
Lelaki itu berpakaian putih polos dengan celana komprang hitam. Rambutnya ikal, tapi tak terlalu ikal. Dagunya lancip dengan tambahan dua lesung pipi. Matanya yang agak sipit menatap tajam Prabu Jangkar Turi hingga tetua tiga pingsan di tempat.
Sadewa yang waktu itu sudah siuman, langsung sigap memasang kuda-kuda bertahan, tapi tangan Ki Seno Aji segera menepuk pundak pemuda berkuncir. “Bukan masalah, sifatnya memang sedikit aneh. Biarkan dia masuk, aku yang memintanya datang!”
“Urusan segenting apa hingga kau menyuruhku datang ke tempat terpencil seperti ini?” Sang lelaki masuk tanpa memperdulikan jasad Prabu Jangkar Turi yang masih pingsan di ambang pintu.
Sadewa ketakutan.
Aura yang terpancar dari mata sipit sang lelaki sangat menyeramkan. Tubuh Sadewa perlahan membungkuk karena tekanan energi yang begitu kuat.
Ki Seno hanya menyunggingkan senyum. “Kau tidak bisa membuat pemuda ini pingsan. Dia diberkahi kekuatan Dewa, seperti yang kuceritakan padamu. Alasan kenapa aku menyuruhmu datang adalah untuk mengenalkannya padamu.”
“Siapa dia? Kenapa kekuatan Haki Rajaku tidak berfungsi? Pendekar lemah harusnya pingsan begitu bertatap mata denganku, tapi pemuda ini ... sialan!”
“Bukankah sudah kubilang, dia pemuda istimewa. Jika kau tanya urusan segenting apa sehingga aku menyuruhmu keluar dari kandang pertapaan, maka inilah jawabannya.” Ki Seno menyuruh pria itu duduk. “Bahkan, sebelum kau berbincang, kau sudah takjub karena Haki Rajamu yang terkenal paling kuat di seluruh alam semesta, tidak mempan kepada pemuda berusia 16 tahun.”
Tanpa diperintah, Sadewa menjulurkan tangannya yang langsung ditolak mentah-mentah oleh pria misterius itu.
__ADS_1
“Jangan seolah-olah kau kenal denganku!” pemuda itu terus menggunakan nada tinggi ketika bicara, bahkan saat menghadap Ki Seno Aji.
Sang pertapa menarik tangan pria misterius itu sehingga mau tidak mau dia harus berjabat tangan dengan Sadewa dan memperkenalkan diri sebagai Pendekar Tanpa Nama.
“Di-dia...” Sadewa terbelalak.
“Benar, Sadewa, dialah sosok Prabu Dwipangga yang selama ini dianggap sebagai Pendekar Tanpa Nama karena kemisteriusannya.” Ki Seno Aji menyuruh mereka semua duduk.
Sadewa diminta mengangkat tubuh Prabu Jangkar Turi ke atas ranjang, lantas menutup pintunya.
Tak berselang lama, dua pemegang mustika terakhir datang. Empu Ganda Wirakerti dengan wujud bangaunya dan Datuk Lembu Sora yang merubah sekujur tubuhnya dengan kulit kecokelatan bak tanah liat.
“Mana Bratasena?” tanya Datuk Lembu Sora.
Ki Seno Aji menunjuk arah Utara. “Dia sedang mendamaikan konflik. Mahesa dan Feng Shui dalam bencana. Pinanggih Anom kembali membuat rusuh Asrama Pedang Merah tempat dua pendekar lencana giok itu dirawat.”
“Baguslah, kita punya waktu untuk membuka segel tato gagak di leher kiri Sadewa,” balas Prabu Dwipangga. “Aku siap mewariskan kekuatan Haki Raja dan Haki Panglima jika memang dia adalah titisan Dewa Pasha, Sang Dewa Keselamatan.”
__ADS_1
“Kau ingin mewariskannya sekarang?” sergah Empu Ganda Wirakerti.
Prabu Dwipangga hanya mengangguk. Dia lantas berdiri dan mengambil sebuah kantong merah yang diletakkan dalam relung ilusi putih.
“Abah Suradira pasti tidak rela serbuk itu kita gunakan begitu saja! Aku sudah mencarinya. Aku berhasil membunuh dua siluman naga hitam yang selama ini menjaga Bukit Gandaria di ujung Selatan pulau Andalas.”
Empu Ganda Wirakerti dan Datuk Lembu Sora hanya bisa menggelengkan kepala.
Menurut legenda, ada dua siluman naga yang selama ini menjaga pulau Andalas dari serangan orang-orang luar. Sarang keduanya berada di puncak Bukit yang dinamai masyarakat dengan sebutan Gandaria, dikaitkan dengan tanaman yang hanya muncul di daerah tersebut.
Siluman naga ini saling melengkapi, mereka bernama Jandira dan Jandara.
Jandara adalah siluman naga dengan sisik hitam bergariskan merah. Dia suka menghancurkan apapun yang mengancam kemaslahatan pulau Andalas. (di masa sekarang disebut sebagai pulau Sumatera)
Kekuatan utama Jandara adalah api hitam yang tidak bisa dipadamkan oleh apapun, kecuali semburan elemen air pasangannya, Jandira.
Jandira sendiri memiliki elemen air dan angin sebagai penetral kekuatan Jandara. Dia adalah spesies naga betina yang tidak suka keributan dan lebih memilih damai. Namun, ketika dia diganggu, pendekar sekuat apapun pasti tumbang karena Jandira memiliki kebengisan dan kebrutalan yang jauh lebih dahsyat dari pada naga jantan Jandara.
__ADS_1