Legenda Senopati Terakhir

Legenda Senopati Terakhir
Melawan Feng Shui


__ADS_3

“Festival Kembang Siluman tahun ini adalah festival terbaik karena dua pendekar legendaris Nusantara menyempatkan diri untuk hadir. Aku harap, semua murid mengerahkan kemampuan terbaiknya karena pertandingan kalian akan jadi cerita berharga untuk anak cucu kalian di kemudian hari.” Raden Bratasena menyuruh semua murid berdiri.


Upacara pembukaan berlangsung sakral, tidak ada satu pun yang bicara.


Ketika semua murid memberi tepuk tangan pada Ki Seno Aji dan Datuk Lembu Sora yang unjuk kekuatan, berbeda dengan Sadewa. Dia melongo melihat betapa indahnya gerakan elemen tanah yang diperagakan Datuk Lembu Sora.


Setiap darah yang menetes dari ujung jemari Datuk Lembu Sora langsung diserap tanah dan seketika muncul makhluk-makhluk kecil dari tumpukan kerikil. Jumlah makhluk itu semakin banyak kala darah yang menetes semakin deras.


Bram!


Bram!


Makhluk-makhluk kecil Datuk Lembu Sora menyatu jadi sesosok raksasa dengan mata merah, memiliki tangan dan kaki, serta tanduk lancip di bagian tengah kepala.


“Ini adalah golem yang terbuat dari bebatuan. Golem ini bisa digunakan untuk menyerang dan bertahan. Satu pukulannya setara dengan hantaman besi seberat empat manusia normal.” Datuk Lembu Sora menjetikkan jari dan sesaat, golem itu pecah menjadi bebatuan kecil seperti sedia kala.


Sadewa Pasha ditepuk Ankara Patih. “Kau kenapa?”

__ADS_1


“Tameng sekuat apapun, pasti hancur karena pukulan golem milik Datuk Lembu Sora. Aku ingin memilikinya, mustika itu, harus pindah ke tanganku. Aku ingin jadi murid Datuk Lembu Sora dan Ki Seno Aji.” Sadewa berbicara tapi matanya tetap terpaku ke tengah lapangan.


“Lebih baik memikirkan hal yang masih bisa kau jangkau. Orang yang bisa menjadi murid Datuk Lembu Sora merupakan orang-orang pilihan. Yang aku tahu, Datuk Lembu Sora hanya memiliki lima orang murid selama enam puluh tahun terakhir.”


“Maksudmu?” Sadewa menoleh ke arah Ankara Patih.


“Ki Aluna Prabu bercerita kalau umur mereka lebih dari satu abad. Mereka adalah penjaga Nusantara. Mereka bisa dikatakan pendekar terkuat saat ini.”


Hening tiba-tiba tercipta kala Ki Seno Aji memanggil siluman gagak hitam dengan bulu berlapis zirah api. Gagak itu terbang mengitari lapangan, sangat cepat, sampai tidak satu pun murid berhasil melihat ke mana perginya.


“Gatra adalah penghuni mustika merah. Dia datang dan pergi sesuka hati. Kecepatannya tidak bisa diimbangi siapapun. Hanya butuh waktu satu detik agar Gatra bisa mengitari Lembah Seratus Pedang selama tiga puluh kali.”


Duang!


Gong dibunyikan, pertanda Festival Kembang Siluman resmi dibuka. Raden Bratsena berdiri di tengah lapangan, sementara Datuk Lembu Sora dan Ki Seno Aji duduk di tempat yang sudah disediakan.


“Akan dipilih dua murid terbaik setelah festival selesai. Ki Seno Aji dan Datuk Lembu Sora akan menilai seberapa pantas kalian mengembara. Hadiahnya adalah satu paket ramuan penguat tulang dan satu kantong berisi uang perak. Keputusan Datuk Lembu dan Ki Seno tidak dapat disanggah atau ditentang. Mereka jauh lebih pantas menilai kelayakan kalian dalam pertarungan satu lawan satu.”

__ADS_1


“Pertarungan pembuka akan dilaksanakan dua menit lagi. Mahesa dan Arjuna dimohon berdiri di sudut lapangan. Kita akan saksikan seberapa hebatnya murid lencana giok, pertarungan antara pengguna gravitasi dan pemilik Pedang Jingga Langit.”


“Diharapkan kepada murid-murid lain agar mempersiapkan diri. Murid yang sudah terdaftar di pertarungan hari pertama akan dipanggil secara acak.”


Mahesa berdiri di sudut kanan, sedangkan Feng Shui berdiri di sudut kiri tepat ketika Raden Bratasena duduk di antara Ki Seno Aji dan Datuk Lembu Sora.


Tugas menjaga dan memandu pertarungan akan diberikan pada tiga tetua. Ki Aluna dan Prabu Jangkar Turi membuat perisai energi agar efek samping pertarungan tidak sampai berdampak pada semua orang yang duduk di luar lapangan.


Ki Jagaraksa memimpin jalannya pertarungan. Dia bertanya kesiapan dua peserta. Begitu petir hitam menyambar tengah lapangan, Feng Shui langsung terbang tinggi dan menyerang Mahesa dengan pedang cahaya.


“Rasakan ini!” Feng Shui mengayunkan pedangnya hingga terbentuk cahaya raksasa yang menghantam.


Blam!


Gempa terasa begitu dahsyat hingga meruntuhkan pepohonan di ujung luar lapangan. Efek sampingnya sangat terasa walaupun sudah dibentuk perisai energi.


Jantung Sadewa berdetak kencang. Mustahil orang biasa lolos dari serangan mahadahsyat milik Feng Shui, dia hanya bisa melihat deburan pasir yang bertebangan di udara.

__ADS_1


Dalam kebutaan, semua orang dibuat terkejut kala melihat dua bayangan hitam berdiri di tempat Mahesa.


__ADS_2