
Ctas!
Satu tangkisan cepat dilakukan pria paruh baya.
Pintu yang ada di seberang masih seperti sedia kala, digembok dua besi yang mustahil ketika orang membukanya, tidak terdengar suara sedikitpun.
“Tenanglah, aku yang membawamu ke sini,” kata sang kakek. “Namaku Raden Bratasena, sahabat karib Mayapada, orang yang telah menyelamatkanmu dari hukuman gantung. Dia sudah menceritakan semuanya.”
“Brata-Bratasena? Kakek adalah laki-laki yang kutemui di alam mimpi, benarkah?” Sadewa masih melongo. Matanya tidak berkedip melihat sosok Raden Bratasena, pendiri sekaligus ketua perguruan Lembah Seratus Pedang.
“Maaf telah mengganggu ketenanganmu. Kejadian empat hari lalu, lupakan! Itu tidak penting.”
“Empat hari? Bagaimana bisa? Aku tidak ingat apapun. Hal terakhir yang terbayang adalah aku terjatuh ke dalam jurang karena Kakek yang mendorongku. Siang hari. Aku ingat, itu terjadi siang hari ini.”
“Beban batin dan kekuatan Pedang Kalacakra membuatmu tidur cukup lama. Energi kehidupanmu hampir saja musnah bila aku tidak menotok chi dan pusat energi di leher kirimu.”
“Lalu, kenapa Kakek mendorongku ke dalam jurang?”
__ADS_1
“Sebenarnya, itu alam ilusi. Kau tidak benar-benar jatuh ke dalam jurang. Apa kau ingat ketika tubuhmu tidak bisa digerakkan, lalu kau bisa berlari kencang setelah aku menjetikkan jari?” Raden Bratasena mengelus kuncir rambut Sadewa.
“Ingat. Kakek memintaku kabur dan memberiku waktu selama dua menit.”
Sadewa diajak keluar melihat murid-murid seusianya berlatih. Raden Bratasena memperkenalkan Sadewa Pasha pada tiga tetua pemilik tiga pedang terkuat di tanah Jawa.
“Sadewa berarti diberkati oleh para Dewa, sedangkan Pasha memiliki makna rendah hati, unik, dan langka. Nama itu disematkan seorang pertapa yang orang-orang mengenalnya sebagai Pendekar Tanpa Nama. Dia adalah satu dari empat pendekar terkuat di Nusantara.”
“Pendekar yang memiliki nama belakang Pasha akan tumbuh menjadi pendekar hebat dan tak terkalahkan. Sesuai maknanya, unik dan langka, kau adalah satu-satunya pendekar yang bisa bertahan dengan menyandang nama belakang Pasha.”
Sadewa Pasha menyimak penjelasan Raden Bratasena. Dia tidak bisa percaya begitu saja, apalagi Raden Bratasena menyebutnya sebagai pemuda langka yang hanya terlahir seribu sekali.
Kalaupun dirinya terpilih menjadi penerus kekuatan Dewa, kenapa nasibnya selalu sial?
“Namaku Aluna Prabu, kau bisa memanggilku Aluna. Aku adalah tetua satu Lembah Seratus Pedang sekaligus pemilik Pedang Mata Langit, salah satu pedang terkutuk.” Ki Aluna Prabu menyalami Sadewa, lantas memeluknya.
“Sekarang giliranmu, Jaga Raksa.” Raden Bratasena mempersilakan pria bercelana komprang bicara.
__ADS_1
“Panggil saja Raksa, tidak penting apakah kau tahu nama pedangku atau tidak.” Ki Jaga Raksa terkenal sangat ketus terhadap siapapun. Dia hampir tidak pernah bicara kecuali dalam pertarungan atau Raden Bratasena yang memintanya untuk bicara.
“Jaga Raksa adalah tetua dua. Dia bertanggung jawab sebagai penjaga Lembah Seratus Pedang dari serangan siluman. Sedangkan Aluna Prabu, punya tugas melatih murid-murid kaidah dasar berpedang dan bagaimana cara memusatkan energi ke dalam tubuh.”
Sadewa Pasha hanya mengangguk, lantas menjabat tangan Ki Jaga Raksa.
“Prabu Jangkar Turi, aku pemilik pedang terkutuk Shinra. Pedang ini bisa membelah gunung dengan satu tebasan. Namun, pedang ini sangat susah dikendalikan. Banyak sekali pendekar pedang meninggal karena energi kehidupan mereka diserap Pedang Shinra. Aku adalah tetua tiga di sini. Tugasku mengajari kaidah lanjut berpedang.”
Usai berkenalan dengan tiga tetua, Raden Bratasena menjelaskan kepada Sadewa bahwa Kerajaan Basundara tidak bisa diselamatkan lagi.
Panglima Jalak Putih mengambil alih kekuasaan. Jabatan mahapatih membuatnya bebas memberi ultimatum pada siapapun yang melawan, tak terkecuali Raja Maheswara.
Kerajaan Basundara yang dulunya dianggap sebagai salah satu kerajaan paling makmur di daratan Jawa, hanya dalam empat hari, berubah menjadi kerajaan yang sangat tertutup kepada siapapun. Bahkan, pedagang yang biasa menukar barang bawaan mereka dengan kepingan perak dan perunggu, diusir mentah-mentah oleh penjaga perbatasan.
“Mayapada menitipkan salam padamu. Dia meninggal dua hari lalu karena kekuatannya diserap sosok iblis yang bersekutu dengan orang-orang kerajaan. Panglima Jalak Putih dicurigai sebagai dalang di balik terbunuhnya Mahapatih Mayapada.”
“Me-meninggal?” Sadewa terenyuh.
__ADS_1