
“Aku menantangmu!”
Pinanggih Anom langsung menyambar ucapan Ki Jagaraksa meski sang tetua sudah mengacungkan Pedang Jalakumbang yang dianggap sebagai salah satu pedang terkuat di Nusantara.
“Tapi, aku ingin mengajukan satu syarat.” Pinanggih Anom menatap sinis Ki Jagaraksa.
“Kuterima syaratmu! Pertarungan ini mempertaruhkan wibawaku sebagai penjaga gerbang terluar dan keamanan murid-murid Lembah Seratus Pedang.”
Ki Jagaraksa dan Pinanggih Anom sempat adu tatap. Mereka berdua tidak berpaling.
Sudah menjadi tradisi Lembah Seratus Pedang apabila ada yang ingin bertarung, entah itu dalam Festival Kembang Siluman atau di luar festival, dua orang itu harus berdiri dengan jarak satu langkah, lalu melakukan adu tatap selama lima belas detik.
Pinanggih Anom terkenal memiliki tatapan kematian yang meruntuhkan mental lawannya sebelum pertandingan berlangsung. Karena itulah, dia selalu menang walau ditantang ratusan kali oleh murid lencana emas yang ingin merebut lencana giok dari tangannya.
Tapi, kali ini berbeda.
__ADS_1
Aura membunuh terpancar dari Ki Jagaraksa dan Pinanggih Anom, seolah mereka berdua punya dendam pribadi yang tidak akan pernah selesai kecuali dengan pertarungan kematian.
Pinanggih Anom menatap Ki Jagaraksa layaknya nafsu hewan buas kelaparan melihat mangsa. Hawa dingin pembunuh seketika menyebar walau Pinanggih Anom tidak melakukan apapun.
Jikalau Pinanggih Anom memiliki tatapan bagai seorang pembunuh, Ki Jagaraksa menatap Pinanggih Anom seolah dia telah membunuh ratusan orang, lantas menaruh nama Pinanggih Anom sebagai orang keseribu yang akan dia bunuh.
Tatapan nafsu membunuh dan tatapan pembunuh yang asli beradu jadi satu. Getaran energi meruntuhkan dedaunan yang mulai menguning. Sempat terjadi gempa di lapangan tengah Lembah Seratus Pedang hingga Ki Aluna dan Prabu Jangkar Turi datang untuk memastikan tidak ada pertumpahan darah sebelum Festival Kembang Siluman berlangsung.
“Selama ini, beberapa murid mengagungkanmu sebagai tetua terkuat, apalagi dengan Pedang Jalakumbang yang kau miliki. Disaksikan dua tetua lain, aku ingin mengajukan satu syarat. Apabila aku menang, maka izinkan aku pergi berkelana tanpa harus menantang Ki Aluna dan Prabu Jangkar Turi.”
Angin kencang muncul diiringi gelombang energi putih kehitaman.
Gempa yang lebih besar terjadi. Tanah di tengah lapangan terbelah kemudian muncul sebuah cermin raksasa dengan kaca hitam pekat seperti relung ilusi.
“Sepakat!” Raden Bratasena tiba-tiba berada di tengah tempat berdirinya Pinanggih Anom dan Ki Jagaraksa. “Tapi, pertarungan ini hanya bisa terjadi paling sedikit dua minggu setelah selesainya Festival Kembang Siluman.”
__ADS_1
Kejadian itu perlahan menyebar ke seluruh murid, termasuk Mahesa.
Esoknya, Mahesa pergi ke Asrama Pedang Biru seorang diri. Dia hanya ingin memberitahu informasi ini kepada Sadewa Pasha yang kebetulan tidak ada jadwal latihan di hari itu.
Sadewa pura-pura tidak tahu, padahal semalam dia tidak tidur karena ada sesi latihan tambahan dari Prabu Bratasena. Dia melihat langsung bagaimana Pinanggih Anom menantang Ki Jagaraksa dan hal itu sangat disayangkan mengingat reputasi Ki Jagaraksa di mata pendekar pedang Nusantara.
“Menurutku, mustahil Pinanggih Anom diizinkan mengembara. Misal kita bicara kemampuan pedang, Pinanggih Anom belum cukup pantas menapaki jejak dua legenda Lembah Seratus Pedang yang berhasil mengalahkan dua orang tetua.” Mahesa mengutarakan pendapatnya di hadapan Sadewa.
“Aku sepakat. Pertarungan ini hanya akal-akalan yang dibuat Pinanggih Anom untuk memprovokasi murid-murid lain. Dia hanya menginginkan konflik terjadi antara tetua satu, dua, dan tiga. Pasti ada kecemburuan sosial, terutama dalam benak Ki Aluna Prabu yang sekarang menjabat sebagai tetua satu.”
Mahesa mengajak Sadewa Pasha keluar. Perbincangan ini sedikit tidak nyaman apabila diteruskan di Asrama Pedang Biru. Belum lagi ketika ada murid yang keluar masuk asrama, lantas mendengar dan melaporkan perbincangan mereka ke Raden Bratasena.
Menyusuri hutan dan jalan setapak, mereka sampai di sebuah gubuk tempat Mahesa biasa meditasi guna mencari gerakan baru. Dia sering menghabiskan waktu di sini. Kadang kala, ada siluman datang untuk mengajaknya bertarung.
“Tempat yang sangat cocok untuk latihanmu.” Mahesa menyeruput kopinya yang masih mengepulkan asap. “Tidak ada yang tahu tempat ini kecuali aku, kau, dan tiga tetua Lembah Seratus Pedang. Perjalanan dua puluh menit cukuplah membuat murid-murid lain enggan untuk datang ke sini.”
__ADS_1
Kemudian, Mahesa melanjutkan. “Aku yakin Prabu Bratasena mampu menyelesaikan konflik yang terjadi di antara para tetua.”