
Festival Kembang Siluman merupakan festival rutin yang diadakan oleh Lembah Seratus Pedang.
Undangan tidak hanya disebar untuk kalangan petinggi Serikat Pendekar Nusantara, tetapi juga untuk kerajaan-kerajaan besar yang berafiliasi dengan Lembah Seratus Pedang, baik itu bantuan dari sisi pangan, sandang, ataupun berpartisipasi dengan mengirim anak yatim piatu yang akan digembleng jadi murid unggulan di sana.
Susunan penonton dibagi menjadi tiga jenis.
Meja paling depan dipersiapkan untuk tamu undangan yang sebentar lagi hadir. Raden Bratasena menjemput mereka dengan Ilusi Bratasena agar lokasi Lembah Seratus Pedang tetap rahasia.
“Kau ingin bertaruh?” Reksa membuka percakapan. Dia duduk di baris paling atas bersama penghuni Asrama Api Biru yang lain. “Pedangku yang jadi jaminan. Pedang ini diwariskan turun-temurun dari leluhurku, bahkan Ki Aluna Prabu mengakui kehebatan pedang ini.”
Jendam Langit mengelus jenggotnya. “Menarik, tapi aku tidak punya barang berharga untuk bertaruh denganmu. Seratus keping perunggu tidak cukup untuk menghargai pedang pemberian mendiang orang tuamu, Reksa.”
“Tidak masalah.” Reksa tersenyum. “Pedang itu sebagai cambuk semangat agar aku bisa merebutnya kembali dari tanganmu. Tentu saja, kita bertarung untuk kesekian kalinya di festival tahun depan.”
__ADS_1
“Ini pilihan sulit.” Ankara Pati tiba-tiba datang. Dia membawa enam gelas kopi panas untuk menemani perbincangan. “Tapi, yang paling menarik perhatian di sini adalah Sadewa Pasha. Perkembangannya di luar dugaan semua murid.”
Arjuna, pemegang lencana giok yang juga tinggal di Asrama Pedang Biru, ikut angkat bicara. Sebagai murid terkuat di Asrama Pedang Biru, tentu saja pendapat Arjuna bisa dipertimbangkan.
“Menurutku, Sadewa dapat porsi latihan khusus. Entah kapan waktunya, mungkin malam hari, atau bahkan menjelang Subuh saat kita semua tidur. Gerakannya mirip seperti gerakan Mahesa.” Arjuna diam sejenak, melihat sekeliling.
“Aku tidak sembarang berkata dan berpendapat. Dalam tiga tahun terakhir, aku sering mengadakan tarung singkat dengan Mahesa. Dan ketika melihat Sadewa bertarung melawan Reksa kemarin, aku semakin yakin ada campur tangan Mahesa dalam kemajuan pesat Sadewa Pasha. Dialah pemeran utamanya.”
Pertarungan Reksa dan Sadewa berlangsung seminggu yang lalu.
Sadewa sempat kewalahan di awal pertandingan, apalagi Reksa menggunakan Pedang Taring-nya untuk menyerang Sadewa dari segala sisi.
Namun, karena kecerdasan dan bakat yang dia miliki, Sadewa berhasil lolos dari serangan pamungkas Reksa yang mengincar urat nadi leher kirinya. Sadewa lantas melakukan gerakan memutar di udara, menyeimbangkan tubuh sembari mencari waktu yang tepat untuk menyerang.
__ADS_1
Lima menit bertahan tentu menguras energi, tapi itulah cara yang diajari Mahesa kala tahu Sadewa akan melawan Reksa yang memiliki dominasi dalam serangan dan pertahanan, tapi lemah dalam hal stamina.
Ctang!
Ki Aluna Prabu melesat tak kasat mata, menggagalkan serangan terakhir Sadewa Pasha.
“Pemenangnya Sadewa.” Ki Aluna lantas menyuruh semua murid duduk melingkar. “Reksa sudah kehabisan energi. Aliran chi-nya terhenti di bagian lengan kiri, sementara lengan kirinya ada di posisi terlemah. Benarkah begitu, Reksa?”
Reksa tidak sombong, dia mengakui kalau Sadewa jauh lebih cerdas dan memiliki strategi matang ketika bertarung satu lawan satu. “Mengakui kekalahan bukan berarti kita kalah. Justru itu bisa membuat kita lebih kuat karena kita sadar, masih ada banyak sekali lawan kuat di luaran sana.”
Arjuna turut hadir dalam pertandingan waktu itu. Dia langsung menghampiri Mahesa yang sedang duduk bersila di dekat pohon randu samping gerbang depan perguruan.
“Muridmu menang melawan Reksa.” Arjuna duduk dan menepuk pundak Mahesa.
__ADS_1
“Aku sudah menduganya, semua sesuai yang aku harapkan. Dia sangat kuat, bahkan aku ragu jika aku melawannya nanti di Festival Kembang Siluman. Semua ilmu yang kupelajari dalam sepuluh tahun, dia bisa menguasainya hanya dalam waktu sepuluh hari. Dia berbakat. Sangat berbakat!”
“Tidak heran gerakannya sama sepertimu, lebih suka menghindari serangan musuh dengan ilmu meringankan tubuh dari pada menangkisnya.”