Masing-masing membawa mustika berwarna. Tiap warna memiliki elemen khusus dan kekuatan tertentu. Mustika cokelat Datuk Lembu Sora contohnya, bisa menghancurkan satu pulau dalam sekejap mata.
Mustika putih milik Empu Ganda Wirakerti merupakan mustika khusus pengobatan. Satu patahan sayapnya setara energi seorang tabib tingkat tinggi. Bahkan, bilamana tabib terbaik Nusantara tidak sanggup menyembuhkan sebuah penyakit, maka yang digunakan adalah liur siluman bangau jelmaan Empu Ganda Wirakerti.
__ADS_1
Dua mustika lain -mustika merah dan mustika biru -masih belum diketahui siapa pemiliknya. Yang jelas, pemilik dua mustika itu berada di Nusantara dan keberadaannya masih disembunyikan.
Sama halnya pendekar Tiongkok, mereka punya empat pendekar terkuat yang memegang empat mustika berwarna.
Jikalau ada pendekar yang berhasil menyatukan kedelapan mustika dalam batu segel yang letaknya di ujung dunia, dia akan dianggap sebagai pendekar terkuat sepanjang masa.
Penyatu delapan mustika diberi kebebasan memilih satu dari kekuatan mutlak, apakah dia berpihak pada aliran putih atau aliran hitam. Sejauh ini, hanya ada dua Dewa yang berhasil menyatukannya lalu mengajukan permintaan khusus, salah satunya Dewa Pasha.
Sang Dewa Keselamatan meminta agar Sang Hyang Widi menciptakan sebuah pusaka dengan bentuk normal tapi memiliki kekuatan mahadahsyat.
Ditempa oleh para malakut, pusaka ini dihadiahkan langsung kepada Dewa Pasha yang sekarang orang-orang menyebutnya sebagai Pedang Kalacakra.
Sebaliknya, Dewa Azazel adalah musuh alami Dewa Pasha.
__ADS_1
Dia adalah Dewa Penghancur yang memiliki sifat sadis dan tak tahu ampun. Apapun yang disentuhnya langsung terbakar. Mereka yang memuja-muja Azazel diiming-imingi kekuatan mutlak aliran hitam.
Pertarungan dahsyat sempat terjadi antara Dewa Pasha dan Dewa Azazel untuk membuktikan siapa yang layak menyatukan kedelapan mustika.