
Di dasar jurang, ada seorang pertapa yang sedang duduk di atas batu besar di tengah sungai, tapi dia tak bergeming mendengar suara jatuh Sadewa seperti cicak yang baru saja dilempar batu sehingga jatuh dengan posisi tubuh terbalik.
Barulah saat matahari terbit, pertapa itu membuka matanya dan kaget melihat ada seorang pemuda tergeletak dengan semua bagian tubuh yang berdarah.
Ternyata waktu Sadewa sadar kemarin, hari sudah menjadi malam. Karena itulah, Sadewa tidak melihat matahari padahal harusnya matahari bisa nampak dari dasar jurang meskipun cahayanya tidak bisa menembus jurang karena efek samping Kunang-Kunang Kalacakra yang selalu menyerap sinar matahari.
Rambut pertapa itu keriting panjang dan awut-awutan. Kumisnya setebal lumut yang melekat di dinding dasar jurang. Dia berjalan mendekati Sadewa yang kondisinya sangat parah; kedua tangan dan kakinya patah, serta ada retakan di beberapa bagian tubuh.
Setelah mendeteksi sekujur badan Sadewa, dia berujar pelan. “Mustahil! Jangankan orang biasa, Lima orang sebelumnya yang masuk kategori pendekar tingkat naga saja langsung mati mengenaskan begitu jatuh dari atas jurang! Dia bukan bocah sembarangan!”
Pertapa itu melihat ada sebuah tato yang melekat di leher kiri Sadewa. Dia terkejut bukan main. Tato itu adalah tato yang melambangkan satu siluman yang kekuatannya bahkan melebihi seluruh siluman di dunia.
__ADS_1
Tato gagak bermata merah!
Kakek pertapa sepertinya tertarik dengan Sadewa yang berhasil melewati garis batas terlarang di puncak Bukit Kabut karena pada dasarnya, Bukit Kabut adalah bukit yang terletak di tempat misterius dan tidak bisa dimasuki sembarang orang kecuali dia mendapat izin dari Ki Seno Aji.
“Hmm, tidak ada yang bisa kujarah dari bocah ini,” kata sang kakek. “Sepertinya aku harus per-”
Kakek itu tiba-tiba diam melihat di saku kanan Sadewa terdapat sebuah kitab usang dengan sampul kuning kemerahan. Gambar gagak mata merah yang bertengger di bahu seorang berpakaian putih adalah potret pertama yang ditangkap mata sang kakek.
Gleg!
Kakek itu meneguk ludah.
__ADS_1
Dia kaget melihat empat halaman kitab Dewa Pasha yang sudah penuh dengan tulisan dan petunjuk tentang dasar-dasar menjadi pendekar sejati. Entah siapa yang menaruh kitab itu di saku kanan Sadewa dan mencoret-coretnya, ini masih jadi misteri.
Menurut cerita yang beredar turun-temurun, tidak ada yang bisa membaca kitab kuno ini kecuali memang dia terpilih untuk meneruskan titah Dewa Pasha menjadi seorang pendekar yang disegani di seluruh daratan bumi.
Orang itu yang kelak mewarisi Pedang Kalacakra setelah diberi berkah kekuatan Dewa dari sebuah mimpi ketika umurnya menginjak enam belas tahun.
“Akhirnya, takdir mempertemukan kita,” batin pertapa itu, seolah dia adalah orang yang terpilih melatih Sadewa Pasha dalam menjalani ritual tahap dua Teknik Kunci Lima Rupa.
“Tapi, itu terlalu cepat bagimu. Aku ingin tahu seberapa pantas kau mempelajari salah satu dari jurus terlarang di kitab ini. Jurus yang meleburkan roh-mu dan roh Gatra Sang Gagak menjadi satu kesatuan.”
Seketika, sebuah cahaya merah langsung memancar kuat dari bawah badan Sadewa. Pertapa itu mundur satu langkah dan memastikan dari mana asal cahaya merah tersebut. Dia terbelalak begitu tahu ada mustika yang tergeletak di samping tubuh Sadewa.
__ADS_1