
Fajar menyongsong.
Kunang-Kunang Kalacakra harus kembali ke sarang mereka karena mereka harus menyerap sinar matahari dan mengumpulkan sinar-sinar itu di tepian goa.
Kekuatan alami kunang-kunang ini seperti semut.
Mereka mengumpulkan sinar matahari sebagai makanan dan energi, lantas diletakkan di cawan khusus yang sengaja disembunyikan di tepian goa. Hal itu terus berlanjut meskipun ada atau tidaknya orang-orang yang membutuhkan ritual penyembuhan.
Mentari mulai menerpa.
Ratu Yustika membawa satu cawan berisi penuh cahaya matahari yang belum diolah jadi energi kehidupan. Dia sengaja menumpahkan cawan tersebut di atas kepala Sadewa, berharap Sadewa siuman sekaligus memastikan prosesi penyembuhan benar-benar berhasil.
Klek!
Terdengar suara gerakan.
Ratu Yustika cepat-cepat pergi meninggalkan tubuh pemuda itu. Dia kembali ke sarang dengan perasaan bahagia. Dia lantas mengabari seluruh koloni bahwa prosesi ritual penyembuhan berhasil mereka lakukan pada seorang pemuda yang habis menderita rasa sakit mahadahsyat.
“Semoga Dewa Pasha memberkati kita,” kata Dewi Yustika.
__ADS_1
Sementara itu, di dasar jurang, pemuda berkuncir mulai menunjukkan tanda-tanda kehidupan. Tangan dan kakinya bisa digerakkan. Sadewa bisa duduk normal tanpa harus merasakan sakitnya jatuh dari jurang yang sangat dalam.
Seketika, hawa dingin hutan belantara yang ada di hadapan mata Sadewa yang langsung menyerang tubuh Sadewa ketika pemuda itu hanya menggunakan kaos lengan pendek hitam; kaos yang juga dia gunakan saat prosesi Teknik Kunci Lima Rupa tahap satu.
“Akhh, dimana aku?” Sadewa lupa apa yang baru saja terjadi. Ini lumrah terjadi. Efek samping ritual tahap satu serta konsekuensi penyembuhan Kunang-Kunang Kalacakra berdampak pada ingatannya.
Ini adalah alam ilusi, tapi alam ini nampak seperti kenyataan bagi Sadewa.
Dalam prosesi Teknik Kunci Lima Rupa, penerus kekuatan Dewa Pasha harus merasakan rasa sakit yang mahadahsyat di tahap pertama. Selanjutnya, ingatan Sadewa dihapus dan akan kembali normal begitu tiga tahapan Teknik Kunci Lima Rupa berhasil dilakukan.
Resiko terburuk yang akan terjadi adalah ketika Sadewa gagal menjalani tiga tahap prosesi ritual, ingatannya tidak bisa kembali meskipun dia sudah melebur jadi satu dengan Gatra Sang Gagak.
Api di obor itu bisa bertahan tiga hari karena pertapa tadi merupakan seorang pendekar dengan kekuatan api tingkat tinggi, bahkan bisa dikata, kekuatannya berada di level teratas.
Dinginnya angin fajar membuat Sadewa terpaksa memeluk kakinaya sendiri. Gemertak giginya menunjukkan kalau hawa dingin di dasar jurang terasa seperti hawa dingin di tempat penuh salju.
Rgghh!
Perut Sadewa berbunyi.
__ADS_1
Dalam kondisi dingin dan perut kosong, Sadewa tidak bisa menahan nyeri yang terus menyerang. Dia lantas pingsan dengan posisi duduk memeluk dua kakinya.
Sadewa baru siuman dari pingsannya setelah dituangi cawan berisi penuh cahaya matahari yang dibawa salah satu anak buah Dewi Yustika.
Senyuman kecil terpancar dari mulut pemuda itu begitu melihat sebuah pohon dengan bentuk buah aneh. Setelah melihat situasi di sekitar, Sadewa berjalan menuju pohon dan mendapati jika hari sudah siang.
“Tapi kenapa disini gelap? Padahal aku bisa melihat matahari memancar indah di atas sana.” Sadewa tidak menghiraukan rasa laparnya. Dia terjebak dalam pikirannya sendiri.
Keadaan di dalam jurang ini sangatlah aneh.
Di depan Sadewa, sudah berjejer pepohonan rindang dan bentuknya hampir sama seperti hutan belantara di sekitaran Lembah Seratus Pedang. Dia tidak tahu kalau letak tempat ini ada di inti bumi, tepat di bagian tengah Bukit Kabut.
“Bukan, ini bukan hutan biasa,” lirih Sadewa sembari menepis pertanyaan-pertanyaan aneh yang terus menghantui pikirannya.
Eugh!
Perut Sadewa berbunyi dan dirinya kelaparan karena sudah dua hari tidak makan apapun.
Selama enam belas tahun hidup, baru kali ini Sadewa melihat buah yang bentuknya lonjong namun memiliki kulit berwarna kecokelatan. Seperti buah sawo, tapi panjang dan lebarnya setara pepaya.
__ADS_1
Lelaki itu sepertinya lupa untuk membawa kitab kuno Dewa Pasha dan Mustika Merah yang terpatri di gagang tengah Pedang Kalacakra.