Legenda Senopati Terakhir

Legenda Senopati Terakhir
Pertarungan Antar Dewa


__ADS_3

Awalnya, Dewa Azazel memenangkan pertarungan sehingga dia berdoa agar Sang Hyang Widi menciptakan sesosok iblis terkuat yang haus darah dan bersifat merusak. Namun, seiring berjalan waktu, Pedang Kalacakra menghilang bersamaan dengan hilangnya jasad Dewa Pasha ketika bertapa di sudut Utara kahyangan.


Dewa Pasha sempat mengancam Dewa Azazel bahwa akan ada pendekar dari golongan manusia yang bisa menyegel iblis Yasa, iblis merah terkuat yang selama ini diagung-agungkan oleh penganut aliran hitam.


Yasa dan Dewa Azazel hanya bisa tertawa, lantas meminta Sang Hyang Widi agar keduanya diturunkan ke bumi.


“Inilah yang disebut era kehancuran.” Ki Seno Aji menjelaskan kepada Raden Bratasena tentang kisah yang tertulis dalam kitab Sabda Pasha.


“Cerita ini tidak diketahui banyak orang, termasuk kalian. Aku mohon, jangan ceritakan kisah masa lalu Dewa Pasha dan Dewa Azazel pada siapapun agar orang-orang tidak tahu kalau iblis Yasa selama ini masih hidup dan tersegel di dasar samudera yang dipenuhi siluman-siluman raksasa.”


“Penganut aliran hitam akan terus meneror Nusantara karena mereka mengincar empat mustika untuk membangkitkan iblis Yasa, iblis yang selama ini mereka anggap sebagai Tuhan.”


“Lalu, bagaimana nasib Dewa Pasha setelah menghilang?” Ki Jagaraksa buka suara.


“Itu tidak penting.” Ki Seno Aji menyuruh tiga tetua pergi ke Asrama Pedang Merah karena dia sadar ada keributan yang terjadi. “Mengetahui Feng Shui dan Mahesa diobati di sana, muridmu yang bernama Pinanggih Anom berniat menghancurkan Asrama Pedang Merah beserta seluruh murid yang menjaga mereka berdua.”

__ADS_1


Prabu Jangkar Turi awalnya tidak yakin dengan ucapan Ki Seno Aji, tapi begitu melihat Raden Bratasena terbang menuju Asrama Pedang Merah, dia akhirnya percaya kalau Ki Seno Aji memang bukan orang sembarangan.


Disusul Ki Jagaraksa dan Ki Aluna Prabu, Raden Bratasena segera mengamankan Asrama Pedang Merah guna menanggulangi resiko terburuk yang akan terjadi.


Sementara itu, Prabu Jangar Turi diminta tetap duduk menunggu kedatangan Datuk Lembu Sora dan Empu Ganda Wirakerti.


“Ilmu yang kau ajarkan kepada muridmu, Sadewa Pasha, adalah ilmu pedang tingkat tinggi yang mustahil pendekar dengan kecerdasan normal bisa menguasainya dalam waktu tiga bulan.”


Prabu Jangkar Turi terkejut. “Bagaimana Tuan Seno tahu aku mengajarinya ilmu pedang tingkat tinggi?”


“Ilmu Pedang Kembar,” lirih Prabu Jangkar Turi.


“Apa kau tahu siapa yang menciptakan ilmu itu?” Ki Seno tersenyum memandang Prabu Jangkar Turi.


“Kakek kandung Raden Bratasena, itu yang sering kudengar dari pengakuan para ahli pedang.” Prabu Jangkar Turi coba menerka, tapi ternyata salah.

__ADS_1


“Sahabatku, Dwi Bratasena, seringkali dianggap sebagai pencipta Ilmu Pedang Kembar, padahal dia hanya mengenalkan ilmu itu kepada seluruh ahli pedang Nusantara.”


Ki Seno menghela nafas pelan. “Pujian terus mengalir dari para ahli pedang, bahkan sampai dia meninggal, dia terus dipuja-puja karena Ilmu Pedang Kembar sangat sulit ditakhlukkan pada masa itu. Tapi, yang harus kau tahu, pencipta Ilmu Pedang Kembar yang asli adalah Prabu Dwipangga, pewaris mustika biru yang selama ini dirahasiakan keberadaannya.”


“Prabu Dwipangga yang berjuluk Pendekar Tanpa Nama?” Prabu Jangkar Turi terbelalak.


“Benar sekali. Orang yang sangat berjasa untuk Nusantara, tetapi namanya selalu ditutupi oleh nama lain. Dia lah yang paling banyak berjasa menciptakan ilmu-ilmu baru. Dan, satu rahasia lagi tentang pedang kembar yang ada di sumur keramat Lembah Seratus Pedang.”


“Maksud Tuan Seno, Pedang Batu Bintang dan Pedang Bulan Inka yang legendaris itu?”


Ki Seno mengangguk pelan. “Pedang itu ditempa sendiri oleh Prabu Dwipangga dan dihadiahkan kepada orang yang selama ini dianggap sebagai perampok bengis namun di akhir hayatnya, dia bertobat dari segala keburukan yang sudah dia lakukan.”


Sedang menikmati cerita yang dituturkan Ki Seno Aji, tiba-tiba Prabu Jangkar Turi mendengar suara langkah kaki dari depan pintu ruangan ketua.


Saat pintu dibuka, Prabu Jangkar Turi tidak melihat apapun kecuali seorang lelaki berdiri dengan pakaian penuh darah dan pedang terhunus.

__ADS_1


__ADS_2