
Trang!
Suara goresan dua besi terdengar nyaring.
Sadewa Pasha mengayunkan Pedang Kalacakra dan berhasil menangkis tiga pedang sekaligus.
Kualitas besi dan baja pedang berpengaruh terhadap kekuatan pedang itu sendiri. Sekuat apapun pendekar pedang, bilamana bahan yang digunakan untuk membuat pedangnya adalah bahan biasa, dia pasti kalah ketika beradu ketajaman.
Tujuh prajurit yang dipimpin Baluga, ketua pleton satu, terbelalak melihat lingkaran hitam yang menyedot apapun dalam jarak satu tombak.
“Selamat tinggal, tunggu pembalasan kami!” Mahapatih Mayapada tersenyum kepada Baluga, lalu menghilang terserap relung ilusi.
...
Sadewa Pasha dan Anang dibawa menuju dua tempat berbeda.
Anang diberi mandat merawat satu kampung yang terkenal dengan dua hal, penyakit langka dan busung lapar. Pengalamannya sebagai petani dan tabib utama istana membuat Mahapatih Mayapada percaya jika Anang adalah orang yang tepat untuk mengurus ini.
Sedangkan Sadewa Pasha, dia dibawa menuju Lembah Seratus Pedang yang letaknya ada di puncak Bukit Kabut.
Dari berbagai bukit yang ada di Nusantara, hanya Bukit Kabut yang dikenal paling mengerikan. Siapapun yang menaiki bukit ini, pasti tersesat dan tidak akan kembali, meskipun itu pendekar tingkat naga sekalipun.
“Energiku sudah hampir habis. Masuklah ke dalam perguruan seorang diri dan katakan aku yang membawamu ke sini! Aku harus segera pergi. Semoga kau menjadi pendekar sejati yang membela kebenaran tanpa pandang bulu.”
Mahapatih Mayapada memeluk Sadewa dalam waktu yang cukup lama. Dia lantas pergi entah ke mana, hanya dia yang tahu. Relung ilusi tertutup dan hanya Mahapatih Mayapada yang tersedot masuk.
Sadewa Pasha mulai mendekati gerbang perguruan. Hawa panas terasa, bercampur aura ngeri yang membuat bulu kuduknya merinding. Tak lama, muncul seorang kakek tua dari belakang Sadewa. Kakek itu membawa sebilah pisau kecil.
Crat!
Pelipis kiri Sadewa tergores. Dia berteriak sangat keras. Si kakek segera membungkam mulut Sadewa lalu mengancam pemuda itu dengan pisau kecil yang dia pegang.
“Katakan, apa maumu di sini?!”
“A-aku diberi mandat oleh,” Sadewa belum sempat menyelesaikan kalimatnya, si kakek langsung menghajar Sadewa Pasha sampai babak belur.
__ADS_1
“Mahapatih Mayapada membawaku ke sini!” Sadewa membentak sang kakek. Meskipun begitu, pukulan dan tendangan terus dilayangkan. Sadewa akhirnya memberontak. Dia keluarkan Pedang Kalacakra dari sarungnya, lalu pedang itu memancarkan cahaya merah keemasan yang menghapus seluruh kabut di puncak bukit.
“Maafkan aku, Sadewa,” lirih sang kakek. “Aku harus membuatmu pingsan sebelum keberadaan Pedang Kalacakra diketahui orang-orang aliran hitam.”
Satu totokan di leher membuat Sadewa mati rasa. Tubuhnya mendadak kaku. Tangan dan kakinya tidak bisa digerakkan. Sekuat apapun dia mencoba, hasilnya tetap sama. Dia lumpuh total. Bahkan untuk bernafas saja rasanya sangat sulit.
Karena aliran darah yang tersumbat, pandangan mata Sadewa perlahan nanar.
Gelap.
...
“Jangan biarkan aku tersiksa seperti ini! Kalau kau berniat membunuhku, lakukan saja! Aku tidak punya harapan hidup lagi di dunia. Orang tuaku mati karena pembantaian orang-orang aliran hitam. Saudaraku dibunuh. Sahabat karibku diasingkan dan dituduh bekerja sama denganku menghamili lima orang gadis. Apalagi yang bisa diharapkan dariku yang tidaka berguna ini?”
Sadewa langsung membentak kakek tua itu, meskipun tubuhnya masih sama, tidak bisa digerakkan sama sekali.
Sang kakek tidak menggubris ucapan Sadewa, dia masih membisu. Sembari menyeduh bubuk kopi, kakek tua berjenggot kecoklatan itu menghirup aromanya, lalu mengembuskannya kembali ke wajah Sadewa.
Seketika Sadewa teringat sosok Ki Bratasena, orang yang ditemui Sadewa dalam mimpinya sebelum hari penghakiman gantung tiba.
“Ja-jangan bilang kau Ki Bratasena yang kutemui dalam mimpi!” Sadewa meneguk ludah. Pasti ada kaitannya mimpi itu dengan empat pendekar berpakaian serba putih yang memanggilnya dengan sebutan Dewa.
Pedang kecil milik kakek tua bersentuhan langsung dengan urat nadi Sadewa, tepat di leher kiri. Hanya dengan tekanan kecil, pedang itu perlahan menggores leher kiri Sadewa. Darah mengalir deras. Sadewa tidak bisa berbuat banyak selain pasrah.
“Kuberi waktu dua menit, kaburlah selagi kau bisa!”
Ctis!
Jentikan jari terdengar.
Sadewa terkejut, tubuhnya bisa digerakkan lagi. Yang awalnya lumpuh dan tak berdaya, sekarang penuh energi. Dia lari bagai mangsa yang dikejar macan kelaparan. Tak peduli berapa kali ranting menggores telapak kakinya, pemuda berkuncir terus berlari sampai di tepian jurang.
“Sial, tidak ada jalan lain!” Sadewa menggerutu. “Aku tidak bisa meloncat. Jurang ini terlalu dalam. Hanya gelap. Pasti jurang ini tidak memiliki dasar.”
Saat memutar otak, tiba-tiba terasa hembusan nafas seseorang dari balik punggung Sadewa.
__ADS_1
“Waktumu sudah habis.”
Sang kakek mendorong tubuh Sadewa. Teriakan nyaring terdengar. Permintaan tolong itu tidak digubris sedikitpun. Dewa Penolong nampaknya enggan menyelamatkan Sadewa dari malaikat maut yang berbentuk seorang kakek tua berjenggot kecoklatan.
Perlahan, teriakan itu mengecil, lantas hilang.
...
“Raden, kenapa kau bawa pemuda asing ke Lembah Seratus Pedang? Pemuda ini tidak jelas asal-usulnya. Kita tidak tahu apakah dia penyusup, pemberontak, atau mata-mata yang sedang menyamar. Harusnya Raden lebih berhati-hati mengingat tidak seorang pun tahu posisi Lembah Seratus Pedang kecuali murid-murid khusus.”
Ki Aluna Prabu, salah satu dari tiga tetua terkuat Lembah Seratus Pedang, menyayangkan keputusan sepihak ketua perguruan.
“Aku ketua di sini. Aku berhak membuat keputusanku sendiri. Tapi, pemuda ini berbeda. Jangan kau ragukan dia! Dia adalah pembawa kabar baik yang tertulis di kitab Pedang Pembasmi Raksasa.” Kakek berjenggot kecoklatan menatap tajam ke arah Ki Aluna Prabu.
“Kalaupun dia adalah mata-mata, aku yang akan bertanggung jawab penuh. Kau tahu, aku tidak segan membunuh seorang penghianat, bahkan mengirim kepala dan telinga mereka secara terpisah ke tempat orang yang mengutus mereka.”
“Baik, Raden, aku tidak akan membantah.”
Usai dua petinggi Lembah Seratus Pedang itu keluar, barulah Sadewa terbangun. Hal pertama yang dia lihat adalah jejeran ranjang beralaskan kain randu corak. Ruangan ini cukup luas untuk ditempati dua puluhan orang.
Sadewa Pasha penasaran bagaimana dia bisa berada di sini. Pasalnya, dia tidak ingat apa yang baru saja terjadi. Semakin dia berusaha mengingat, kepalanya terasa semakin sakit.
Untuk sesaat, Sadewa pura-pura terlelap karena suara derap kaki seseorang yang masuk. Samar-samar Sadewa mendengar namanya disebut oleh tiga orang pemuda. Pemuda berkuncir coba mengintip, ternyata ada lima orang yang masuk. Mereka menggunakan pakaian sama, atasan pendek dengan sobekan di bagian kiri bawah.
Salah satu dari mereka menatap selimut Sadewa Pasha, lalu berpaling. Dia menyunggingkan senyum.
“Sadewa Pasha, nama yang bagus untuk seorang pendekar sejati. Aku harap, prediksi Raden tidak salah. Semoga dia bisa menjadi yang terkuat dan aku punya saingan sejati untuk memperebutkan posisi pertama di Lembah Seratus Pedang.”
Tak lama kemudian, mereka pergi, meninggalkan Sadewa seorang diri di dalam gubuk.
Rasa bosan mulai menyerang. Sadewa tidak sabar mengetahui apa sebenarnya Lembah Seratus Pedang dan maksud ucapan pemuda tadi. Hening menyelimuti, kemudian pecah karena suara sorak belasan pemuda dari arah pintu keluar.
Sadewa sebenarnya takut melihat keadaan di luar sana, tapi dia tidak bisa menahan kebosanannya. Dia ingin segera berlatih. Pasalnya, dia tidak pernah mendengar perguruan Lembah Seratus Pedang selama berada di Istana Basundara.
Begitu pintu dibuka lebih lebar, Sadewa terbelalak hebat. Dia menoleh ke belakang, memastikan tidak ada seorang pun di dalam ruangan ini. Pintu di seberang sana juga masih dikunci menggunakan dua gembok besi.
__ADS_1
Potret pertama yang ditangkap Sadewa adalah belasan anak seusianya sedang berlatih pedang di cekungan kecil. Masing-masing diberi pedang kayu. Ada beberapa batu bata disusun. Mereka harus menghancurkan minimal empat tumpukan batu bata dengan sekali ayunan pedang kayu agar bisa naik ke tingkat langit, tingkat yang lebih tinggi.
“Tertarik? Selamat datang di Lembah Seratus Pedang,” ucap laki-laki paruh baya yang tiba-tiba berdiri di belakang Sadewa, membuat pemuda berkuncir itu mengayunkan pukulan keras.