
“Apa maksudmu menganaktirikan tetua satu dan tetua dua? Kalian berdua sekongkol dan ingin mengajakku bertarung?” Ki Aluna Prabu mengeluarkan Pedang Mata Langit.
Prabu Jangkar Turi menenangkan suasana.
Melesat dengan kecepatan tinggi dibantu ilmu meringankan tubuh, tetua tiga merebut Pedang Mata Langit dari tangan Ki Aluna untuk meminimalisir resiko pertumpahan darah yang akan terjadi.
Seperti yang dikatakan Ki Aluna saat mengenalkan diri kepada Sadewa, bahwa Pedang Mata Langit dapat membelah sebuah gunung hanya dengan satu tebasan. Tidak bisa dibayangkan apabila Ki Aluna mengayunkan pedangnya dan membuat Bukit Kabut terbelah jadi dua.
“Jagaraksa, aku tahu kau termasuk salah satu yang disegani dalam mengendalikan emosi. Tetaplah dalam kondisi dingin, jangan terpancing apapun karena ketika dua api bertemu, pasti terbentuk kobaran yang jauh lebih panas. Aku tidak mau kobaran itu membakar seisi perguruan hanya karena masalah kecil.”
Prabu Jangkar Turi menengahi urusan ini.
Perlahan namun pasti, tetua tiga mengalihkan perbincangan menuju hal yang kiranya bisa mencairkan suasana. Pedang Mata Langit milik Ki Aluna sementara disegel kekuatannya menggunakan batu laut yang dicampur dengan bubuk belerang khusus.
Menyadari pertemuan ini tidak bisa dilangsungkan lama, Raden Bratasena langsung menjelaskan bahwa alasan dia membuat keputusan sepihak adalah memuaskan ego milik Pinanggih Anom. Sang ketua juga yakin kalau Pinanggih Anom mustahil menang melawan Ki Jagaraksa.
“Berhubung mereka sedang bertarung, terpaksa aku harus menyerahkan urusan ini pada tetua dua. Sama halnya ketika kau yang terlibat masalah dengan Pinanggih Anom, Aluna. Aku pasti mengatakan hal yang sama, meskipun itu di depan seluruh murid.”
“Cara paling tepat meredam seseorang egois seperti Pinanggih Anom adalah memuaskan hasrat dan nafsunya akan pertarungan.”
“Aku sudah memikirkannya matang-matang. Aku juga tahu keributan yang terjadi. Aku pun tahu Sadewa yang pingsan karena ulah Pinanggih Anom. Sampai aku menyuruh Jagaraksa turun tangan mengatasi masalah tersebut, tapi ternyata semua terjadi di luar perkiraanku.”
Hela nafas sejenak dan sembari mengisi gelasnya yang kosong, Raden Bratasena melanjutkan penjelasannya. “Kau mungkin penasaran, Aluna, kenapa aku memilih Jagaraksa dari pada dirimu.”
Ki Aluna Prabu yang amarahnya sudah mulai reda, memanggut-manggut paham. Dia duduk di samping Prabu Jangkar Turi setelah mengambil Pedang Mata Langit yang diletakkan di atas meja penuh belerang penyegel.
“Pedang Jalakumbang milik Jagaraksa sudah melegenda di seluruh Nusantara. Bukan berarti pedang miliknya lebih kuat dari pedang milikmu, tidak ada yang mengatakan demikian. Akan tetapi, pedang milik Jagaraksa memiliki ceritanya sendiri. Awalnya, aku berpikir Pinanggih Anom takut melihat kengerian Pedang Jalakumbang dengan mitos kutukannya yang semua murid perguruan sudah mengetahuinya.”
__ADS_1
“Pedang Mata Langit sebenarnya punya cerita yang lebih kelam,” sahut Ki Aluna, pelan.
Raden Bratasena tersenyum. “Tapi hanya segelintir orang yang tahu cerita di balik tertempanya Pedang Mata Langit, bahkan murid di sini tidak tahu, kecuali Mahesa seorang.”
Amarah sudah mulai reda.
Raden Bratasena memanfaatkan momen ini untuk membahas bagaimana kelanjutan Sadewa Pasha yang harus ditempa sedemikian rupa agar dia bisa menggunakan dua sampai delapan persen kekuatan Pedang Kalacakra milik Dewa Pasha.
“Waktu kita menempa Sadewa hanya enam bulan. Dia harus mengembara seperti dua murid kita yang berhasil menyelesaikan ujian tahap akhir. Bahkan, keduanya berhasil membuat kulit kalian bertiga berdarah, walau hanya satu goresan.”
Ujian akhir beda dengan tingkatan akhir.
Lembah Seratus Pedang menerapkan sistem baru untuk meluluskan murid yang berguru di sini. Lebih-lebih, semua murid perguruan ini terdiri dari anak buangan, atau anak yatim-piatu yang orang tuanya dibunuh oleh pendekar aliran hitam.
Tingkatan akhir murid Lembah Seratus Pedang adalah mereka yang memegang lencana giok dan sudah melewati batas akhir Tulang Macan Suci.
Namun, semua itu tidak masuk kategori ujian akhir.
Ada tiga tahapan yang harus ditempuh apabila murid Lembah Seratus Pedang ingin mengembara ke luar perguruan guna mencari ilmu, hakikat, dan kekuatan baru.
Tahapan pertama adalah mereka mendapat pengakuan dari delapan puluh persen murid bahwa mereka memang benar-benar musuh yang hampir mustahil dikalahkan.
Tahapan selanjutnya adalah mereka harus mendapat lencana giok dan memiliki kualitas tulang setingkat Tulang Macan Suci atau di atasnya.
Tahapan akhir dari ujian ini adalah pengakuan dua dari tiga tetua perguruan yang mana mereka harus bertarung guna memperebutkan cap bahwa mereka layak untuk mengambil ilmu baru.
Tiga tahapan ini yang jadi prinsip utama Raden Bratasena ketika memimpin Lembah Seratus Pedang. Seperti kata pepatah, guru yang berhasil adalah guru yang berhasil menjadikan muridnya jauh lebih berhasil. Dalam urusan ini, murid harus lebih kuat dari guru. Atau setidaknya, mereka berhasil mengimbangi kekuatan sang guru dengan waktu yang sudah ditentukan.
__ADS_1
“Apa kau yakin dalam tiga bulan ini Sadewa berhasil menumbangkan Pinanggih Anom yang terkenal kuat dan tidak kenal ampun?” Prabu Jangkar Turi meragukan Sadewa.
“Festival Kembang Siluman adalah festival sakral. Kita tahu, kekuatan pedang Sadewa Pahsa adalah yang terkuat di dunia. Tapi, peserta festival ini hanya boleh menggunakan pedang kayu yang memiliki ukuran dan berat berubah-ubah. Di sini titik lemah Sadewa.”
Ki Aluna Prabu ambil alih perbincangan. “Aku setuju denganmu, Ketua. Sadewa Pasha punya energi dan ketahanan fisik yang jauh lebih tinggi dari pada Pinanggih Anom. Belum lagi menurut kitab Pedang Pembasmi Raksasa, Pedang Kalacakra bisa memindahkan energi alam yang ada dalam jarak empat puluh tombak di sekitarnya, masuk ke dalam tubuh si pemilik pedang. Dan yang terpenting, tekad serta kegigihannya yang tidak dimiliki semua murid perguruan.”
“Satu dari kalian harus memberi latihan khusus pada Sadewa.” Raden Bratasena mempersilakan satu dari tiga tetua mengajukan diri, tapi matanya terfokus pada Prabu Jangkar Turi.
“Baik. Baiklah. Meskipun mulutmu memberi kita kesempatan untuk angkat tangan, pandangan matamu selalu condong pada satu orang. Aku siap memberinya pelajaran tambahan di malam hari.”
“Itu berarti, ada dua orang yang aku beri kepercayaan mendidik pemuda berkuncir. Mahesa dan kau, Jangkar Turi. Ajari dia sesuai porsinya, jangan berlebih, jangan juga kurang! Aku yakin, dia bisa menyerap semua yang kau ajarkan dalam dua minggu.”
“Kita lihat saja nanti,” pungkas Prabu Jangkar Turi.
Dalam dua minggu ini, Sadewa mendapat jatah ginseng hitam lebih banyak dari pada murid-murid lain. Jika seluruh murid Tulang Macan Menengah mendapat lima sesi latihan setiap harinya, maka Sadewa harus menjalani tujuh sesi latihan dengan dua sesi latihan tambahan dari Prabu Jangkar Turi dan Mahesa.
Semua itu demi kemaslahatan Sadewa yang merupakan titisan Dewa Pasha yang dalam legenda diceritakan sebagai Dewa Penyelamat Bumi dari era kehancuran.
Hari demi hari berlalu.
Sadewa menunjukkan perubahan pesat. Bahkan, dia berhasil mengalahkan Reksa, ketua Asrama Pedang Biru yang juga merupakan pendekar terkuat kedua lencana emas dalam sesi latihan singkat yang diadakan setiap akhir pekan.
Tak terasa, tiga minggu berlalu. Tibalah hari pelaksaan festival. Semua murid berkumpul di lapangan utama. Beberapa petinggi Serikat Pendekar Nusantara diundang untuk melihat murid-murid berbakat yang dimiliki Lembah Seratus Pedang.
Suasana riuh menjadi satu. Sorak sorai murid yang menonton terdengar sampai aula para tetua yang letaknya berjarak seratus tombak dari gerbang terluar perguruan.
“Itu Sadewa, aku harus mengalahkannya dan membuat pemuda berkuncir itu malu sampai tujuh turunan! Dia harus diberi pelajaran. Tunggulah, aku akan menghabisimu dalam pertarungan!” Pinanggih Anom mencengkeram gagang pedangnya kuat-kuat.
__ADS_1