
Tanpa disadari Sadewa, mustika merah itu kembali menyala dan berguncang hebat sampai terpental-pental ke seluruh sisi jurang. Lelaki itu tidak mendengar apapun dan menghabiskan satu buah misterius yang masih belum diketahui namanya.
Karena penasaran dengan tempat aneh ini, Sadewa masuk lebih dalam menuju hutan. Dia terus berharap bisa bertemu seseoarng yang bisa diajak bicara. Kesendirian adalah hal yang paling dia benci.
Dua belas menit setelah kaki Sadewa menyusuri hutan, terdengar suara percikan air dari samping kirinya. Padahal, ketika dia meloncat dari satu ke batu lain yang ada di aliran sungai, tidak ada satu pun orang yang dia lihat.
“Siapa kau?” Sadewa reflek memasang kuda-kuda. Meski ingatannya hilang, naluri pendekarnya masih terpatri kuat dalam otaknya.
Begitu Sadewa melayangkan satu tendangan sabit memutar ke kiri, dia tidak melihat apapun. Hanya suara angin pagi yang meniup dedaunan pisang sehingga daun yang mulai menguning itu jatuh dan menimbulkan suara percikan air.
Sadewa terus berjalan, tapi dia tiba-tiba melakukan tendangan memutar ke arah kanan. Suara percikan air kembali terdengar, kali ini lebih terasa kalau ada orang yang sedang berendam di sungai.
“Tunjukkan wujudmu! Jangan hanya berani bersembunyi!” Sadewa berteriak ke seluruh penjuru, sampai tiga kali. “Aku disini, tepat dua meter di depanmu. Kalau kau berani, keluarlah! Aku, Sadewa Pasha, tidak takut apapun!”
Sadewa yang sebenarnya ketakutan, memberanikan diri menantang orang misterius itu.
Begitu mendengar percikan air di belakangnya, Sadewa langsung melempar buah misterius berbentuk seperti sawo dengan panjang seukuran pepaya yang sedari tadi dia makan.
__ADS_1
Duk!
Terdengar suara benturan keras. Sepertinya, buah yang dilempar Ssadewa mengenai kepala seseorang. Bunyinya sedikit keras dan Sadewa tertawa cekikikan. Dia sangat puas bisa membalas perbuatan orang yang mengganggunya.
Ketakutan yang ia alami berubah menjadi hal konyol karena sejak hilang ingatan, sikap Sadewa sedikit bergeser. Dari yang awalnya serius dalam menanggapi ucapan orang lain, berubah jadi sableng dan sedikit semprul.
Dari sisi kiri, guyuran air sungai langsung mengenai tubuh Sadewa dan membuat pakaiannya basah kuyup.
“Tunjukkan wujudmu, dasar kau, mentalmu hanya seciut Bokong Tikus! Kalau berani, duel saja satu lawan satu, jangan datang dan menghilang sesuka hati!?”
“Kenapa kau tidak melihatku? Harusnya setelah kau makan buah terlarang itu, mata batinmu terbuka dan kau bisa melihat apa yang tidak orang lain lihat. Dasar orang aneh!”
“Maksudmu buah terlarang? Buah yang ada disana? Mmm, bu-buah yang mengenai kepalamu?” Sadewa membalas, lalu tertawa sangat keras mengingat kejadian barusan. “Tapi jujur, aku tidak tahu wujudmu seperti apa.”
“Lihat ke arah tempat kau memetik pohon tadi! Setiap kali buah itu dipetik oleh seseorang, jarak lima menit kemudian, seluruh pohon itu hilang karena buah yang kau petik merupakan buah terlarang yang tidak sembarang orang kuat memakannya.”
“Aku tidak percaya,” lirih Sadewa, lantas menoleh ke tempat dia memetik buah tadi. Betapa kagetnya pemuda berkuncir ketika tahu, baris pepohonan rimbun tiba-tiba hilang dari pandangan.
__ADS_1
“Dia masih belum bisa melihatku,” desis pria tak kasat mata itu ketika melewati tubuh Sadewa.
“Ampun... jangan ganggu aku. Aku takut dengan hantu. Cepat pergi!” teriak Sadewa seketika membuat pria tak kasat mata itu melotot tidak percaya.
“Ah, kau sudah bisa melihatku rupanya. Syukurlah, khasiat buah terlarang itu bisa membuka mata batinmu. Aku tidak lagi susah payah buang energi untuk sekedar memperlihatkan wujudku pada manusia normal tanpa mata batin.”
“Lihat apa, angin muter-muter? Selamanya manusia tidak bisa melihat angin. Dasar kau ini, aku baru tahu ada hantu yang aneh, bodoh pula!”
Entah bagaimana jadinya, semenjak hilang ingatan, kelakuan Sadewa berubah drastis. Bukan hanya sifatnya saja yang sableng dan sedikit semprul, tapi juga mulutnya yang kini tidak bisa dikontrol.
“Dasar pemuda tidak sopan! Aku jauh lebih tua darimu. Umurku sudah ratusan abad. Aku curiga, sejak kecil kau tidak diajari yang namanya sopan santun!”
Cpak!
Pria itu menjitak belakang kepala Sadewa dan karena itu juga, chi energi serta saraf mata yang ada di kepala bagian belakang Sadewa jadi hidup. Dia akhirnya bisa melihat sosok yang selama ini mengganggunya.
Usai menanggapi tingkah konyol Sadewa, kini waktunya lelaki itu membahas suatu hal serius yang selama ini dirahasiakan orang-orang tentang orang tua Sadewa.
__ADS_1