
Perbedaan waktu di alam ilusi dan alam dunia nyata sangatlah tampak.
Satu menit di alam ilusi, setara sepersekian detik di dunia nyata.
Satu jam di alam ilusi, setara satu detik di dunia nyata.
Sementara satu hari di alam ilusi, setara satu menit di dunia nyata.
...
Usai ledakan dahsyat yang menerbangkan keempat pendekar terkuat pemegang empat mustika berwarna, tubuh Sadewa terpental hingga ke ujung Bukit Kabut, bahkan jatuh ke dalam jurang. Itu yang dirasakan Sadewa ketika prosesi ritual Teknik Kunci Lima Rupa tahap satu selesai.
Padahal, ketika Ki Seno Aji membuka ritual, semua pendekar yang ikut andil tahap satu berada dalam relung ilusi yang terpancar dari mustika merah.
__ADS_1
Ledakan, kehancuran, kerusakan, serta kematian itu hanya sebatas ilusi yang seolah-olah tampak seperti dunia nyata.
Lembah Seratus Pedang tidak hancur. Pun ruangan Ketua Bratasena masih bersih seperti sedia kala. Bukit Kabut yang dalam dunia ilusi, puncaknya tidak lagi lancip, sebenarnya tidak berubah ketika dilihat dari sisi dunia nyata.
Raden Bratasena, Ki Aluna Prabu, dan Ki Jagaraksa tidak tahu kalau Ki Seno beserta tiga pendekar lain sedang melakukan ritual. Mereka fokus mendamaikan konflik yang semakin memanas karena Pinanggih Anom enggan menghentikan serangannya ke Asrama Api Merah.
Karena tidak punya pilihan, Ki Jagaraksa diminta mengangkat Pedang Jalakumbang tinggi-tinggi hingga gravitasi yang ada di sekitar Asrama Api Merah berguncang hebat.
Pinanggih Anom hilang keseimbangan dan kesempatan itu dimanfaatkan Ki Aluna Prabu.
Konflik semakin memanas ketika Feng Shui dan Mahesa terguyur air panas yang dibawa salah satu murid Tulang Macan Muda. Murid itu ceroboh sehingga tidak sengaja tersandung kayu ambang pintu.
Ki Aluna Prabu cepat-cepat mengeluarkan elemen air yang dicampur tanah untuk menetralkan panas.
__ADS_1
“Tidak perlu, aku bisa sendiri,” kata Feng Shui, dia pada dasarnya pengguna elemen es dan cahaya sehingga panas dari air yang dibawa murid Tulang Macan Muda bisa diibaratkan sebagai selimut tipis yang dipakai untuk menghangatkan es di kutub.
Usai konflik dirasa reda, para petinggi Lembah Seratus Pedang kembali ke ruangan ketua. Mereka terkejut begitu tahu yang ada di sana hanyalah Prabu Jangkar Turi yang pingsan di atas ranjang.
Sementara Sadewa dan empat pendekar pembawa mustika, pergi entah ke mana.
...
Sadewa menghabiskan dua bulan terakhirnya di alam ilusi untuk terus berlatih dari waktu ke waktu.
Porsi latihan yang selama ini diberikan Gatra hanyalah pola kuda-kuda dasar dan gerakan awal yang harus dihafal Sadewa sebelum dia beranjak ke pelajaran selanjutnya; ilmu tentang elemen yang bersinggungan satu sama lain.
Sadewa juga ditempa fisiknya sehingga ketika dia kembali ke dunia nyata, yang dalam hal ini adalah Lembah Seratus Pedang, dia sudah mencapai tingkat Tulang Macan Suci sehingga bisa mengimbangi kekuatan Mahesa dan Pinanggih Anom.
__ADS_1
Yang pasti, dalam dunia persilatan, bentuk tubuh dan kekuatan fisik akan berdampak besar pada gerakan, kelincahan, serta kekuatan dorong dari tendangan dan pukulan yang menjadi pondasi utama seorang pendekar.
“Aku harus terus berjuang. Aku tidak boleh menyerah setelah sampai di titik ini. Ingat, Guru, Sadewa akan jadi pendekar kuat yang disegani oleh seluruh pendekar di dunia!”