
Mahesa menoleh, dia lantas membenarkan posisi duduknya. “Sadewa sangat dominan di pertarungan udara. Beberapa kali dia hampir membuat kulitku berdarah jika saja aku tidak memaksanya bertarung dengan posisi kaki berpijak tanah.”
Arjuna menceritakan detil pertarungan Sadewa melawan Reksa dan Mahesa hanya bisa tersenyum. Dia bahagia Sadewa tumbuh jadi seorang pemberani dan cerdas.
“Aku harap, kau tidak memberitahukannya pada yang lain kalau selama ini Sadewa mendapat jam pelajaran tambahan dariku dan dari Prabu Jangkar Turi.” Mahesa pamit kepada Arjuna karena dia harus menemani Ki Aluna Prabu melatih murid Tulang Macan Muda.
Hari ini, Arjuna hampir saja melanggar janjinya pada Mahesa. “Tidak, tidak, aku hanya curiga, tapi kecurigaanku tak berdasar. Kita lihat saja di pertarungan berikutnya, Sadewa akan melawanmu, Jendam Langit.”
Semua murid Asrama Pedang Biru berdiri, mereka menyambut Sadewa yang datang terlambat dengan wajah penuh keringat. Ankara Pati dan Arjuna hanya tersenyum. Mereka tahu Sadewa sedang melatih jurus Pedang Tanpo Wujud di halaman belakang perguruan.
“Bagaimana, apa jurusmu sudah sempurna?” tanya Arjuna.
“Masih belum yakin, tapi kuusahakan yang terbaik. Jurus ini akan kupakai saat melawan Pinanggih Anom nanti. Aku harus bisa mengalahkan orang sombong itu dan menggapai tahta tertinggi murid Lembah Seratus Pedang!”
__ADS_1
“Jangan terlalu berharap, Sadewa, lawanmu nanti adalah aku.” Jendam Langit mengulurkan tangan dan Sadewa dengan senang hati menjabatnya.
“Kakanda, jangan karena alasan aku murid baru kau akan menahan diri untuk melawanku! Keluarkan kemampuan terbaikmu, Kakanda, aku pasti bisa mengalahkanmu di pertandingan sore hari nanti.”
Jendam Langit tidak marah mendengar itu.
Asrama Pedang Biru adalah satu dari empat asrama yang ada di Lembah Seratus Pedang. Asrama ini selalu melahirkan pendekar kuat, namun berbudi pekerti luhur. Jiwa persaingan mereka sangatlah sehat. Bahkan, mereka tak segan berbagi ilmu pada Sadewa meski mereka tahu, di kemudian hari, mereka akan dikalahkan Sadewa yang menggunakan ilmu mereka.
Di sisi lain, anggota Asrama Pedang Merah berkumpul di sudut baris kedua. Mereka duduk satu pleton, tidak duduk melingkar seperti yang dilakukan murid Asrama Pedang Biru.
Ketua asrama ini adalah Pinanggih Anom, dia sangat kejam dalam membuat keputusan. Karena itulah, sering terjadi perpecahan dan perkelahian di Asrama Pedang Merah, bahkan sempat ada kasus seorang murid meninggal karena dikeroyok tiga murid lain karena masalah sepele.
KIni, anggota Asrama Pedang Merah hanya tersisa enam orang. Keenam-enamnya merupakan teman dekat Pinanggih Anom. Mereka semua sangat licik. Mereka juga sering menganiaya murid baru untuk dijadikan pesuruh.
__ADS_1
“Festival Kembang Siluman akan dibuka lima menit lagi. Dimohon kepada seluruh ketua asrama mencatat siapa saja yang tidak hadir. Raden Bratasena berharap kalian semua hadir dan menyaksikan pertandingan.”
Tepat dua menit sebelum festival dimulai, sorak sorai terdengar dari bangku pojok kanan baris kedua. Pinanggih Anom berseteru dengan Feng Shui, murid asal negeri Sakura yang memiliki darah campuran Nusantara.
Adu mulut sempat memanas. Pinanggih Anom lebih dulu melakukan satu serangan dahsyat yang membuat beberapa murid melarikan diri.
Mahesa dan Arjuna langsung ambil sikap. Keduanya bersatu membentuk perisai energi yang membungkus Pinanggih Anom dan Feng Shui. Hal itu karena mereka tidak ingin ada satu pun murid terluka atas kegaduhan ini.
Ki Jagaraksa dengan Pedang Jalakumbangnya langsung membelah langit.
Kilat hitam menyambar Pinanggih Anom dan Feng Shui bersamaan hingga keduanya terkurung dalam perisai es. Kengerian itu tidak hanya dirasakan oleh murid-murid, tetapi juga Ki Aluna dan Prabu Jangkar Turi. Mereka sadar Ki Jagaraksa berada di level yang berbeda.
“Pedangku sudah lama tidak menelan darah manusia. Sampai festival ini selesai, tidak boleh ada satu pun yang membuat kegaduhan di sini atau kalian berurusan dengan aku dan pedangku. Kalian mengerti?!” Ki Jagaraksa tidak bercanda dalam hal ini.
__ADS_1