
Dua bulan lebih seminggu Sadewa berlatih. Gatra mengaku kalau Sadewa sudah mencapai tingkat Pendekar Bumi Dasar dan kurang satu tingkat lagi dia akan mempelajari jurus baru yang tercantum dalam kitab Dewa Pasha.
Setelah menjalani dua bulan latihan super ekstrim yang sangat menguras tenaga bahkan bisa membahayakan nyawanya, Sadewa bisa sedikit merenggangkan otot-ototnya yang agak kaku karena dia baru saja membuka mata setelah tidur seharian.
“Guru, apakah tidak ada latihan lain?”
Decak kesal terdengar dari mulut Sadewa karena tiap malam gurunya selalu memberi latihan yang seringkali membuatnya hampir kehilagan nyawa.
Entah itu melawan siluman penghuni Hutan Raksasa Putih, menggoda penguasa hutan, ataupun diminta berenang melawan arus sungai yang derasnya seperti kecepatan angin topan.
“Latihanmu belum selesai, ada latihan yang lebih sulit.” Gatra sudah mempersiapkan semuanya, termasuk tahap latihan Sadewa agar dia segera naik tingkat menjadi Pendekar Bumi Menengah.
__ADS_1
Beberapa misi latihan yang mempertaruhkan nyawa sudah dilakukan Sadewa, tapi misi kali ini membuatnya hanya bisa tergagap dan tidak tahu harus berkata apa; misi yang tidak masuk akal yang taruhannya adalah nyawa.
Sadewa harus mencuri telur emas milik siluman elang, penjaga perbatasan antara hutan dan goa terlarang tempat Raksasa Puti, sang penguasa hutan, tinggal.
Elang penjaga itu akan mengeluarkan satu telur emas setiap empat tahun sekali, tepatnya di bulan kabisat. Kesempatan ini dimanfaatkan Gatra karena dia bisa mengubah tanggal dan bulan sesuka hatinya.
Alam ilusi ini tidak bisa dimasuki siapapun kecuali dia diizinkan masuk oleh Gatra Sang Gagak. Dia adalah pemilik alam ilusi ini. Alam ilusi seluas ini hanya diwujudkan dengan batu mustika merah kecil yang ada di bagian tengah gagang Pedang Kalacakra.
Kakinya menendang batu ke sungai dan ia sendiri yang kesakitan. Sadewa tidak tahu kalau batu itu adalah batu kanuragan yang menyimpan segudang energi alam hutan.
“Ooo, murid pekok!” ucapan Gatra tidak dihiraukan Sadewa yang sedari tadi memohon agar dirinya diberikan tugas lain yang lebih ringan dari pada harus mencuri telur emas dari elang penjaga.
__ADS_1
Belum lagi, ilmu memanjat pohonnya belum begitu lihai. Dia juga belum diajar ilmu meringankan tubuh tingkat menengah. Jika tetap memaksakan diri dengan kondisi kekuatan apa adanya, pemuda berkuncir bisa menebak hasil dari ujian ini.
Antara siluman elang membunuh Sadewa karena ingin mencuri telur emas, atau sang siluman sengaja meletakkan telur emasnya di pohon paling tinggi yang ada di Hutan Raksasa Putih.
Semua skenario ini sudah diatur sedemikian rupa oleh Gatra karena alam ilusi ini adalah miliknya.
“Hmm, sebenarnya aku sudah menyiapkan dua misi terakhir untukmu. Satu, kau harus mencuri telur emas, dan misi satunya tidak kalah susah bila kau sanggup menyelesaikannya. Bagaiamana?” Gatra bertanya dengan wajah serius.
Sadewa seperti menemukan harapan baru. “Apa misinya? Aku langsung menerimanya bilamana misi itu jauh lebih mudah dari mencuri telur emas.”
“Misinya mudah. Kau harus mengalahkan siluman kera putih yang selama ini dianggap sebagai raja siluman di Hutan Raksasa Putih.” Gatra berkata seolah menganggap Sadewa mampu menyelesaikan semua misi itu tanpa kesulitan apapun.
__ADS_1