
“Aku tidak ingin bertarung”
Sadewa tidak sempat menangkis serangan Pinanggih Anom hingga pedang kayu itu mengenai tepat di tengkuk belakangnya.
Brak!
Pemuda berkuncir jatuh tidak sadarkan diri.
Suara yang keras membangunkan beberapa murid yang tinggal di Asrama Pedang Biru, rata-rata dihuni oleh murid Tulang Macan Liar. Seketika satu ruangan ricuh. Banyak yang menolong Sadewa dengan menotok beberapa urat nadinya.
“Ceroboh sekali dirimu, Pinanggih Anom!” Reksa, ketua Asrama Pedang Biru langsung mengambil tombak yang ada di ujung ruangan. Dia mengancam Pinanggih Anom.
Pinanggih Anom yang melihat hal itu, hanya bisa tertawa. “Mau melawanku? Jangan bercanda, Reksa! Apa kau lupa bagaimana aku mempermalukanmu di Festival Kembang Siluman lima tahun lalu. Umurmu tak setua bakatmu. Kau sudah usang. Kau sudah tidak layak lagi menjadi murid Lembah Seratus Pedang.”
“Aku menghormatimu sebagai satu dari dua pendekar terkuat di sini. Namun, sikapmu yang selalu semena-mena membuat kami, penghuni Asrama Pedang Biru, hilang hormat dan malah membencimu. Kalau saja kau seperti Mahesa, kau pasti diakui orang-orang sebagai yang terkuat di perguruan kita.”
“Reksa, apa tidak ada nama lain? Kenapa aku selalu dibandingkan dengan Mahesa? Festival Kembang Siluman tahun kemarin cukuplah menjadi bukti kalau aku berhasil menumbangkan Mahesa tiga kali, sedangkan dia hanya menang satu kali. Apa bukti itu tidak cukup agar kalian mengakuiku sebagai yang terkuat tahun ini?”
__ADS_1
“Kesombonganmu lebih tinggi dari kekuatanmu. Orang sombong tidak pantas menjadi yang terkuat. Percuma, suatu saat, kau pasti kalah oleh pemuda yang sudah kau curangi!”
“Jangan seenaknya bicara!” Pinanggih Anom memasang kuda-kuda menyerang. Walau hanya berbekal pedang kayu kecil, dia berani menentang Reksa yang membawa pedang besi dan mengajaknya berduel.
Reksa dibantu Jendam Langit dan Ankara Pati memojokkan Pinanggih Anom sehingga pria itu mundur beberapa langkah. Masing-masing dari mereka membawa pedang sepanjang ukuran lengan orang dewasa.
“Satu lawan tiga, menarik!” Pinanggih Anom sengaja mendekat ke ranjang paling ujung untuk mengambil sebilah pedang yang sudah dia siapkan sebelum menghadang Sadewa. “Meski kalian bersatu melawanku, kalian tidak akan menang.”
Blam!
Meski tidak sadarkan diri, kekuatan dalam tubuhnya tiba-tiba membara. Aura panas mulai terasa. Puncaknya, ketika tumpukan kayu yang ada di tengah lapangan tempat biasa murid-murid berlatih, mengobarkan api.
Semua murid penasaran apa yang terjadi. Namun, Pinanggih Anom tidak peduli sedikitpun. Dia mengajak Reksa, Jendam Langit, dan Ankara Patih adu kekuatan tiga lawan satu di tengah api unggun yang berkobar.
Reksa memulai serangan dengan jurus Pedang Memutar Angkasa, mengalirkan energi alam dalam tubuhnya sehingga membentuk segel lingkaran. Dari pusat lingkaran, keluar asap transparan yang melesat cepat ke tubuh Pinanggih Anom.
Jendam Langit dan Ankara Patih menyilangkan pedang mereka. Terbentuk cahaya kebiruan dari pedang milik Jendam Langit, sementara pedang milik Ankara Patih mengeluarkan butiran api.
__ADS_1
Serangan gabungan ini hanya bisa dilakukan mereka yang memiliki ikatan batin kuat.
Ankara Patih dan Jendam Langit tinggal di asrama yang sama selama sepuluh tahun terakhir. Mereka sudah seperti adik dan kakak kandung.
Kombinasi serangan mereka berdua sempat membuat Pinanggih Anom kewalahan. Dia terus memutar pedang untuk membuat perisai angin. Saat butiran api terlebur dengan cahaya biru, muncul ratusan anak panah yang ditampar menggunakan pedang milik Ankara Patih.
“Rasakan kombinasi Panah Cahaya Api Biru!” Ankara Patih dan Jendam Langit berteriak sangat keras.
“Sial, kalian ingin membunuhku, ya? Jangan kira jurus kombinasi lemah ini bisa membuat kulitku berdarah!” Pinanggih Anom mengehentikan putaran pedangnya sejenak, lantas mengganti kuda-kudanya dengan posisi bertahan.
Dengan bantuan ilmu meringankan tubuh, Pinanggih Anom melayang di udara selama belasan detik.
“Aneh, kenapa panah itu terus mengikutiku?” Pinanggih Anom terpaksa menangkis Panah Cahaya Api Biru di udara.
“Hanya murid lama yang tahu serangan kombinasi ini. Meski murid lencana giok dianggap sebagai tingkatan murid terkuat di Lembah Seratus Pedang, kekuatan mereka tidak akan mampu menangkis jurus kombinasi yang sudah diasah selama puluhan tahun.”
Ankara Patih tersenyum puas. Dia melirik Jendam Langit, lantas menepuk pundaknya. “Kita lakukan tahap dua serangan kombinasi!”
__ADS_1